Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Malam Pertama


__ADS_3

Sah ...


Sah ...


Suara itu mengudara, dengan sekali tarikan nafas, dan hanya latihan beberapa kali Abdi dapat mengucapkan kalimat sakral itu dengan lantang. Ia seperti sudah siap lahir batin meminang Indah, gadis yang jauh dari kata wanita idaman Abdi, dimana Abdi menginginkan wanita cantik, anggun, kalem dan pintar. Namun kini dia harus hidup berdampingan dengan Indah, gadis hitam manis yang memiliki tingkah absurt.


Setelah orang-orang selesai membacakan doa, Indah keluar dengan kebaya putih milik Ibunya dulu, walau sudah bertahun lamanya, namun kebaya itu masih terlihat bagus, dengan model Sabrina yang mengekspose kulit bahu eksotis Indah yang mulus, sedang Abdi masih mengenakan kemeja biru langit yang ia kenakan tadi pagi.


Ada rasa yang entah tak bisa Abdi ungkapkan, dia merasa tak suka bahu itu dilihat orang lain, Indah selama ini yang selalu memakai kaos tertutup, dia nampak berbeda dengan kebaya yang sedikit terbuka itu, dan ditambah dandanan yang simpel dan natural, tapi tetap mempertegas wajah manis itu.


Indah berjalan perlahan mendekat Abdi, keduanya terlihat begitu canggung, dengan sedikit ragu Indah mencium telapak tangan Abdi, Abdi menahan tangan Indah, ia pun menundukkan kepalanya


"Surga Lo sekarang Ama gue, jadi Lo nggak boleh ngebantah gue" bisiknya, saat Indah akan menarik tangannya Abdi kembali menarik tangan Indah "Lo makin jelek pake kebaya itu"


Indah mengeratkan genggaman tangan Abdi, membuat Abdi sedikit meringis.


"Nggak masalah, sijelek ini sekarang udah jadi istri mas" Indah tersenyum jail


"Loh nak Abdi, cium kening istrinya, kalian kan sekarang sudah sah, tidak usah malu-malu lagi" ucap penghulu mengingatkan, sebab Abdi hanya diam saja setelah Indah mencium tangannya.


Mau tak mau Abdi mendaratkan bibirnya dikening Indah, membuat yang menyaksikan bertepuk tangan.


"Shitt, apanya yang istimewa coba, cuma cium kening harus ditepuk tangan" Rutuk Abdi dalam hati.


Setelah acara selesai, satu persatu para tamupun pulang, termasuk Disa. Kini tinggal Indah, Masnah dan Abdi. Indah masuk kekamarnya untuk mengganti pakaiannya, tinggal Masnah dan Abdi diruang tamu.


"Nak Abdi, saya titip Indah, dia putri saya satu-satunya, saya tak pernah memarahinya, membentaknya ataupun memukulnya, jika nak Abdi tak menyukai Indah, kembalikan dia pada saya, rumah Ibu terbuka 24 jam, Indah tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, maka, Ibu berharap dari nak Abdilah, indah mendapat perlindungan dan kasih sayang dari laki-laki, saya membesarkan Indah seorang diri, menjadi pengganti ayah, tanpa mencaari ayah yang lain untuk Indah, jangan pernah menduakanya, apapun alasannya, itu sangat menyakitkan, saya tak tahu nak Abdi sudah memiliki pasangan atau belum, namun, saat ini, Indahlah yang menjadi istri sah nak Abdi, jika nak Abdi memiliki kekasih, maka segeralah mungkin untuk memutuskan hubungan kalian, sebab, takdirlah yang membuat kalian bersama, bukan saya yang memaksa, bukan kalian yang menginginkan, tapi Tuhan yag menyatukan, sebab itulah kalian harus menikah dengan cara seperti ini"


Abdi mendengarkan apa yang diungkapkan Masnah dengan baik tanpa menyelanya, Abdi merasa tersentuh dengan semua petua Ibu Indah, dia begitu mengerti perasaan wanita itu, dia bingung, harus jujur, atau menyelesaikan sendiri masalahnya dengan Anggun, tanpa sepengetahuan Indah dan Ibunya.


Ada rasa iri terselip dihatinya, disaat Ibu lain sangat menghawatirkan anaknya, tapi tidak dengan ibunya, entah ingat atau tidak mereka memiliki anak, sebab Abdi tak pernah bertemu mereka lagi, kecuali ibunya yang beberapa kali datang, itupun demi uang, bukan demi dia.


"Saya berjanji Bu, akan menjaga Indah, tapi saya tak dapat menjanjikan lebih, sebab saya juga hanya manusia biasa, yang suatu saat akan melakukan kesalahan"


"Iya Ibu tahu"


"Bu, ada satu yang ingin saya beritahu pada Ibu, saya rasa ini tidak harus ditutupi, sebab kini saya sudah menjadi bagian dari keluarga Ibu, apa Ibu mau menerima saya apa adanya?"


"Apa itu nak, apa nak Abdi memiliki seorang istri?" takut Masnah, jika memang Abdi memiliki istri, maka saat ini juga, dia meminta Abdi untuk menceraikan Indah.


Tanpa mereka ketahui, Indah mendengarkan pembicaraan keduanya, Indah juga sama dengan Masnah, takut Abdi telah memiliki istri, hatinya harap-harap cemas menanti apa yang ingin Abdi ceritakan.


