
Setelah kerumah ibunya, Indah kini akan kerumah Anggun, temannya itu sudah pulang sejak pagi dari apartemen milik Thomas. Indah, Thomas, Anggun dan Selly, mereka telah saling mengenal sejak dibangku SMA dulu.
Anggun umurnya tiga tahun lebih tua dibanding yang lainnya, sebab dia sering tinggal dikelas waktu dia sekolah dasar dulu, memiliki keluarga broken home, membuat Anggun menjadi pribadi yang tertutup, dan enggan berkomunikasi dengan teman sebayanya. Sedang Indah, Selly dan Thomas, mereka memang seumuran dan satu angkatan. Saat sekolah menengah ataslah Anggun baru mengenal Indah, dan dia baru bisa terbuka saat mengenal Indah, wanita hitam manis yang memiliki sifat yang ceria dan apa adanya.
Indah sampai dirumah Anggun tepat pukul 12 siang. Orang tua Anggun sudah sangat mengenal Indah, ia disambut begitu hangat oleh Widuri dan Surya. Indah langsung masuk kekamar Anggun saat dia telah izin pada orang tua Anggun. Kini Anggun sudah terlihat lebih baik, walau masih ada rasa kebingungan, bagaimana nanti dia menjelaskan pada Papanya.
"Lo kasih tau pelan-pelan aja, mereka pasti ngerti, apapun itu, kalian emang belum berjodoh" mereka tiduran tengkurap, sambil menonton drama Turki kesukaan mereka.
"Anjriiit, omongan lo Ndah" Anggun mendorong kepala Indah, mereka paling tidak bisa mengobrol serius.
"Kalian tuh hobi banget ya dorong pala gue" Indah meniup telapak tangannya, lalu mengusap ke kepala bekas dorongan Anggun.
"Kalian? Siapa?" tanya Anggun tak mengerti
"Rahasia, hahaha" Indah tertawa kencang, padahal omongannya sama sekali tidak lucu, membuat Anggun ikut tertawa, inilah yang dia suka dari Indah, selalu bisa membuatnya tertawa dan terhibur disaat dia sedang galau.
Tadinya Indah ingin memberi tahu Anggun, kalau dia sudah menikah, tapi Indah urungkan, dia sangat menghormati perasaan Anggun, tidak mungkin dia menceritakan kebahagiaannya, disaat sahabatnya sedang bersedih. Ada kalanya dia akan menceritakan semuanya, disaat semua sudah membaik, dan Abdi juga sudah bisa menerimanya, lagipula Indah tak tahu, akan sampai dimana pernikahannya dengan Abdi.
"Padahal kemaren lo pas mabok jangan nelepon gue, lo cari mangsa aja, cowok yang kira-kira dompetnya tebel, mukanya ganteng, ya.... muka-muka CEO atau sultan gitu, terus kalian one night stand, nanti tuh cowok nggak bisa move on dari keperawanan lo, dan dia jatuh cinta sama lo, ngejar-ngejar lo, dan cowok lo nyesel deh udah menyia-nyiakan cewek secantik dan sebaik lo"
__ADS_1
Saran yang benar-benar tidak berfaedah dia berikan pada sahabatnya
"Kebanyakan baca novel romance gini nih, padahal hidup nggak seindah cerita novel pea"
"Kali aja cerita cinta lo kayak yang di vovel-novel, nasib orang nggak ada yang tahukan?"
"Lo mending baca buku pelajaran deh Bu guru, biar muridnya pinter, nggak pea kayak gurunya" saran bagus dari Anggun, agar sahabatnya agak lurus pemikirannya.
"Hahaha, tapi serius, murid gue pinter-pinter loh Nggun, nggak ada yang lola kayak gue" akunya jujur, menyadari kekurangan dalam dirinya.
Sungguh obrolan tak bermanfaat inilah yang menjadi penghibur Anggun, kehadiran Indah membuat hatinya yang hancur kini kembali membaik, Indah yang jomblo saja sebahagia ini, mana mungkin dia tidak bisa bahagia juga.
Dicafe Abdi, laki-laki itu terlihat sangat sibuk, kemeja berwarna biru tuanya kini telah digulung hingga kesiku, wajah berkeringatnya membuat dia dua kali lebih tampan, ahh coba Indah melihat wajah suaminya kini, pasti dia akan mengeluarkan semua jurus gombal recehnya.
