
Lima belas tahun kemudian.
Abdi dan Indah telah melewati perjalanan yang panjang, akhirnya, Abdi dan Indah selalu dilingkupi rasa bahagia, hubungannya dengan Prasasti pun sudah mulai mencair, Abdi tak ingin menyesal untuk kedua kalinya, kehilangan orang-orang yang dahulu seolah tak menganggapnya ada, dengan keadaan dia yang belum memaafkan. Walau sampai saat ini dia juga tidak bisa menerima saham yang Prasasti berikan padanya. Dia hanya ingin fokus pada usahanya sendiri.
Semua Thomas yang menjalankan, sendiri. Diusia yang sudah menginjak empat puluh dua tahun, Thomas masih betah sendiri, rasa bersalahnya terhadap Indah membuatnya tak bisa membuka hati untuk wanita lain, jika Indah dan Abdi tak bisa memiliki keturunan, maka, dia akan menghukum dirinya sendiri dengan tidak memiliki pasangan, jadi impas menurutnya, dia pun tak akan memiliki keturunan.
Usaha-usaha Abdi juga semua merangkak naik, dia dan Indah disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Indah yang kini sibuk mengurusi yayasanya bersama dengan Mawar, dan Abdi yang sibuk dengan pabrik dan cafe miliknya yang sudah buka cabang dibeberapa titik kota.
Tanpa terasa, kini Mahesa sudah berusia lima belas tahun. Sudah waktunya Indah memberi tahu Mahesa, jika dia bukanlah ibu kandungnya. Indah dan Abdi tak ingin egois, walau kedua orang tua Mahesa sudah tiada, dia tetap harus tahu, siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya.
Disini, di depan pusara Selly, Mahesa duduk bersimpuh membaca nama sang mama disana. Tak ada air mata atau raut kesedihan diwajah bocah beranjak remaja itu, baginya, yasudah, cukup dia sudah tau, karena hatinya sudah terikat pada Indah dan Abdi, ayah bundanya.
Disini Marsha juga ikut menemani, dia yang sampai saat ini masih menjadwalkan dirinya sendiri, seminggu dirumah amamnya, dan seminggu dirumah Indah.
"Bengongnya udah Hes?" Tanya Marsha ketus, khas jutek gadis itu, usia Marsha dan Mahesa terpaut tiga tahun lebih, dia tak menanyakan jika saudara angkatnya ini sedih atau apa, karena dia tahu, Mahesa tak merasa sedih sama sekali.
Mahesa mendongak, melihat wajah jutek Marsha, lalu melihat wajah bundanya. Wajah Indah terlihat madih sangat muda diusianya yang sudah empat puluh lima tahun lebih itu, lebih terlihat seperti usia tiga puluh tahun si. Wajah kedua wanita itu memerah karena terpapar sinar matahari sedikit lama.
Indah membelai rambut lembut Marsha, membuat agar gadis yang mudah meledak-ledak itu tenang.
"Sudah." Jawab Mahesa singkat, sebab dia merupakan tipe laki-laki irit bicara, berbeda dengan Marsha, selain jutek, Marsha juga gadis yang banyak bicara.
Mahesa berdiri dengan bertopang pada kedua lututnya, lalu mengikuti langkah Indah dan Marsha yang sudah mendahului. Dan Mahesa berjalan bersisian dengan Abdi.
"Apa yang kamu rasakan sekarang Hes?" Tanya Abdi menepuk pundak Mahesa.
"Tidak ada Yah."
"Ayah harap kamu tidak akan berubah pada Ayah dan Bunda setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya."
Tidak akan Ayah, aku akan selalu sayang pada kalian, karena aku sudah mengetahui ini sejak lama dari ... Marsha.
Tentu saja hal itu hanya diucapkan Mahesa dalam hati. Marsha yang suka marah-marah padanya, selalu mengatakan, jika dia bukan anak ayah Abdi dan bunda Indah seperti dirinya.
