Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Membuat Cemburu


__ADS_3

Thomas memutar arah mobilnya ke kantor, saat mendengar kabar dari orang suruhannya, Herman, tentang siapa Abdi sebenarnya.


"Apa kau tidak salah? mana mungkin Papa memiliki anak dari perempuan lain"


Thomas bak dihantam batu besar, saat mengetahui semua gambar yang dibukanya dalam amplop coklat yang diberikan Herman, sebuah foto pernikahan Prasasti dengan seorang wanita yang sangat cantik, dan foto pernikahan Prasasti dengan wanita lain lagi. Berarti ayahnya itu menikah lebih dari dua kali, dan dia sama sekali tidak mengetahuinya, Prasasti sangat pintar menyembunyikan perselingkuhannya dengan wanita lain.


Thomas memang laki-laki brengsek dan licik, yang suka memanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadinya, namun dia sangat menyayangi ibunya. Dia memikirkan nasib sang Ibu, apa ibunya mengetahui skandal Prasasti atau tidak? Segala pikiran buruk berkecamuk didalam pikirannya. Ternyata semua kasih sayang, kemewahan yang diberikan Prasasti kepada keluarganya hanyalah kedok untuk menutupi kebusukannya, Abdi melempar foto yang dipegangnya ke atas meja. Telak, dia merasa sangat dibohongi sang Papa dengan sangat telak.


"Kami tidak mungkin salah Tuan Thomas, semua bukti yang kami dapat cukup kuat, saya rasa juga Anda mengenal wanita ini"


Herman kembali mengangsurkan foto keluarga kecil yang sangat bahagia, foto Prasasti beserta anak istrinya, yang tak lain adalah Abdi dan Widuri.


Kenyataan apalagi ini?, wanita ini, jelas Thomas sangat mengenalnya, Widuri, ibu tiri Anggun, yang sangat tidak Anggun sukai. Belum sempat Thomas menyadarkan dirinya dari lamunannya, kembali Herman menunjukkan sebuah fakta lain.


"Sebenarnya mereka mempunyai rumah mewah yang sudah lama mereka tinggalkan, dan rumah itu atas nama Prastia Abdi Pratama" kemudian Herman menceritakan sejarah tentang Abdi dan masa lalunya berdasarkan hasil cerita yang dia dapat.


"Dari mana kamu dapat semua informasi tentang laki-laki itu?"


"Mantan sekretaris Abdi, saat dia masih bekerja di Mahardika corp"


Tentu saja Herman tidak mudah untuk merayu Shinta, wanita itu sangat haus akan kemewahan, sayangnya, dulu Shinta tidak bisa mendapatkan Rasya dan Abdi, dan setelah Abdi tidak lagi bekerja disana, Shinta diturunkan dari jabatannya sebagai staf pemasaran biasa, karena Rasya dari dulu tidak suka jika harus bekerja bersama wanita, dan dia memilih David sebagai asisten pribadinya, menggantikan Abdi, gaji Shinta yang menjadi staf pemasaran sudah pasti jauh berbeda, saat dia menjabat sebagai sekretaris Abdi, hingga gadis itu memutuskan untuk keluar, dan sekarang masih menjadi pengangguran, karena dia hanya menginginkan sebagai seorang sekretaris.


Thomas menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi "Bagus Herman, tidak sia-sia aku membayar mahal kamu"


"Apa kamu tidak ingin menuntutnya, atas tindakan tidak menyenangkannya kemarin?"


Ucapan Herman terdengar bukan pertanyaan, tapi lebih tepat ke saran.


"Aku sudah memikirkan itu, tapi untuk sekarang, aku ingin membuatnya lengah terlebih dahulu"


Thomas masih terpikirkan atas ide Papanya, dia ingin tahu, apa ide Prasasti kemarin masih berlaku untuk menghancurkan kotoran bebek itu? atau Papanya hanya ingin menghindar, takut kebusukannya akan terbongkar.


