
"Ibu nggak lama kok di Sukabumi, cuma sebentar, kamu jaga diri baik-baik ya, jangan ngerepotin suami kamu"
"Titip Indah ya nak Abdi, maaf jika dia suka menyebalkan"
"Es teri"
Suara serak dan berat itu membuyarkan lamunan Indah.
"Eh Mas, udah mateng?" tanyanya setelah melihat sepiring nasi goreng yang terletak diatas meja didepannya.
"Belom"
Indah memonyongkan bibirnya, tapi dia memajukan duduknya, mendekat, mengambil piring nasi goreng yang masih mengepulkan sedikit asap diatasnya.
"Lo mikirin apa sih? ampe gue datang lo nggak sadar"
Indah menggeleng, namun menunjukkan raut sedihnya, cewek emang begitu, jika ditanya ada apa? pasti jawabnya geleng, kalo nggak, nggak ada apa-apa, tapi jika lawanya tidak peka, dia akan marah, laki-laki memang dituntut untuk memiliki ilmu telepati, agar dapat mengetahui masalah wanita, tanpa harus bertanya, kalo nggak mau ada perang dingin.
"Mas, Ibu kayak nyimpen sesuatu nggak sih?" tuhkan, dia akhirnya ngomong sendiri.
Tak menjawab, Abdi hanya mengangkat bahunya, walau dia sebenarnya ngerasa hal yang sama, tapi nggak mau nambah pikiran istrinya yang punya pikiran sedikit lola ini.
"Nasi gorengnya nggak bisa jalan sendiri loh, kalo cuma lo liatain, dia nggak akan masuk kedalam mulut lo"
Indah menoleh, menatap wajah tampan suaminya yang terus memandanginya dengan tatapan yang tak dapat Indah artikan.
"Ini kok dipakein pete mas, kapan mas beli petenya?"
"Tadi, pas lo bengong" masih terus menatap wajah manis itu, jika dilihat makin lama, makin manis, dan dia pengen.... nyium lagi.
"Ish" Indah menyingkirkan pete yang ditumpuk Abdi ditengah, dan tak lama....
Tringg....
Sebuah benda bulat, berwarna putih, bermatakan batu berlian berwarna biru menggelinding ke bawah meja. Indah menunduk, mengambil benda yang jatuh itu. Indah membelalakkan matanya saat melihat cincin cantik itu. Indah mengangkat badannya, memperlihatkan benda itu pada Abdi.
"Mas, ini_" mata Indah berkaca-kaca, dia tak mampu melanjutkan ucapannya lagi.
Cincin itu langsung diambil oleh Abdi, dia menarik jari kiri Indah, dan tanpa berkata apapun, Abdi langsung menyematkan cincin itu pada jari manis Indah.
__ADS_1
"Pas, ini mahal, lo jangan sampe ilangin, kalo sampe terjadi lo ganti rugi"
Bukan kata manis yang dia ucapkan, tapi Indah anggap itu adalah ucapan rasa sayang Abdi padanya. Indah melipat bibirnya segaris, menahan embun yang sejak tadi ingin merangsek keluar, namun dia suruh air matanya gengsi, masa dikasih cincin nangis, kalo tau gitu, dia ajak dulu air matanya gladi resik, biar nggak nangis.
"Itu gantiin cincin yang waktu gue pinjem pas akad, semoga awet, walau dapet dari ciki-ciki"
Indah berdecak, nggak mungkin banget kan? tadi aja bilangnya mahal.
"Mas" panggil Indah manja, benar-benar dibuat semanja mungkin.
Yang dipanggil nggak jawab, tapi malah menatap dengan penuh perasaan sayang, ahh Indah makin dibuat meleleh.
"Boleh peluk nggak?" bertanya dengan mata berkedip, memperlihatkan wajah puppy eyes menggemaskannya.
Tak mengiyakan ataupun menolak, Abdi masih diam, menatap wajah didepannya yang kini manyun, Abdi maju dan langsung menarik tengkuk Indah, menempelkan bibirnya dengan bibir mungil yang selalu terasa manis, keduanya diam, saling memperhatikan wajah satu sama lain. Kemudian Indah memejam, minta yang lebih, tentu saja langsung dikabulkan oleh sang suami yang selalu mengerti keinginannya.
Ciuman Abdi semakin lama semakin dalam, tangan yang tadi berada dibelakang leher Indah perlahan turun melewati bahu Indah, kemudian turun lagi ke pinggang Indah, dan tangan itu langsung merengkuh pinggang istrinya untuk semakin menempel pada tubuhnya, bukan hanya sekedar nempel, tapi sekarang tubuh Indah berada dipangkuan Abdi, membuat tangan Indah melingkar di lehernya.
Nasi goreng yang perlahan dingin menjadi saksi bisu ciuman panas dua insan tersebut, meratapi nasibnya yang kini di acuhkan.
