Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Extra Part


__ADS_3

Setelah setahun lebih menjalani hukumanya, kini saatnya Thomas bebas, juga mendapat remisi disisa masa tahananya. Sebab selama ditahanan Thomas berkelakuan baik. Thomas disambut tangis haru oleh Kartika, Prasasti, dan juga kakaknya. Thomas langsung memeluk tubuh sang mama yang terlihat lebih kurus dari terakhir dilihatnya, pasti karena memikirkan dia, tebak Thomas.


"Maafkan Thomas Ma, Thomas membuat Mama susah." Thomas memejam, meresapi aroma tubuh wanita yang telah melahirkanya ke dunia ini. Saat Thomas membuka matanya, Thomas dikejutkan dengan kehadiran Indah dan Abdi yang ikut menjemputnya. Wanita yang begitu ia cintai itu tersenyum sangat manis, kembali mengingatkan Thomas dengan apa yang dialami Indah.


Namun fokus Thomas teralihkan dengan bayi yang ada didalam gendongan Indah, bayi laki-laki yang terlihat begitu tampan. Yang ada dibenak Thomas, bayi siapa itu?, bukannya Indah tak bisa hamil karena sudah tak memiliki rahim lagi?, apa Indah mengangkat seorang anak untuk dijadikanya anaknya, tanpa terasab Thomas menitikkan bulir asin itu.


Thomas melepaskan pelukan dari mamanya, dia langsung menghampiri Indah, Thomas bersimpuh di kaki Indah membuat semua yang disana terlonjak kaget. Indah berjengit mamundurkan langkahnya untuk menjauh dari kepala Thomas.


"Thomas apa yang kamu lakukan." Abdi bergegas menarik Indah kedalam dekapanya, takut Thomas berbuat yang macam-macam diluar dugaan mereka.


"Aku mau minta maaf pada kalian, aku telah jahat terhadap kalian, aku mohon ampuni segala kesalahan ku." Thomas menunduk dalam masih dengan bersimpuh.


Thomas benar-benar menyesali perbuatannya, dia mendengar Indah melewati hari-harinya begitu berat, dan juga kesetiaan Abdi terhadap Indah yang mau bertahan disisi wanita yang begitu ia cintai.


Indah dan Abdi saling pandang, lalu mereka menghela nafas, Indah tersenyum pada suaminya untuk memberikan maaf pada Thomas. Abdi mengerti maksud istrinya, dia pun mendekati Thomas, memegang pundak Thomas, agar Thomas bangkit.


"Bangunlah Thomas, jangan seperti ini, kau tahu kita ikut datang menjemput mu, itu berarti kami telah memaafkan mu."


Thomas segera memeluk Abdi, dia menangis, "Terima kasih adikku, terima kasih atas kebaikan hati mu, dan mau menjaga serta setia pada Indah."


"Jangan panggil aku adik, aku benci mendengarnya, kau ingat usia ku jauh lima tahun diatas kamu Thomas," Abdi menepuk bahu Thomas, "Sekarang kita sudah menjadi saudara yang sah, jadi jangan ganggu istriku lagi." Asal kalian tahu, Abdi harus melatih kalimat itu sebelum menyambut kepulangan Thomas, dan itu semua campur tangan Indah.


Thomas tertawa, merangkul kakak tirinya.


Itu akan susah untukku, karena dia hidup dan semakin tumbuh disini.


Thomas memegangi dadanya.


Mereka pun pulang kerumah Prasasti, untuk pertama kalinya Abdi memasuki rumah ayahnya, rumah itu nampak sangat besar, tak jauh berbeda dengan rumah yang pernah ditempati mereka dulu.


Tak ada penyambutan khusus sebenarnya, karena Thomas bukan pulang karena mendapat sebuah thropy atau medali kejuaraan. Hanya acara makan-makan keluarga biasa, hanya yang membedakan adanya kehadiran Abdi, dan Indah, sebagai penyempurna keluarga mereka, Masnah, dan juga Widuri ikut serta, yang mana Widuri dan Kartika sudah berdamai dengan, juga Widuri telah mengakui kesalahannya.


Mereka berkumpul di ruang makan, menyantap sajian yang telah disediakan oleh keluarga Prasasti. Walau mereka mengadakan acara keluarga dirumah, tapi tetap, menu yang mereka sajikan bak menu makanan hotel bintang lima.


