
Mata Indah berkedip-kedip, saat kembali merasakan benda lembut milik Abdi kembali mendarat di bibirnya, padahal tadi niatnya dia akan mengulang rasa itu dalam mimpinya, belum tidur, Abdi malah mengabulkan keinginannya sebelum dia tidur. Tubuh Indah menegang, darahnya berdesir hebat, bagaikan disetrum serangan listrik tegangan tinggi, ketika Abdi menarik badannya untuk mendekat.
Rasa pedas, gurih, manis khas mi instan bercampur menjadi satu, Abdi menelusupkan bibirnya pada bibir Indah yang terbuka, kini dia dapat mengekplor mulut Indah leluasa. Indah memejam, menikmati sentuhan bibir lembut Abdi, lembut sekali Abdi melakukannya, tidak menggebu, namun dapat memporak-porandakan perasaan Indah.
Indah menarik diri, meraup udara yang sangat minim baginya, takut dia tidak bisa meraih lagi nikmatnya bibir Abdi jika dia tak segera menghirup udara itu.
Abdi terkekeh melihat Indah yang megap-megap akibat ulahnya.
"Mie-nya enak, pantes kamu abisin" godanya.
Indah tak dapat menjawab, dia malah terlihat malu dan menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum yang terus merekah, ahh Indah sok malu-malu, padahal aslinya malu-maluin, dan mau nambah lagi.
Abdi kembali mengusak pucuk kepala wanita yang barusan ia cium "Istirahat gih, udah malem, besok ngajar kan?"
Indah mengangguk, tanpa mengangkat kepalanya, setelah Abdi pergi guna mencuci piring bekas makanya,dia berdiri, langsung ngacir ke kamar, bukan ke kasur, tapi ke kamar mandi, dia berdiri didepan wastafel, ngaca, ngeraba bibirnya yang dua kali dapat ciuman dari Abdi, kembali wajahnya memanas, tertawa sendiri, beneran kayak anak SMA yang lagi kasmaran, menangkup pipi tembem yang memerah. "Ya ampun mas, kamu_ ahhh" loncat-loncat nggak jelas.
"Es teriii, lo dimana?" terdengar suara Abdi yang mencarinya.
Sebelum menjawab Indah mengatur nafasnya dulu "Dikamar mandi mas" jawab dengan teriak, biar terdengar sama Abdi yang berada diluar.
"Lo ngapain?" kaget, tiba-tiba suaminya membuka pintu kamar mandi.
"Mas ih, bikin kaget"
Ya ampun padahal belum siap ketemu, malah nyamperin, lagi-lagi otak ngeresnya traveling, biasanya, kalo suami istri beneran dikamar mandi pasti anu-anu, ah bikin mupengkan.
"Udah sikat giginya?" Abdi mengambil sikat gigi, memberinya odol, langsung menggosok giginya.
Indah ngangguk, padahal dia nggak sikat gigi, sayang banget bekas ciuman itu kalo dicuci, mau dibawa kedunia mimpinya, biar ditambah disana.
Indah langsung keluar, merebahkan diri kasur, langsung membungkus badannya dengan selimut, masih ketawa sendiri.
__ADS_1
Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, berarti suaminya udah selesai sama rutinitasnya, Indah milih merem, pura-pura tidur, pengen tahu, apa yang bakal dilakuin suaminya selanjutnya. Terasa kasur yang bergerak, berarti Abdi naik.
"Selimutnya jangan nutupin gini, tar lo nggak bisa nafas" selimut yang dipakai Indah dibuka, menampilkan wajah Indah yang masih saja memerah, Abdi sangat gemas lihatnya, dia tahu istrinya itu pura-pura tidur.
Abdi menarik badan Indah untuk dia peluk dari belakang, Indah yang awalnya tidur pura-pura, kini malah tidur beneran, karena saking nyamannya dipeluk. Sedang Abdi, dia yang memang sangat lelahpun ikut tertidur. Untuk malam ini, mereka tidur beneran, bukan mereka, tapi cuma Indah, sebab Abdi kembali terjaga, saat ada sesuatu yang menerjang mukanya, saat ia membuka mata, kaki istrinya sudah tepat didepan wajahnya, lagi-lagi tempat tidurnya dikuasai Indah, Abdi mengacak rambutnya, pengen bedong Indah pake selimut rasanya.
Tapi dengan sabar Abdi membenarkan posisi tidur Indah, tak mungkin kan dia kembali mengalah dan tidur di sofa lagi?.
...***...
