Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Pagi yang sempurna


__ADS_3

Abdi memakirkan mobilnya didepan pagar rumah Indah, waktu padahal masih menunjukkan jam 06.00, masih sangat pagi sebenarnya, entah mengapa dia malah terbebani dengan perkataannya sendiri, ingin bertanggung jawab, katanya, padahal dia sudah bertanggung jawab dengan membiayai semua pengobatan Indah, itu sebenarnya sudah cukup.


Dijam seperti ini biasanya dia masih bergelung dibawah selimut. Karena hari ini akan ada banyak pertemuan dengan para clienya, Abdi harus menyempatkan diri dulu menjenguk Indah, terdengar konyol memang, heh wanita itu makin menjadi nanti.


Terlihat dari dalam mobilnya, beberapa ibu-ibu yang sedang berbelanja sayur diwarung Masnah, sedikit ramai, membuat Abdi ragu untuk turun. Abdi memukul setir mobilnya, kenapa dia tidak kepikiran memakai jasa ojol saja untuk sekedar mengantar sarapan untuk Indah, secara tidak langsung dia malah mengikat dirinya sendiri dengan wanita itu, padahal dia sendiri tidak ingin berurusan lagi dengan Indah.


Abdi masih betah dimobilnya, berharap para ibu-ibu itu berkurang, sambil menghitung waktu, Abdi melihat lagi arah warung Masnah, benar dugaannya, satu-satu dari mereka mulai membubarkan diri, tersisa dua orang lagi, tidak terlalu ramai menurutnya, tetapi Abdi maju mundur untuk turun, untuk apa coba dia kesini? Abdi tak dapat membayangkan wajah heboh Indah, melihat dia datang sepagi ini.


"Oke, kamu gentleman, jangan pikirkan apapun, cuma sebuah tanggung jawab" yakinkan Abdi pada dirinya sendiri.


Dengan langkah tegap Abdi menghampiri warung sayur yang kini sudah kosong dari pembeli.


"Assalamualaikum Bu" salamnya pada Masnah


"Wa'alaikumsalam" Masnah begitu terkesiap, Abdi datang sepagi ini "Loh nak Abdi_"


"Iya Bu, maaf pagi-pagi sudah bertamu" Abdi yang merasa tak enak, telah membuat wanita paruh baya ini terkejut dengan kedatangannya.


"Ya Ampun, nggak sama sekali, mari-mari kita kerumah" ajak Masnah, Abdi mengangguk, Masnah keluar dari pintu belakang warung, dan Abdi memutar warung itu untuk masuk kerumah mereka.


Masnah mempersilahkan Abdi untuk duduk, wanita itu repot sendiri kedatangan laki-laki sepagi ini dirumahnya, ini pertama kali untuk mereka, sebab Indah tak pernah membawa teman laki-laki, ia menyiapkan teh hangat, serta camilan untuk Abdi.


"Tidak usah repot-repot Bu, saya juga tidak lama, hanya mampir sebentar"


Abdi begitu mengagumi sosok Masnah, yang ia tahu dari cerita wanita paruh baya ini saat pertama kali mengantarnya dulu, bahwa dia seorang single parent, inilah sebabnya ia begitu bersimpati, wanita yang mau membesarkan anaknya seorang diri, berjibaku dengan kerasnya kehidupan, banting tulang agar anak semata wayangnya tidak kekurangan, berbeda dengan Ibunya yang tak memperdulikannya, beberapa kali menikah, dan berakibat padanya saat ini, jatuh hati pada wanita yang bukan mahramnya, namun terbentang tembok yang memisahkan yang membuat mereka tak bisa bersatu.


Abdi bahkan saat ini merasa menjadi laki-laki brengsek, sebab menggantungkan hubungannya pada wanita yang tidak bersalah sama sekali.


"Ini tidak repot loh, Ibu yang tidak enak, ada tamu malah tidak sediain makanan" wanita itu meletakkan toples berisi kue nastar, seperti saat pertama dia datang, kue itu selalu ada. Abdi hanya mengangguk mendengar penuturan wanita itu.


