Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 75


__ADS_3

Mendengar ucapan papanya, Naima menjadi makin yakin, jika memang dia dan Abdi bisa kembali bersatu. Berarti, papanya mendukungnya dong sekarang?, dan merestui Abdi akan menjadi ayah sambung untuk Zidan. Naima juga yakin, baju yang robek bisa kembali dijahit dan dipakai lagi, apalagi selama mereka bertemu, Abdi selalu menyambut hangat dirinya. Naima akan kembali mengatur strategi, ingat ya, kucing itu nggak akan nolak kalo dikasih tulang.


Naima mengingat wajah, sifat, dan penampilan Indah waktu ia diperkenalkan dulu, Indah bukanlah tipe Abdi sama sekali, Abdi menyukai wanita seperti dirinya, cantik, pintar, elegan, berwawasan luas, serta lemah lembut. Indah itu ibarat ikan asin, kucing jaman sekarang mana ada yang suka ikan asin kan?. Yang ada setelah diendus-endus, dijilatin, lalu bakal ditinggalin, karena terlalu banyak mengandung formalin, nggak orisinil. Hem ... hem ... pemikiran yang masuk akal juga sih, makanya kucing nggak doyan ikan asin, ternyata ada formalinnya, ah sudahlah, lihat saja nanti.


Siapa yang ikan asin dan siapa yang tulang.


Restoran yang dipilih ayah Naima merupakan restoran mewah dan private, dia ingin pertemuan kali ini berkesan untuk Abdi dan Naima. Hitung-hitung ingin menebus kesalahannya dulu, yang memisahkan dua sejoli itu secara paksa, dan dia malah salah memilihkan jodoh untuk anaknya. Dia sangat, saa-ngat yakin, jika dihati Abdi, nama Naima memiliki tempat tersendiri, dan tak akan bisa terganti dengan wanita lain. Walau Abdi sudah beristri.


Sebenarnya mereka sudah lama menunggu kedatangan Abdi, tapi, yang namanya orang yang ada maunya, pasti mereka sabar-sabarin untuk nunggu, tau sendiri kan, menunggu itu adalah hal yang paling menyebalkan. Sudah terhitung setengah jam-an loh ini dari waktu yang dijanjikan, dandanan cantik Naima aja sudah bikin Naima nggak betah. Karena dia memilih gaun malam yang sedikit terbuka dibagian dadanya, jujur saja ini bukan Naima banget.


"Coba kamu hubungi Abdi sayang, dia sudah sampai mana?" saran ayah Naima akhirnya.


"Nggak enak Pa, nanti Naima kelihatan banget ngarepnya. Naima harus sedikit jual mahal, biar Abdi penasaran."


Ayah Naima mengangguk, membenarkan ucapan anaknya.


Sayangnya, orang yang mereka tunggu, sekarang sedang menikmati makan malam disebuah hotel. Ya, Abdi lupa pada ajakan ayah Naima. Saat dia sampai rumah tadi, dia mendapati Indah yang sedang tertidur pulas, sambil mendekap sebuah buku.


Abdi membaca buku yang dituliskan Indah, membuatnya tersenyum geli dan geleng kepala.


Dan karena hal itulah dia mendapatkan ide untuk mengajak Indah candle light dinner disebuah hotel sekaligus bermalam disana, dan idenya itu didukung oleh Masnah


Abdi memberikan sebuah gaun mahal untuk Indah. Dia menutup mata Indah menggunakan kain berwarna merah hati untuk menuju tempat yang telah dia pesan secara dadakan. Ya Abdi mengajak Indah makan malam dikamar hotel.


Setelah masuk, Abdi membuka tutup mata istrinya.


"Surprise"

__ADS_1


Perlahan Indah membuka matanya yang sedikit memburam. Mata Indah mengembun dengan yang telah Abdi sediakan. Indah melihat, pakaian mereka berdua bergantian, dia dan Abdi memakai baju couple, Abdi dengan kemeja hitam yang dilapisi dengan jas warna senada, dan Indah dengan gaun malam yang mengekspos punggun mulusnya, yang membuatnya terlihat seksi. Dan membuat makan malam mereka terkesan mewah dan romantis. Embun yang sejak tadi Indah tahan lolos begitu saja dipipi mulusnya. Perlakuan manis Abdi selalu membuatnya semakin takut. Takut jika suatu saat Abdi akan meninggalkanya. Wajar kan Indah berpikiran seperti itu?. Jadi jangan salahkan Indah dengan pemikirannya yang seperti itu. Walau Abdi masih memperlakukannya dengan begitu istimewa, dibalik ketidak sempurnaanya.


Abdi menarik kursi untuk Indah duduk, setelah itu dia menarik kursi untuknya, lalu tanpa ragu, dia mendaratkan pantatnya dibangku yang berhadapan dengan Indah. Diatas meja sudah tersedia steak, kentang goreng, dan buah, serta minuman jus, ditambah lilin berwarna merah yang menambah suasana makan malam mereka bertambah romantis.


"Mas, kamu nyiapin ini semua buat aku?" tanya Indah dengan mata berbinar tak percaya.


