Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 87


__ADS_3

Dalam kehidupan, ada pertemuan ada perpisahan, ada yang datang, ada yang pergi.


Hari ini hari keempat puluh kepergian Selly, para tetangga dan kerabat baru saja berpamitan dari kediaman Indah dan Abdi setelah menghadiri acara tahlilan.


Kini Indah harus merawat anak Selly, anak laki-laki itu diberi nama Mahesa putra, yang artinya pemimpin besar. Ada penyesalan dalam diri Indah, saat kepergian Selly dia belum sempat memberikan nama anaknya.


Mahesa kini sedang tertidur da kamar Masnah, ya setiap malam anak Selly akan tidur bersama neneknya, sebab Disa kini diketahui berada dirumah sakit untuk menenangkan mentalnya, setelah mengetahui suaminya ternyata telah menikah lagi, dan semua uang yang mereka berikan habis begitu saja. Benar ayah Selly memiliki usaha batu bara di Kalimantan, namun kesuksesan yang dia raih malah disalahkan gunakan olehnya.


Indah tentu tak bisa berlama-lama dikamar ibunya, sebab dia seperti memiliki dua anak, siapa lagi jika bukan Marsha yang akan cemburu jika dia berlama-lama melihat Mahesa. Walaupun awalnya dia sempat protes dengan kehadiran Mahesa, namun kini dia bisa menerimanya.


"Bunda lama banget lihat dede Mahesanya." rajuk Marsha saat Indah baru masuk ke kamar.


"Maaf ya, kasian neneknya kalau harus gendong-gendong dede Mahesa, jadi harus nunggu dede Mahesanya tidur dulu"


Indah ikut bergabung, naik ke tempat tidur dan masuk keselimut, dengan Marsha berada ditengah-tengah.


"Anak bunda udah sikat gigi, cuci muka, sama cuci kaki tangan?"


"Udah" jawabnya singkat, ia lalu menenggelamkan tubuhnya dalam selimut. Membuat Indah dan Abdi terkekeh, gemas dengan tingkah anak itu.


"Sayang, apa kita butuh perawat buat bantu kamu jagain anak-anak?" tanya Abdi, "Aku nggak tega sama ibu kalau harus urus Mahesa kalau kamu lagi ngajar"


"Nggak perlu mas, ibu senang katanya jadi ada kesibukan."


"Sayang besok kita lihat-lihat rumah baru ya, aku rasa rumah ini kekecilan buat kita, nggak ada halaman buat anak-anak main, aku mau cari rumah yang ada halaman belakang sama depan, biar mereka bisa leluasa main."


"Tapi Masha nggak mau nanti satu kamar sama Mahesa jelek itu ya Bun." samber Marsha, ternyata anak itu belum tidur.


"Eh anak ayah kirain udah tidur." Abdi dan Indah memeluk Marsha bersamaan, lalu mereka menciumi pipi dan ketek Marsha membuat Marsha teriak kegelian.


Ya, begitulah kegiatan mereka sebelum setiap harinya sebelum tidur, mereka akan mengobrol lalu bercanda sebagai mempererat hubungan mereka.


* * *


"Ya Ampun Marsha, kasihan dede Mahesanya nanti gelagapan."


"Marshaaaa, kenapa pipi dede Mahesanya penuh bedak."


"Marshaaaa kamu lagi ngapain dede Mahesa?"


Seperti itulah teriakan yang mewarnai pagi hari Masnah dan Indah, tak bisa ditinggal atau meleng sedikit, ada saja yang Marsha lakukan pada bayi yang berumur dua bulan itu. Yang mukanya ditutup selimut, diberi bedak hingga membuat wajah Mahesa seperti manusia silver, dan kadang Marsha seperti memberinya ASI, jika bayi itu sedang menangis.


Entah apa yang dia lakukan, terkadang Mahesa menangis kencang padahal bayi itu sedang tertidur lelap saat ditinggal sebentar, mungkin dicubit karena terkadang meninggalkan bekas kebiru-biruan atau kemerahan di area tangan atau pipi. Ada saja tingkah ajaibnya jika dia tak menyukai Mahesa, benar-benar harus diberi penjagaan ekstrak ketat jika ada Marsha dirumah.


Kini saatnya Marsha pulang kerumah orang tuanya, dia memang dibuatkan jadwal, seminggu dirumah Mawar, seminggu dirumah Indah, agar anak itu tetap dekat dengan orang tuanya.


"Makasih ya kalian sudah mau mengantar Marsha, soalnya Rasya sedang keluar kota, aku nggak bisa ninggalin mama Vivi" Mawar merasa tak enak pada Indah, karena kondisi Vivi sekarang kurang baik


"Biasa aja Amam, tapi kalau kamu kerepotan, aku bawa lagi Marsha nya"


Indah memberi solusi, dan dia memanggil Mawar dengan sebutan Amam, mengikuti panggilan Marsha, sebab Marsha suka mengikuti panggilannya, hanya memanggil nama pada Mawar.