Thomas masih menyorot bayi yang terus berada di gendongan Indah, kini bayi itu beralih di ambil Abdi, untuk diberikan susu formula agar Indah bisa makan dengan leluasa tanpa ada gangguan.


Hati Thomas merasa tersentil, kedua pasangan ini terlihat begitu saling menyayangi dan melengkapi, kenapa dulu dia pernah berniat mau memisahkan mereka?.


"Kamu nggak makan nak?," tegur Kartika yang tahu anaknya memperhatikan Indah sedari tadi.


"Tak baik terus mengharapkan istri orang, hubungan kita sudah membaik, itu semua karena mereka memiliki hati yang begitu besar." Kartika menghela nafasnya "Mama sangat malu, mama harap kamu bisa mencontoh Abdi, bisa menerima kesalahan dan masa lalu orang-orang yang pernah menyakitinya."

__ADS_1


Thomas mengangguk, setuju dengan kata-kata mamanya, ya lebih baik sepet ini, walau dihatinya Indah masih menduduki posisi terbaik, dan bahkan semakin baik.


Kini Thomas dan Abdi duduk di balkon kamar Thomas, dari atas, mereka bisa melihat aktifitas yang sedang berada di kolam renang di halaman belakang rumah Prasasti. Terlihat Prasasti sedang mengajak berenang cucu dari anak kakak Thomas, tak hanya itu, Prasasti juga mengajak Mahesa untuk belajar berenang walau usianya belum genap satu tahun.


Keduanya menatap pada pandangan yang sama, pada satu titik, seorang wanita yang tertawa begitu bahagia, bercengkrama dengan para wanita yang lain.


"Dia milikku," ucap Abdi tiba-tiba, yang seakan tahu jika Thomas sedang memandangi istrinya.


Thomas tersenyum kecil "Iya, aku tahu."


"Anak itu anak Selly, namanya Mahesa, Selly meninggal setelah malihirkan anaknya, kami juga sudah mencari keberadaan ayah kandungnya," Abdi menunduk, sedih harus mengatakan hal yang sesungguhnya "Ayahnya juga sudah tiada karena kecelakaan saat akan pulang ke kampungnya." Jelas Abdi yang tau jika Thomas sejak tadi memandangi Mahesa, terus bertanya, anak siapa itu?


Thomas yang tadi sedang memandang ke bawah kini mengalihkan pandangannya pada Abdi. Ada titik sudut hatinya yang berdenyut, dulu Selly mati-matian minta pengakuan darinya, sampai mereka mengorbankan Indah. Kini wanita itu sudah tak ada, dan meninggalkan anaknya seorang diri. Thomas menatap kagum pada Abdi, semua yang terjadi seolah memang ditakdirkan untuk Abdi dan Indah.


"Apa aku juga boleh mengurusnya?, membiarkan dia memanggilku ayah?"


"Tidak boleh, hanya aku ayahnya, kamu cukup dipanggil, om saja, selama aku masih hidup, tak ada satu orangpun yang aku biarkan dipanggil ayah olehnya, karena bundanya hanya satu." ucap Abdi menegas.


Thomas tersenyum, Abdi begitu posesif pada Indah "Baiklah Kakak ku, aku menurut saja, walau kau terlihat begitu arogan." Keduanya tergelak bersama, terlihat sangat akur, seperti kakak dan adik normal pada umumnya.


* * *


Sebulan berlalu, Prasasti mengadakan pesta perayaan perusahaannya yang ke sepuluh, serta kesuksesannya telah bekerja sama dengan perusahaan Mahardika group.


Dikesempatan ini, Prasasti mengumumkan, bahwa yang akan menjadi penerus perusahaannya adalah kedua putranya, dan dikesempatan ini juga, Prasasti memperkenalkan Abdi pada semua rekan bisnisnya. Namun yang begitu menyita publik adalah, jika Prasasti menyerahkan seluruh saham yang ia miliki pada Abdi.


"Aku tidak bisa menerima ini Pak Prasasti." Tolak Abdi karena dia merasa dia sudah memiliki bisnis sendiri walau masih terbilang kecil. Dan dia tetap tak mau memanggil papa pada Prasasti walau hubungan mereka membaik.


