Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Kesepakatan


__ADS_3

Posisi tubuh Indah yang berada tepat diatas tubuh Abdi, dengan kaki Abdi yang terbuka, membuat tubuh Indah tepat ditengah kedua paha Abdi, tangan Indah bertengger manis diatas dada bidang laki-laki itu, untuk menahan badannya agar tak bersentuhan langsung dengan tubuh Abdi, namun tangan kekar Abdi melingkar dipunggung Indah, karena refleks, memang posisi yang sangat pas.


Orang mana yang tak percaya jika mereka tengah melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan?. Mau menyangkal sekuat apapun mereka tidak akan menang, apalagi dirumah itu hanya mereka berdua, dan kondisi lingkungan sedang sangat sepi.


Nasib baik sedang tak berpihak pada mereka, jika yang pertama kali melihat ini Masnah, mungkin mereka dapat menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Tapi ini, orang yang pertama melihat mereka adalah Wak Disa, saudara ayahnya yang memang tidak menyukai mereka, apalagi wanita itu memiliki bukti yang cukup akurat.


Indah berusaha menahan Disa untuk tak mengatakan pada siapapun, dan telah menjelaskan jika ini salah paham, tapi tetap Disa tak menghiraukan perkataan keponakannya.


Tanpa pikir panjang, wanita itu memanggil ketua RT setempat, guna mempermalukan sang keponakan. Kehebohan mulutnya mampu mengundang beberapa warga, untuk melihat siapa laki-laki yang berbuat mesum bersama Indah dirumahnya. Biasalah, warga yang mudah terprovokasi berbondong-bondong datang untuk melihat gosip yang tersebar, ikut menjadi saksi mata, dan menjadi wartawan dadakan.


Tak hanya disitu, cercaan serta makian tak bertanggung jawab langsung menyerang Indah, mereka tak mau mendengarkan pembelaan Indah, bagai tak pernah berbuat dosa dan bak orang paling suci, mereka menghakimi Indah dengan ucapan-ucapan penuh menyakitkan.


"Kamu tuh guru Ndah, nggak pantes melakukan ini, merusak generasi"


"Nggak nyangka ya, keliatan aja kalem, nggak tahunya, hiiiii menghanyutkan"


"Pak RT, kawinin aja, bikin sial kampung kita"


"Nggak pernah kelihatan jalan sama cowok, sekalinya kenal, langsung nggak kuat"


"Kawinin aja sekarang Pak RT, nanti kita semua kena sialnya, pantes kemarin dia minta nanas muda, dia mau coba bunuh anaknya kali" timpal seseorang lagi, Indah tau itu suara Bu Narti, dia satu-satunya yang melihat Indah kemarin saat minta nanas pada ibunya.


"Usir aja kalo nggak mau kawin, bahaya buat suami kita, perempuan kayak gini bisa jadi pelakor"


"Menjijikkan, tampang lugu kelakuan naudzubillah"


"Iya Pak RT, nanti kita dapat sialnya" timpal seorang laki-laki, Indah tak tahu siapa.


Mendengar itu membuat Abdi semakin kasihan pada Indah, namun dia tak dapat berbuat banyak, sedang Indah sama sekali tak gentar, dia yang memang merasa tak melakukan apa-apa hanya heran, mengapa Wak Disa tega melakukan hal kejam ini padanya?. Ia tak menyangka, kebencian Disa sampai seperti ini.


Abdi kembali mencoba menjelaskan pada pak RT, Ia mengeluarkan semua sumpah atas nama Tuhan, bahwa dia sama sekali tak melakukan apa yang dituduhkan terhadapnya dan Indah. Berbagai cara Abdi lakukan agar nama baiknya tak ikut tercemar, bagaimanapun, ini bisa berdampak buruk pada usaha yang baru dirintisnya. Dan ini juga bentuk rasa bersalahnya terhadap Indah, andai saja dia tak datang siang ini, pasti Indah tak akan tertimpa masalah dengannya.


Abdi melirik Indah yang hanya diam dengan ekor matanya, wanita itu tertunduk sedih. Yang ada dalam pikirannya saat ini Masnah, bagaimana kondisi Ibunya jika tahu hal ini? namun Indah yakin, sang Ibu pasti akan percaya padanya.


Setelah 30 menit Indah dan Abdi disidang warga dan pak RT, Masnah akhirnya kembali dari pasar, wanita paruh baya itu dibuat syok melihat keramaian dirumahnya, didalam pikirannya adalah Indah, dia meninggalkan anaknya itu dalam keadaan sakit dan seorang diri,

__ADS_1


"Ya Tuhan, Indah"


Berbagai pikiran burukpun menghampirinya, Masnah berlari tergopoh-gopoh setelah turun dari becak yang mengantarnya, dengan kantong kresek besar berwarna merah ditangan kanan kirinya.


Masnah mampu menerobos orang-orang yang berkerumun didepan pintu rumahnya, mata mereka menatap tajam kearah Masnah, yang mana Masnah belum tahu apa masalahnya. Namun ia tak perduli itu, melihat anaknya dalam kondisi sehat walafiat, dan masih bernyawa tentunya, membuat wanita paruh baya itu mengelus dada lega.


"Mari Bu Masnah silahkan, kami menunggu Ibu sejak tadi" ucap Pak RT sopan,


Masnah duduk disebelah Indah, anaknya itu terlihat santai, seperti tidak terjadi apapun, berbeda dengan Abdi yang terlihat sangat gusar, sedang Disa, wanita itu tersenyum sinis pada adik iparnya.


"Maaf Bu sebelumnya, apa Ibu mengenal laki-laki yang duduk disebelah Indah?"


Masnah melihat arah yang ditunjuk Pak RT


"Iya, saya mengenalnya Pak, ini ada apa ya?"