"Nggak papa, nanti mama Rika nginep disini."


Indah mengangguk "Iya, Amam nggak boleh sendirian dirumah"


"Kami nggak bisa lama-lama ya Mawar, kami mau lihat-lihat rumah baru dulu, lalu mencari alamat rumah ayah Mahesa." Abdi menyela, sebab perempuan jika sudah mengobrol tak ingat waktu.


"Eh iya, nggak papa, sekali lagi maaf ya merepotkan, maaf jika kehadiran Marsha bikin kalian darah tinggi." kekehnya.

__ADS_1


"Hahaha, justru kalau nggak ada dia, rumah sepi kayak kuburan." sahut Abdi.


"Semoga kalian nggak kapok ya, soalnya dia betah di sana."


"Ya ampun Amam, aku jadi seneng dia dirumah, lucu aja sih, kita benar-benar kayak punya dua anak."


Indah menerawang, dia benar-benar bahagia memiliki Marsha dan Mahesa didalam hidupnya, semua seperti sudah diatur, rencana Tuhan memang tak ada yang tahu. Indah tersenyum, membayangkan nanti jika mereka sudah besar, apakah Marsha masih bersikap bossy seperti ini. Mengingat Marsha memiliki jiwa suka mememrintah dan ingin menang sendiri.


Mereka terus berbincang saat berjalan menuju mobil Abdi, lalu Indah dan Mawar saling mencium pipi kiri kanan sebagai perpisahan.


"Kita kemana dulu ini mas?" tanya Indah saat sudah didalam mobil.


"Kerumah yang mau kita lihat, soalnya aku sudah janjian sama marketingnya."


"Udah hampir dua bulan kita nyari alamat ayah Mahesa, semoga kali ini kita ketemu ya mas." lirih Indah.


"Iya sayang, semoga secepatnya kita bisa menemukan titik terang ayah Mahesa." Abdi menggenggam tangan Indah.


Selama ini Abdi menyuruh temannya untuk menyelidiki laki-laki yang ditulis Selly pada kertas yang ia berikan pada Indah sebelum kepergiannya.


Laki-laki yang merupakan ayah Mahesa ternyata teman kantor Selly, sayangnya, laki-laki itu sekarang sudah tak lagi bekerja disana, dia sudah resign dari kantor selama enam bulan lebih, jadi, jika diperkirakan, dia pergi setelah Selly tak dapat pengakuan dari Thomas, dan laki-laki itu juga lari dari tanggung jawabnya.


Setelah mendapat informasi dari temannya yang ia suruh menyelidiki laki-laki itu, kini Abdi dan Indah akan menuju alamat yang diberikan pada mereka.


Sebuah desa terpencil di Serang, Banten. Abdi dan Indah harus menempuh perjalanan sekitar lima jam lebih. Berbekal banyaknya informasi yang didapat, akhirnya kini mereka berhenti disebuah rumah tua, rumah itu bahkan masih bertembokkan anyaman bambu.


Suasana desa ini tampak begitu sepi, hanya terdapat beberapa rumah disana dengan bangunan yang hampir serupa. Halaman rumah itu ditumbuhi banyaknya pohon melinjo dan salam.


Indah memindai pandangannya, melihat sekitar lingkungan yang begitu sepi, Indah ragu jika memang laki-laki itu tinggal disini, mengingat dia merupakan pegawai kantoran yang gajinya tak sebanding dengan gaji Indah menjadi seorang guru.


"Mas yakin alamatnya disini?" tanya Indah ragu.


"Mas, GPS kan suka salah."


"Tapi kenapa aku merasa yakin, jadi kamu mau ikut turun apa tidak?"


Indah nampak berpikir, "Yaudah aku ikut turun."


Saat mereka telah turun, Indah baru menyadari jika orang-orang sekitar sana sedang memperhatikan mereka, Indah mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Abdi.


"Nggak usah takut, mereka mungkin cuma merasa aneh, jarang ada yang datang kesini mungkin. Kamu harus menyapa dan tersenyum ramah jika mengunjungi tempat asing"


Indah melempar senyum pada orang-orang itu, sesuai dengan arahan Abdi, yang Alhamdulilah nya mereka balas dengan senyum tak kalah ramah, membuat Indah sedikit tenang.


"Nah gitu, udah tenang kan?" .


Indah hanya mengangguk, terus mengikuti langkah Abdi menuju rumah yang berada tak jauh dari mereka, disana ada amben lebar untuk duduk-duduk bersantai.


Abdi dan Indah mengucapkan salam sebelum memasuki rumah yang pintunya sedikit terbuka itu. Tak lama keluar seorang ibu-ibu paruh yang rambutnya disanggul asal.


Wanita itu menyambut hangat kedatangan Abdi dan Indah, kalau mempersilahkan mereka masuk.


"Maaf, kalian ini dari mana ya?" tanyanya sopan setelah Abdi dan Indah dipersilahkan duduk d kursi kayu panjang yang terdapat diruang tamu.


