Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 35


__ADS_3

"Bu, Ibu apa kabar"


"Ibu baik sayang" terdengar jawaban dari sebrang sana


"Nenek gimana keadaannya bu"


"Nenek juga sehat sayang, kamu sama nak Abdi gimana kabarnya?"


"Kami sehat Bu, Bu Indah dari rumah, kenapa Ibu nggak pernah cerita kalau Wak ngancem Ibu?"


Terdengar helaan nafas "Biarlah Ndah, Ibu ikhlas, mungkin memang kita bisa menempati rumah itu hanya sampai kamu menikah, sekarang yang terpenting kamu dan Abdi baik-baik saja"


"Indah janji Bu, Indah bakal rebut lagi rumah itu"


"Sudah nggak perlu, kamu jangan mikirin itu, sayang nanti jika ada waktu ajak Abdi ke Sukabumi, perkenalkan dia sama keluarga kita"


Blussh


Padahal nggak diapa-apain, tapi Indah salting sendiri, mesem-mesem nggak jelas, berasa diledekin, Indah merasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan keluar dari pipinya, ahh Indah jadi kangen mas ganteng kan, udah berapa hari dia nggak ketemu intens dengan Abdi, sebenarnya Indah malu mau bertemu Abdi, karena setelah dia mukul perut Abdi, dia belum minta maaf, malah mendiami dan menghindar. Ahh bodoh amat lah, dia harus minta maaf abis ini.


"Iya Bu, nanti Indah ajak mas Abdi ketemu nenek, salam sama nenek dan keluarga di Sukabumi ya Bu"


Setelah mengucap salam, panggilan pun tertutup. Dari jauh terlihat cahaya mobil mendekat, sudah pasti itu mobil Thomas yang mengantar Selly, pikir Indah. Benar Selly turun dari mobil itu, tapi bukan mobil Thomas yang mengantar, Selly pulang naik taksi online, mungkin.


Mata Selly terlihat bengkak, eh itu anak nangis ya? Iya terlihat dari matanya yang terus ngeluarin air mata, yaiyalah, nggak mungkin itu air terjun, wkwkwk. Pandangan mata mereka bertubrukan, terpancar cahaya kemarahan dari sorot mata Selly. Dengan berjalan cepat Selly mendekati Indah, dan ...


Plakk


Nggak ada angin, nggak ada hujan, tapi tiba-tiba Indah mendapat serangan mendadak dari Selly, wajah Indah sampai kesamping saking nggak siapnya, dan nggak menduga pipi kanannya mendapat tamparan keras dari Selly.


"Puas lo Thomas mutusin gue, seneng kan lo, lo itu udah punya laki, masih aja godain pacar orang, DASAR PELAKOR"


Indah jelas bingung, nih anak kenapa sih? tiba-tiba ngatain orang pelakor, Indah meraba pipinya yang kerasa panas, mungkin juga telapak tangan Selly ninggalin bekas dipipinya.


"Lo kesurupan ya?, makanya kalo lagi bunting jangan pulang malam, apalagi lewat kuburan" cuma bisa ngomong gitu, karena emang nggak ngerti dan nggak paham sama yang Selly tuduhin sama dia.


"Awas aja ya, lo tunggu pembalasan dari gue." Habis ngomong gitu Selly langsung lari masuk kerumahnya.


Indah cuma geleng kepala melihat tingkah sepupunya itu, nggak sempet balas tamparan Selly, dan nggak mau ambil pusing. Indah menyalakan motornya, lelah juga menghadapi empat cewek sekaligus hari ini.

__ADS_1


...***...


Jam sembilan lewat Indah baru sampai ke apartemennya, sebelumnya Indah membelikan dulu pecel lele untuk Abdi, biasa merayu, sebagai ucapan permintaan maafnya, itu pecel lele beli di pinggir jalan ya. Suaminya pemilik gerai lele besar, eh dia malah beliin pecel lele pinggir jalan, dasar Indah.


Menaiki lift, sambil mikir, kira-kira enaknya cara minta maaf nya gimana ya? hufff pusing, ngomong minta maaf aja pake mikir, nyamuk aja kentut nggak pake mikir. Sambil nunduk, merhatiin kakinya yang dia gerakin sendiri, nenangin diri sendiri. Tak lama bunyi lift berdenting, tandanya dia sudah sampai. Kok jadi deg-degan ya? padahal punya salah sama Anggun nggak se deg-degan kayak gini.


Setelah sampai didepan pintu unitnya, dia nggak langsung masuk, cuma berdiri, narik nafas panjang, gugup tentunya mau ketemu sama pujaan hati yang udah dua hari dia diemin. Setelah dipastikan dia siap, barulah dia menempelkan kartu aksesnya. Tapi sebelumnya dia dibuat terkejut, karena pintu sebelah terbuka, menampilkan wajah Chio, laki-laki itu terlihat rapi dan klimis, sepertinya mau pergi.


Indah menampilkan senyumnya "Hai Chio" sapanya.


"Eh Indah, dari mana? kok baru pulang?"


"Dari luar, biasa lagi banyak urusan" Indah memperhatikan Chio dari atas hingga bawah. "Rapi banget, mau kemana?," tanyanya balik.


"Cari hiburan diluar, jadi bener ya, kamu istrinya Abdi?" tanyanya dengan wajah kecewa.