Tinggal hitungan jam lagi acara klienya akan segera dimulai, semua dekorasi telah terpasang dengan sangat rapi, kawasan cafenya pun telah disterilkan dari pengunjung.
Mulai dari pintu masuk, sampai ke undakan anak tangga cafe, disisi kiri kanannya telah terpasang balon berwarna coklat dan putih yang telah dirangkai spiral, dipintu masuk pun telah dipasang balon gate berwarna sama, tidak banyak meja yang mereka gunakan, hanya dua meja panjang khusus keluarga yang mereka pesan dengan tema bergaya rustic, menu yang dipesan pun spesial, beruntung sekali orang tua ini, memiliki anak yang sangat perhatian, mau merayakan ulang tahunnya sedemikian rupa.
Dalam benak Abdi, keluarga ini pasti keluarga yang sangat harmonis, dan yang pasti, mereka telah mendidik anak mereka dengan sangat baik, sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang berbakti. Hufff, jika mengingat keluarga, Abdi sangat benci, selalu saja ada rasa iri menyelinap dihatinya.
__ADS_1
Denting waktu terus berlalu, Abdi telah merapikan kembali penampilannya, dia harus menyambut sendiri customernya yang berani membayar dua kali lipat dari harga yang ditawarkan, ini merupakan suatu kehormatan untuknya, jarang sekali ada seseorang yang mau membayar lebih, yang ada biasanya, mereka akan meminta discount khusus.
Keluarga yang sedang berbahagia itupun datang, mobil berwarna hitam dengan harga miliaran itupun mulai memasuki area parkir, dari pintu depan, turun seorang laki-laki muda, tampan, berperawakan tinggi, siapa lagi jika bukan Thomas Prasasti, pengusaha otomotif sukses. Dan dari pintu penumpang, turun wanita paruh baya berusia setengah abad, namun masih terlihat sangat cantik dengan hijab syar'i nya, wanita itu menggandeng gadis cantik yang menggunakan gaun berwarna pink berusia 5 tahun, ya mungkin itu cucunya, pikir Abdi, diiringi wanita muda dengan laki-laki yang diperkirakan juga itu suami dari wanita tersebut.
Tak lama, muncul laki-laki paruh baya dengan badan yang masih terlihat bugar, dengan rambutnya yang sudah tak hitam lagi. Melihat wajah laki-laki itu membuat tubuh Abdi membeku, darahnya rasanya berhenti mengalir, degup jantungnya bergemuruh.
Abdi mengepalkan tangannya, membuat buku tangannya memutih, matanya memerah karena amarah, rahangnya mengeras, ia mengeratkan gigi-giginya, ya, laki-laki itu, laki-laki yang telah mentelantarkanya, orang pertama yang menghancurkan hidupnya serta masa depannya, setelah puluhan tahun mereka tidak bertemu, kini Abdi melihat laki-laki itu datang ketempatnya bersama keluarga bahagianya.
Laki-laki itupun sama halnya dengan Abdi, dia mematung melihat mata yang memandangnya dengan penuh amarah, langkahnya terhenti, dilepaskan tangannya yang sedang menggandeng tangan sang istri.
"Doni, usir tamu kita, aku tak ingin ada iblis masuk ketempat ku, uang mereka haram untuk kita" perintahnya pada Doni yang berdiri disebelahnya.
Abdi berbalik, dengan langkah panjang ia masuk kedalam cafenya, memerintahkan semua karyawannya untuk membongkar semua dekorasi yang telah mereka pasang.
Abdi tak sudi menerima sepersenpun uang dari laki-laki itu, berapapun kerugian yang akan dia alami, Abdi akan menanggungnya.
Doni yang sudah sangat hapal dengan bahasa tubuh dan kata-kata yang Abdi keluarkan, langsung menghentikan langkah Thomas yang akan melangkah masuk, walau dia tak tahu apa yang terjadi, namun dia sudah sangat paham dengan Abdi, laki-laki itu jarang marah, namun saat ini, sepertinya Abdi tak menyukai tamu mereka.
"Pak, dengan segala hormat, Anda dan keluarga Anda kami larang masuk, silahkan tinggalkan tempat ini sekarang juga" usir Doni pada Thomas.
__ADS_1
Tentu saja hal ini membuat Thomas tak terima, dia sengaja membayar mahal karena mengetahui jika Abdi suami Indah, dan bermaksud akan membuat Abdi malu, nyatanya, kini dia malah diusir secara tidak hormat, dan tak tahu apa yang tengah terjadi.