Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 62


__ADS_3

Marsha benar-benar anak yang aktif, padahal tadi dia sedang disuapin makan oleh Amamnya, namun bocah itu sudah bisa mengelabuhi orang tuanya. Dia terus berlari-lari karena tak mau disuapi. Sampai dia naik ke atas tangga saat Amamnya berbalik badan hanya untuk mengambil air minum, bocah itu langsung menghilang bak ditelan bumi.


Walau masih tertatih-tatih menaiki satu persatu anak tangga, bocah yang menginjak usia dua tahun lebih itu akhirnya bisa sampai lantai atas dengan selamat. Marsha tipikal anak apapun yang diinginkannya harus segera terpenuhi, tadi dia melihat Indah yang digendong Abdi naik ke atas, maka dia menyusul Indah. Dia harus bisa digendong oleh wanita yang menarik perhatiannya itu sejak mereka pertama bertemu.


Anak perempuan yang Apapnya harapkan memiliki sifat yang sama dengan Amamnya, nyatanya anak itu jauh sekali dari sifat Mawar yang lemah lembut. Dia terbilang pemberontak dan lebih menunjukkan segala keinginannya, padahal sifat Apapnya juga tak seperti itu.


Setelah berhasil naik ke atas, dan melihat pintu kamar Indah yang sedikit terbuka, Marsha senang bisa masuk ke kamar Indah. Namun bocah itu heran dengan apa yang sedang dilakukan oleh suami istri itu diatas tempat tidur. Karena penasaran, diapun mendekat.


"Om Didi kok makan bibir Tante Indah?" tanyanya polos, bahkan ucapannya terdengar jelas tak cedal.


Sontak kedua orang yang sedang melepas rindu itu terkejut dengan suara bocah yang memergoki mereka.


"Marsha sejak kapan kamu disini?." Abdi sampai melotot karena begitu terkejut bocah kecil itu tiba-tiba ada dikamarnya.


"Om Didi joyok, masa bibil tante dimakan?" tanyanya lagi.


Abdi dan Indah saling lirik kikuk, bingung harus menjawab dengan apa?.


"Marsha sama siapa naik?" tanya Indah coba mengalihkan pertanyaan Marsha.


"Sendiyi, mau didendong tante, tante ndak asik, nggak mau dendong Masha." anak itu menyurengkan matanya tak suka dengan bersedekap dada.


Abdi menghela nafas, dulu bapaknya yang menguji kesabarannya, sekarang anaknya, Abdi menggaruk pelipisnya.


"Kamu kok naik sendiri?" Abdi benar-benar pusing, bagaimana bocah dua tahun bisa lepas dari pantauan "Marsha, tante Indah bukan nggak mau gendong Marsha, tapi tante lagi sakit, Marsha sayangkan sama tante Indah?"


Abdi coba memberi pengertian pada Marsha, sembari turun dari tempat tidur, mengulurkan tangannya untuk menggendong bocah yang bikin kepalanya nyut-nyutan.


Mata Marsha melihat tangan Abdi yang terulur padanya dengan tatapan tak suka, seolah sedang menimang ingin menerima atau tidak.


"Ahhh kelamaan." Abdi langsung saja menggendong Marsha, mengajaknya naik ke tempat tidur. "Nih anak waktu emaknya hamil emang bapaknya ngeselin, jadi gini nih jadinya, anaknya ngeselin." Abdi mencubit hidung mancung Marsha gemas.


Indah tertawa, "Ih mas, kamu kok gitu sih, nanti kalo aku hamil, kamu jangan ngeselin ya mas, biar anaknya nggak ngeselin, tapi Marsha bukan ngeselin loh, dia lucu, iya kan sayang?" tanya Indah menatap bocah itu.


Kata-kata Indah membuat hati Abdi seperti teriris-iris, dia masih belum siap mengatakan yang sebenarnya.


Maaf es teri, maaf

__ADS_1


"Tante baik, Masha tayang Tante. ndak tayak om Didi, ngeselin" celetuknya, dia turun dari gendongan Abdi, lalu mencium pipi Indah.


Marsha itu biar masih kecil tapi perasa, ucapan Indah yang membelanya membuat bocah itu semakin sayang pada Indah.


"Astaga, Rasya anak lo." Abdi gemas, akhirnya dia menarik Marsha, mengelitiki perut Marsha, membuat bocah itu tertawa terpingkal-pingkal, saking hebohnya mereka bercanda membuat kasur bergoyang.


"Mas berhenti, berhenti mas." pinta Indah, tangan kanannya memegang perut, sedang tangan kirinya terangkat untuk meminta Abdi berhenti dengan muka yang meringis menahan sakit.


Abdi panik "Kenapa sayang?" dia meninggalkan Marsha yang mengatur nafasnya, akibat gelitikan Abdi yang membuatnya tertawa hingga kelelahan.


"Mas kasurnya goyang-goyang bikin perut aku sakit."


Abdi mengusap kedua bahu Indah. "Maaf ya sayang."


"Ini dala-dala om kelitikiin aku, tante jadi satit kan." Entah mengapa, ucapan spontan Marsha membuat hati Indah menghangat, dan membuat Abdi dan Indah tertawa.


"Duh ... nih anak kok jadi persis bapaknya sih." Abdi benar dibuat geleng kepala dengan sifat Marsha, lama tak bertemu, Marsha sudah sebesar ini, dan ajaibnya tingkahnya melebihi Rasya.


