
Indah hendak bangun untuk melihat pasti nama yang tertera pada ponsel Abdi, ternyata kakinya terasa sakit.
"Auuhh, duhhh kaki Indah kenapa?" dilihatnya pergelangan kaki kanannya yang sedikit bengkak, dan sedikit lecet
"Baru kerasa" gumamnya seraya memegangi kakinya.
"Kenapa?" suara berat itu mengagetkan Indah. membuat Indah memegangi dadanya karena terkejut.
"Ih mas ngagetin tau, kayak setan aja"
"Kita siap-siap pulang"
"Hah, kita pulang sekarang?" Indah melihat Abdi yang sedang membereskan semua obat-obatnya.
"Kenapa, Lo nggak mau pulang?, terserah sih" tanya Abdi tanpa mengalihkan pandangannya pada obat yang ia rapikan
Indah tak menjawab, ia nampak kecewa, padahal dia membayangkan bermalam di rumah sakit, ditemani mas gantengnya, melihat wajah tampan itu semalaman, ahhhh tapi semua gagal,
Kok sakit gue nggak parah sih?
Melihat wajah Indah yang cemberut membuat Abdi menggelengkan kepala, ada orang yang betah dirumah sakit?
"Jadi Lo beneran nggak mau pulang?" tanya Abdi lagi, karena Indah hanya diam saja. "Kalo Lo nggak mau pulang, gue balik dulu, yang penting obat Lo udah gue tebus, sama biaya hari ini sudah gue bayar, selebihnya Lo bayar sendiri" ancam Abdi, kini dia menatap Indah seraya memicingkan matanya menunggu jawaban Indah
"Jangan mas, sayang duit Indah, tapi kalo nginep di hotel sih Indah mau" cengirnya tanpa merasa dosa, membuat Abdi berdecih "Motor Indah dimana mas?" tanyanya setelah baru teringat dimana motor kesayangannya
"Udah gue buang, soalnya motor Lo ancur"
"Apa? mas yang benar aja, itu hasil keringat Indah mas" Indah melototkan matanya pada Abdi, tak terima jika benar itu terjadi.
"Eh mana ada orang beli motor pake keringat, ogah orang nerima keringat Lo, dikasih gratis juga nggak bakal mau, dasar aneh"
"Mas Indah serius" rengeknya
"Gue dua rius"
"Mas Indah nangis nih" ancamnya
"Gue nggak peduli"
"Masss" rengeknya manja
"Lo bawel ya, motor Lo ada di bengkel, lagi diperbaiki, udah nggak usah banyak berdebat, gue banyak kerjaan, gue antar Lo pulang sekarang". Abdi melihat waktu ditangannya, harusnya dia ada meeting bersama clien yang ingin membooking cafenya, tapi karena kecerobohannya, dia harus kembali berurusan dengan Indah. Kalo dia boleh milih, tadi dia pengen nabrak tiang listrik saja.
Indah tersenyum senang mendengar jawaban Abdi, "Tapi mas yang bayarin juga kan biaya perbaikannya, soalnya Indah belum gajian, tapi Indah janji, nanti kalo Indah dah gajian Indah ganti uangnya"
"Terserah Lo deh, nggak usah dibayar gak pa-pa, biar gue nggak berurusan sama Lo lagi" wajah Abdi sudah terlihat tak bersahabat, dia sudah sangat merasa lelah.
Dengan perlahan Indah menurunkan kakinya, namun saat akan berjalan dia merasakan nyeri, sehingga dia harus berpegang pada brankar.
"Lo bisa jalan nggak?" tanya Abdi yang melihat Indah nampak kesusahan saat akan berjalan.
"Sedikit sakit mas" lihat Indah kakinya
"Tunggu disini, gue ambil kursi roda" Abdi berlalu keluar, sedang Indah hanya mengangguk sebagai jawaban, tetap menunduk melihat pergelangan kakinya.
Tak lama Abdi sudah kembali membawa kursi roda.
__ADS_1
"Ini berapa lama sakitnya ya mas" tanya Indah, dia sudah duduk di kursi roda yang didorong Abdi.
