Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 85


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Abdi meresmikan pabriknya, pabrik yang ia beri nama PT. Renjana Nutrindo, nama itu diambil dari ujung nama Indah, istrinya. Bisnis Abdi berjalan lancar, berkat bantuan Chio dan Anggun yang memiliki banyak relasi dari kalangan selebriti, mereka mempromosikan lewat sosial media mereka.


Bukan hanya pabrik saja, tapi nama cafenya juga berganti, menjadi Renjana coffe. Kecuali gerainya tetap menggunakan nama yang lama, karena nama gerai Abdi menggunakan nama negara kebanggaannya.


Semakin hari perasaan Indah juga semakin membaik, tak ada lagi keinginannya untuk mencarikan wanita yang bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Indah telah percaya sepenuhnya atas kesetiaan Abdi, dan Abdi selalu bisa menyakinkan bahwa dia tak masalah tak memiliki keturunan.


Kini mereka sedang mengobrol dibalkon kamar, duduk berdua dengan Indah bersandar pada bahu kekar suaminya. Melihat langit malam yang begitu cerah, karena bulan sedang menampakkan seluruh wajahnya.


"Musik tanpa lagu tetap enak didengar, jika memiliki ritme dan nada yang bagus, bisa membuat jantung siapapun berdebar saat mendengarnya, dan mereka serasa dibuat jatuh cinta. Itulah yang saat ini ingin aku lakukan dalam rumah tangga kita es teri." ucap Abdi sok bijak.


Abdi terdiam sesaat "Aku akan membuat rumah tangga kita berwarna walau tanpa kehadiran seorang anak." ia menunduk, melihat Indah yang masih memandangi bulan purnama diatas sana.


"Tumben mas ngomongnya bijak." ucap Indah kemudian.


Abdi tergelak "Hahaha, mungkin karena aku deket sama kamu,"


"CK, apa ngaruhnya?" Indah mencebikkan bibir, lalu menegakkan duduknya "Kayaknya Indah nggak harus ngajar deh mas?, gara-gara video kemarin teman-teman guru udah pada tahu kondisi aku sekarang"


Jujur saja dia masih takut menghadapi orang-orang yang akan memandangnya dengan pandangan lain, entahlah, Indah masih belum percaya diri.


Abdi menganggukkan kepalanya, berpikir sejenak sebelum berkata "Itu terserah kamu, tapi ada baiknya, apa yang kamu miliki saat ini bermanfaat untuk orang lain sayang, carilah pahala sebanyak-banyaknya, selagi kita masih hidup, manfaatkan waktu dan ilmu mu sebaik mungkin."


Indah semakin iri mendengar jawaban Abdi, kenapa dia tak memiliki pikiran sedewasa itu.


"Lagi pula dirumah nanti kamu pasti akan merasa bosan, ujung-ujungnya kamu akan sering ngobrol sama ibu-ibu komplek, bukan aku ngelarang, ya aku cuma menghindari hal-hal yang bikin kamu banyak pikiran." ujar Abdi mengelus kening Indah.


Indah nampak menyetujui ucapan Abdi, ya, dia harus membuka dirinya, apapun keadaannya.


"Jadikan kekurangan mu, inspirasi untuk orang lain, bisa jadi diluar sana ada orang yang lebih terpuruk dari kamu, tapi dia nggak berani speak up juga, karena mungkin mereka butuh teman yang sama, butuh dukungan, satu sama lain." Abdi mengelus pipi Indah lembut. "Diluar sana banyak perempuan seperti kamu."


"Ada juga orang yang bilang sama aku akhir-akhir ini, katanya mengapa aku harus bekerja terlalu keras, sedang tidak ada anak yang harus aku nafkahi" lanjut Abdi kemudian

__ADS_1


"Terus mas jawab apa?"


"Aku jawab, karena ada banyak anak diluar sana yang butuh uluran tangan dari ku" Abdi menatap mata Indah dalam.


"Sayang, aku mau kita membangun yayasan untuk anak-anak yang kurang beruntung."


Indah tak dapat lagi berkata-kata, Abdi nyatanya memiliki pemikiran jauh lebih darinya, yang bahkan dia sendiri tidak berpikir sampai kesana.


"Aku setuju mas,"


"Makasih ya, tetap semangat untuk memberikan ilmu, jangan hiraukan apa kata orang, yang terpenting, apa yang kita punya bisa bermanfaat untuk orang lain."


Indah menenggelamkan kepalanya pada dada suaminya, dia beruntung memiliki suami seperti Abdi, yang bisa membawanya keluar dari rasa ketakutannya.


"Dingin, kita masuk yuk." ajak Abdi.


Indah mengangguk, segera Abdi mengangkat tubuh mungil Indah, dan bukan hanya itu, dia langsung meemagut bibir istrinya yang berada dalam gendongannya.


