
"Mas terima kasih atas bantuannya, jika mas tidak menolong Zidan, saya tidak tahu bagaimana nasib Zidan tadi." ucap wanita itu, tanpa memperdulikan keberadaan Indah.
Indah langsung menoleh melihat Abdi, dia mengernyitkan keningnya, seolah bertanya lewat tatapanya. Sedang Abdi salah tingkah ditatap seperti itu, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tak menyangka akan kembali bertemu dengan Naima.
"Iya, nggak masalah, oh iya Naima, kenalkan, Indah istriku."
Abdi memperkenalkan Indah pada Naima. Wajah Naima nampak terkejut, sekaligus, kecewa, namun dia tetap memaksakan tersenyum.
"Hai, Indah" ujar Indah, seraya mengulurkan tangannya pada Naima,
Indah menyembunyikan wajah kesalnya, sebab Abdi yang tak mengatakan apa-apa padanya tadi, nggak mungkin kan, dia menunjukkan itu pada wanita yang belum dia tahu siapa wanita didepannya ini, mana tahu wanita ini penyusup rumah tangga.
"Naima," Naima menerima uluran tangan Indah. "Maaf mengganggu liburan kalian."
"Ah enggak kok." jawab Indah cepat "Suami ku memang seperti itu, suka menolong sesama, ya kan mas." Indah sengaja mengatakan itu, menyindir suaminya.
Indah memperhatikan wanita didepannya, wanita itu nampak sangat cantik, kulit putih bersih, hidung kecil mancung, pakaian sederhana tapi terlihat begitu elegan pada wanita itu, behhh sempurna pokoknya. Siapa dia? apa salah satu mantan suaminya?. Ahhh Indah bukan minder, dia nggak pernah minder, cuman yang jadi masalah sekarang, bantuan apa yang sudah suaminya lakukan pada wanita itu?.
"Apa kalian sudah mau pulang?." tanya Naima
"Iya." lagi, Indah yang menjawab
"Wah padahal kalau sempat, saya ingin mengajak kalian makan dulu, sebagai ucapan terima kasih saya, Zidan juga katanya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung sama mas, karena tadi dia nggak sempat juga bilang terima kasih."
"Lain kali saja Nai, istri ku sepertinya sangat kelelahan, karena ulah ku."
Abdi merangkul bahu Indah.
Kelelahan, karena ulah ku? apa mereka habis_
Lagi, raut wajah kecewa tergambar jelas pada wajah Naima, "Kalau begitu hati-hati, sekali lagi saya ucapkan terima kasih, mas"
"Iya, sama-sama." jawab Indah tersenyum.
Indah dan Abdi masuk ke mobil. Naima memperhatikan semua perlakuan Abdi pada Indah, Abdi terlihat begitu menyayangi Indah, membukakan pintu mobil untuk Indah, dan terlihat, saat sudah didalam mobil, Abdi mengusak pucuk kepala Indah dengan sayang.
Didalam mobil, Indah dan Abdi dilanda kebisuan, sejak masuk ke mobil Indah menunjukkan wajah masamnya, dan tak sekalipun melihat kearah Abdi, dia membuang muka, melihat kearah luar jendela mobil.
"Es teri, kok lo diem aja sih?" tanya Abdi, dia melihat Indah sekilas. Abdi paling tak bisa didiamkan Indah seperti ini.
Indah masih diam.
"Maaf" lanjutnya, Abdi tahu, Indah pasti marah padanya, karena tak menceritakan pertemuan tak sengajanya dengan Naima.
Indah tetap diam, tak sedikitpun melihat kearah Abdi.
Terdengar Abdi menyentak nafasnya kasar.
"Gue nggak nyangka bakal ketemu sama Naima lagi, tadi pas nyari baju, dijalan gue liat anak cowok kecil dijalan, dia kayak nyasar, gue tolongin buat anterin dia ke villa tempatnya menginap, gue nggak tau kalau dia anaknya Naima, sengaja gue nggak cerita, nggak mau ganggu momen kita hari ini, ini merupakan hari yang begitu spesial buat gue."
Indah langsung menatap tajam kearah Abdi setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari laki-laki yang tadi pagi telah menjadi suami sesungguhnya itu.
"Mas tahu, kalau itu salah?"
"Iya, gue tahu, makanya gue minta maaf"
__ADS_1
"Mas, kita itu tadi pagi sudah melakukan_, aghh nggak usah dijelasin, kita sudah jadi suami istri yang sebenarnya, berarti kejadian sekecil apapun, mas harus cerita, karena terkadang, hal kecil yang menurut mas tidak penting, itu bisa merusak keharmonisan rumah tangga, contohnya barusan mas, Tuhan langsung menunjukkan ketidak jujuran mas, jadi untuk kedepannya, mas itu harus cerita, sebab sekarang karma itu suka ekspres, biar Indah nggak tahu dari orang lain, itu sangat menyakitkan mas, apalagi mas bohong, tadi bilangnya lama nyari bajunya, mas nggak tahu kan?, kalau Indah gelisah nungguin mas pulang."
Indah mengeluarkan semua uneg-unegnya, dia paling nggak bisa memendam perasaannya.
Abdi terlihat sangat menyesali perbuatannya, ia memperlambat laju mobilnya, mencari tempat yang aman untuk menepi. Setelah mendapatkan tempat yang dirasa pas untuk berhenti, Abdi segera menepikan mobilnya.
Abdi langsung menghadap ke Indah, mengambil tangan istrinya untuk digenggamnya. Sedang Indah tetap memilih buang muka, enggan menatap wajah suaminya.
