Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 38


__ADS_3

Pukul tujuh pagi, Indah sudah selesai memasak, ini dia lakukan sebagai ucapan terima kasihnya dan maafnya kepada Abdi. Indah melihat masakan yang baru saja dia masak, nggak masakan istimewa, cuma telor dadar, dan tumis buncis, sudah, cuma itu.


Percaya kan, kalau masak telor dadar itu wanginya sampai kemana-mana?. Seperti itulah telor dadar bikinan Indah, wanginya sampai masuk ke kamar, dan masuk ke indra penciuman Abdi, sehingga mengusik tidurnya.


Abdi terbangun, mengusak hidungnya yang terasa gatal, mau bersin tapi tak bisa. Ia menyibak selimut yang melindunginya dari hawa dingin, lalu ke kamar mandi, mencuci muka terlebih dulu, baru dia akan melihat kedepan, mencari sumber wangi masakan yang membangunkannya.


"Selamat pagi mas, udah bangun?" Indah mengulas senyum, melihat Abdi yang mendekat.


"Kamu masak?." Abdi langsung mendudukkan dirinya di depan meja makan, "Ini nih yang bangunin gue tidur ternyata." Abdi melihat masakan yang sudah dimasak Indah.


"Masa sih mas baunya sampai ke kamar?, mau makan sekarang?" Abdi mengangguk.


Tanpa disuruh, Indah menyendokkan nasi, dan lauk untuk Abdi, semua yang dilakukan Indah tak pernah luput dari perhatian Abdi.


Ini yang dibilang Doni, punya istri enak ada yang layanin.


"Sarapannya hanya ada ini mas, soalnya dikulkas nggak ada apa-apa."


"Nggak papa, ini kelihatan enak kok, apalagi yang masak kamu, pasti aku makan"


Indah bersemu malu mendengarnya "Gombal"


"Serius, gue seneng lo udah mau repot-repot masakin" lihat Abdi Indah yang duduk didepannya, istrinya itu sedang menyendokkan nasi kepiringnya sendiri, sisa keringat yang menempel di dahi Indah membuat Indah terlihat sangat manis dimata Abdi.


"Mas, makasih ya semalam sudah mindahin Indah, maaf Indah ketiduran, dan maaf juga waktu itu Indah mukul mas." Indah kini juga melihat Abdi, dia menunjukkan rasa bersalahnya. "Indah dulu pernah janji sama Anggun, akan membalas laki-laki yang udah nyakitin dia, dan Indah nggak nyangka, kalo laki-laki itu adalah mas"


Abdi mengambil tangan Indah, dan menautkan jari mereka "Nggak pa-pa, gue yang minta maaf, karena kesalahan itu, kalian jadi berselisih paham, lo udah ketemu Anggun?."


Indah melihat tangannya yang digenggam Abdi, ada rasa hangat dan nyaman yang menjalar keseluruh tubuhnya, Indah menjadi deg-degan, wajahnya rasanya memanas. Hingga kemudian dia menarik tangannya.


"Udah, tapi Anggun masih marah mas" lirihnya


"Anggun butuh waktu untuk menerima ini, gue yakin, suatu saat dia pasti akan ngehubungi lo lagi, dan jika tidak, gue yang akan menjelaskan semuanya"


Indah menipu bibirnya "Makasih ya mas, makan sekarang yuk mas, mumpung masih hangat, telor dadar kalau udah dingin nggak enak"


Abdi mengangguk, menyetujui ucapan Indah "Lo hari ini libur kan es teri?" tanya Abdi disela kunyahanya.


"Iya mas"


"Habis ini siap-siap, kita akan pergi ke suatu tempat."


"Kemana mas?"

__ADS_1


"Kemana aja, kita ngabisin waktu seharian ini bersama"


"Mas juga libur?" tanya Indah antusias


"Iya"


Yeay, ingin rasanya teriak, tapi jaim.


Satu jam Indah sudah rapi, ia mengenakan dress selutut berwarna maroon, berpita kecil dipinggang kirinya, memperlihatkan kakinya yang tidak terlalu panjang, tapi terlihat sangat seksi, dan sangat manis. Sengaja Indah memakai pakaian yang feminim, dia ingin membuat hari ini menjadi yang spesial, sebab, selama mereka menikah, baru kali ini mereka sempat jalan-jalan berdua, seharian.


Abdi sudah menunggunya di sofa depan teve, suaminya itu sedang fokus pada ponselnya. Merasa ada yang mendekat, Abdi mendongakkan kepalanya. Dia terpana melihat penampilan Indah yang terlihat berbeda, biasanya istrinya itu selalu memakai celana jeans, dan kaos, tapi kali ini, Indah terlihat sangat cantik dengan dress simpel yang digunakannya, dan sedikit riasan yang menempel diwajahnya.


Indah salah tingkah ditatap seperti itu oleh Abdi, dia berdehem, mencoba menyadarkan suaminya.


"Mas, jadi jalan kan?"


Abdi yang kini jadi salah tingkah, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Emm jadilah, yuk." Abdi berdiri dan menggandeng tangan Indah untuk keluar.


Saat mereka akan memasuki lift, mereka bertemu dengan Chio, laki-laki yang dulunya gempal itu sedang membawa dua kantong makanan cepat saji ditangan kirinya, sedang tangan kanannya membawa paper bag sebuah merek pakaian wanita.


