
Semua yang ada disana serentak menatap Thomas. Thomas yang memang duduk sendiri disofa single, berhadapan dengan papanya, sedang Selly dan mamanya duduk disofa panjang, berhadapan dengan mama dan kakak-kakak Thomas disofa panjang juga.
Thomas terlihat tenang dan santai aja. Dia malah menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa, tangannya bersedekap, dengan kaki yang disilangkan, menatap satu persatu wajah tegang yang kini menatapnya seolah dia adalah terdakwa, mama papanya, Selly dan mamanya, juga kakak dan kakak iparnya yang memang sedang menginap disana.
Dia menghentak nafas, menunduk, mengambil amplop coklat dibawah meja, yang entah kapan dia membawanya. Thomas menaruh amplop coklat itu diatas meja.
"Buka"
Ujar Thomas menunjuk amplop itu dengan dagunya, sungguh cara yang sangat cool.
Semua saling pandang, siapa yang akan membuka amplop itu?.
Akhirnya Selly sendiri yang mengambil amplop tersebut, dengan sangat hati-hati dia membukanya.
Mata Selly membulat melihat foto dirinya sendiri, dadanya terasa sesak, nafasnya sedikit memburu, dengan tangan dan bibir yang gemetar. Melihat ekspresi Selly semua yang disana menjadi sangat penasaran.
"Ada apa Sell?" tanya Disa, dia memegangi tubuh Selly yang akan roboh.
Selly melihat sang mama, dia menggeleng pelan.
"Ng-nggak ada apa-apa Ma" Selly tergagap, ia memasukkan kembali foto itu kedalam amplop, lalu memeluk amplop tersebut, tak ingin yang lain ikut melihatnya. Sungguh Selly seperti susah mendapatkan oksigen saat ini, dia susah untuk bernafas, dadanya terasa sesak.
Thomas tersenyum sinis melihat Selly.
Semua orang yang melihat Selly, yakin jika yang dilihat Selly adalah sesuatu yang sangat penting hingga membuat gadis itu memucat.
"Foto apa itu nak?" tanya mama Thomas.
"Bu-bukan apa-apa tante" jawabnya terbata.
"Jadi benar kamu hamil anak Thomas?" tanya Kartika lagi.
"Siapa lagi jeng? anak saya hanya berhubungan dengan Thomas, dia tidak pernah dekat laki-laki lain." Jawab Disa percaya diri.
Lagi Thomas hanya tersenyum mendengar itu.
"Apa kamu tahu, siapa wanita yang menjadi selingkuhan Thomas?" Kartika menatap Selly dalam.
Selly menunduk, lalu mengangguk.
"Apa ada buktinya?" pertanyaan Kartika membuat Disa menggeram.
"Jeng, apa harus ada bukti seseorang yang berselingkuh?" Disa tak terima, anaknya sedang hamil, tapi keluarga Thomas seolah mengintimidasi anaknya "Apa kalian tidak percaya dengan Selly? anakku tidak akan berbohong untuk hal ini, anda itu perempuan, seharusnya anda tahu yang saat ini anak saya rasakan."
Dada Disa naik turun menahan emosi.
"Bukan seperti itu jeng, Selly, coba tunjukkan apa isi amplop itu? kita harus tahu, biar masalah ini selesai saat ini juga"
__ADS_1
"Benar itu" kini Kakak Thomas yang berkata.
Kartika begitu penasaran, tadi saat datang Selly begitu menggebu-gebu, namun saat melihat isi amplop itu Selly hanya diam, seakan menyembunyikan sesuatu.
"Jika memang Selly hamil anak Thomas, saya senang, kita akan menikahkan mereka saat ini juga, tapi saya harap tak ada yang ditutup-tutupi." Kartika berucap setenang mungkin, walau kenyataannya dia sangat syok, malu dengan kelakuan anaknya.
"Hamil anak siapa lagi jeng, kalau bukan anak Thomas, Selly tidak semurahan itu" elak Disa lagi.
"Ayo Selly, katakan yang sejujurnya, anak siapa itu?." tanya Thomas, kedua alisnya terangkat.
"Omong kosong Thomas, kita melakukan itu berkali-kali, tapi kamu tidak mau mengakuinya" Selly seperti sudah hilang rasa malunya, dia merasa tersudutkan, "Dan sekarang kamu malah memutar balikkan fakta, memfitnah aku dengan foto murahan ini"
"Aku ada bukti videonya, apa aku harus membukanya disini Sell?" tantang Thomas kemudian
"Bajingan kamu Thomas"
"CUKUP, kalian membuang waktuku, Thomas cepat katakan, apa yang sebenarnya terjadi?" bentak Prasasti.
"Intinya Selly bukan hamil anak Thomas Pa, dan Thomas tidak akan menikahi Selly, dia hanya menginginkan harta kita, dia juga tidak mencintai Thomas, makanya dia menjebak Thomas, dan Thomas tidak akan menikahi wanita yang mau menghancurkan saudaranya sendiri, memaksa orang lain untuk menyerahkan hak yang seharusnya bukan milik mereka."
Selly dan mamanya tercengang mendengar penjelasan Thomas.
"Apa maksud kamu Thomas?." tanya Disa
"Selly memiliki hubungan dengan laki-laki lain tante, dan Thomas bukan laki-laki yang pertama melakukan itu pada Selly." jelas Thomas.
Selly tertunduk, seharusnya dari awal dia sadar, jika Thomas bukanlah laki-laki sembarangan yang akan dia tipu, Thomas memiliki kekuasaan, pasti Thomas banyak mata-mata untuk menyelidiki setiap gerakannya, kali ini dia tak dapat lagi mengelak, dia sudah tertangkap basah.
