Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Keputusan


__ADS_3

Pukul 18.30


Anggun mengabari Abdi bahwa dia kini sudah berada di restoran disalah satu mall terbesar di Jakarta, tak disangkanya, bahwa Abdi telah sampai lebih dulu, ini yang membuat Anggun selalu jatuh cinta berkali-kali lipat dengan sosok Abdi, tak pernah membiarkan wanita menunggu, walau beberapa minggu ini mereka tidak pernah bertemu, rasa ingin marah luluh begitu saja, melihat laki-laki yang mengenakan kaos putih santai yang ia pakai tadi pagi itu masih terlihat sangat tampan, kulit putih bersih, dengan tinggi badan yang sangat disukai para wanita, tinggi semampai.


"Mas udah dari tadi?"


"Nggak juga"


"Masih hapal tempat kita nongkrong kita" Anggun tersenyum sangat manis, membuat Abdi luluh ketika melihat mata teduh itu.


"Of course, i always remember important place" Abdi mengajak Anggun duduk ditempat yang telah dipesannya.


Anggun tersenyum simpul mendengar ucapan Abdi, membuat darahnya berdesir hebat, wajahnya pun terasa memanas.


"You're trying to rip me off?" ujarnya, lalu duduk dibangku yang bersebrangan dengan Abdi.


"Mana pernah aku mencoba menggombali kamu" Abdi mengambil buku menu


"Pesan apa?" tatapnya wajah cantik itu


"Seperti biasa aja mas" Anggun balas menatap Abdi, sungguh jika boleh, Anggun ingin memeluk laki-laki yang ada dihadapannya ini, namun sebisa mungkin ia tahan, walau rasa rindu itu sudah sangat membuncah.


Mas, aku kangen banget


Ingin rasanya Anggun mengatakan itu, namun ia tahan, Anggun tahu Abdi tidak menyukai wanita centil atau caper, sebisa mungkin Anggun bersikap semanis mungkin didepan Abdi.


Abdi memesankan beberapa menu steak dan minuman untuk mereka, lalu memberikan pada pramusaji.


Mereka membicarakan banyak hal, dari Abdi yang menanyakan kabar Anggun, dan Anggun menceritakan tentang pekerjaannya, seperti biasa, setiap kali mereka bertemu, tak ada yang berubah, Abdi masih memperlakukan Anggun dengan manis, sampai mereka selesai makan, Abdi mengantarkan Anggun sampai kerumahnya, ada sedikit rasa kecewa pada diri Anggun, karena Abdi tak mengajaknya menonton kebioskop terlebih dahulu, padahal ini masih jam setengah delapan malam, mereka masih memiliki banyak waktu untuk menghabiskan waktu bersama, apalagi mereka sudah lama tidak saling bertemu.


"Mas, nanti aku pengen kenalin kamu sama temen aku" ucap Anggun saat mereka telah sampai didepan rumahnya, tangannya sudah ingin membuka seatbelt miliknya


Abdi menarik nafasnya sejenak, sebelum dia menyampaikan sesuatu yang harus Anggun ketahui sekarang.


"Nggun maaf" Abdi menarik nafasnya sejenak, sebelum dia menyampaikan sesuatu yang harus Anggun ketahui sekarang. Ia menundukkan wajahnya, berharap hatinya kuat dan tak goyah dengan keputusannya.

__ADS_1


Anggun menoleh saat Abdi memanggilnya, hatinya jadi mulai merasa ada yang aneh, melihat Abdi yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu yang serius padanya, Anggun berharap ini bukan sesuatu yang buruk.


"Iya mas, ada apa?"


"Aku nggak bisa_ kita nggak bisa meneruskan hubungan kita"


Abdi mempererat pegangannya pada stir mobil, betapa ini keputusan terberat untuknya, namun inilah yang harus diambil, agar tak berlarut-larut.


Anggun dibuat tercengang dengan keputusan Abdi, dia berharap dia salah dengar


"Apa maksud kamu mas"


"Maaf" hanya itu yang mampu ia ucapkan.


"Jadi kamu ngajak ketemu aku hari ini cuma buat bilang begitu, setelah aku sabar nunggu kabar dari kamu selama berminggu-minggu" Abdi terdiam, dia tahu, dia telah menyakiti perasaan Anggun, tapi ini lebih baik.


Anggun membuang nafasnya kasar, mengalihkan tatapannya kelain arah, hatinya mulai terasa nyeri, sakit, dia bingung harus berkata apa, ucapan Abdi bagai sebilah pedang yang menujam direlung hatinya yang terdalam.


"Ini takdir Nggun, sesuatu terjadi padaku, aku harus menikahi seorang wanita"


Nyesss,


"Apa dia hamil mas?"


