
Sudah satu jam Indah menunggu Abdi didepan pagar sekolahnya, walau kulit wajahnya tidak terlalu putih, tetap saja, wajahnya memerah terkena terpaan sinar matahari. Berkali-kali Indah coba menghubungi suaminya, nyatanya tidak juga diangkat.
"Apa gue pesen taxol aja ya? langsung ke cafe, mastiin ada apa?." Gumamnya pada diri sendiri.
Kembali Indah menyeka keringat dipelipisnya menggunakan punggung tangannya.
Jauh dari tempatnya berdiri, sebuah mobil sport berwarna putih mulai melajukan mobilnya perlahan, menghampiri wanita yang berdiri gelisah.
Indah yang hanya memikirkan suaminya, tak menyadari, jika ada mobil yang berhenti tak jauh darinya.
"Hai In, lagi nungguin siapa?"
Indah terhenyak kaget, seseorang seperti sedang menyapanya.
"Kereta, lo?"
Thomas tersenyum.
"Gue kebetulan lewat, mau pulang bareng?" Tawarnya sungguh-sungguh.
"Makasih, gue pulang naik taxol"
"Sekalian aja, lumayan kan duitnya."
Indah memutar bola matanya, "Nggak bikin gue miskin juga keles, males gue bareng lo, tar dikira pelakor lagi sama Nyonya, lagian nggak baik wanita bersuami satu mobil dengan laki-laki lain, nanti timbul fitnah." Indah memperjelas ucapan terakhirnya.
Thomas menghembuskan nafasnya, menyesal, kenapa dulu dia tak menyatakan langsung perasaannya pada Indah, malah terjebak hubungan dengan Selly, bahkan sampai bertunangan, yang justru membuat Indah semakin jauh dengannya, jika saja dulu dia berani mendekati Indah, mungkin hal licik seperti ini tak akan dia lakukan, Thomas merutuki kebodohannya.
Seistimewa ini Indah dihati Thomas, sampai-sampai tiap berdekatan dengan Indah jantungnya berdebar tak karuan, sebisa mungkin Thomas menetralkan perasaannya.
"Bukannya pernikahan kalian diam-diam kan? banyak yang belum tahu juga kalo lo udah nikah, dari pada panas-panasan gini, tar lo sakit."
"Makasih kereta, gue udah pesen taxol, tuh bentar lagi taxolnya sampe" tunjuk Indah ponselnya, memperlihatkan jika dia sudah memesan taksi.
Thomas mengalah, Jiak berhadapan dengan Indah selalu tak bisa berkutik, hufff lagi-lagi tak bisa mengatakan yang sesungguhnya, percuma dia mengumpulkan nyali, mengamati dari jauh, setelah berhadapan langsung malah mati kutu. Lebih sulit lagi, karena Indah sepertinya begitu setia pada pasangannya, wanita yang langkah.
Sebuah mobil minibus berhenti didekat mereka. "Dengan Mba In-dah La-ra-ren-jana" ujar bapak taxol melalui jendela mobilnya, mengeja nama Indah seraya menatap hapenya, lalu mendongak melihat Indah.
__ADS_1
"Iya Pak saya." jawab Indah tersenyum ramah.
Indah berjalan menuju mobil tersebut, membuka pintu belakang, saat ingin masuk dia kembali menoleh kearah Thomas, "Gue duluan ya kereta, makasih lo tawarannya, salam sama Selly."
Kemudian dia menunduk, masuk kedalam mobil, kemudian menutup pintunya.
Thomas hanya melihat mobil yang membawa Indah menjauh, dengan rasa kecewa, saat tersadar dia baru menuju mobilnya, mengikuti mobil Indah dengan jarak yang cukup jauh.
Indah bukan menuju keapartemenya, dia menuju cafe milik Abdi, ingin memastikan, mengapa suaminya itu lupa menjemputnya, sampai tak mengangkat panggilannya juga.
Saat sampai dicafe, Indah membayar tarif yang tertera, dengan sedikit memberi lebihan. Sang sopir sampai berkali-kali mengucapkan terima kasih. Padahal Indah tidak memberi lebih yang terlalu banyak, hanya selembar kertas berwarna hijau, maaf bukan lembaran uang berwarna merah, Indah kan guru, disesuaikan dengan gajinya. Si bapak terlihat begitu bahagia. Melihat senyum bahagia dari orang lain, membuat Indah ikut tersenyum.
Dari depan cafe nampak ramai kerumunan. Para karyawan pun semua berdiri disana.
Deghh
Tubuh Indah serasa melemah, ada beberapa laki-laki berseragam aparat sedang memasang garis polisi. Apa yang terjadi? Langkah Indah semakin melebar, dia tak sabar ingin memastikan yang sesungguhnya.
