Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 83


__ADS_3

Naima meletakkan secangkir teh untuk papanya, dia ikut duduk disebelah papanya yang sedang bersantai. Senyum Naima terus mengembang, dia tak dapat membendung rasa bahagianya, tinggal hitungan jam dia akan resmi menjadi istri h dari laki-laki yang begitu dia cintai dan ia harapkan akan menjadi jodoh terakhirnya.


"Anak Papa senyam-senyum terus dari tadi" ujar papa Naima.


"Makasih ya Pa, berkat Papa, Naima akan kembali bersama mas Abdi."


Ayah Naima tersenyum "Tidak usah berterima kasih sayang, anggap saja yang Papa lakukan adalah untuk menebus kesalahan Papa yang dulu."


Naima ikut tersenyum, lalu bergelendot di lengan papanya "Doain ya Pa, acara besok berjalan lancar."


"Pasti Nai, pasti Papa mendoakan yang terbaik untuk anak Papa, Papa yakin, Abdi lama-lama akan menerima kamu kembali, bagaimanapun, istrinya tidak sesempurna kamu, Papa yakin jika kalian memang ditakdirkan bersama. Walau dengan jalan kalian harus menemukan jodoh yang lain terlebih dahulu, tapi takdir tidak akan salah. Dia akan kembali ke tempat yang seharusnya." papa Naima menyesap teh buatan anaknya yang masih mengepulkan asap lalu meniupnya


"Nanti kalian akan tinggal dimana setelah menikah?" tanyanya papa Naima, setelah meletakkan kembali cangkir tehnya.


"Emm" Naima nampak berpikir "Naima ikut kata mas Abdi nanti aja Pa."


Ayah Naima mengangguk, pandangannya menerawang kedepan"Papa pasti akan kesepian Nai, sejak ibumu pergi, hanya kamu yang selalu menemani Papa. Kamu satu-satunya anak Papa. Semoga nanti Abdi mau tinggal disini."


"Papa jangan sedih, Naima usahakan mas Abdi akan sering pulang kesini." Naima menepuk punggung tangan papanya.


"Kamu tidak menjemput Zidan?"


"Zidan biar terlatih deket sama mama barunya Pa, biar nanti Naima bisa honeymoon berdua sama mas Abdi."


* * *


"Saya nikahkan engkau saudara Prastia Abdi Pratama bin Prasasti dengan anak saya Naima Eka Pratiwi binti Mahdika, dengan mas kawinnya berupa sepuluh gram emas dua puluh empat karat, dan satu buah rumah dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Naima Eka Pratiwi binti Mahdika dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana saksi? Sah?."


"Sah."


"Sah."


Pundak Indah bergetar setelah mendengar ucapan sah itu menggema, air matanya luruh begitu saja tanpa bisa ia bendung, dia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang basah, Indah menggeleng rasa tak percaya atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Dengan terucapnya janji pernikahan itu, maka dengan itu juga dia akan mengakhiri pernikahannya dengan Abdi, Indah tak mau dimadu, apapun kekurangannya dia tetap tak akan sanggup diduakan.


Indah berbalik tak ingin melihat kemesraan pengantin baru didepannya. Namun sayang langkahnya harus terhenti saat ada seseorang yang memegang pundaknya.


"Es teri"


"Es teri, sayang."


Suara itu, suara yang memanggilnya, dan panggilan itu, hanya suaminya yang memanggilnya seperti itu. Indah tak akan berbalik, dia tak akan sudi melihat wajah laki-laki yang telah mengkhianati cintanya.


"Es teri, hey, bangun."

__ADS_1


"Sayang."


Indah sontak membuka matanya, nafasnya memburu dadanya masih terasa sesak, astaga, ternyata dia barusan hanya mimpi, mimpi yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Sebegitu memikirkannya dia, sampai terbawa mimpi.