Indah kembali memindai pandangannya sekitar rumah itu, rumah ini terlihat begitu gelap walau disiang hari, entah mengapa sang pemilik rumah tak mau membuka jendelanya, padahal jendela rumah itu sebenarnya bisa dibuka. Atap rumah itu juga masih terbuat dari daun aren. Sangat asri, lantainya pun masih berupa tanah yang terdapat tonjolan-tonjolannya.


"Maaf Bu, apa benar ini rumah Pak Sulistyawan?" jawab Abdi dengan kembali bertanya, ah lebih tepatnya dia menyakinkan jika rumah ini rumah ayah Mahesa.


"Kalian ini siapanya ya, maaf saya tidak bisa menjawabnya jika tidak tahu kalian ini siapa?"

__ADS_1


Indah dan Abdi saling pandang, mereka juga bingung harus menjelaskannya dari mana? sedang mereka tak mengenal laki-laki ini sama sekali.


"Maaf Bu, jika benar ini rumah pak Sulistyawan, saya baru akan menjelaskan kami ini dari mana?" Abdi akhirnya memberi penawaran aman.


Ibu itu mengerutkan keningnya, "Benar." jawabnya.


Ada rasa kelegaan dihati Indah. "Bu, apa kami bisa bertemu dengan beliau?" tanya Indah.


"Bisa, sangat bisa." jawabnya.


Lalu wanita itu beranjak dari duduknya, mengajak Abdi dan Indah ke suatu tempat dibelakang rumah itu.


Tak begitu jauh, mungkin sekitar lima ratus meteran mereka berjalan, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan, sebuah gundukan tanah yang masih basah, mungkin hanya beberapa minggu. Dan disana tertulis nama yang mereka cari, nama itu tertulis jelas dipapan yang tertancap disana.


Indah memegangi dadanya terkejut dengan kenyataan ini. Ternyata Mahesa menjadi anak yatim piatu diusia yang masih begitu belia.


Indah lalu menceritakan tentang Mahesa pada wanita itu yang diketahui sebagai ibu dari ayah Mahesa, dan yang berarti dia merupakan nenek dari Mahesa.


Wanita itu menangis menceritakan anaknya yang harus berjuang demi bisa menyembuhkan penyakitnya, dia rela bekerja keras demi kesembuhan ibunya.


"Seharusnya saya yang berada disana bukan dia, saya yang penyakitan, tapi takdir berkata lain, anak saya mengalami kecelakaan saat akan pulang kesini menggunakan motornya, waktu itu habis turun hujan. Jalanan licin, dan dia bilang dia sudah resign, dan mau tinggal disini saja, yang ternyata dia kan pulang untuk selama-lamanya."


"Ibu yang sabar ya." Indah mengusap pundak wanita itu.


Wanita itu mengangguk "Anak saya ternyata meninggal dalam penuh dosa. Pantas saja dia mendapatkan uang untuk operasi saya dengan cepat, ternyata dia mendapatkan dari hasil yang kurang baik."


"Dia telah melakukan yang terbaik untuk Ibu, walau dengan cara yang salah Bu."


"Maafkan dia jika dia membuat banyak salah."


"Dia tidak memiliki salah pada kami Bu, kami cuma hanya ingin menyampaikan padanya bahwa anaknya telah lahir, anaknya laki-laki, dia cucu ibu." ucap Indah masih mengusap pundak wanita itu.


"Tolong rawat cucu saya ya nak."


"Apa ibu tidak mau melihat cucu ibu dulu?"


Wanita itu menggeleng "Saya rasa saya tidak pantas."


"Tapi dia akan senang jika ibu akan melihatnya Bu." ucap Abdi.


"Sudahlah, biarkan dia tidak mengenal keluarganya yang telah menyusahknya ini."


"Baiklah jika itu keputusan Ibu, kami akan kembali untuk membawanya kesini, agar ibu bisa melihatnya."


Wanita itu malah terus menangis. "Saya terharu, cucu saya mendapat keluarga yang baik yang akan mengurusnya."


Indah dan Abdi akhirnya kembali setelah berbincang banyak, sangat lega bisa menemukan keluarga dari Mahesa.


Mereka sampai dirumah tengah malam, dan Mahesa tentu sudah tidur.


"Maaf ya Bu, ngerepotin Ibu menjaga Mahesa sendiri." Indah melihat Mahesa dikamar ibunya.


"Tidak apa-apa, dia cucu ibu sendiri, bukan orang lain, darah daging kita"


"Walau bukan dari rahim Indah ya Bu."


"Kalian diberi banyak keturunan yang nanti akan menjaga kalian nak, ibu yakin mereka akan menjadi anak-anak yang soleh dan shalehah."


Indah memperhatikan wajah Mahesa yang terlelap, semoga kamu anak yang dikirim untuk kami, jadilah anak yang baik Mahesa, ucap Indah dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2