Selly hanya mengangguk samar sebagai jawabannya, namun masih dapat dilihat mamanya.
"Astaga Selly."
Disa terduduk, dunianya seakan runtuh, anak semata wayang yang selalu dia bangga-banggakan ternyata telah salah jalan. Disa kemudian mengambil paksa amplop yang ada dipangkuan Selly.
"Jangan Ma" pinta Selly, dengan air mata cicaknya yang mengalir deras. Tangannya akan merebut lagi amplop itu dari mamanya, namun ia tak bisa.
Betapa terkejutnya Disa saat melihat isi amplop tersebut, Selly dan seorang laki-laki yang dia sendiri tidak tahu, mereka tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh keduanya, sedang melakukan aktivitas yang tak seharusnya mereka lakukan. Disa memegangi dadanya, dia tak kuat, lalu ambruk.
"Mama, Mama kenapa Ma?" Selly menggoyangkan tubuh Disa, dia tak menyangka jika akan seperti ini.
Semua panik, Prasasti yang tidak ingin terjadi apapun dirumahnya, segera membawa calon besanya itu kerumah sakit.
...***...
Disaat Selly dan mamanya sedang tertimpa musibah, pasangan yang sebenarnya sedang tertimpa musibah juga, Indah dan Abdi. Kini mereka sampai pada perumahan cluster sederhana dibilangan Jakarta Selatan. Perumahan itu tak jauh dari Indah mengajar.
"Mas, ini rumah siapa?" tanya Indah saat mobil Abdi berhenti didepan rumah bercat putih orange tersebut.
__ADS_1
Indah melihat sekeliling, lalu mengamati rumah yang ada di depannya. Sebuah rumah mini malis berlantai dua, sepertinya rumah itu baru selesai dibangun, bahkan rumah ini belum memiliki pagarnya.
Abdi mengulas senyum, melihat istrinya.
"Kita masuk dulu yuk, lihat-lihat, jika kamu suka, kita akan beli, tapi jika kamu nggak suka, kita cari yang lain, tapi aku cuma ada bujet sedikit, harga rumah ini dibawah empat ratus juta, seperti yang udah aku ceritain, kita akan pindah dari apartemen, karena mau aku jual, uangnya untuk membayar korban keracunan kemarin, dan sisanya, mau aku buat ngembangin bisnis, gimana, kamu setuju nggak, kalau kita nggak tinggal diapartemen dulu?"
Indah terenyuh, kondisi Abdi saat ini sangat sedang turun. Andai saja rumahnya tidak diambil oleh waknya, pasti Indah akan mengajak Abdi tinggal di sana, dan Abdi tak perlu pusing membeli rumah, uang hasil dari menjual apartemennya bisa untuk Abdi membuka usaha yang dia inginkan.
Indah mengangguk "Aku setuju aja mas, tinggal dirumah pohon pun nggak papa, asal berdua sama mas, Indah pasti senang" jika pasangan lain laki-laki yang suka menggombal, tapi ini justru kebalikannya, Indah itu, tiada hari tanpa menggombali suaminya.
"Kalau tinggal dirumah lele gimana?" tanya Abdi menggoda, dia menaik turunkan alisnya.
"Kalau lele milik mas sih mau aja, asal jangan lele yang lain"
Abdi tergelak dengan jawaban Indah, sungguh hari-harinya yang suram terasa lebih berwarna.
Mereka turun dari mobil, bertemu dengan marketing rumah itu yang memang sudah janjian dengan Abdi sebelumnya.
"Maaf Pak, sudah lama menunggu?" Abdi menyalami orang tersebut, lalu memperkenalkan Indah.
"Oh belum Pak Abdi, tadi saya juga habis bertemu clien juga yang sedang melihat-lihat rumah, mari Pak, Bu, lihat-lihat dulu" ajaknya.
Abdi dan Indah mengikuti langkah orang tersebut untuk memasuki rumah. Rumah yang pas untuk pasangan pengantin baru seperti mereka, rumah yang terdapat ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, satu kamar tidur, dapur dan satu kamar mandi dilantai bawah, tanpa ada halaman belakang. Lalu mereka menaiki lantai atas, dilantai atas juga hanya terdapat satu kamar tidur yang memiliki kamar mandi didalamnya, lalu ruang bersantai, dan terdapat balkon yang digunakan untuk menjemur.
Setelah puas, orang tadi meninggalkan Abdi dan Indah, sebab dia mendapatkan telepon untuk menemui orang lain lagi.
"Gimana es teri, kamu suka?" tanya Abdi, mereka sedang berada didapur, Indah mencuci tangannya di wastafel, sekaligus memeriksa airnya bagus atau tidak.
Belum sempat menjawab, Indah terlonjak, saat tiba-tiba Abdi memeluknya dari belakang, Abdi menempelkan dagunya di bahu Indah, ia ikut mencuci tangannya, lalu mengambil tangan Indah untuk ia usap-usapkan bersamaan dengan tangannya.
"Mas ihh, nanti orangnya balik lagi loh"
"Biarin, lele pengen coba berenang disini enak kali es teri" bisik Abdi ditelinga Indah, lalu mengecup kuping istrinya gemas.
"Mas ih geli."
"Mau nggak?"
"Nggak mau"
"Mau ya?" bujuk Abdi
"Mas, jangan suka ngebiasain lele berenang disembarang tempat"
"Oh bisa Bu, didepan bisa kok buat melihara lele" tiba-tiba suara marketing mengagetkan keduanya.
"Hah"
__ADS_1
Bukan lele itu pak. batin Indah