
"Apa kau tidak malu, menginginkan wanita yang sudah bersuami? padahal pacarmu sedang hamil anakmu, apa begitu Prasasti mengajarimu?." ucapan Abdi membuat Thomas tersulut, dia berdiri dan menarik kerah kemeja Abdi.
Hal itu tak membuat Abdi takut, Abdi tersenyum penuh ejekan "Indah sudah menjadi milikku, sesuatu yang telah menjadi milikku tidak akan pernah aku lepaskan, sampai kapanpun." Tekankan Abdi diakhir kalimatnya,
"Brengsek" Thomas hendak melayangkan pukulannya pada wajah Abdi, namun dengan cepat Abdi menahan tangan Thomas, dan Abdi hempaskan dengan kasar.
"Jangan main kekerasan tuan Thomas, kau waras, kau yang ingin merebut Indah dari ku, kenapa kau yang marah?"
"Dasar anak wanita ******," ucap Thomas penuh ejekan.
Bugh
Thomas tersungkur kebelakang, pukulan keras Abdi yang tiba-tiba membuatnya tak dapat menahan keseimbangan tubuhnya, perlahan darah keluar dari sudut bibir Thomas yang terkena pukulan Abdi. Thomas mengusap bibirnya yang berdarah, kemudian dia menatap nyalang Abdi. Thomas berdiri hendak membalas Abdi, namun belum sampai dia berdiri kembali, Thomas ditahan para pengunjung dan pegawai Abdi.
Pastilah pertikaian mereka mengundang reaksi orang-orang untuk mendekat, Abdi pun tubuhnya ditahan oleh Wahyu, asistennya saat dia akan kembali menyerang Thomas.
"Tahan bos, bos bisa kena tuntutan lagi, jika bos kembali menyerangnya" bisik Wahyu mengingatkan Abdi.
"Awas kau anak ******, aku akan membuat hidup mu menderita" Ancam Thomas sebelum dia pergi meninggalkan gerai milik Abdi.
Setelah Thomas tak terlihat lagi, dan mobilnya terlihat meninggalkan parkiran, Abdi menghela nafasnya, Abdi duduk, memijit pangkal hidungnya. Ancaman Thomas tak bisa diabaikan begitu saja, bukan dia yang akan menjadi sasarannya, tapi justru Indah yang Abdi khawatirkan saat ini.
__ADS_1
Abdi memanggil Wahyu, dia berpamitan pulang lebih dulu, dan berpesan sebelum berganti ship.
Mengendarai mobil dengan pelan, Abdi terus terpikirkan oleh Indah, Abdi takut Indah goyah, dan terayu oleh Thomas. Abdi tak ingin kehilangan Indah, gadis manis itu sudah menempati tempat khusus dihati Abdi.
Abdi terus berpikir, Thomas memiliki power yang kuat, Abdi membutuhkan dukungan dari orang yang kuat juga, jika harus menyerang Thomas. Abdi menghubungi ponsel Indah, sayang, suara yang ingin dia dengar malah dijawab oleh operator.
"Sial" Abdi memukul setir mobilnya, pikirannya menjadi tak tenang, dia tadi membiarkan Thomas pergi lebih dulu, sama saja dia memberikan Thomas kesempatan untuk menemui Indah. Keadaan seakan tidak bisa diajak bekerja sama, padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, namun kendaraan masih saja mengekor, hingga Abdi harus menghadapi macet dibeberapa titik.
Jarak dari gerai Abdi ke apartemennya sebenarnya tidak terlalu jauh, entah mengapa malam ini Abdi seakan merasakan seperti menempuh perjalanan dari luar kota, sangat lama. Dari jauh dia sudah melihat tower apartemen miliknya, jantung Abdi berpacu tak karuan, berbagai pikiran buruk muncul dikepalanya.
"Es teri, gue harap lo nggak akan ninggalin gue"
Terlintas Indah yang mendiaminya dan terus menghindar darinya, apakah Indah akan menyerah?, dan dia memilih mundur demi persahabatannya Anggun, semoga tidak, harap Abdi dalam hatinya.
Lama, itu yang kembali Abdi rasakan, berasa seperti menunggu nyamuk lahiran, itulah yang kita rasakan jika pikiran kita sedang memikirkan hal-hal buruk.
Ting
Pintu lift terbuka, masih dengan jalan yang terburu-buru, namun langkahnya seketika melambat saat matanya menangkap sosok wanita paruh baya sedang berdiri menyandar di dinding depan unitnya. Wanita itu menoleh menyadari kehadirannya, dan wanita itu langsung menegakkan badannya.
Huft, ada-ada saja pengganggunya, batin Abdi.
__ADS_1
Widuri mendekatkan langkahnya menuju Abdi dan ...
Plakk
Ada saja kejutan yang tak menyenangkan hari ini, tadi Thomas, sekarang Widuri, wanita yang telah melahirkannya, namun Abdi telah menganggapnya tak ada.
"Dasar anak tak tahu diuntung" Widuri mengucapkan kalimat yang seharusnya kalimat itu ia ungkapkan untuk dirinya sendiri.
Abdi tersenyum getir "Apa ini kalimat yang seharusnya diungkapkan oleh seorang Ibu pada anaknya, anak yang telah disia-siakannya?"
"Kamu itu bukan disia-siakan, tapi kamu ditempah untuk menjadi laki-laki yang sukses dan kuat Abdi, seharusnya kamu bisa mencari wanita yang lebih baik dari Anggun, bukan wanita jalanan seperti Indah untuk dijadikan istri"
"Dan seharusnya wanita macam Anda nyonya Surya?" ucap Abdi penuh sindiran "Wanita jalanan yang Anda sebutkan itu, wanita yang Tuhan pilihkan untukku, wanita yang akan aku jadikan ibu yang baik untuk anak-anak ku kelak, bukan ibu yang tega mentelantarkan anaknya, hingga anaknya terjerembab dalam dunia kehancuran, apa itu yang kau mau sebenarnya?" ucap Abdi penuh penekanan.
"Abdi"
"Pergi dari sini, dan jangan pernah menampakkan wajah tua mu disini lagi apalagi menyebut namaku" Abdi menyenggol bahu Widuri yang menghalangi jalannya. Abdi berhenti "Dan jangan pernah mengganggu istriku sedikitpun." Ucapnya lagi sebelum melanjutkan langkahnya.
Abdi menempelkan kartu aksesnya, dia harus segera memastikan Indah sudah berada dirumah, sebab dia begitu memikirkan ucapan Thomas.
.
__ADS_1
.
.