"Kamu ngapain sih Hes?, masuk sekolah ikutin aku terus?" Ujar Marsha jika pulang atau pergi sekolah selalu dengan jemputan yang sama dengan Mahesa.
Dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, Mahesa dan Marsha di satu sekolah yang sama.
"Bunda dan Ayah yang minta aku sekolah disini." Jawab Mahesa tenang.
"Bunda-ayah, Bunda-ayah. Mereka bukan ayah bunda kamu."
Marsha lalu hentak-hentakkan kakinya kesal, dia berjalan menggandeng kedua adik kembarnya, Mahendra dan Mahawira.
Setelah selesai dari makam, kini mereka menuju rumah aman, tempat dimana nenek Mahesa yaitu Disa. Sudah lima tahun dirawat disini, namun tak ada perubahan dari Disa.
Mereka hanya bisa melihat Disa dari jauh, sebab Disa tak ingin didekati oleh siapapun, gangguan mental yang dialaminya sudah cukup berat, jika dia bertemu dengan orang-orang, maka Disa tak segan akan melukai orang tersebut.
"Bagaimana keadaan uwak saya Bu?" Tanya Indah pada seorang dokter yang sejak awal menangani Disa.
__ADS_1
"Maafkan kami Bu Indah, kami sudah melakukan sebaik mungkin yang kami bisa, permasalahannya hanya satu, dari diri pasien sendiri, sepertinya beliau tidak ingin ingat dengan masa lalu yang telah dilaluinya."
"Saya datang bersama dengan cucunya, sekarang dia sudah berusia lima belas tahun. Apa bisa mereka bertemu?, saya harap dengan kedatangan cucunya, bisa menyembuhkan wak saya."
"Akan saya komunikasikan pada pasien terlebih dahulu ya Bu, jika beliau mau, saya akan hubungi Ibu, melakukan pendekatan terhadap pasien tidaklah mudah."
Indah melihat Mahesa yang hanya diam sejak tadi, dia menatap arah neneknya dengan pandangan kosong. Entah apa yang dipikirkan Mahesa saat ini?. Indah merasa bersalah setelah memberitahukan semua kenyataan yang ada.
Sedang Marsha, dia bergelayut manja di tangan Indah.
Dari jauh, seorang anak laki-laki sedang menatap kearah mereka, tanganya mengepal menahan amarah, melihat kebahagiaan keluarga laki-laki yang membuat mamanya berada disini.
* * *
Tangis haru mengiringi kepergian Marsha kebandara, setelah lulus dari sekolah menengah atasnya, Marsha memilih untuk kuliah di luar negeri.
Mawar tak henti-hentinya menangisi Marsha.
"Jaga diri kamu baik-baik Marsha, jaga kesehatan, jangan lupa makan." Mawar memeluk anaknya erat.
"Iya Amam, Marsha bisa mati kalau lupa makan."
Plakkk
Pukulan itu mendarat di pundak Marsha "Amam kamu sedang sedih, kamu malah jawabnya seperti itu." Kesal Mawar pada anaknya.
"Kamu hati-hati ya, ingat pesan Apap, jauhi dunia malam, minum-minuman, itu akan berakibat fatal buat kamu, tetap junjung adat timur kita, jangan terpengaruh pada pergaulan bebas."
"Iya Apap, Marsha janji." Marsha melepaskan pelukan pada Apapnya, Rasya. Laki-laki yang kini sebagian rambutnya sudah ditumbuhi berwarna putih itu menyeka sudut matanya, terasa berat melepaskan putrinya untuk jauh darinya, namun ini demi keinginan Marsha.
"Kenapa pada menangis sih? Marsha kan cuma mau pergi menuntut ilmu, bukan pergi ke alam kubur. Amam, Apap, kita masih bisa bertemu lagi. Masih bisa berkomunikasi, jadi jangan tangisi Marsha, nanti kalau Marsha sudah dipanggil -"
"Hentikan omongan mu itu Marsha, kamu tidak mengerti perasaan orang tua sama sekali." Mulut memarahi, tapi hati tak bisa, itulah seorang ibu, Mawar kembali memeluk Marsha, pipinya sudah dibasahi oleh air mata.