Sedang Indah yang mendengar Ibunya seperti berbicara dengan seseorang memaksa keluar, ia penasaran, mereka tidak pernah kedatangan tamu sepagi ini, dengan berpegangan tembok Indah membuka pintu kamarnya.


"Ada siapa Bu?" Indah keluar dengan tertatih.


Abdi langsung melihat kearah Indah, tanpa pikir panjang, Abdi dengan sigap berdiri dan menghampiri Indah "Lo kalo masih sakit jangan maksain jalan, tar nggak sembuh-sembuh" omelnya sambil menuntun Indah untuk duduk, tanpa ia sadari membuat kedua wanita itu tertegun dengan sikapnya.


Kalo sikap kamu begini, mending aku sakit terus mas.


Indah mengatupkan mulutnya, menahan senyum, jangan sampai mulut embernya merusak momen Indah pagi ini.


Setelah memastikan Indah duduk dengan nyaman, Abdi kembali duduk disofa bersebrangan dengan Indah, sedang Masnah memilih untuk undur diri, sebab ada pembeli yang memanggilnya.


"Gue buru-buru, nggak bisa lama-lama disini, nih sarapan buat Lo" Abdi memberikan paper bag pecel lele khas miliknya, menaruhnya diatas meja "Gue harap Lo cepet sembuh, biar gue nggak kesini setiap hari" ditatapnya Indah yang hanya bengong memperhatikan gerak-gerik Abdi.

__ADS_1


"Lo dengerkan gue ngomong" ulangnya, sebab Indah tak merespon ucapannya.


"Ha, eh, iya, mas" Indah tergagap, sungguh perlakuan manis Abdi membuat Indah terpesona, ketampanan Abdi bertambah sepuluh kali lipat dimata Indah.


*Ndah, bersikaplah manis, biar mas ganteng mu meleleh


Jangan Ndah, bersikap lah apa adanya, biar dia menyukaimu mu dengan segala kekuranganmu*


Kedua pikiran itu muncul, seperti setan dan malaikat yang sedang membisikkan ditelinga indah.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" suara berat Abdi kembali menyadarkan Indah dari pikirannya


"Siapa yang senyum sih mas, Indah lagi ngerasain kaki ngilu lagi ini" dustanya, Indah memijit-mijit kakinya untuk menutupi rasa bahagianya, membuat Abdi merasa semakin bersalah


"Lo jangan ge-er ya sama kedatangan gue, ini gue lakuin karena udah janji sama Ibu, buat tanggung jawab atas kesalahan gue" tegaskan Abdi maksud kedatangannya, dia tak mau Indah salah paham.


"Mas juga harus tanggung jawab kalau sampe Indah_" Indah menjeda ucapannya,


"Sampe apa?" tanya Abdi tak sabar menunggu ucapan Indah selanjutnya


Sampe Indah jatuh cinta beneran mas


"Kalau sampai Indah kenapa-napa" monyongkan Indah bibirnya


"Iya gue minta maaf" potong Abdi ucapan Indah "Gimana kakinya, udah mendingan?" tunjuk Abdi kaki Indah dengan matanya


"Kemaren udah diurut, bantu biar cepet sehat" walau Indah berharap jangan cepet sembuh, biar mas sering kesini


Entah apa yang mendorong Abdi, sampai dia bangun dari duduknya, dan berjongkok didepan Indah, ia menarik kaki Indah yang sakit dan meletakkan diatas pahanya, Abdi mengamati kaki Indah tanpa berkata apa-apa, lalu sedikit meraba area yang sakit.


Hal itu justru membuat desiran aneh pada tubuh Indah, perhatian manis tadi masih belum hilang, kini ditambah perlakuan Abdi yang menyentuh kakinya, membuat perut Indah seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan.


"Jangan memaksakan terlalu banyak berjalan, ini sudah lebih baik dari kemarin, kalau nanti gue lihat ini bengkak lagi, gue pastiin akan ikat kaki Lo ditempat tidur biar nggak bisa kemana-mana" ucapnya tak ingin dibantah, dia tahu Indah sedikit keras kepala.