Tatapan Abdi dan Indah sama-sama tertuju pada kantong bawaan Chio. Abdi menyipitkan matanya.


"Dari mana? lagi ada tamu?." tanya Abdi to the point penuh selidik.


"Tamunya cewek?" tebak Abdi, dia makin penasaran, Chio itu tak pernah terlihat dekat sama cewek. Tapi melihat bawaan Chio, Abdi jadi curiga, dan ingin tahu.


"Mau tau aja urusan orang"


Abdi tersenyum mencibir "Kalo suka nikahin, bukan hanya dikawinin, kayak gue gini" Abdi langsung merangkul pundak Indah posesif, kemudian dia mencium tepi kepala Indah. Indah yang diperlakukan seperti itu tersenyum canggung, dia malu, mungkin.


"Cuih, sombong" ludah Chio, merasa jijik dengan ucapan Abdi, membuat Abdi tertawa. Chio cepat-cepat pergi, enggan ditanyai yang macam-macam oleh Abdi, bisa berabe dia jika keceplosan dan ketahuan siapa yang berada dikamarnya saat ini.


...****...


"Mas kita mau kemana sih sebenarnya?." Indah menoleh pada Abdi yang fokus menyetir disebelahnya.


Abdi tersenyum, kemudian mengambil tangan Indah, membawa keatas pahanya "Kerumah teman gue"


Indah mengigit bibirnya, menahan senyum, bahagia rasanya ingin diperkenalkan dengan teman suami, berarti dia benar-benar dianggap keberadaannya, seketika Indah melihat penampilannya "Mas, penampilan Indah nggak malu-maluin kan?." tanya Indah merasa tak percaya diri.


Abdi mengulas senyum "Lo pake baju yang bener kok, kenapa harus malu?"


Indah manyun mendengar jawaban Abdi, pengennya sih dia dipuji gitu. "Mas nggak akan memperkenalkan Indah sebagai pembantu kan?, kayak dulu mas ngenalin Indah ke Chio" Indah memiringkan kepalanya, untuk memastikan Abdi tak akan mengulangi hal serupa, yang membuat Chio salah paham.

__ADS_1


"Enaknya sebagai apa ya? tukang teri kali ya."


"Mas nyebelin" cebik Indah bibirnya, kesal dengan jawaban Abdi yang tak pernah serius, membuat Abdi terkekeh.


Abdi menepikan mobilnya pada toko kue, sebagai buah tangan yang akan diberikannya pada keluarga temanya itu, Abdi ingat jika mereka tinggal berdekatan dengan Vivi, jadi Abdi meminta Indah membelikan tiga macam kue.


Setelah dirasa cukup, kini Abdi kembali menepikan mobilnya, tujuannya sekarang adalah pakaian anak-anak, Abdi meminta Indah yang memilihkan pakaian untuk anak perempuan, serta mainan, dan pernak pernik aksesoris yang berhubungan dengan anak perempuan, mengingat dia dulu memberikan hadiah yang tak wajar untuk baby Marsha.


Indah sempat tercengang dengan harga yang diberikan oleh Abdi untuk anak temannya itu, semua pakaian yang dibeli berharga fantastis, Indah sampai meneguk ludah susah payah, jika untuk belanja pakaiannya, Indah yakin, bisa untuk membeli bajunya selemari, berikut lemarinya.


"Teman mas Abdi pasti horang kaya," batin Indah.


Tak lama mereka pun sampai pada rumah yang dituju, rumah satu lantai dengan halamannya yang luas, seorang security tampak berlari untuk membukakan pintu pagar untuk mereka masuk.


"Eh Pak Abdi, sudah lama nggak kesini Pak?" sapa mang Dadang.


"Iya, sehat Mang?"


"Sehat Pak, sepertinya Pak Rasya sudah menunggu kedatangan Pak Abdi"


Abdi mengangguk "Terima kasih mang, saya masuk dulu," ucap Abdi setelah pintu pagar bercat putih itu terbuka.


"Iya Pak"


Memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah itu, Abdi turun membukakan pintu untuk sang istri. Diperlakukan seperti ini saja sudah membuat Indah senang, semakin hari Abdi semakin membuatnya jatuh cinta berkali lipat, padahal yang dilakukan Abdi itu biasa saja, dan sederhana, dasar Indah, ini efek dia kelamaan menjomblo pasti.


Kedatangan mereka nampaknya sudah ditunggu, sebab sang empunya rumah langsung keluar menyambut kedatangan mereka. Ya awalnya Abdi mengajak Rasya untuk bertemu diluar, namun keadaan Mawar yang sedang tak enak badan, tak memungkinkan mereka untuk keluar, jadi Rasya mengundang Abdi untuk kerumahnya saja, dia sangat merindukan teman seperjuangannya itu.


Sambil membawa buah tangan yang mereka beli tadi, Abdi berjalan sambil memeluk pinggang Indah, perlakuannya itu membuat Rasya tersenyum penuh arti.


"Wah sepertinya sang cassanova kita sudah insaf"


Indah mengehentikan langkahnya mendengar ucapan Rasya, Indah menatap tajam kearah Abdi dan melepaskan tangan Abdi yang melingkar di pinggangnya.


.


.


.


.


*Yang mau tahu cerita Rasya dan Mawar, cuss langsung mampir ke Mawar Tak Berduri.

__ADS_1


Hihihi ada yang kangen nggak sama mereka berdua, kira" Mawar sakit apa ya*?


__ADS_2