Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Extra part 2


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Indah tak hentinya mengucapkan doa, dalam kepanikanya melihat wajah Abdi yang sudah terlihat memucat, Indah mencoba memberi nafas buatan, dia juga mencoba memasukkan air putih kedalam mulut suaminya yang dia dapatkan dari supir ambulance.


Biarlah dia dianggap tidak waras, melakukan itu pada orang yang tak sadarkan diri, satu harapannya, agar suaminya bisa membuka mata, dan tersenyum lagi padanya.


Sebisa mungkin dia membuang pikiran buruk tentang nasibnya yang akan sama dengan ibunya, ditinggalkan oleh orang yang begitu berharga untuk selama-lamanya.


"Tuhan, aku sudah menerima takdir mu untuk ikhlas tidak memiliki keturunan, tapi aku mohon, berilah aku kesempatan untuk memiliki satu kebahagiaan, izinkan kami terus bersama hingga tua nanti."


Itulah permintaan Indah, rasanya tak sanggup jika dia harus kehilangan Abdi sekarang, mereka baru saja mereguk kebahagiaan, memiliki keluarga yang utuh dan berdamai, rasanya tak adil, jika Abdi, harus merasakan kebahagiaan itu hanya sekejap mata, sedang dia merasakan penderitaan, berjuang hidup sendiri, hampir separuh hidupnya.


Tapi siapa yang bisa melawan takdir?.


Indah tak mau berdiam diri, dia terus mencoba membuat pertolongan pertama dengan terus memberi nafas buatan pada Abdi, lalu mengecek denyut nadinya.


Nihil, entah karena rasa panik atau apa, Indah tak merasakan denyut nadi suaminya.


Tangan Indah bergetar, seluruh tubuhnya melemas.


Saat sampai dirumah sakit, mereka langsung disambut perawat dan dokter yang sudah siap menyambut kedatangan mereka. Abdi langsung diletakkan di brankar untuk segera dibawa ke ruang IGD.


"Maaf, keluarga pasien, harap tunggu diluar saja," pinta salah seorang perawat saat Indah dan Masnah akan ikut masuk ruang penaganan suaminya.


Indah yang sejak tadi tak bisa menangis, kini baru bisa mengeluarkan air yang sejak tadi entah pergi kemana saat dia panik. Ketika Abdi sudah hilang dari pandanganya, air itu lolos tanpa mau berhenti, seirama dengan denyut jantungnya yang berdetak panik. Dia luruh, Indah tak kuat lagi menopang berat tubuhnya, otaknya tak bisa memikirkan apa-apa lagi, terlalu banyak pikiran buruk melintas dikepalanya.


Namun selintas dia ingin mengakhiri hidupnya jika Abdi pergi meninggalkan dia untuk selamanya, untuk apa dia hidup?, jika penyemangat hidupnya sudah diambil lebih dulu.


"TUHAAAN, tolong beri kesempatan untuk kami bahagia, apa salah kami sampai engkau tak merelakan kami bahagia sedikitpun?, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan ku, agar engkau sedianya bisa membiarkan kami bahagia." Indah mulai menyalahkan dirinya dan takdir, benar-benar tidak ikhlas akan cobaan yang ia terima saat ini.


Masnah membungkuk, merangkul pundak anaknya "Istighfar Indah, kenapa kamu bicara seperti itu?, kamu harusnya berdoa minta yang terbaik untuk nak Abdi." Masnah memeluk anaknya "Jika dia harus pergi, ini yang terbaik untuk kamu dan dia."


Indah menggeleng "Enggak Bu, ini bukan yang terbaik buat Indah, Indah sudah kehilangan ayah dari kecil, terus harus kehilangan rahim, apa iya Indah juga harus kehilangan suami? apa salah Indah Bu?. Apa Indah nggak layak bahagia Bu."


"Astagfirullah, kamu marah sama Tuhan Indah? nggak baik nak."


"Terus Indah harus marah sama siapa Bu?, Indah itu lelah, lelah Bu, baru juga seneng sama mas Abdi, masa harus dipisahin?"


Iya, Indah marah, marah pada keadaan hidupnya yang begitu menyakitkan, dosa, disaat seperti ini, dia tak memikirkan dosa, dia hanya meluapkan apa yang ia rasakan, siapa yang tak ingin hidupnya bahagia?, semua orang pasti ingin hidup bahagia, terlebih bersama-sama orang terkasih hingga mereka tua nanti, dan itu juga yang Indah inginkan.


"Ayo bangun nak, kita lihat suami kamu sedang ditangani."


Indah menggeleng cepat "Enggak Bu, Indah nggak kuat, apalagi harus mendengar kabar buruk, Indah nggak mau."


Indah, wanita yang dulu selalu ceria, tak pernah menyerah dengan keadaan, kini, hidupnya seolah sedang diuji, diuji dari segi mental, maupun fisik. Cerita hidup seseorang memang bisa mengubah sifat orang itu sendiri.


