
Disaat disuruh milih antara suami atau sahabat kalian milih yang mana? Bingung kan? dua-duanya sama-sama penting, dua-duanya sangat kalian butuhkan keberadaannya. Tapi kita harus berpikir rasional, mana yang seharusnya kita pilih.
Pernikahan bukanlah hal yang bisa di permainkan, itu bukan cuma janji yang diucapkan dengan manusia, tapi juga dengan sang maha pencipta, tanggung jawabnya berat.
Sahabat memang selalu ada buat kita, kehadirannya terkadang membuat kita bisa melupakan semua masalah, orang yang selalu mengerti kita tanpa kita memintanya, tempat kita bisa gila-gilaan bareng, menghabiskan waktu nggak penting bareng. Sahabat juga yang tahu aib kita, kita tak harus memakai topeng didepannya.
Tapi.... jika sahabat meminta kita untuk melakukan hal yang melanggar aturan dan norma, kita bisa donk menolaknya, bukan tak sayang, tapi lebih ke mikir yang waras aja, toh rumah tangga kita bukan seperti rumah tangga selebritis, yang gampang kawin cerai, ingat ... itu dosa. Setiap agama pasti melarang umatnya untuk bercerai, kita jangan bodoh, semua pilihan ada ditangan kita.
Mungkin saat ini Anggun masih dalam marahnya, tapi lambat laun juga Anggun dapat menerima keadaannya, apalagi jika Anggun tahu, jika Abdi sebenarnya saudara tirinya, Anggun pasti akan mengerti, Indah sadar seharusnya dia dapat menahan diri untuk tak menjelaskan apapun pada Anggun terlebih dahulu, dan dia memang salah, sebagai sahabat, seharusnya, Anggun adalah orang pertama yang harus ia beri tahu.
Melihat Indah yang diam, tak menjawab permintaannya, membuat Anggun tersenyum mencibir.
"Kenapa? nggak bisa kan?"
"Nggun, gue tau gue salah karena nikah nggak ngabarin Lo, tapi Nggun, pernikahan itu sakral, bukan untuk main-main, lo tau kan agama kita ngelarang untuk cerai, dan itu dosa, jadi maaf, untuk itu ... gue nggak bisa." jawab Indah tenang, Indah menunduk, tak kuasa untuk menatap wajah Anggun.
"Yaudah, makanya pergi sekarang dari sini, mulai hari ini, lo bukan lagi sahabat gue, andai lo diposisi gue, apa yang akan lo rasain? sakit.... sakit Indah, melihat laki-laki yang sangat lo sayangi ternyata udah nikah sama sahabatnya sendiri diam-diam, itu menyakitkan" Anggun menitikkan air matanya, mengingat dia yang mabuk saat itu, meminta bantuan Indah, ternyata saat itu Indah sudah menikah dengan Abdi.
"Nggun"
"PERGI INDAH" teriak Anggun yang sudah tak tahan lagi melihat wajah Indah.
Indah pun ikut menangis, merasakan sedih dan sakit yang Anggun rasakan.
__ADS_1
"Gue pergi Nggun, jaga kesehatan selalu, gue harap suatu saat kita bisa sama-sama kayak dulu lagi, gue sayang sama lo Nggun." Ingin rasanya Indah memeluk tubuh Anggun, tapi ia tak berani.
Dengan langkah berat Indah keluar dari kamar Anggun, tak pernah ia bayangkan, jika hubungan persahabatan mereka akan seperti ini. Saat akan keluar, Indah kembali berpapasan dengan Widuri.
"Indah ada apa?" Widuri terkejut melihat Indah menangis
Indah menghentikan langkahnya, tersenyum pada Widuri, walaupun Abdi belum memperkenalkan mereka, tapi Indah akan sangat menghormati wanita yang telah melahirkan suaminya ke dunia ini.
"Nggak papa Tante" Indah menghapus air matanya.
"Orang berteman itu biasa bertengkar, mungkin Anggun sedang banyak pikiran dan kecapean" Widuri mencoba memberi pengertian pada Indah.
"Terima kasih Tante, kami memang sedang ada masalah, Indah nggak tahu Tante, jika laki-laki yang nikah sama Indah itu pacarnya Anggun, jadi terjadi salah paham"
"Tante" panggil Indah
"Eh, iya Indah"
"Indah pulang dulu, kasihan mas Abdi, pasti dia nungguin Indah, mas Abdi itu nggak punya ibu, jadi dia selalu manja sama Indah" sengaja Indah mengatakan itu, ingin tahu respon dari Widuri. "Maaf sebelumnya Tante, sudah membuat Anggun sedih" lanjut Indah dengan memperhatikan wajah Widuri yang tiba-tiba berubah tegang.
Indah berlalu, nggak perduliin lagi Widuri, setelah tahu jika memang Widuri ibunya Abdi, entah kenapa Indah merasa jadi ikutan kesal, mengingat cerita saat Abdi terpuruk dulu, mamanya tak ada datang menjenguknya.
Setelah dari rumah Anggun, Indah menyempatkan diri untuk mampir kerumahnya, semenjak ditinggal Masnah pulang kampung, Indah belum pernah melihat rumah itu, Indah merasa sangat lelah, dan ingin menginap dirumah ibunya untuk sementara.
__ADS_1
Memarkirkan motornya ditempat biasa, Indah berjalan menuju rumahnya. Saat akan membuka pintunya, tiba-tiba Disa muncul dari sebelah rumah mereka, dengan membawa sebuah map coklat.
"Ngapain lo kesini?" tanya Disa ketus
"Mau liat rumah lah Wak, emang mau ngapain lagi?" jawab Indah tak kala ketus.
"Rumah ini bukan milik kalian lagi, Masnah udah menggadaikan rumah kalian sama Thomas, tuh liat" Masnah memberikan map coklat ditangannya pada Indah.
Indah menerima map itu, lalu membukanya, mata Indah membola, melihat angka yang tertera di sana, ibunya menggadaikan rumah itu atas namanya.
"Ini pasti fitnah, ibu nggak mungkin menggadaikan rumah ini Wak, ibu tuh sayang sama rumah ini"
"Yasudah, terserah kalau tidak percaya, aku cuma ngasih tahu aja, makanya kalau bergaul yang benar, jadi nggak nyusahin orang tua"
"Pasti Wak jebak ibu kan waktu itu, Wak peras ibu"
"Bukan jebak Indah, ini memang sudah jalanya rumah ini harus jadi milik kita, Thomas udah ngasih rumah ini buat Selly, hadiah pernikahan dari Thomas"
Indah menggeram kesal, sudah jelas sekali waktu Disa mengajak ibunya hanya bicara berdua, pasti Disa mengancam ibunya.
"Indah bakal rebut rumah ini lagi, lihat aja Wak, Indah bakal menebusnya"
"Mau bayar pakai apa kamu?, kayak punya duit aja"
__ADS_1
"Tunggu aja Wak, Indah pasti merebutnya lagi" ucap Indah