Sinar matahari pagi menyilaukan mata Abdi saat Indah membuka gorden jendela kamarnya. Mata Abdi menyipit, tangannya terangkat menutup wajah menutupi silaunya. Indah berbalik, menghadap wajah sang suami yang sialnya menurut Indah sangat tampan, meski baru bangun tidur.
Abdi tersenyum saat dia bangun tidur, yang pertama menyambutnya adalah senyum jelek istrinya.
"Udah siang mas, mas nggak kerja?"
"Gue baru tidur es teri, lo tidurnya kayak anak kecil, nggak bisa diem" yang diomongin malah nyengir tak berdosa,
"Maaf mas, aIndah langsung keluar, menyiapkan sarapan untuk dia dan Abdi.
Keluar kamar, yang terlihat istri manisnya sudah menunggu di pantry, dia balas senyum.
"Hari ini ngajar?" Indah jawab dengan anggukan "Gue anterin, biar gue sekalian tau tempat lo ngajar" Yang pasti itu bikin Indah seneng bukan main.
"Nggak ngerepotin mas kan?" cuma basa-basi sih nanyanya
"Kan semalem udah dibahas, kalo kita sekarang suami istri beneran, gue nggak mau pernikahan jadi mainan, ini sakral" Ya ampun, mendengar itu mukanya langsung panas, kembali deg-degan.
"Makasih mas" menyodorkan roti yang sudah dibakar dan diolesi selai
"Indah nggak bisa masak lele, nggak pa-pa ya, sarapannya roti?"
__ADS_1
"Nggak masalah, selagi yang masakin istri sendiri" tersenyum menggoda, lalu mengembalikan roti tadi
Indah mengernyit heran "Tapi ada syaratnya, suapin"
Ya ampun mas, kenapa kamu begitu romantis
Tidak membantah, malah dengan senang hati, menuruti perintah suaminya, lalu dia disuruh Abdi untuk makan bekas gigitan Abdi, ini sama kayak ciuman pagi secara nggak langsung iya nggak sih?
Selesai sarapan, mereka pergi untuk memulai aktifitas kembali, Abdi terlebih dahulu mengantar Indah kesekolahnya, yang sebenarnya arahnya berlawanan dengan arah cafenya. Nggak masalah sih, kan mau jadi suami yang bertanggung jawab, semoga istikomah ya mas, bukan cuma diawal.
Setelah sampai, Abdi mengamati sekolah tempat Indah mengajar, sebuah Sekolah Dasar negeri
"Lo honor disini?"
"Heem" Indah menjawab dengan semangat
"Pulang jam berapa? nanti gue jemput"
"Nggak usah mas, kan jauh dari tempat mas, Indah naik ojol aja"
"Nggak masalah, tunggu kalo gue belum datang" mengacak rambut istrinya, sebelum istrinya itu keluar dari mobil. Perlakuan sederhana dan biasa, tapi bisa bikin Indah deg-deg ser. Indah turun dari mobil dengan terus mengembangkan senyumnya.
Setelah mengantar Indah, Abdi langsung bergegas menuju cafenya.
...****...
Dari semalam Thomas terus menjadi penguntit pasangan yang semakin romantis itu. Dia berjanji, apapun yang akan terjadi kedepannya, dia akan merebut Indah, dia kan menyudahi kebodohannya, terlalu lama membiarkan Indah, dan tak berani mengungkapkan perasaannya, malah membuat Thomas terpuruk, dan Indah malah jatuh ke pelukan orang lain.
Tak lama ponselnya bergetar, kembali pesan dari Selly terpampang disana, sudah beberapa hari ini memang sengaja Thomas tak merespon kekasihnya itu, dia fokus pada Indah, dan pada papanya yang baru kembali dari luar negeri.
Dari sekian banyak pesan dari Selly, satu yang menarik perhatian Thomas, jika Masnah telah membuat surat kuasa atas rumahnya, Masnah telah menyerahkan semua peninggalan suaminya untuk Disa, dan Selly meminta bantuan pada Thomas untuk membuatkan sertifikat rumah itu atas namanya.
__ADS_1
Ide licik muncul dalam diri Thomas, dan iapun segera meluncur menuju rumah Selly, ia akan menggunakan sertifikat itu untuk merebut Indah.
Ditengah perjalanan, kembali panggilan masuk dari ponselnya, dari orang suruhannya. Suara decitan keluar dari mobil Thomas, karena laki-laki itu mengerem mendadak mendapatkan berita yang menghantam dadanya. Setelah mendapat kabar baik, justru kini Thomas mendapat kabar buruk yang membuat hatinya hancur, kenyataan pahit yang baru dia ketahui.