"Bukan Bu, saya memiliki masa lalu yang kelam, saya pernah mengenal obat-obatan terlarang, dan saya juga memiliki keluarga yang berantakan, saya tidak tahu Mama Papa saya dimana, mereka meninggalkan saya setelah mereka berpisah, dan tak pernah menjenguk saya, apa Ibu tidak masalah hidup dengan orang yang memiliki masa lalu buruk seperti saya"


Ada kelegaan dihati Indah dan Masnah, tak ada beban yang kini akan menghantui mereka, sebab memang belum mengetahui asal-usul Abdi.

__ADS_1


"Bu"


Masnah dan Abdi menoleh kearah Indah


"Ngomongin Indah ya?"


"Pede banget sih". celetuk Abdi


"Kok kamu nggak siap-siap sih Ndah?" tegur Masnah, dilihatnya Indah yang malah memakai pakaian santai.


"Siap-siap kemana sih Bu?"


"Kamu kan sekarang sudah jadi istri, ya harus ikut suami"


Indah langsung melihat Abdi, laki-laki itu malah membuang muka,


"Emang harus gitu Bu? Indah nggak bisa tinggal sama Ibu?"


"Nggak bisa donk, kamu harus ikut suami kamu, kemanapun suami kamu pergi"


"Terus Ibu gimana?"


"Jangan pikirkan Ibu, memang sudah begini kodratnya, seorang anak pasti akan meninggalkan Ibunya sendiri"


"Hah, itu, ya terserah kamu" Abdi pun bingung harus menjawab apa, dia merasa serba salah


"Udah, kamu beresin pakaian kamu, kamu harus ikut Abdi pulang, kewajiban kamu sekarang mengurus suami mu, dan ikut kemanapun dia pergi"


Setelah mendapat banyak nasihat dari ibunya, akhirnya Indah pun menurut, dia bersiap akan ikut tinggal bersama Abdi, mereka meninggalkan rumah Masnah setelah makan malam bersama. Selama diperjalanan pun keduanya tak banyak bicara, mereka sibuk pada pikirannya masing-masing. Butuh waktu satu jam, akhirnya mereka sampai diapartemen Abdi.


"Kita sudah sampai" Abdi melepaskan seatbelt nya.


"Kita sudah sampai?"


"Iya, yuk turun"


Indah mengikuti Abdi dari belakang seraya menyeret koper besar miliknya, Indah mengedarkan pandangannya pada basemen yang terlihat sepi, menyadari dia yang tertinggal agak jauh dari Abdi, Indah berlari kecil.


"Mas tinggal diapartemen?" tanyanya saat mereka telah masuk pada lift, Abdi hanya mengangguk, lalu menekan tombol angka 10 untuk menuju lantai miliknya.


Wahhhhh


Indah berdecak kagum saat memasuki apartemen milik Abdi, sebenarnya apartemen yang ditempati Abdi bukanlah apartemen mewah, hanya bangunan biasa yang minimalis yang didominasi warna putih dan hitam. Dan hanya memiliki satu kamar tidur, ruang tamu yang menyatu dengan pantry, dan terdapat satu sofa panjang biasa digunakan Abdi menonton televisi, yang didepannya hanya ada satu meja persegi yang tidak terlalu besar dengan televisi yang menempel ditembok.


Ini pertama kalinya Indah memasuki apartemen, sehingga membuatnya terus mengucap kekaguman, ia mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan, Indah berlari saat melihat pintu diarah lain, yang ia yakini itu pasti balkon. Indah membuka pintu itu, benar saja dugaannya, sebuah balkon, yang terdapat dua kursi besi bulat, dengan meja bulat ditengahnya mata Indah sampai berbinar, saat memandang kearah pemandangan malam ibu kota.

__ADS_1


"Dulu Indah cuma tahu bangunan ini tinggi, sekarang Indah bisa tinggal disini, ya Ampun, mimpi apa Indah semalam ya, tiba-tiba nikah, sekarang tinggal diapartemen, bener-bener kayak di novel" Indah memegangi pipinya, hidupnya benar-benar penuh kejutan.


"Dasar norak" suara Abdi mengagetkan Indah


"Ih mas, ngagetin tau, mas tinggal disini sendiri?" Indah melihat Abdi yang sudah terlihat segar, lelaki itu sepertinya habis mandi,


"Kalo gue tinggal sendiri berarti Lo setan donk" jawab Abdi


Indah dibuat terpesona, Abdi hanya memakai celana boxer rumahan, dan kaos putih yang membentuk tubuh tegapnya, terlihat gagah dan seksi dimata Indah, membuat otak Indah traveling.


Gila, kira-kira nanti kita ada malam pertama nggak ya?


Indah cekikikan seraya menutup mulutnya, membayangkan hal-hal aneh yang akan dilalui malam ini.


"Serem gue deket Lo, suka ketawa sendiri"


"Mas, mana ada setan secantik Indah"


"Emang pernah ada yang bilang Lo cantik?"


"Nggak ada, tapi mulai sekarang mas harus selalu bilang Indah cantik"


"Idih ogah"


"Mas, pahalanya gede loh muji istri sendiri"


Abdi menggelengkan kepala, kenapa dia bisa menikah dengan wanita modelan begini.


"Ndah maaf, Lo jangan terlalu berharap sama pernikahan kita, aku nggak bisa menjanjikan apa-apa, tapi kita bisa jalani ini dulu"


Deghhh


.


.


.


.


.


Maksud kamu apa mas? kamu jahat... inikan malam Jumat mas


like dan komen selalu ya... ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2