"Aku kangen es teri." ucap Abdi saat dia melepaskan ciumannya, dan lalu berlanjut pada hal lebih lagi. Abdi terus mencumbu istrinya sampai pelepasan itu terjadi berkali-kali.


Sepagi ini Marsha sudah sampai dirumah mereka, bocah kecil itu tak mau lagi bersama amamnya, membuat amam dan apapnya sedih, dan kelimpungan, terpaksa pagi-pagi sekali mereka harus mengantarkan anaknya kerumah Indah.


Berat sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, mereka ikhlas dan tak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti permintaan anak sulung mereka, karena Marsha hanya mau bersama Indah.


Pagi tadi, saat dia bangun, Mawar dan Rasya memberinya kejutan, bahwa dia akan memiliki adik lagi, dan calon adiknya itu kembar. Bukan senang, Marsha justru marah, dan berbalik mereka yang seperti diberi kejutan, anak itu berujar jika amam dan apapnya tak lagi menyayanginya, dia ingin selalu menjadi yang nomor satu, dan diutamakan, tak ingin kasih sayangnya dibagi.


Seperti ada yang mengajari, ajaib memang anak yang baru menginjak usia tiga tahun itu sudah memiliki rasa iri yang begitu besar. Biasanya anak seusia dia paling senang jika mendengar dia akan memiliki adik. Tapi ini kebalikannya.


"Hahaha lo tenang Sya, anak lo aman disini. Dan Indah pasti bakalan seneng banget.*


Abdi melihat Indah yang sedang menyuapi Marsha di meja makan. Disana juga ada Mawar yang terlihat sangat lemah dan pucat, karena di kehamilannya yang kedua ini, dia mengalami muntah yang berlebihan.


"Waktu kita kasih tau dia, kalo sebentar lagi akan punya adik, kita pikir dia bakal senang, nggak taunya dia malah ngambek" Rasya menggeleng tak percaya mengingat saat dia memberi hal itu, respon Marsha malah marah dan mengamuk.

__ADS_1


"Tuh anak emang ditakdirin buat kita kali." celetuk Abdi.


Sebelum berkata Rasya terlebih dahulu melongok kearah Indah.


"Enak ya lo, tinggal enaknya doang, ngurus pas dia udah gede, nggak ngerasain begadang tengah malem. Nggak ngerasain beli popoknya." ucap Rasya pelan nyaris berbisik, karena tak ingin didengar Indah. Rasya menyugar rambutnya. Sebenarnya banyak lagi kata-kata yang ingin dia keluarkan, namun Rasya masih menjaga perasaan Abdi, tak ingin Abdi tersinggung atau sakit hati.


Bukan tersinggung, Abdi justru tertawa mendengar itu "Popok anak aja lo perhitungan, pabrik popoknya juga lo kebeli."


Rasya berdecih, "Bukan itu, kaget nggak sih?, anak sekecil Marsha, lagi lucu-lucunya, gemesin, kadang kalo dia lagi tidur aku gangguin, walau dia ngeselin, tapi tetep, saat dia minta sama orang lain kita sedih" Rasya mengusap wajahnya "Rumah bakal berasa sepi kalo nggak ada dia."


"Kan enak lo bisa honeymoon lagi" Abdi terkekeh.


"Boro-boro honeymoon, Mawar dideketin aja mual katanya."


Abdi langsung terbahak, merasa kasihan akan nasib sahabatnya "Lagian, adanya dia disini bisa bikin kita sering ketemu"


"Iya juga ya." jawab Rasya setuju.


"Indah maaf ya jadi ngerepotin." ujar Mawar tak enak.


"Ya ampun Mawar, santai aja kali, aku seneng loh Marsha disini, nanti Marsha bisa ikut tante sekolah ya." toel Indah hidung mancung Marsha.


"Bukan tante, bunda." ralat anak itu, membuat Indah dan Mawar saling pandang heran.


"Bunda?" ucap Mawar dan Indah bersamaan.


"Iya bunda, bunda Indah, dan ayah Didi." klaimnya langsung, membuat hati Mawar semakin teriris.


Namun ya, dia bisa legowo, karena memang mungkin Marsha bisa menemani hari-hari Indah, mengingat Indah yang tak bisa memiliki anak.


* * *


Ditempat lain, disaat mereka tengah berbahagia, berbeda dengan anak laki-laki yang kini terlupakan. Dia masih belum mengerti apa yang terjadi pada mama dan kakeknya. Dia hanya bisa diam, melihat ibunya yang kini harus dibawa ketempat lain.

__ADS_1


Ya, Naima mengalami gangguan mental, setelah Abdi tak jadi menikahinya, dan kini ayahnya juga terkena serangan stroke.


Zidan hanya ditemani oleh pengasuhnya yang sekali-kali mengajaknya untuk menjenguk sang kakek yang dirawat dirumah sakit, beruntung Zidan diasuh oleh orang yang bertanggung jawab, dan tak memanfaatkan harta keluarganya.


__ADS_2