Marsha beralih pada kedua adik kembarnya. "Kalian berdua jangan banyak main, temani Amam menonton sinetron ikan terbangnya, temani ke salon, dan jangan lupa kalian juga harus menyiram bunga Amam." Pesanya pada Mahendra dan Mahawira.
"Kenapa bunda dan ayah belum datang ya Amam?" tanya Marsha pada Mawar.
"Mungkin terjebak macet, kamu mau menunggu mereka?"
Marsha mengangguk "Kasihan bunda kalau tidak ditunggu." matanya terus menatap pada pintu kedatangan, menunggu kedatangan Indah dan Abdi.
Rasya yang merasa kasihan pada Marsha menghampiri putri sulungnya "Biar Apap yang hubungi ayah Abdi, kamu duduk saja, penerbangan kamu sebentar lagi."
"Tunggu bunda sebentar ya Pap?."
"Sepuluh menit lagi ayah dan bunda tidak datang, kamu harus segera check-in sayang, nanti kamu tertinggal pesawat," ujar Rasya seraya menempelkan ponselnya ditelinga.
"Gimana Pap?" tanya Marsha tak sabar.
__ADS_1
"Nggak diangkat."
"Itu mobil Om Didi." Tunjuk Mahendra mobil Abdi yang baru muncul.
Dengan terburu-buru Indah keluar, lalu segera menghampiri Marsha.
"Bunda." Marsha yang menghampiri Indah.
"Maaf ya bunda terlambat, Mahesa tiba-tiba demam, dan Bunda harus membawanya ke klinik dulu."
Marsha mencebik "Pasti dia sakit karena aku tinggal," Marsha menyadari Indah menangis "Nggak pakai drama nangis-nagis ya Bun, Marsha nanti pulang juga utuh, makanya doain Marsha cepat lulus."
"Berangkat saja belum sudah minta di doakan lulus." Abdi datang membawa bungkus makanan. "Ayah bawakan lele kesukaan kamu, disana kamu pasti rindu dengan makanan lokal."
"Yasudah yuk, sudah ketemu semua kan? Waktunya kamu check-in, nanti terlambat, uang Apap sayang jika harus hangus."
Kembali Marsha memeluk Mawar, dia segera menarik koper besarnya, lalu melambaikan tangan pada keluarganya. Tanpa ada yang menyadari, saat Marsha berbalik, dia menghapus air matanya.
* * *
Ditempat lain.
Kakek Zidan, ayah Naima, dia kini telah sembuh dari struknya, laki-laki yang sudah berumur itu berdiri menghadap kaca lebar kamarnya, yang langsung berhadapan dengan taman belakang, tak lama pintu kamarnya diketuk.
"Kek, Zidan boleh masuk?" Ujar suara dari luar kamarnya.
Kakek berdehem "Masuk Zidan."
Muncullah seorang laki-laki tampan, bertubuh tinggi, berkulit putih, memakai anting di kedua telinganya. Dan memiliki sedikit bulu halus diantara bibirnya.
"Kakek sudah sarapan?"
Kakek Zidan berbalik, dia tersenyum, merasa bangga pada cucunya yang telah berhasil kembali memajukan usahanya yang sempat nyaris gulung tikar.
"Sudah, apa ada yang ingin kamu sampaikan pada kakek."
Zidan menyeringai "Laki-laki itu memiliki seorang putri cantik, aku akan membalas perbuatannya melalui putrinya."
"Kakek akan mendukungmu dari belakang, teruskan rencanamu. Kita memang harus membalaskan dendam keluarga mereka, yang membuat Mama kamu tidak sadar hingga saat ini."
"Kita harus menunggu beberapa tahun Kek, karena saat ini dia tengah menempuh pendidikanya."
...TAMAT...
Sampai jumpa di cerita Marsha dan Zidan ya, Awal bulan Juni rilisnya.
Setuju nggak visual Zidan ini
__ADS_1