Indah hanya mengangguk samar, ia harap ini benar, bukan mimpi, Abdi posesif padanya, dan Indah menyukai ini, mulut cerewet itu seakan terkunci, tak dapat berkata apa-apa


Dengan lembut Abdi meletakkan kaki Indah, lalu ia berdiri


"Habisin makanannya, gue kesiangan gara-gara Lo" Abdi melihat jam kulit yang melingkar ditangannya.


Ucapan Abdi barusan merusak suasana hati Indah yang masih merasakan momen sempurna paginya, seperti bak dibawa terbang ke angkasa, dan kini harus dihempaskan jatuh ke dasar bumi.


"Lagian siapa yang nyuruh kesini, bilang aja mas kangen kan?" ucap Indah sedikit kesal, ia tak terima dituduh menjadi penyebab kesianganya Abdi.

__ADS_1


"Dasar cewek aneh, gue kan bilang, gue ngelakuin ini cuma rasa tanggung jawab" ucap Abdi tak kalah kesal, Indah selalu saja percaya diri dengan ucapannya.


"Iya iya iya udah mas pergi sana, tar kesiangan menjemput rejeki buat khitbah Indah" rasanya Indah tak sanggup jika tidak menggombali Abdi setiap mereka bertemu, Indah melirik Abdi yang menatapnya tajam


"Canda mas, biar paginya ceria, nggak kaku, jadi nggak apes harinya" sindirnya


"Lo nyindir gue" tuding Abdi tak terima


"Udah mas, jangan marah-marah, nanti rejekinya kabur, jodohnya jauh" timpali Indah lagi, membuat


Abdi menghembuskan nafasnya kasar, tak ingin menanggapi lagi, bisa lebih panjang nantinya "Gue jalan dulu, Lo jangan bantah ucapan gue tadi, selain ngerepotin gue lebih lama, Lo juga ngerepotin Ibu Lo sendiri"


Tuh kan dia posesif lagi


Setelah kepergian Abdi, Indah membuka paper bag yang dibawa Abdi, dilihatnya lele dan lauk pauknya,


"Nggak pa-pa deh, Indah makan tempenya aja" Indah dengan lahap memakan makanan yang dibawa Abdi, Indah begitu menikmati makanya, sebab itu dari orang yang disukainya


"Ibu nggak dibagi nih?" tiba-tiba Masnah datang, membuat Indah tersedak, ia langsung minum air putih yang ada didepannya.


"Ibu ..."


Masnah duduk disebelah Indah, membelai rambut halus anaknya,


"Nak Abdi baik ya" Masnah memperhatikan wajah Indah yang terlihat sangat ceria pagi ini, anaknya itu masih menunduk menikmati sarapannya


"Menurut Ibu?" Indah kini menatap Ibunya, meminta pendapat wanita yang telah menjaganya sepenuh hati ini.


"Ibu berdoa yang terbaik untuk anak Ibu, asal semua itu tidak merebut kebahagiaan orang lain" Masnah menyelipkan rambut Indah yang menjuntai kebelakang telinga Indah


"Maksud Ibu?" Indah tak paham maksud ucapan Ibunya


"Semoga nak Abdi masih sendiri, tidak punya pasangan, entah itu pacar atau istri" Masnah harus mengingatkan Indah, agar tahu asal-usul Abdi


"Semoga ya Bu" keduanya tersenyum, dan menikmati bersama sarapan yang dibawa Abdi tadi.


"Sepertinya Abdi suka lele" ucap Masnah disela-sela makanya


"Sepertinya Bu"


"Kamu harus suka lele, kalau begitu"


"Nggak mau Bu, Indah geli sama lele" hahaha keduanya tertawa, tak terbayang jika mereka bersatu, akan ada banyak perbedaan diantara mereka yang akan membuat sering berdebat.

__ADS_1


__ADS_2