"Kamu mimpi apa? sampai keringetan begini." Abdi mengusap keringat di dahi Indah, wajah Abdi terlihat begitu khawatir.


Cepat Indah menggeleng.


"Kamu bangun ya, dibawah tamu sudah banyak yang datang, Rasya dan istrinya, Chio sama Anggun juga sudah datang."


Indah tak menjawab, dia masih merasakan mimpinya barusan begitu nyata, hatinya tak kuat, nyatanya dia tak bisa membagi kebahagiannya. Indah melihat jam yang menggantung didinding kamarnya, ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, ya Tuhan, selama apa dia tidur, sampai siang begini, Indah langsung melemah, tinggal hitungan dua jam lagi Abdi akan mengucapkan janji pernikahannya untuk kedua kalinya.


Indah bangun, melepaskan tangan Abdi yang berada di bahunya, tanpa melihat wajah suaminya dan tak mengucapkan apa-apa, ia langsung menuju kamar mandi, meninggalkan Abdi yang begitu merasakan bersalah atas perbuatannya.


Selama dikamar mandi Indah terus memikirkan mimpinya yang terasa begitu nyata, Indah menangis memegangi dadanya yang terasa sakit. Seketika saja doa jahat terlintas dipikirannya, semoga saja nanti ada datang badai yang besar, yang bisa menghancurkan segala apapun yang berhubungan dengan pernikahan ini, dan membuat pernikahan ini batal. Entah si ulat bulu yang ikut terbang bersama angin badai, entah apapun itu, yang Indah mau pernikahan ini batal, titik.


Indah merosot, kenapa dia jadi begitu rapuh setelah ia tak sempurna, kenapa ia tak menolak saja saat Abdi meminta izin untuk menikah lagi, kenapa dia tak sekuat dulu, kenapa, dan kenapa dia harus lemah?. Indah begitu marah pada dirinya sendiri.


Cepat Indah menghapus air matanya, dia harus kuat, masih ada Masnah ibunya yang harus dia bahagiakan, hidupnya tak berakhir sampai disini. Ini bukan awal penderitaannya, dia harus bangkit. Hingga,


"Es teri, kamu cepat bersiap-siap ya, dibawah sudah banyak tamu, Naima dan papanya juga sudah datang. Aku tunggu dibawah ya sayang, aku udah siapin gaun buat kamu"


Indah memejamkan matanya mendengar teriakkan Abdi dari luar, dia tak suka perhatian yang Abdi diberikan padanya, sampai harus menyiapkan gaun. Indah tak menyahut, dia tetap bertahan dikamar mandi sampai terdengar suara pintu kamarnya ditutup. Indah menengadahkan wajahnya keatas, menghalau rasa yang terus berkecamuk.


Setelah merasa sudah agak tenang, Indah baru memberanikan diri keluar, Indah lihat ada sebuah kontak berwarna putih diatas tempat tidurnya, mungkin itu berisi gaun yang Abdi sebutkan. Ragu, Indah melangkah, untuk melihat gaun itu.


"Apa ini nggak terlalu mewah?" Indah berdecak, baiklah dia akan memakai pemberian suaminya untuk terakhir kali sebelum dia akan menggugat cerai nanti.


Setelah memakainya Indah memoleskan sedikit make-up diwajahnya, Indah membuat rambutnya tergerai, lalu memakai sebuah anting besar sebagai pemanisnya.


Pintu kamar Indah diketuk, saat Indah sudah mengizinkan masuk, muncul Anggun yang tersenyum padanya.


Entah sudah berapa lama mereka tak bertemu, membuat mereka berteriak senang dan berpelukan.


"Ya ampun Ndah lo cantik banget, ih Abdi pasti ngebatalin pernikahannya sama cewek ulat itu deg kalo liat lo secantik ini."


Anggun menjarakkan tubuh mereka, memperhatikan penampilan Indah dari atas hingga bawah "You'r so Perfect." puji Anggun.