"Es teri."
"Gue bener-bener minta maaf, untuk kedepannya, gue usahain, akan selalu jujur."
Tak ada kata janji, Abdi enggan melakukan itu.
Indah menunduk, sumpah, kecewa itu nggak enak.
Abdi mengambil dagu Indah agar menatapnya.
"Lo maafin gue kan es teri, gue nggak mau jalan, kalo lo belum maafin gue"
Diselaminya mata Indah, menunjukkan jika dia benar-benar menyesali perbuatannya.
"Minta maaf kok ngancem" sungut Indah.
Abdi tersenyum.
"Karena gue nggak betah lo diemin, nggak enak."
"Makanya jangan diulangi."
"Mas harus janji "
Abdi menggeleng, "Gue udah pengalaman dalam menghadapi cewek, salah satunya, gue nggak mau janji, gue bukan anggota dewan yang hobi mengumbar janji, tapi gue akan buktiin."
Indah menahan senyum, Abdi memang tak pernah berkata manis padanya, namun laki-laki itu selalu memberikan bukti tentang keseriusannya, seperti pada hubungannya dengan Anggun dulu, Abdi langsung memutuskan hubungan mereka, tanpa Indah yang meminta. Sangat dewasa.
"Mas, kunci pernikahan adalah kejujuran, sekecil apapun itu, dan kata maaf bukan menjamin seseorang untuk nggak ngelakuin hal yang sama?,"
"Iya, gue akui, gue salah."
"Gue rasa kita akan tetap disini, kalo lo belum maafin"
"Iya, tapi ada syaratnya"
"Apa?" Abdi memajukan wajahnya.
"Kalo nggak salah, Naima itu wanita yang dulu nolak lamaran mas bukan?"
"Iya."
"Mas ngomong sama dia aku kamu, tapi sama Indah lo gue, apa mas masih nyimpan rasa sama dia?."
"Nggak."
"Jadi mas juga harus ngomong aku kamu ke Indah."
__ADS_1
Cup
Gemas, dikecupnya bibir yang sejak tadi mengomel, membuat wajah Indah merona. "Lo spesial es teri, mau lo gue, aku kamu, tetap lo yang spesial."
"Tapi Indah maunya aku kamu"
"Oke"
Ya ampun gitu doank, nggak peka banget.
"Mas nyebelin." Indah mengubah posisinya, menghadap kedepan.
Dasar cewek, diturutin maunya malah begitu.
Abdi menghela nafas. "Iya es teri, aku bakal ngomong aku kamu."
Indah langsung menoleh, dan mencium pipi Abdi "Makasih ya mas."
Abdi menangkup wajah Indah, memberikan ciuman bertubi-tubi diwajah istrinya.
"Es teri, kalo lanjut yang tadi pagi disini enak kali ya?."
Indah melotot, memukul lengan Abdi "Mas, kita bisa ditangkap pejeer."
Hahaha keduanya tergelak, Abdi kembali melajukan mobilnya, dia senang bisa segera menyelesaikan permasalahannya dengan Indah, memang seperti itu dalam berumah tangga, siapa yang melakukan kesalahan, dia harus segera meminta maaf, dan menyelesaikan masalah saat itu juga.
...****...
Keesokan paginya, Indah dan Abdi sudah siap untuk aktivitas mereka, sebenarnya Abdi meminta Indah untuk mengambil cuti, dia kasihan melihat istrinya yang kelelahan, sebab dia kembali menggempur Indah pagi tadi, bahkan Abdi sempat meminta nambah. Tapi Indah bersih kukuh, dia memiliki tanggung jawab yang besar disekolah.
Saat mereka akan memasuki lift, mereka kembali bertemu dengan Chio, laki-laki itu kembali membawa tentengan plastik makanan, tidak hanya satu, tapi dua, menambah rasa kecurigaan Abdi padanya.
"Sebenarnya siapa sih yang ada diapartemen lo?." tanya Abdi langsung, dia sangat penasaran, Chio ini tak pernah membawa siapapun ke apartemennya.
"Nggak ada." jawab Chio singkat,
"Beli makanan banyak terus, hati-hati, nanti perutnya jadi one pack lagi." ujar Abdi memancing.
"Ngajase" (sengaja) jawabnya singkat, ia langsung pergi meninggalkan Abdi dengan rasa penasarannya.
Chio masih bingung harus bagaimana, sebab Anggun kekeh tidak mau pulang, membaut kepalanya serasa mau pecah, wanita itu seperti banyak sekali masalah, bahkan kini Anggun mengambil cuti selama seminggu, yang artinya Anggun akan selalu berada diapartemenya.
"Tadi Chio ngomong apa sih mas?"
Indah dan Abdi berjalan bersisian menuju mobil Abdi.
"Chio itu aneh, kayak kamu, dia kalo ngomong suka dibalik."
"Kayak lele jadi elel, enak jadi nak e, jadi ... lele enakkan" bisik Abdi ditelinga Indah.
"Mas ihh." Indah memukul pundak sang suami.
"Sakit es teri, gue minta tanggung jawab nih, lo harus ngobrol sama lele dimobil nanti."
"Ihh nggak mau, jorok." Indah bergidik ngeri, membayangkan tingkahnya tadi pagi, saat ia mencoba mengobrol dengan lele milik suaminya.
__ADS_1
Abdi mengantarkan Indah ke sekolah, dia tak mengizinkan Indah mengendarai motor sendiri, dan dia akan menjemput Indah saat pulang nanti.