"Tak apa, jangan dipikirkan sekarang, kita juga akan mengadakan rapat Direksi dulu sebelum semua diputuskan."


"Kamu tak apa kan Thomas, jika semua saham atas nama Abdi?" tanya Prasasti, karena semua yang diucapkan Prasasti malam ini mengalir begitu saja tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu.


"Tidak apa Pa, tenang saja, aku percaya sama Kakak ku ini, bahwa dia akan selalu ingat pada adiknya yang satu ini." Thomas merangkul bahu Abdi akrab.


Semua yang disana merasa sangat senang, kebahagiaan menghampiri mereka tanpa tersisa dendam sedikitpun.


"Kamu keliatan seneng banget mas malam ini" Indah melepaskan jas yang dikenakan Abdi. Mereka telah sampaikan dirumahnya.


"Tentu aku seneng es teri, karena semua berkat kamu, keluarga semua jadi rukun." Abdi merapikan anak rambut yang berada di kening Indah "Makasih ya, kamu sudah membukakan mata aku, untuk melupakan semua kejahatan mereka di masa lalu."


"Aku nggak ngelakuin apa-apa mas, semua terjadi karena memang kamu memiliki hati seluas samudra," Indah menyandarkan kepalanya pada dada Abdi. "Walau aku terus berusaha, tapi kamunya nggak mau maafin, sama aja percuma kan, jadi semua terjadi karena kamu yang memang memiliki hati yang baik. Aku yang malah beruntung bisa punya suami kayak kamu."

__ADS_1


Abdi mengecup kening Indah lama, "I love you es teri."


"Love you more, mas CEO pecel lele."


Keduanya berpelukan mesra. "Aku bersih-bersih muka dulu ya mas, kamu ganti baju."


Abdi mengangguk, setelah Indah menghilang dari balik pintu kamar mandi, Abdi merasakan dadanya yang terasa sesak. Abdi segera berbaring di kasur, namun bukan semakin mereda, malah sesak dada Abdi semakin terasa. Dia terus memegangi dadanya, mencari tempat ternyaman agar bisa sedikit meredakan sesak.


Indah yang keluar dari kamar mandi terkejut melihat Abdi yang berguling-guling di tempat tidur ,dan terdengar suara seperti Abdi sedang mendengkur.


"Mas kamu kenapa?" Indah langsung menghampiri Abdi, dia bahkan hanya mengenakan handuk sebagai penutup benda berharharnya. Indah segera mengangkat kepala Abdi, meletakkan dipahanya "Mas ada apa?" wajah Abdi sudah terlihat sangat memucat, dan suara dengkuran itu semakin jelas terdengar.


"Mas kamu kenapa?"


Hiks hiks hiks


Indah sudah tak dapat menahan air matanya.


Abdi meraih tangan Indah, tangannya sudah terasa sangat dingin, lalu Abdi merapatkan jemarinya ke sela-sela jemari Indah.


"Maafkan aku ya es teri, aku selama ini sudah membuat hidup kamu susah."


Indah menggeleng "Nggak mas, aku bahkan sangat bahagia hidup sama kamu."


"Kamu harus tau, kalau kamu sempat hamil sebelum dilakukan operasi itu, maaf aku baru jujur sekarang." Suara Abdi sudah terdengar lirih.


"Nggak papa mas, aku nggak butuh itu lagi."


"Aku sangat menyayangimu, kamu harus tau itu." Genggaman tangan Abdi sedikit mengendur, tak lama Abdi seperti menghela nafas panjang sebelum matanya terpejam.


"Mas kamu nggak boleh merem, buka mata kamu" Indah sudah merasakan sekujur tubuh Abdi yang terasa dingin.


"TOLOOOOONG"


"IBUUUU"


"MAMAAAAA TOLONGGGG."


Jerit Indah meminta pertolongan.


Hingga tak lama, suara sirine terdengar dirumah itu, Indah yang masih mengenakan handuk segera dibalut dengan bathrobe oleh Masnah. Sebab keadaan yang begitu genting.

__ADS_1


*Hai masih kembali bersama Abdi dan Indah, aku bakal nuntasin ini sampai selesai, sesuai janji ku, aku akan ngasih part chapter.


Apakah ini sad endingnya, entahlah* . . .


__ADS_2