Namun Indah bukan terlihat bahagia, dia malah melemah.


"Mas Abdi nggak akan ngebatalin pernikahan ini Nggun, Naima itu cinta pertamanya, lagi pula mas Abdi sudah menjalin kerjasama dengan wanita itu, dia akan rugi besar kalo sampe ini terjadi. Aku juga kasihan sama anaknya."


Anggun menarik nafas panjang "Lo yang sabar ya." Indah mengangguk.


"Nasib gue jadi kayak gini ya Nggun, nggak nyangka gue ini bakal terjadi sama hidup gue, udah sekarang cacat, nggak lama lagi juga bakal jadi janda." Indah mendudukkan dirinya dibangku rias.


"Hus kalo ngomong jangan ngawur, gue bilang lo cewek sempurna dan istimewa."

__ADS_1


"Semua orang juga bakal bilang gitu, cuma buat ngehibur, nyatanya mereka nggak ngerti yang gue rasain." Indah menahan air matanya yang akan jatuh.


"Udah, kita turun yuk, semua udah kumpul dibawah."


"Gue kayaknya nggak bisa Nggun, gue nggak kuat." Indah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Pernikahan ini nggak bakal terlaksana kalo lo sebagai istri sah nggak turun menyaksikan." Anggun menepuk bahu Indah "Gue turun dulu ya." Anggun pergi meninggalkan Indah, membuat Indah tergugu, bahkan temannya mendukung pernikahan suaminya, membiarkan dia dimadu.


"Beginikah nasib wanita cacat kayak gue."


Lama Indah meratapi nasibnya, setelah Anggun, Mawar dan Masnah secara bergantian menjemputnya, sungguh Indah tak paham, kenapa semua orang tega padanya, membiarkan dia kesakitan sendiri seperti ini. Ahh bahkan Abdi pun seperti acuh dengan perasaannya.


Akhirnya Indah memaksakan diri untuk turun, karena mendengar tangisan Zidan sebab mungkin Naima memarahinya, karena pernikahannya dengan Abdi belum dilaksanakan.


Setelah memoles kembali riasan wajahnya agar tak terlihat sembab, Indah memberanikan diri untuk turun.


Indah terus menunduk, sampai dia melihat Naima telah duduk bersama ayahnya dan Zidan, diantara Naima juga ada Prasasti dan istrinya. Dan .. Abdi telah duduk didepan meja kecil sebagai tempat dilaksanakan ijab qobul.


Hati Indah kembali berdenyut pemandangan ini seperti mengingatkan kembali saat ia akan melaksanakan ijab qobul bersama Abdi setahun lalu. Indah mengambil duduk disebelah ibunya dan Mawar yang memangku Marsha.


"Bagaimana, apa acaranya bisa dimulai?" tanya seorang laki-laki yang merupakan penghulu.


"Bisa Pak, tapi izinkan saya untuk meminta izin pada istri saya lagi, memastikan dia memang meridhoi pernikahan saya."


Sang penghulu itu mengangguk "Silahkan, tapi jangan terlalu lama, saya banyak jadwal setelah ini."


"Baik Pak, terima kasih."


Abdi berdiri, lalu bersimpuh saat didepan Indah yang duduk bersebrangan dengan Naima.


Indah mengalihkan pandangannya saat Abdi menggenggam tangannya.


"Es teri, dihadapan semua orang, aku akan mengatakan, jika aku tidak akan menikahi Naima atau wanita manapun, aku hanya mencintaimu, wanita yang menerima semua kekurangan ku dan masa lalu ku."


Indah terbelalak mendengar ucapan Abdi, dia harap ini bukan mimpi, namun saat Abdi menariknya dalam pelukannya, Indah sadar, jika ini nyata, bukan mimpi.


.


.


.


.


.


*Like komen yang banyak donk 🤭

__ADS_1


Dan makasih yang masih setia dan sabar sampai saat ini ❤️😘😍*


__ADS_2