"Bukan," jawab Abdi yang membuat Indah merengut. "Iyalah es teri, siapa lagi kalau bukan buat kamu, apa kamu mau aku menyiapkan buat wanita lain?"


Indah mendelik mendengar jawaban Abdi yang membuat Abdi terkekeh.


"Udah nggak usah banyak berdebat, jangan sampai malam romantis kita jadi rusak gara-gara masalah nggak penting."


Abdi mengajak Indah bersulang, lalu mereka makan dengan saling menyuapi, begitu romantis bukan?. Membuat keduanya saling melempar senyum dengan yang mereka lakukan.


Jam terus berputar, ditempat lain, Naima dan papanya menunggu dengan resah, dan kesal. Pesan yang dikirim Naima ke Abdi hanya menunjukkan centang satu, sedang panggilan telepon Naima tak ada satupun yang masuk. Naima terus menghentakkan kakinya kesal, Zidan pun tak luput dari pelampiasannya, hingga membuat bocah itu menangis.


"Jangan bentak-bentak anakmu Naima, nanti dia sakit."


"Ini semua diluar dugaan Papa Naima. Harusnya kamu bersyukur Papa mau membantumu."


"Membantu apa? ini malah membuat Naima MALLU, untuk apa Naima berdandan cantik kayak gini?" Naima memegangi dress yang dia kenakan, menunjukkannya pada ayahnya "Ini semua nggak ada gunanya." Naima mengambil tasnya diatas meja, dia pergi meninggalkan papa, serta anaknya yang ketakutan melihat kakek dan mamanya bertengkar. Bahkan mereka belum mengeluarkan menu yang mereka pesan.


Ayah Naima menggeram kesal, dia berjanji akan membalas perbuatan Abdi malam ini. Diapun menghubungi seseorang untuk menyelidiki kemana Abdi malam ini, hingga tak datang ke undangan makan malamnya, serta menyelidiki tentang Indah. Dia melihat Zidan yang masih menangis. "Naima, kamu selalu menjadikan Zidan pelampiasan" Ayah Naima mendekat kearah Zidan yang masih menangis, menarik kepala cucunya untuk ia peluk.


"Zidan, badan kamu panas sekali sayang." Ayah Naima memegang kening Zidan cemas, menyisir rambut Zidan kebelakang. "Astaga, maafkan kakek ya, kamu sampai belum sempat makan."


"Om papa nggak suka Zidan ya Kek?, makanya om papa nggak datang." lirih bocah itu terisak, ia mengusap air matanya dan hidungnya yang mengeluarkan iingus.

__ADS_1


Ucapan Zidan seperti menyiram bensin dibara api yang menyala di hati kakeknya. Padahal tadi dia begitu percaya diri, percaya diri yang percaya diri yang begitu besar, sebesar telor cicak, namun kini terpatahkan menjadi mengecil menjadi telur cacing.


"Tidak Zidan, om papa sedang ada urusan mendadak, jadi dia tidak bisa datang." dustanya, duh padahal dia nggak perlu berbohong, dan tak memberi harapan pada Zidan.


Kembali ke hotel, kembali pada pasangan yang sedang bermesraan, kini mereka tengah bercumbu mesra, bertukar saliva satu sama lain. Pakaian yang tadi melekat ditubuh mereka kini telah berserakan tak tahu arah. Mereka saling berkejaran meraih kepuasan menuju nirwana.


Peluh keduanya bercucuran, menandakan, bahwa pertemuan lele dengan kolamnya begitu panas, sampai akhirnya, sang empu lele memuntahkan laharnya didalam kolam yang begitu dia sukai. Ketika dia telah mengeluarkan lele miliknya, dia memperhatikan kolam yang telah membuat lelenya selalu ingin, dan ingin berenang lagi disana.


"Kenapa coba harus jauh-jauh ke hotel mas, padahal dirumah juga sama aja rasanya." Indah meletakkan kepalanya di atas dada Abdi, mendongak, melihat wajah tampan suaminya yang juga sedang menunduk melihat wajahnya.


"Kita cari suasana baru es teri, biar kita nggak bosen" ucap Abdi sambil memainkan rambut Indah.


"Mas, setelah aku nggak punya itu lagi, apa rasanya masih sama?" tanya Indah, dia kembali menunduk, kini tangannya beralih membentuk gambaran abstrak didada Abdi. Dari kemarin dia begitu penasaran ingin menanyakan hal ini.


"Tetap sama sayang, makin sempit dan menggigit, makanya aku mau nambah lagi." Indah mengerti maksud ucapan Abdi, dia langsung mencubit pinggang suaminya gregetan.


"Sakit es teri, kamu mulai deh, kadeerte" Abdi mengusap pinggangnya yang terkena cubitan Indah.


"Maaf mas." ujar Indah, mengusap pinggang Abdi, menggantikan tangan Abdi yang tadi. "Oh ya mas, kapan kamu mau bawa anak teman kamu?"


Abdi sontak bangun, dia lupa, jika dia memiliki janji makan malam dengan Naima dan juga papanya.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa, Like, komen selalu ya 😘😘😘😍😍😍 dan beri hadiah buat mas ganteng yang lupa datang 🤭🤭


__ADS_2