
"Ngggunnn" racau Abdi dalam tidurnya.
Samar-samar Indah mendengar itu saat dia akan kedapur mengambil air hangat untuk mengompres Abdi, ia berhenti sejenak, untuk mendengarkan lebih jelas, namun suara Abdi tak terdengar lagi, Indah pikir itu hanya halusinasinya saja, karena sejak tadi dia memang memikirkan nasib sahabatnya. Indah melangkahkan kakinya kembali, menghalau nama yang sempat Abdi sebutkan, bukan sekali ini Indah mendengar Abdi menyebutkan nama Anggun, saat diklinik juga Indah pernah mendengar Abdi menghubungi nama itu.
Indah kembali lagi ketempat Abdi berbaring, mengompres kening lelaki yang telah menjadi suaminya, Indah menempelkan kain kompresan dengan sangat lembut dan hati-hati agar tak mengganggu tidur Abdi. Indah mengamati wajah tampan Abdi yang putih bersih, alis tebal alami, bulu mata panjang, dengan rahang tegas yang tersayat sempurna, disana ditumbuhi bulu-bulu halus yang menambah keseksian Abdi, sempurna, puji Indah
"Mungkin Ibu mas Abdi ngidam onta kali ya makanya anaknya cakep, kalo ibu dulu ngidamnya bebek, jadinya gue begini, Tuhan emang baik, gue dikasih kesempatan memperbaiki keturunan"
Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, rasanya Indah sudah sangat lelah, ia duduk dibawah sofa, tangannya meraba kembali kening Abdi, mengecek suhu tubuh laki-laki itu. Indah bernafas lega, suhu tubuh Abdi menurun. Tak lama Indah pun ikut terlelap dengan berbantalkan tangannya diatas sofa disamping tubuh Abdi.
...****...
Sayup-sayup terdengar suara bel pintu, Indah mengerjapkan matanya, namun ia tak dapat bergerak, karena ada tangan kekar yang melingkar diperutnya. Mata Indah membola, dia tidur berdua bersama Abdi di sofa yang terbilang sempit ini, Abdi memeluknya dari belakang, menahan badannya agar tak jatuh.
Degup jantung Indah berdetak tak karuan kala nafas hangat Abdi menerpa lehernya, badannya terasa meremang, ada rasa aneh menyerangnya. Perlahan Indah memindahkan tangan Abdi untuk bangun dan membuka pintu, namun bukannya lingkaran tangan itu terlepas, justru Abdi mengeratkan pelukannya.
"Mau kemana?" tanyanya masih dengan memejamkan mata
"M-mas ituloh, dari tadi kayak ada tamu"
"Biarin" ujarnya, Abdi tambah menempelkan kepalanya pada leher Indah, ia mendapatkan kenyamanannya, namun bukan Indah yang ada dalam pikirannya melainkan Anggun, gadis yang semalam ia putuskan hubungannya, dan ia gantungkan harapannya.
Indah terdiam, menenangkan hatinya sendiri, sekuat tenaga ia berusaha agar tak terbawa perasaan, posisi seperti ini membuatnya serba salah, ia senang sekaligus takut, takut dia benar akan jatuh cinta, sedang Abdi mengatakan mereka hanya berteman.
Indah berpikir jika sakitnya Abdi ada hubungannya dengan orang yang ada dalam racauanya, sebisa mungkin Indah menyembunyikan ini, walau ada rasa berdenyut dihatinya, kenapa takdir membawanya dalam hubungan pernikahan tanpa ada rasa cinta.
"Mas, ini udah siang" Indah enggan menoleh, sebab jika ia memutar kepalanya, sudah dipastikan bibir mereka akan bertemu.
"Sebentar lagi"
"Tapi Indah laper"
"Lo nggak akan mati cuma nahan laper sebentar" jawabnya dengan mata yang tetap terpejam.
__ADS_1
Indah sudah tak tahan lagi, bukan lapar yang ia rasakan, namun jantungnya dalam keadaan tak baik-baik saja, Indah sangat takut jika tiba-tiba dia terkena serangan jantung mendadak, sedang dia belum merasakan indahnya malam pertama. Hingga....