Sekuat tenaga Anggun menahan air matanya agar tak tumpah didepan Abdi,


Abdi menggeleng "Aku bahkan baru mengenalnya, kami_"


"CUKUP mas, aku nggak mau denger apa-apa lagi dari kamu"


Dengan cepat Anggun melepaskan seatbelt yang tadi tak jadi dilepasnya, lalu segera keluar dari mobil Abdi. Dia tak kuat lagi mendengar apapun itu, hatinya terlalu sakit, otaknya terasa tumpul, untuk menanyakan alasannya saja Anggun sudah tak mau. Semakin dia mendengarkan semua, semakin membuat hatinya sakit.


Kurang apa dia selama ini? dia selalu setia menunggu, tak pernah bermain hati pada laki-laki lain, namun ini balasan untuk kesabarannya. Hubungan mereka yang terjalin selama hampir enam bulan, tak ada sekalipun kenangan buruk tentang mereka, Abdi yang selalu bersikap manis, tak pernah menggombal namun selalu membuktikan dengan perbuatan, dan berjanji akan segera menikahinya, nyatanya kini dia telah menikah dengan wanita lain, sehebat apa wanita itu sampai membuat Abdi bisa menikahinya?


Setelah melihat Anggun masuk kerumahnya, Abdi melajukan mobilnya untuk segera pulang, bukan hanya Anggun yang merasakan sakit, namun dia juga, dia jauh lebih sakit, bahkan untuk menangis pun dia tak bisa. Seperti ini rasanya hubungan yang harus dipaksa berakhir, padahal rasanya masih sangat sayang, namun inilah jawaban dari kerisauan hatinya selama ini, berpikir bagaimana cara melanjutkan hubungan dengan Anggun, sedang mereka saudara tiri, tapi Abdi tak mau bersifat egois, dan mengatakan bahwa ibu tiri Anggun adalah ibu kandungnya, biarkan wanita itu mengatasi sendiri maslahat dengan Anggun, tanpa harus dia yang memberi tahu.

__ADS_1


"Percayalah Anggun, jika suatu saat kita ditakdirkan bersama, kita pasti bersama, namun jika kita tidak ditakdirkan bersama, sekuat apapun kita menggenggamnya, kita akan berpisah juga"


Abdi terus melajukan mobil miliknya, menembus jalanan yang masih terbilang padat. Sampai ia telah tiba diapartemen miliknya, Abdi berjalan gontai, ia terasa kehilangan separuh hatinya, Anggun wanita baik, terbilang tak neko-neko, walau selama ini dia jarang mengajak Anggun untuk pergi, namun wanita itu tak pernah menuntut, Anggun begitu mengerti keadaannya yang baru mulai merintis usaha.


Tergambar jelas dibenaknya, wajah cantik dengan mata teduh, senyum tulus yang selalu wanita itu berikan padanya, kulit putih bersih dengan penampilan yang selalu sopan, tak pernah terbuka, memiliki tutur kata yang lembut, lihatlah, bahkan sampai Abdi memutuskan hubungan mereka yang tiba-tiba saja wanita itu tak sama sekali memakinya dengan ucapan atau kata-kata kasar.


Saat dia akan masuk kedalam lift, Abdi berpapasan dengan Chio, tetangga sebelahnya.


"Ngapain lo liatin gue begitu?" tanya Abdi yang merasa Chio memperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah.


"Lo lecek banget, kayak habis putus cinta" Chio tertawa.


"Sok tau"


"Kelihatan kali" ujarnya masih dengan tawanya "Eh by the way, siapa yang tinggal sama lo? manis, ponakan lo ya?"


Abdi mengerutkan keningnya "Siapa?" ucapnya pura-pura lupa


"Jangan pura-pura nggak tau lo, pelit banget sama temen sendiri" Chio menyenggol bahu Abdi


"Dimana lo ketemu sama dia?" Abdi berpikir, apa Indah keluar tanpa seizinnya


"Didepan pintu, nggak bilang-bilang punya sodara cakep"


Dasar cewek keras kepala, dibilangin jangan keluar


Geram Abdi karena Indah tak mendengar ucapannya.


Mereka telah sampai pada unit mereka masing-masing, Chio yang terus berceloteh memuji kecantikan Indah


"Salam ya buat ponakan lo, dia buat gue aja"


"Sinting, emang dia barang apa?"


Abdi menempelkan kartu akses unitnya. Pandangan pertama yang ia dapati adalah Indah yang tertidur di sofa, dengan mulut yang sedikit terbuka, tangan mendekap sebuah buku pelajaran didadanya. Abdi menggeleng

__ADS_1


"Semoga keputusan gue melepas Anggun keputusan yang benar"


Abdi tak tega untuk membangunkan Indah, ia mengangkat tubuh ramping milik istrinya, dan membaringkan Indah dikasur yang tak terlalu besar miliknya. Ditatapnya wajah Indah yang damai, "Jauh banget sama Anggun ya"


__ADS_2