"Enggh"
suara halal itu keluar begitu saja dari mulut Indah disela-sela ciuman panas Abdi, membuat Abdi semakin tertantang olehnya. Tangan Abdi semakin berani, kini tangan kirinya yang memeluk tubuh Indah, menelusup kedalam kaos Indah, ingin melepaskan pengait penutup dada istrinya, tapi sayang, pengait itu tak bisa diajak kompromi, susah, Abdi kesusahan membukanya, membuat Indah terkekeh, dan melepaskan ciuman Abdi begitu saja.
"Kita udah sah es teri, masa kudu izin dulu" tapi posisi mereka tak berubah, Indah masih berada dipangkuan Abdi.
Abdi mendesah pasrah, kini dia teringat dengan pertemuan singkatnya dengan Thomas saat akan pulang tadi. Thomas yang Abdi baru dia ketahui statusnya bahwa mereka saudara tiri, dan kini berhubungan dengan sepupu Indah, benar-benar dunia sangat sempit,
"Es teri, lo kenal sama pacar sepupu lo tadi?"
Abdi merapikan rambut Indah, dan menyelipkannya kebelakang telinga Indah. Indah sedikit menjauhkan wajahnya dari Abdi, mengelus kedua pipi Abdi dengan lembut.
"Thomas maksud mas?" Abdi mengangguk
"Mereka udah tunangan" lanjut Indah,
Abdi mengeratkan pelukannya "Kayaknya dia suka kamu" Abdi mengecup bibir Indah sekilas, membuat Indah kembali bersemu malu.
"Mas sekarang suka cium-cium Indah ih"
__ADS_1
"Kan lo istri gue, gue halal donk cium lo"
"Iya juga ya mas" tapi tetap Indah tak dapat menutupi rasa malunya.
Abdi menggeleng, istrinya ini selain aneh, juga lemot. Sebagai seorang laki-laki Abdi dapat melihat raut tak suka Thomas melihat mereka tadi berpegang tangan, dan dari sorot mata Thomas terpancar wajah cemburu. Abdi sangat tahu, sorot mata Thomas pada Indah bukan sorot mata biasa, Abdi suka ini, sudah lama dia tak tertantang untuk bersaing dalam merebut hati wanita, Ia merasa seperti abege yang sedang merasakan jatuh cinta, tapi Abdi berbangga hati, karena belum apa-apa dia sudah jadi pemenangnya, dewa amor sedang berpihak padanya.
Setelah menikah dengan Indah, Abdi merasakan banyak perubahan dalam hidupnya, hari-harinya ia jalankan dengan penuh warna, sikap ceplas-ceplos Indah, sikap bawel dan anehnya selalu membuat Abdi tersenyum.
Lo beda dimata gue es teri, sederhana tapi gue suka, gue nggak yakin, bisa berpaling dari lo, dan gue mungkin nggak akan sanggup kehilangan lo.
"Thomas bukan tipe Indah mas"
"Oh ya!" Indah mengangguk
"Thomas sama Selly bentar lagi mau nikah, dan kayaknya Selly juga lagi hamil"
Sebenarnya Abdi tak yakin dengan jawaban Indah, tapi dia lebih baik melupakan itu. Abdi melihat jam pada dinding diatas televisinya, masih menunjukkan pukul sembilan, belum terlalu malam.
"Kita keluar yuk, cari angin" Indah mengangguk setuju.
Malam ini mereka habiskan berkeliling kota Jakarta, Abdi mengajak Indah singgah di sebuah monumen yang bermahkotakan emas, lalu membeli kerak telor, sangat sederhana, tapi sangat berharga untuk keduanya, mereka tertawa bersama, berbagi cerita tentang masa kecil mereka, dan banyak hal nggak penting lain ymenjay bahan obrolan keduanya, mereka kembali lagi, setelah jam sebelas malam.
...***...
"Anggun"
Anggun mendongak mendengar namanya dipanggil, seorang laki-laki tampan dengan tubuh tegap berdiri didekat mejanya. Anggun memutar matanya malas, setelah melihat wajah laki-laki itu.
"Lo sendir?" tanyanya basa-basi
"Menurut Lo?"
Thomas hanya tersenyum mendengar jawaban singkat Anggun. Tanpa meminta izin dia langsung menarik kursi dihadapan Anggun dan langsung mendudukkan pantatnya pada kursi tersebut.
"Mba americano satu ya" pintanya pada seorang waiters. Anggun hanya melirik Thomas lewat ekor matanya, tak mengusir, namun jika Thomas sudah bertingkah, dia akan melakukannya, Anggun tetap menunduk, fokus pada benda tipis ditangannya.
"Nggak jalan bareng Indah?"
Tak dijawab sama Anggun, kembali Thomas hanya tersenyum.
__ADS_1
"Udah berapa lama sih Lo kenal Indah?, lo kenal sama lakinya?"
Pertanyaan Thomas kali ini membuat Anggun mau tak mau menatap laki-laki itu, dan sudah bisa Thomas tebak, Anggun belum mengetahui tentang pernikahan Indah dan Abdi.