"Sayang, masih sakit?" tanya Abdi begitu lembut, menatap wajah Indah.


"Udah nggak."


"Padahal nggak papa loh mas dia disini, aku jadi terhibur."


"No sayang, yang ada nanti dia bikin kamu sakit kepala, kamu harus banyak istirahat."


"Om jahat, ngatain Marsha." Marsha tak terima jika dia bisa jadi penyebab Indah sakit kepala.


Abdi berbalik, langsung menggendong Marsha gemas, "Kita ke mini market yuk, beli susu, permen lupi, es krim."


"Wah ... mau om mau," teriak Marsha senang lupa jika tadi dia marah, "tapi nanti kalo apap mayah, om ya yang tanggung jawab?"


"Beres."Abdi langsung membawa Marsha keluar kamar, lalu dia melihat kebelakang "Aku keluar sebentar ya?" pamitnya, Indah hanya tersenyum, lalu mengangguk seraya menggelengkan kepala.


Sore hari setelah semua telah pulang dan rumah mereka kembali sepi. Indah hanya diam, wajah yang selalu terlihat ceria dan banyak tersenyum itu kini nampak dingin.


Abdi dari bawah, membantu Masnah membersihkan rumah, dia juga mencuci piring bekas makan tadi. Abdi benar-benar menanggalkan predikatnya sebagai laki-laki fakboy nya dulu, menjadi laki-laki yang taat istri, bukan takut istri, ingat ya, digaris bawahi, taat istri.

__ADS_1


Sesuatu yang jarang sekali dia kerjakan, kini dia mengerjakannya. Bukan karena tak punya uang untuk membayar art, atau tukang cleaning servis online, dia hanya ingin membuktikan, jika dia begitu menyayangi Indah, mampu melakukan sesuatu yang jarang seorang laki-laki lakukan, dan dia juga tak ingin Masnah yang sekarang tinggal bersama mereka sampai kecapean.


Dari Abdi masuk kamar, sampai dia selesai mandi, Indah masih diposisi yang sama, duduk bersandar pada kepala tempat tidur, dengan pandangan kosong kedepan. Abdi merasa ada yang berbeda dari istrinya itu.


Abdi kemudian mengambil baju dilemari, dia memakai pakaian rapi ingin keluar. Setelah selesai, dia memakai parfum yang biasa dia pakai, meniysir rambutnya yang telah dia kasih pomade yang juga memiliki wangi tak kalah dari parfum miliknya, setiap orang yang berdekatan dengan Abdi, meski dengan jarak yang cukup jauh, pasti bisa mencium betapa wanginya Abdi, wangi yang menenangkan.


Abdi menghampiri Indah, duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Indah, Abdi mengambil tangan Indah lalu digenggamnya. "Sayang, aku keluar dulu ya, ada janji sama dengan pengusaha yang mau nanam modal di pabrik, dan mengurus cafe, cafe besok sudah bisa buka."


Indah tak bergeming, dia masih menatap kedepan dengan ekspresi yang tak bisa Abdi artikan.


"Sayang, kamu denger aku kan?" tanyanya. Indah masih terdiam, sama sekali tak memandang Abdi. Namun matanya memerah sesuatu yang ia tahan kini mendesak ingin keluar.


Abdi membasahi bibir bawahnya, dia merasa Indah sedang marah padanya. Abdi menelan salivanya "Aku punya salah sayang?, bilang sama aku" Abdi merapikan rambut Indah kesamping.


"Pergi aja mas, nggak usah izin sama aku, aku udah nggak penting lagi buat kamu." kata itu lolos begitu saja dari bibir Indah. Suaranya sudah bergetar, dan air yang sejak tadi dia tahan, mengalir begitu saja membasahi pipinya.


"Hei, kok ngomongnya gitu?," Abdi menghapus air mata Indah dengan ibu jarinya "kamu kenapa? aku minta maaf, jika aku ada salah."


Kata-kata Abdi malah membuat Indah semakin terisak, disini dialah yang salah, bukan Abdi. Sejak dia tahu yang terjadi padanya, hati Indah kini begitu sensitif, entah apa yang mendorongnya menjadi begitu mudah marah. "Kamu nggak harus minta maaf mas, kamu nggak salah, disini akulah yang salah."


Perasaan Abdi makin tak enak dan tak nyaman "Aku nggak jadi keluar kalo kamu nggak izinin, pertemuan ini bisa aku batalin."


"Nggak usah mas, kamu keluar aja, aku nggak penting."


"Es teri, please kasih tau aku, ada apa? aku nggak mau kita begini"


Indah menunduk, air matanya semakin mengalir deras, Indah menarik tangannya yang digenggam Abdi, menghapus air matanya sendiri.


"Aku cacat kan mas?, aku nggak bisa hamil lagi, sekarang kamu nggak usah sok perhatian, jika suatu saat kamu juga bakal ninggalin aku." meski mengatakan dengan suara tersendat karena tangisannya, tapi Abdi mendengar itu dengan jelas.


Dada Abdi langsung lemas mendengar ucapan Indah, mengalir keseluruhan syaraf hingga membuat darahnya seakan berhenti, seluruh tubuhnya lemas dan gemetar.


.


.


.

__ADS_1


.


Like, komen, dan kasih hadiah yang banyak buat mas ganteng yang baik hati. ❤️❤️❤️


__ADS_2