Indah merapatkan mulutnya, mengiyakan jawaban Chio dengan anggukan.


"Sebenarnya aku kecewa, tapi ya.... aku harus senang, karena sahabat ku yang satu itu udah sold out" Chio menarik nafasnya "Yaudah Indah, aku keluar dulu, siapa tahu dapat jodoh diluar sana" Chio mengulas senyum tulusnya.


"Iya, hati-hati ya Chio" pesanya,


Setelah Chio tak terlihat lagi, Indah membuka pintu unitnya.


Ceklek


Indah menyembulkan kepalanya, mencoba mengintip, sepi, sepertinya mas ganteng belum pulang, Indah menghela nafas kecewa, padahal dia ingin memberi surprise pada suaminya.


Akhirnya Indah masuk, berjalan menuju dapur, meletakkan pecel Lele yang dia beli, lalu berjalan menuju kamar, meletakkan tas miliknya diatas meja rias, mengambil handuk dan pakaian ganti, kebiasaan Indah, ganti dikamar mandi, siaga, agar tak dilihat Abdi cuma pakai handuk saat keluar kamar mandi, malu.


...****...


Di gerai lele milik Abdi, Thomas sedang menemui Abdi disana. Thomas datang sendiri, tanpa seorang asisten, pengawal atau orang suruhannya. Dia memberikan bukti video saat dirinya diusir Abdi, dan memberikan surat tuntutan atas tindakan tidak menyenangkan Abdi terhadap keluarganya.


"Dengan bukti ini, Anda bisa terjerat beberapa pasal dan tuntutan, karena telah melanggar perjanjian yang telah kita sepakati" ucap Thomas dengan tatapan tajam.


"Saya sudah katakan, saya akan mengganti kerugian semua uang Anda." balas Abdi tak kalah tajam tatapan Thomas.


Thomas tersenyum menyeringai "Bagaimana jika saya meminta ganti rugi sepuluh kali lipat dari uang perjanjian itu?." Ucap Thomas tanpa mengalihkan tatapannya pada Abdi.

__ADS_1


"Maksudnya"


"Ternyata kamu pebisnis baru Pak Abdi, aku tidak tahu kenapa kamu melakukan itu, padahal kita tidak saling mengenal bukan?"


"Itu bukan urusanmu, dan kamu tidak perlu tahu."


"Tentu aku harus tahu, jika itu berurusan dengan keluarga ku, terutama Papa ku, Prasasti" sengaja Thomas menyebutkan nama papanya, memancing reaksi Abdi.


Rahang Abdi mengeras mendengar nama itu disebut, dia benci nama Prasasti. "Katakan apa maksud tujuan mu datang ke sini, aku tidak memiliki banyak waktu, jika memang ingin minta ganti rugi, katakan sekarang, aku akan membayarnya"


Abdi sudah sangat muak berhadapan dengan Thomas, melihat wajah Thomas, ia seperti melihat Prasasti duduk didepannya. Yang padahal wajah mereka itu sebenarnya mirip, tapi tidak terlalu mirip, mereka sama-sama memiliki hidung mancung, rahang yang tegas dan sedikit berbulu, badan tinggi tegap warisan dari Prasasti, hanya mata mereka yang berbeda, mata mereka mengambil dari mata ibunya, iris mata Abdi coklat tegas, sedang iris mata Thomas biru kehijau-hijauan, turunan dari mamanya, yang keturunan bule entah bule dari mana?.


"Sabar pak Abdi, jangan terlalu tergesa-gesa, aku hanya ingin sambil menikmati pemandangan dan kenyamanan tempat ini, tempat yang waktu pembukaan sempat viral bukan?, aku jarang sekali ada waktu bersantai dan senggang, jadi aku ingin menikmatinya, berikan pelayanan terbaik untuk tamu istimewa seperti ku, aku janji, aku akan membayar mahal atas pelayanan gerai ini" Thomas menyilangkan kakinya.


"Ingat, aku tidak akan menerima uang sepersenpun dari mu, katakan apa maumu, dan cepat pergi dari tempat ini, tempat ku terlalu berharga untuk orang-orang seperti kalian" tanpa Abdi sadari, dia telah masuk dalam perangkap Thomas, dia terpancing amarah.


Thomas tertawa terbahak-bahak melihat wajah Abdi yang sudah terlihat sangat marah, menyenangkan, ujarnya.


"Baiklah, aku ingin menuntut ganti satu triliun, bagaimana? apa kamu menyetujuinya pak Abdi yang terhormat?"


Abdi yang mendengar itu cukup terkejut, tak pernah menyangka angka yang akan disebutkan Thomas sebesar itu.


"Anda sedang memeras saya?" tanya Abdi tersenyum miring.


Thomas menggeleng, lalu tersenyum, "Aku hanya menawarkan saja apa Anda sanggup membayarnya, jika tidak, aku punya dua pilihan, bagiku mudah saja menutup dua cafe milik mu, tapi aku masih punya hati"


"Apa pilihan keduanya?" tanya Abdi yang tak ingin berlama-lama


"Tinggalkan Indah" sebuah permintaan kecil, namun terasa berat untuk Abdi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hai semu, makasih yang selalu dukung cerita ku, maaf jika ceritanya kurang nge feel. Semoga kalian semua diberikan kesehatan, dan tetap jaga prokes ya dimana punya kalian berada. love you all ❤️❤️😘


__ADS_2