"Mas, ada apa ini?" tanya Indah pada seseorang yang berada di depan cafe, sepertinya dia pengunjung cafe.
"Keracunan?" tanya Indah memastikan
"Iya, orangnya sedang dibawa kerumah sakit, sama yang punya cafe."
Indah mundur dua langkah mendengar itu, dia memegang dadanya yang melemas, nafasnya serasa tercekat. Ada rasa lega mendengar ternyata tidak terjadi apa-apa pada suaminya, namun dia terpikirkan nasib Abdi, jika orang tersebut keracunan di cafenya, berarti suaminya harus bertanggung jawab.
"Mas, ya Tuhan"
Indah sebenarnya mau nangis, tapi nggak bisa, dia kepikiran dengan nasib Abdi. Indah bingung, dia harus apa sekarang?.
"Mas tahu, dibawa kerumah sakit mana?" Indah menyentuh orang tersebut, agar cepat meresponnya.
"Rumah sakit Citra, yang nggak jauh dari sini"
Indah mengangguk cepat "Terima kasih mas."
Indah berlari ke jalan raya, dia bingung, ke kiri apa ke kanan, Astaga, rumah sakit Citra arahnya kemana?. Dia jadi linglung.
__ADS_1
Thomas yang sejak tadi mengikuti Indah langsung menghampiri.
Indah melihat mobil Thomas, berlari mendekat.
"Kereta, anterin gue sekarang ke rumah sakit Citra."
Thomas ngangguk nurut, dengan senang hati malah mengantar Indah. "Masuk" perintahnya dengan menggerakkan kepalanya.
Indah berlari kecil memutar mobil, duduk dibangku penumpang sebelah Thomas, tak banyak tanya, Thomas langsung tancap gas, menuju rumah sakit yang disebutkan Indah.
Didalam mobil Indah terus meremasi jemarinya, cemas, jika belum bertemu dengan yang membuatnya kepikiran rasanya belum tenang.
Thomas memperhatikan Indah lewat sudut matanya, iba, sekaligus cemburu melihat wanita yang begitu lama ia inginkan menghawatirkan keadaan laki-laki lain, ya, walaupun itu suaminya sendiri. Tak bisa berbuat apa-apa, Thomas memilih diam.
Tak lama mereka sampai dirumah sakit yang dituju, Indah langsung keluar, berlari kearah rumah sakit. Thomas tak ikut turun, dia memilih pergi dari sana, sisa parfum Indah begitu terasa, membuat Thomas menghirup dalam-dalam aroma tersebut, dia suka wangi parfum Indah, walau itu bukan dari parfum mahal.
Setelah mendapat informasi tentang pasien yang keracunan, Indah langsung berlari menuju lorong yang tadi disebutkan, mencari keberadaan suaminya. Langkah Indah menyurut, saat dia melihat kerumunan beberapa orang, ada dua orang polisi disana, seorang dokter laki-laki, dan tentu saja suaminya.
Ada pemandangan yang membuat Indah jengah, orang-orang yang entah mereka itu wartawan atau bukan, namun mereka mengambil video suaminya saat berbicara. Jika seperti ini, sudah pasti nama baik cafe sekaligus nama Abdi pasti akan tercoreng.
Dunia sosial media sekarang begitu berbahaya, jika orang hanya menyebarkan berita setengah-setengah, maka hanya akan timbul berita hoax atau bohong, banyak sekali berita yang tersebar, suka dipelintir oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.
Indah menatap wajah Abdi dari jauh, wajah itu begitu tenang, tak terlihat ada kecemasan disana. Tapi entah dengan hatinya, apa kamu mencoba menutupi semuanya mas?
Perlahan Indah membawa langkahnya mendekat.
"Baiklah Pak Abdi, terima kasih atas keterangan Anda, kami akan segera memeriksa cctv dicafe Anda, dan kami juga akan meminta keterangan pada semua karyawan Anda, termasuk semua bahan makanannya" ujar salah seorang polisi.
"Baik Pak, silahkan, lakukan yang terbaik, saya akan bersikap kooperatif."
"Terima kasih Pak Abdi atas kerja samanya."
"Sama-sama Pak." mereka bersalaman, Abdi hendak menghantarkan kepergian polisi, namun langkahnya terhenti saat melihat Indah
"Hei, es teri, kok disini?" Abdi langsung menghampiri istrinya.
"Karena tulang rusukku disini." Indah menggombal, mencoba menenangkan hati suaminya, mengabaikan keberadaan pak polisi.
__ADS_1