"Kau boleh pergi Herman, dan coba kau temui wanita bekas sekretaris kotoran bebek itu, tawarkan dia untuk menjadi sekretaris ku"


Thomas beranjak dari duduknya, tujuannya kemudian adalah Selly, wanita bodoh yang tanpa sadar telah dimanfaatkan Thomas, walau rencana awal Thomas sempat gagal untuk mendekati Indah, dan malah terjebak rayuan Selly yang selalu menawarkan tubuhnya.


...****...


"Sayaaang" Selly berhambur kepelukan Thomas, saat Thomas turun dari mobilnya.


"Sell, malu, nanti banyak yang lihat"


Thomas menjauhkan tubuh Selly yang terus menempel pada tubuhnya, dan melihat sekeliling mereka awas, dia tak mau lagi terlihat romantis bersama Selly.


"Aku kangen, kamu jahat, ngilang beberapa hari"

__ADS_1


"Aku sibuk Sell, aku lagi banyak masalah" mereka berjalan masuk kerumah Selly.


"Kamu kemana aja sih, aku curiga kamu punya selingkuhan"


Thomas tertawa kecil mendengar ucapan Selly, kamu pikir aku bodoh Sell, kamu coba memanfaatkanku.


"Terserah kamu Sell, percaya atau tidak padaku, yang penting aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan"


Thomas enggan lagi berbasa-basi hanya untuk menyenangkan hati Selly. Thomas mengintip rumah sebelah yang nampak sepi lewat kaca jendela, dan toko sayur milik Masnah yang tutup.


"Apa Ibunya Indah sudah pindah?" Thomas melihat wajah Selly yang nampak cemberut.


"Nggak tahu, tanya aja sama Mama"


Thomas mendesah, dia harus sedikit bersabar agar dapat mengetahui semua tentang Indah dan ibunya.


"Hey, kamu kenapa? katanya kangen, kok mukanya cemberut gitu?"


Thomas mengusap pipi lembut Selly dengan jari telunjuknya, lalu mengapit gemas pipi itu.


"Aku sebel sama kamu, bukanya nanya keadaan aku, malah nanya keluarga si dekil"


"Kan tadi kamu bilang, kalau bibi kamu sudah memberikan surat kuasa, rumah dan tanah mereka diberikan semua sama kamu, dan mama kamu mau membicarakan sesuatu" ujar Thomas lembut, supaya Selly luluh, dan dia tak berlama-lama disini, karena tak ada lagi Indah dirumah itu, yang dapat dia lihat.


Selly benar-benar tidak tahu, jika Thomas datang kerumahnya, hanya agar dia dapat melihat wajah manis Indah lebih lama, dan selalu memantau Indah dekat dengan laki-laki atau tidak. Karena Thomas akan melakukan apa saja, agar laki-laki yang sedang dekat dengan Indah menjauh.


Indah memang bukan wanita cantik, seksi dan putih, namun, wajah manis dan ceria seperti Indah, mampu mengalahkan pesona mereka, sampai-sampai Thomas begitu terobsesi dengan Indah, yang menurutnya berbeda, dijaman sekarang wanita cantik banyak, dan mudah dicari, sedangkan wanita manis dan apa adanya, hanya Indah yang mampu menyihir Thomas, membuat Thomas susah berpaling, wanita yang dekat dengannya selama ini, hanyalah pelariannya saja, karena dia sendiri tak punya keberanian untuk menyatakan perasaannya, bodoh bukan Thomas? padahal dia punya sejuta pesona untuk memikat hati wanita, tanpa dia harus merayu dan mendekati para wanita itu.


"Iya, ini penting, mama mau menggadaikan rumah itu, tapi mama nggak berani ke Bank atau para rentenir, jadi mama mau menggadaikan rumah itu sama kamu"


Lihat, licik sekali kalian, saudara sendiri saja dimakan.


Thomas mengernyit "Uang? untuk apa?"