BUGHHH
Sekuat tenaga Indah memukul dada Abdi dengan sikutnya, membuat Abdi meringis dan mengaduh seketika melepaskan pelukannya, membuat Indah bisa lompat dari sofa dan lari dari pelukan Abdi yang bisa membunuhnya saat ini juga.
"AWWW, sakit bego" makinya
"Bodo amat, wekkk"
Indah menjulurkan lidahnya, dan langsung masuk kedalam kamar, mengunci pintu itu, Indah memegangi dadanya yang terus berdetak cepat, menghembuskan nafasnya perlahan, menetralkan jantungnya, masih terdengar Abdi yang terus memakinya.
"Astaga, bisa nggak sih ini jantung dari tadi biasa aja, bikin malu" ucapnya seraya mengusap-usap dadanya.
Setelah membersihkan diri, Indah keluar, terlihat oleh Indah laki-laki kemarin yang sempat bertemu dengannya didepan pintu sedang berbicara dengan Abdi, pandangan mereka bertemu kala Chio mendengar suara pintu terbuka.
"Hai, selamat pagi" sapanya dengan senyum ramah
Indah tak balas menyapa, dia malah melihat kearah Abdi mencoba meminta persetujuan, namun suaminya justru membuang muka, hingga Indah memutuskan sendiri akan berkenalan dan lebih dekat dengan laki-laki yang Indah perkirakan itu teman suaminya.
Suaminya itu tetap cuek tak melihat kearahnya, malah kini sibuk memainkan ponsel. Indah mencibir, tak perduli jika Abdi masih marah hanya karena Indah memukul dadanya.
"Kamu keponakan Abdi kan?" tembak Chio, tanpa terpikirkan olehnya, jika gadis itu istri tetangganya yang merangkap sekaligus jadi temannya.
"Hah!"
Indah kembali melihat Abdi, yang sejenak menghentikan jarinya mengetik pada ponsel.
"Bu_"
"Iya"
Jawab Abdi singkat, memotong ucapan Indah. Ia masih kesal pada Indah yang memukulnya, padahal Abdi sedang berusaha mencari ketenangan pada diri Indah. Sedang Indah memandang Abdi seperti siap menerima bendera peperangan yang Abdi kibarkan
__ADS_1
"Kenalin, aku Chio sahabatnya Abdi, aku tinggal disebelah" Chio mengulurkan tangannya.
"Indah" Indah membalas uluran tangan itu.
"Namanya cantik, secantik orangnya" puji Chio, membuat Abdi berdehem.
"Aku bawain sarapan, kamu suka bubur ayam nggak?" Chio tak memperdulikan Abdi, dia mengulurkan sterofoam yang ia bawa pada Indah.
"Suka"
"Nggak" Lagi-lagi Abdi ikut menjawab yang berlawanan dengan jawaban Indah.
"Mas, akutuh suka bubur ayam, lagi pula Indah kan bilang, Indah laper dari tadi"
Indah mengerucutkan bibirnya, sangat kesal pada Abdi, dan mengambil bubur ayam dari tangan Chio, langsung menyendoknya, memasukkan kedalam mulutnya tanpa memperdulikan tatapan tajam Abdi.
"Dia aja suka, kenapa lo yang ribet si bro?" Chio tersenyum melihat Indah lahap memakan sarapan yang dibawanya.
"Pasti lo beli dipinggir jalan, nggak steril itu"
"Indah dari dulu juga beli yang dipinggir jalan, nyatanya Indah masih hidup dan sehat sampai kini" balas Indah sengit ucapan Abdi.
"Emang dianya aja yang belagu, padahal dia juga sering tuh makan makanan pinggir jalan" timpal Chio.
Kini Abdi terdiam, Indah seakan menyiram bensin pada api yang berkobar, Abdi menggertakan giginya, ingin melihat sejauh mana Indah bertindak.
.
.
.
.
__ADS_1
Sorry baru up, aku habis dari Magelang 🤭 semoga tetap suka sama karya aku 😍😍