Entah sudah berapa lama Abdi didalam sana, Indah tak tahu, dan dia tak mau tahu apa yang dokter lakukan pada suaminya, toh, hanya keputusan takdir yang berhak atas suaminya, apapun yang dia inginkan, takdirlah penentunya.


Indah tengah berada dititik terendahnya.

__ADS_1


Waktu semakin malam, suasana koridor IGD terasa sangat mencekam, semilir angin malam yang berhembus menambah hawa dingin malam itu, Indah dan Masnah harap-harap cemas menunggu dokter selesai menangani Abdi.


Derap langkah kaki yang beradu dilantai, berlarian perlahan terdengar semakin dekat, Indah yang duduk dibangku besi tetap menunduk, tak peduli siapa yang datang. Pikirannya kosong, dan dia kembali berpikir, jika terjadi apa-apa pada Abdi, dia lebih baik kehilangan ingatan saja.


"Mba, bagaimana keadaan Abdi?" suara Kartika terdengar cemas.


Dia datang bersama Thomas, juga Prasasti.


"Belum tahu Mba, sejak tadi dokter belum keluar."


"Kita akan melakukan yang terbaik, apapun akan aku lakukan untuk anakku." Ujar Prasasti, dia berganti melihat Indah yang sudah terlihat sangat kacau, dia yakin, jika mereka baru sampai rumah, melihat Indah yang hanya mengenakan bath up.


Indah tetap menunduk, tak peduli dengan apa yang orang-orang bahas, 'etap, kalian akan kalah dengan takdir,' gumam Indah.


Diamnya Indah membuat hati Thomas ikut perih, dia tahu, Indah pasti sangat terpukul atas kejadian ini. Thomas sangat berharap ada keajaiban untuk kakaknya, mengingat perjuangan cinta mereka tidaklah mudah, walau didalam lubuk hatinya, masih sangat menginginkan Indah.


Tak lama, terdengar suara pintu IGD dibuka, dokter yang mengenakan seragam hijau keluar seraya melepas maskernya dengan wajah lelah. Dokter laki-laki berusia senja itu melepaskan kaca matanya, menghapus air yang keluar dari sudut matanya.


Prasasti, Thomas, Kartika segera menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan putra saya Dok?" tanya Prasasti.


Dokter menghela nafas kasar, terdengar sampai ke telinga Indah, membuat Indah begitu pesimis dengan kabar yang akan didengarnya.


"Kami telah melakukan yang terbaik," ujar dokter itu lemah.


Mendengar itu membuat Indah menutup telinga dan menggeleng.


"Alhamdulillah, dia telah melewati masa kritisnya, walau tadi sempat mengalami henti nafas dan henti jantung. Ternyata Tuhan masih memberikannya kesempatan, ini benar-benar sebuah keajaiban, jarang sekali orang yang mengalami hal ini bisa selamat."


Terdengar helaan nafas lega dari semuanya, Prasasti dan Kartika yang sudah mendapat izin oleh dokter untuk melihat keadaan Abdi langsung masuk terlebih dahulu. Indah yang menutup telinganya tentu tak mendengar itu, ia terlalu takut akan sebuah kenyataan.


Masnah memegang tangan Indah yang menutup telinga.


"Nak, buka tangan kamu, suami mu sekarang menunggu kamu."


Indah menderita samar-samar yang dikatakan ibunya "Apa Bu?, Ibu bilang apa tadi?" Indah membuka telinganya.


"Suami kamu pasti ingin bertemu kamu."


"Ibu jangan buat aku senang sementara Bu." Indah yang posisinya membelakangi pintu ruang dimana Abdi ditangani memutar tubuhnya, Prasasti dan Kartika sudah tak ada lagi disana, hanya menyisakan Thomas yang kini tersenyum padanya.


"Masuklah Ndah, kakak ku pasti menunggu kamu."


Tanpa berucap apapun, Indah berdiri menuju ruang suaminya, dan diikuti Masnah dibelakangnya.


"Mas ..." Lirihnya berhenti diambang pintu, melihat Abdi yang sedang dipeluk Prasasti, Prasasti sontak melepaskan pelukanya, dan menyeka air matanya.

__ADS_1


"Hei es teri, sini. Kenapa malah berdiri disitu?"


Bibir Indah bergetar, dia kembali bisa mendengar suara suaminya, bisa kembali melihat senyum tulus itu.


Dengan langkah perlahan, Indah berjalan menuju tempat suaminya berbaring, dia menunduk, menghambur kepelulan Abdi, menenggelamkan wajahnya didada Abdi.


"Kamu jahat mas, kamu hampir buat aku jadi janda," pukul Indah pelan dada suaminya.


Dalam keadaan sedih, Indah membuat Prasasti, Kartika dan Abdi tertawa.