"Papa mau buka usaha di Kalimantan, jadi butuh modal banyak, ya.... sekitar lima ratus jutaan lah"


Thomas terdiam, dia hanya bertemu satu kali dengan Papa Selly, jadi dia tak tahu tentang papa Selly sebenarnya seperti apa.


"Memang mau buka usaha apa?"


"Katanya mau memperluas usaha batu baranya, sayang, kamu bisa kan?, kasih pinjam mama uang dulu, biar Papa aku cepat pulang, dan kita bisa segera nikah, kamu lihat? perut aku makin lama makin membesar, kalo kita nggak cepat nikah, atau menunggu waktu yang telah ditetapkan, kita bisa malu, apalagi kamu sebagai pengusaha" jelas Selly sambil meraba perutnya yang masih rata.


Thomas tertawa mencibir dalam hati, itu bukan urusanku.


Thomas nampak berpikir, menatap intens wajah putih bersih Selly, namun tak sedikitpun menggetarkan hatinya. Hal itu justru membuat Selly memalingkan wajahnya karena salah tingkah dipandang intens oleh tunangannya itu.

__ADS_1


"Bisa aku bicara pada Mama mu dulu? setidaknya, kita harus membuat hitam diatas putih, bukan aku tidak percaya, namun hanya sebagai bukti, karena aku juga akan meminjam uang perusahaan" bohong Thomas


"Mama lagi ada arisan sama teman sosialitanya, mungkin sebentar lagi pulang"


Tak lama terdengar suara motor, keduanya melihat keluar, nampak Indah datang bersama Abdi, mereka terlihat begitu mesra, Indah memeluk Abdi dari belakang, membuat dada Thomas terbakar melihatnya.


Abdi kembali melepaskan helm yang dikenakan Indah, lalu merapikan rambut Indah yang berantakan akibat tertiup angin. Lalu mereka bergandengan tangan masuk kerumah Indah.


"Ih norak, lebay" umpat Selly, ia melihat Thomas yang masih menatap kearah Indah dan Abdi.


"Sayang, kamu gitu banget sih liatin mereka" Selly menyenggol bahu Thomas


"Aku iri, kamu nggak pernah mau diajak naik motor" jawab Thomas memancing reaksi Selly


"Idihh, sayang, panas kepanasan, ujan keujanan, lagian kamu punya mobil, sayang kalo nggak kepake"


Thomas memutar bola matanya malas, semakin muak dengan sikap Selly.


...***...


"Bu, Ibu mendadak banget sih ke Sukabumi" Indah berada dikamar ibunya, melihat Masnah yang sudah rapi dan siap berangkat ke terminal bus, pasar Senen Jakarta.


"Nenek yang minta" jawab Masnah, tentu saja dia berbohong, karena kepulangannya ke Sukabumi, karena dia tak lagi memiliki rumah ini, rumah penuh kenang-kenanganya bersama suami dan anaknya. Dia menatap sedih anaknya, ini untuk pertama kalinya dia meninggalkan Indah jauh.


Indah membawa tas yang akan dibawa sang ibu, mereka keluar menemui Abdi diruang tamu.


"Bu, sudah siap?" Abdi terkejut dan tak percaya, jika Masnah benar akan ke Sukabumi saat ini juga.


"Iya" Masnah duduk didepan Abdi.


"Ini sudah sore Bu, apa tidak ditunda besok saja?" ucap Abdi sedikit khawatir.


"Tidak apa-apa, Ibu sudah biasa" Masnah menarik nafasnya dalam


"Ibu mau titip Indah sama kamu nak, bisa?"


Indah dan Abdi terkejut, jika memang hanya menjenguk neneknya, kenapa Masnah harus berkata demikian? Indah dan Abdi saling menatap, curiga pada Masnah.


.


.


.


.

__ADS_1


Yang belum tahu Rasya, boleh baca Mawar tak berduri ya...


__ADS_2