"Tergantung amal ibadah Lo" jawab Abdi asal, mana dia tahu, memangnya dia dokter? atau cenayang
"Untung amal ibadah Indah bagus loh mas"
"Gue sih nggak yakin"
Mereka kini telah sampai dimobil Abdi, Indah tak bisa naik karena kakinya yang sakit.
"Mas gendong" pintanya seraya mengangkat tangannya, ada saja akalnya untuk mendapat perhatian dari Abdi.
"Emang Lo nggak bisa jalan sendiri?" Indah menggeleng
"Dasar ngerepotin" gerutunya tapi tak menyurutkan tangannya menyambut tangan Indah, Abdi ingin menuntun Indah untuk masuk kemobilnya,
"Ah kelamaan" ia langsung mengangkat badan mungil Indah, Indah yang terkejut sontak berteriak.
"Mas_" pekiknya, Indah ingin melayangkan protes, walau ia mengagumi Abdi, tapi tetap saja bagi Indah kedekatan seperti ini tak boleh terjadi, dia bisa-bisa baper beneran, sedang didalam benak Indah, masih terpikirkan nama yang sempat ia dengar waktu Abdi berbicara di telepon tadi.
Tak menghiraukan teriakan Indah, Abdi langsung meletakkan Indah dibangku penumpang sebelah kemudi. Ia kemudian menutup pintu mobil, meletakkan kursi roda dibagasi, lalu ia masuk ke mobil. Abdi diam sejenak, lalu mendekatkan tubuhnya pada Indah.
"Mas mau apa?" Indah menyilangkan tangannya didada, mengamankan benda berharganya yang tak seberapa besar, saat menyadari wajah Abdi begitu dekat dengannya, membuat jantungnya berdebar tak menentu, sedang Abdi hanya diam menatap wajah Indah, tanpa mengalihkan pandangannya dari Indah, tangan Abdi telah menarik tali seatbelt dan menguncinya.
"Jangan geer, Lo bukan selera gue" tiup Abdi wajah Indah, membuat anak rambut Indah yang menjuntai berterbangan keatas.
Tanpa banyak bicara lagi Abdi langsung melajukan mobilnya, menuju rumah Indah, walau hanya baru sekali kerumah Indah, Abdi masih ingat jalan menuju ruang itu, ya walau rumah Indah bukan terletak di perumahan, tapi ditanah kavling keluarga.
Indah pun lebih banyak diam, dia masih malu karena telah salah sangka, dia juga harus mengatur jantungnya, tiupan Abdi diwajahnya membuat jantungnya tak sehat, segar nafas Abdi telah menghipnotis pikirannya.
Abdi turun, lalu mengambil kursi roda, dan membukakan pintu untuk Indah.
"Mas jangan digendong, Indah bisa sendiri" tolak Indah sebelum Abdi tiba-tiba menggendongnya lagi.
"Gue juga ogah, tar warga sini salah sangka" sangkal Abdi
Indah memanyunkan mulutnya mendengar ucapan Abdi, dengan penuh hati-hati Indah menurunkan kakinya, sayangnya, kakinya memang benar-benar sakit, hingga tak bisa menopang badannya, Indah pun hampir terjatuh, namun dengan sigap Abdi menangkap tubuh Indah.
"Dasar lemah" ejeknya seraya menuntun Indah kekursi roda.
Indah melihat tangannya bersentuhan dengan tangan Abdi, "Monokrom" gumam Indah.
"Apa yang monokrom" tanya Abdi yang mendengar ucapan Indah
"Nggak ada" bohong Indah
"Heh dasar aneh"
"Tapi nyenengin Lo mas, nyatanya mas betah, dideket Indah terus"
"Mana ada"
"Mas udah jangan menyangkal" perdebatan mereka terputus karena teriakan Masnah, yang terkejut melihat anak kesayangannya berada di kursi roda.
"Ya Allah gusti, Indah kamu kenapa?" Masnah yang baru keluar dari warung lewat pintu belakang langsung berlari menuju Indah yang sedang didorong Abdi.