"Maaf ya, emang aku tadi kenapa sih es teri?" tanya Abdi pura-pura, dan mencium kening Indah.


"Jangan tanya itu mas, nggak usah diingat. Hanya kenangan ini selama hidup sama kamu yang nggak akan aku ingat sama sekali," ujarnya dengan suara teredam dalam pelukan Abdi.


Abdi semakin mentertawakan Indah dan berbisik "Kamu nggak pake dalaman ya?" tanya Abdi. Dia mengusap punggung Indah, dan tidak merasakan ada polisi tidur yang menghalangi.


"Biarin, semua gara-gara kamu, mas." Indah mengangkat wajahnya, dan Abdi langsung menghapus air mata istrinya.


"Jangan nangis lagi ya, kamu jelek nangis begini."


Walau keadaannya sehat, Abdi belum boleh diperbolehkan pulang, dia harus menjalani perawatan duku selama satu hari, sampai air infusnya habis. Thomas yang terlalu peka terhadap Indah, langsung meminta supir untuk membawakan ganti untuk Indah, saat mengantar Masnah dan kedua orang tuanya pulang terlebih dahulu.


Dia sendiri memilih untuk duduk diluar ruangan, menjaga ruangan Abdi.


* * *


Dirumah Abdi, Widuri yang kini tinggal bersama mereka, tidak ikut kerumah sakit, sebab harus menjaga Mahesa yang tidak boleh dibawa kerumah sakit, karena usia bayi itu yang masih begitu rentan terhadap penyakit. Ketika mengetahui apa yang terjadi pada putra semata wayangnya itu, Widuri berdoa, agar dia saja yang menggantikan posisi anaknya untuk lebih dahulu menghadap sang khalik.


Dia menyadari, jika hidupnya hanya akan menyusahkan banyak orang dan tak berguna. Setidaknya, jika dia pergi sekarang, dia sudah berdamai dengan putranya. Melihat putranya yang juga sudah berdamai dengan suaminya, mendapatkan istri baik, usaha yang sukses.


Widuri melihat Mahesa yang tidur dalam damai, bayi berusia delapan bulan itu tidak rewel sama sekali, seakan tahu, jika ayah bundanya tengah berjuang hidup dan mati.


"Kita doakan ayah ya Mahesa, agar ayah baik-baik saja, kamu beruntung memilki ayah dan bunda yang baik. Mereka harus tetap hidup untuk kamu, walau mereka bukan orang tua kandung mu, nenek yakin, mereka akan menyayangi kamu seperti anak sendiri. Karena ayah sudah melewati begitu banyak kerikil dalam hidupnya, mempunyai orang tua yang tidak baik seperti nenek, jadi, nenek rasa, nenek saja yang pergi."


Tanpa terasa, Widuri memejamkan matanya, sambil memeluk Mahesa, dia berharap, saat dia bangun, dia mendengar kabar baik tentang Abdi, anaknya itu layak bahagia, bersama istri dan juga keluarga kecilnya.


Namun pada kenyataannya, sampai jam dua belas siang, Widuri tak lagi membuka matanya. Masnah tidak menyadari hal itu, sejak pagi dia disibukkan mengurus Mahesa, dan saat sudah siang, dia berniat membangunkan besanya dan mengajak makan siang, sebab nanti, jam dua Abdi dan Indah sudah diperbolehkan pulang.


Masnah dibuat terkejut, saat membangunkan Widuri, namun tubuh wanita itu sudah kaku. Masnah segera meminta pertolongan pada tetangga, untuk memastikan keadaan Widuri, dan dipanggilkan dokter terdekat, ternyata Widuri sudah tidak ada dari beberapa jam yang lalu.


Masnah begitu terkesiap, dalam semalaman ini dia dihadapkan dengan kejadian yang tak pernah diduganya. Abdi yang awalnya dia kira akan meninggalkan mereka, ternyata, justru Widuri yang dalam keadaan sehat, yang dia pikir memang besanya itu kelelahan, ternyata malah pergi mendahului mereka semua.


Masnah segera memberi tahu ini pada Prasasti, dan Kartika, dan dengan ragu, Masnah juga memberi tahu kabar ini pada Abdi dan Indah.


* * *


Sore itu juga Widuri segera dimakamkan, suasana sedih begitu terlihat dikeluarga itu, terlebih Abdi, dia yang belum sepenuhnya memaafkan mamanya itu, kini merasa menyesal di sudut hatinya.

__ADS_1


"Mas, ayo kita pulang, mama sudah tenang disana Mas." Ajak Indah Abdi yang masih bersimpuh dipusara sang mama.


Padahal dia berencana ingin memaafkan wanita itu sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu, tapi semua tak sejalan dengan rencananya, Tuhan punya rencana lain yang mungkin lebih baik.


__ADS_2