Masnah mulai merasa ada hal yang tak enak. Membuat Disa makin tak sabar melihat reaksi adik iparnya itu, jika mengetahui kejadian yang sebenarnya.


"Begini Bu, tadi saya mendapatkan laporan, jika anak Ibu telah melakukan perbuatan tak senonoh dengan pria disebelahnya, disaat Ibu sedang tidak ada dirumah" ucap Pak RT to the point,


Masnah menutup mulutnya mendengar ucapan Pak RT, ia begitu syok, bagaimana bisa Indah anaknya melakukan ini.


"Ada apa Indah?" tanya Masnah masih bingung, namun matanya sudah berkaca-kaca, melihat anaknya memohon dan seakan menjadi tersangka.


"Nih, kamu lihat ini, kamu pasti nggak nyangka kan sama perbuatan anak kesayangan kamu, makanya jangan terlalu memanjakan anak biar nggak salah pergaulan" Disa memberikan ponselnya pada Masnah,


"STOP WAK!!! dari tadi Indah diam, bukan berarti Wak bisa berkata seenaknya terhadap Ibu, Indah tahu Wak nggak suka sama kita, tapi Indah nggak nyangka Wak bakal selicik ini" sergah ini ucapan Disa "Wak seharusnya bisa menjaga nama baik Indah, bagaimana pun Indah ini keponakan Wak, suka tidak suka mau tidak mau, Wak nggak bisa menolak ini, aib Indah harus Wak tutupi, apa pernah selama ini Indah menjelek-jelekkan Wak dan Selly sama orang lain? nggak pernah kan? tapi Wak tega mempermalukan Indah didepan orang banyak, apa pantas Wak dipanggil Wak oleh Indah? APA PANTAS??"


Plakkk


Tamparan itu melayang dipipi Indah


"Tuh lihat kan, sama orang tua aja dia nggak sopan, gimana bisa wanita macam dia jadi guru" setelah menampar Indah Disa malah semakin menyalahkan Indah.


Abdi berdiri menatap tajam Disa "Tolong jangan main kekerasan, Anda sudah salah paham, dan kini main pukul seenaknya, saya bisa menuntut Anda"

__ADS_1


"Silahkan saja kalau berani, aku akan buat usaha kamu hancur, saya punya bukti kok" tantang Disa, dia tak gentar dengan ancaman Abdi


"Wak mas Abdi nggak bersalah, Wak itu salah paham, dan jangan bawa-bawa profesi Indah, jangan mencoreng nama guru, itu nggak ada hubungannya sama sekali, Indah dari tadi diam karena Indah tau, Wak pasti akan berkata kayak gini, ini salah paham, tapi Wak nggak mau denger penjelasan Indah dulu" Indah memegang pipinya yang memanas akibat tamparan Disa.


Dada Indah bergemuruh menahan emosi, sejak tadi dia berusaha tenang, dia tak mau, dia salah bicara dan akan membuat hal yang akan merugikan dia, namun Indah tak menyangka semua akan jadi serumit ini. Otaknya saat ini serasa buntu, ia tak mampu berpikir jernih, sungguh permasalahan ini membuat kepalanya benar-benar pusing. Dia yang sedari tadi tegar akhirnya pertahanannya goyah, air yang ia tahan mati-matian akhirnya jatuh juga.


"Bu percaya sama Indah, itu memang Indah Bu, tadi Indah mau nyuapin mas Abdi, tapi Indah malah jatuh, dan_" Indah tak dapat melanjutkan kata-katanya, ia tak mungkin mengatakan secara sefrontal itu. "Ini salah paham Bu"


Indah kembali mencoba menyakinkan Ibunya, Masnah masih terdiam, tangannya bergetar setelah melihat foto anaknya, hatinya begitu hancur, mencoba untuk tidak percaya, namun foto itu cukup menjelaskan yang sebenarnya.


Abdi tak tega melihat kedua wanita ini, mereka terus menjadi sasaran amukan warga disini. Ia tak menyangka kedatangannya siang ini, malah menimbulkan masalah besar untuk Indah dan Ibunya. Dia terus berpikir, harus mengambil keputusan apa, sedang bayangan wajah cantik Anggun malah terus melintas dipikirannya, padahal belakangan ini dia tak begitu memikirkan Anggun. Saat Abdi masih memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil, dan mengumpulkan keberanian akan keputusannya, Disa kembali berbicara.


"Masnah, aku ingin bicara berdua dengan mu, ini semua demi masa depan Indah, apa kamu mau?"


Indah yang sedang menunduk, langsung mendongak, mendengar permintaan Disa.


"Apa yang ingin Wak bicarakan? kenapa harus berdua, kenapa nggak disini saja? biar indah bisa ikut mendengarnya" Indah mencurigai permintaan Disa, Indah takut Disa melakukan hal licik yang tak ingin diketahuinya, ibunya terlalu lemah, dan pasti akan menur


"Aku cuma mau bicara sama Ibu kamu, ini urusan lama kami" ucapnya dengan senyum seringainya.


Setelah meminta izin pada pak RT, tanpa banyak tanya, Masnah mengikuti langkah Disa, mereka berdua masuk kekamar Masnah. setelah dirasa aman, dan pintu dikunci, Masnah duduk diujung tempat tidurnya, dan Disa tetap berdiri dengan bersedekap dada, tanpa menunggu waktu, ia langsung mengutarakan keinginannya


"Aku bisa membuat nama Indah dan laki-laki itu bersih lagi, asal dengan satu syarat" ia mendongakkan kepalanya pongah.


"Apa yang Mba mau?"


"Surat tanah ini, dan kamu dan anak kamu pergi dari sini"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Komen, like, dan kasih hadiah donk 😂😂😍😍


__ADS_2