"Indah nggak pa-pa Bu, tadi cuma kecelakaan kecil"
__ADS_1
Masnah memukul bahu Indah, mendengar jawaban anaknya "Kamu bilang kecelakaan kecil, dasar anak nakal" Masnah hampir menangis
"Sakit Bu" pegang Indah bahunya.
"Maaf, Ibu terlalu khawatir" pandangan Masnah langsung beralih pada Abdi
"Loh kok sama_?" tunjuk Masnah pada Abdi
"Bu, kita masuk dulu ya, Indah pengen rebahan" potong Indah, Ibunya pasti akan banyak tanya.
"Ayo-ayo, mari nak Abdi" ajaknya memegang pundak Abdi, Abdi hanya mengangguk, ia merasa tak enak melihat wajah sedih Masnah, karena dia, Indah hampir saja dalam bahaya.
Mereka masuk, dan Abdi menceritakan pada Masnah bahwa dialah penyebab Indah kecelakaan, dan meminta maaf. Sebab wanita itu terlihat sangat khawatir, dan Abdi langsung pamit sebab waktu akan sudah akan magrib. dan Abdi berjanji akan bertanggung jawab atas pengobatan Indah sampai sembuh.
Kehadiran Abdi tak luput dari perhatian Disa, dia tak menyangka, jika Abdi dan Indah benar-benar memiliki hubungan.
"Pakai pelet apa tuh anak, sampai Abdi yang keren begitu sampai kepincut" ucapnya dibalik jendela kaca rumahnya, ia melihat sampai mobil Abdi berlalu.
...****...
"Don, gimana meeting tadi"
Abdi kini telah berada di ruang kerja di cafe miliknya, Doni adalah orang kepercayaan Abdi, dia telah bekerja bersama Abdi sejak cafe ini masih milik Rasya dulu.
"Semua berjalan lancar mas, dan saya juga telah menghubungi pihak dekor, karena tadi clien kita minta sedikit dekorasi, karena untuk merayakan acara ulang tahun ayahnya juga" jawab Doni, laki-laki dengan kulit coklat itu duduk diseberang meja Abdi.
"Okeh, tapi untuk harga semua udah deal-dealan belum?" laki-laki itu masih fokus pada layar laptopnya, dengan jarinya yang lincah berlari diatas keyboard.
"Belum mas, saya nunggu persetujuan dengan mas dulu, ini harga dari pihak dekor yang mereka tawarkan, dan ini, gambar dekor yang pihak clien kita inginkan" Doni menyerahkan beberapa lembar kertas katalog dekor, dan gambar permintaan clienya.
Abdi mengalihkan pandangannya, dan melihat daftar harga dekorasi serta coretan dekorasi permintaannya clienya, dikertas clienya tertera atas nama Thomas Prasasti, nama belakang clienya mengingatkan Abdi akan nama seseorang.
"Kapan kita akan bertemu pihak dekor?" tanya Abdi pada Doni
"Besok mas, jam makan siang" Abdi mengangguk mendengar jawaban Doni
"Mas_" Doni menjeda kalimatnya, sebab ia regu akan mengatakan ini, takut Abdi akan marah.
"Ada apa?" lihatnya Doni yang ragu
"Wanita yag pagi tadi datang, menunggu disini sampai sore" Doni akhirnya memiliki keberanian untuk mengatakan itu
"Jangan pedulikan dia" ucap Abdi dingin. Donipun keluar setelah mendapat titah dari atasannya.
Sungguh jika mengingat wanita itu, hanya kebencian yang Abdi rasakan, wanita yang tak pernah mengingatnya, tak pernah pun menjenguknya, dan datang disaat butuh uang, padahal Abdi telah menegaskan tak akan pernah memberi uang lagi. Apalagi mengingat kejadian dimalam Abdi berkunjung kerumah Anggun kekasihnya.
"Nggun maaf, aku belum bisa memberi kepastian, aku harus apa?" Abdi memijat pangkal hidungnya, semua terasa begitu rumit untuk ia putuskan.
.
.
.
.
Like dan komen dong , 😁😘❤️😍
__ADS_1