Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 78


__ADS_3

Abdi tak menyangka jika tak datangnya dia dimalam makan malam itu berdampak besar untuknya juga pabriknya. Padahal rencananya dia akan membuka pabrik yang sudah sembilan puluh sembilan persen siap itu tiga hari lagi.


Semua bahan baku, kendaraan, sudah sampai di pabriknya. Dan bahkan karyawan sudah dia jadwalkan semua aktif besok.


Apalah daya, dia menjalin kerja sama dengan orang yang salah. Semua mesin yang memang dari perusahaan Naima, ternyata menarik kerja samanya secara tiba-tiba.


Bukan Naima sebenarnya yang melakukan, tapi ayahnya lah yang melakukan itu. Bukan tanpa alasan dia melakukannya, semua karena kekesalannya pada Abdi. Zidan yang rindu pada sosok ayah, dan mengharapkan Abdi sebagai pengganti ayahnya, kini bocah itu harus dirawat di rumah sakit. Dan Naima yang kini semakin hancur, dia menghabiskan malam-malamnya ditempat hiburan malam.


"Nikahi putriku, jika pabrik dan istrimu akan selamat."


Ucap ayah Naima tadi, saat mendatangi pabriknya.


Dalam waktu tiga hari, tak mungkin Abdi membatalkan banyak kerja sama secara sepihak seperti ini, dia bisa menanggung banyak kerugian jika membatalkan kontrak yang sudah dia tanda tangani.


Abdi memegangi keningnya pusing. Dia bak makan buah simalakama, dia tak menghiraukan kerugiannya, namun saat ini, dia belum bisa menjamin keamanan Indah.


Dan malam ini ayah Naima meminta dia membujuk Naima untuk berhenti minum dan membawanya pulang.


Malam ini Abdi mendatangi tempat hiburan malam dimana Naima sedang menghabiskan waktu malamnya disana. Ini sudah larut malam, waktu bahkan sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Abdi sebenarnya sudah dari tadi berdiri diparkiran mobil, namun dia ragu untuk masuk. Dia bahkan harus membohongi Indah, beralasan Rasya memintanya menemani menemui kliennya.


"Maaf es teri"


Abdi menunduk, bayangan wajah manis Indah berlarian dikepalanya, baru saja Indah mau berusaha masak lele untuknya, namun sekarang dia harus mematahkan semangat Indah, sebab masalah yang dibuatnya.


Abdi memanggil orang yang dibayarnya untuk memantau Naima didalam sana.


"Apa dia masih minum?" tanya Abdi pada laki-laki didepannya.


"Iya bos, dia sudah biasa minum sampai pagi."


"Sendiri?" tanya Abdi memastikan


"Iya."


Laki-laki itu menunjukkan foto Naima yang sekarang sudah hangover karena terlalu banyak minum.


"Tolong bawa dia kesini, karena aku nggak mungkin masuk" perintah Abdi, dia lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna merah untuk ia berikan pada laki-laki itu.


"Siap bos." Laki-laki itu melihat Abdi seksama "kenapa bos tidak masuk sendiri? dan membawanya pulang?"

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu, jika kamu tidak mau, aku bisa membayar orang lain." Abdi kembali ingin memasukkan uang tadi kedalam kantong celananya.


"Ups, jangan baperan bos, gue cuma nanya."


Abdi memutar matanya malas, lalu memberikan uang tadi.


Tak lama Naima keluar dengan dituntun oleh laki-laki suruhan Abdi tadi. Naima mendongak, dia melihat Abdi yang berdiri dibadan mobil dengan tangan yang dilipat didedan dada. Abdi terlihat sangat tampan di mata Naima. Padahal dia akan diarahkan untuk masuk kedalam taksi, namun langkah Naima malah langsung mengarah ditempat Abdi berdiri.


Naima bisa diajak keluar karena laki-laki tadi menunjukkan foto Abdi pada Naima, bahwa Abdi sudah menunggunya didepan. Ternyata laki-laki itu tidak berbohong, benar Abdi sedang menunggunya.


"Abdi kamu bener nungguin aku disini?"


Naima langsung memeluk Abdi, dia meraba rahang Abdi dengan mesra, namun tangan Abdi menahannya.


"Kamu masuk taksi Nai, kita pulang." perintah Abdi.


"Aku nggak mau, aku maunya pulang sama kamu." Naima masih menempelkan tubuhnya pada tubuh Abdi.


Abdi mendorong tubuh Naima agar menjauh. "Nggak boleh Nai, kamu pulang sendiri, aku ikutin dari belakang."


Naima menggeleng "Aku nggak mau, kamu tahu Abdi, aku masih begitu mencintai mu, kenapa dulu kamu nggak mempertahankan hubungan kita?, saat papa nolak kamu." ucap si ulat bulu, dia memandangi wajah tampan Abdi.


"Kalo gitu, aku nggak mau pulang."


"Zidan anak kamu lagi dirawat Nai, kasihan dia, dia butuh kamu."


"Dia bukan anakku, dia anak laki-laki itu, aku nggak mencintai suamiku Di, dia memperkosa aku. setelah dia merenggut mahkota ku, dia malah selingkuhi aku, semua gara-gara si bapak tua itu. Aku harus menanggung karma dari ulahnya."


Naima si wanita ulat bulu menempelkan wajahnya didada bidang Abdi.


"Kamu tau Di, sekarang aku tahu, hancurnya kamu waktu papa nolak kamu."


Naima mengeluarkan bulir yang sejak kemarin tak bisa keluar, kini dia merasa nyaman berada dalam pelukan Abdi, walau Abdi tak membalas memeluknya.


Karena kasihan, Abdi menyuruh supir taksi yang sejak tadi menunggunya, dan dia sendiri yang akan mengantar Naima pulang kerumahnya.


Selama diperjalanan pulang, Abdi terus memikirkan Indah, lagi-lagi, jika berhubungan dengan Naima dia harus berbohong. Abdi menarik nafas, semoga masalahnya dengan Naima cepat selesai, dan dia tak lagi harus membohongi Indah. Abdi melirik Naima yang duduk disebelahnya, wanita ulat bulu itu sudah tertidur dengan terus menyebut namanya.


"Abdi, nikahi aku, aku mau jadi yang kedua." racau Naima disela-sela dengkurannya. Abdi mengacuhkan itu.

__ADS_1


Mobil Abdi berhenti didepan rumah Naima, dia memanggil penjaga rumah keluarga bibit itu untuk membawakan Naima masuk, Abdi merasa enggan untuk membawa Naima, karena wajah Indah akan terus terlintas dikepalanya.


Security yang dipanggil Abdi sudah ingin membopong Naima, namun Naima mendorongnya.


"Kamu bukan Abdi, jangan sentuh aku, kamu bau ketek, kalo Abdi wangi." Naima terkekeh dengan mata yang terpejam.


Abdi memejamkan matanya, kesabarannya benar-benar diuji.


"Maafin aku ya es teri, aku harus melakukan ini." lirih Abdi sebelum dia menggendong Naima untuk dibawanya ke kamar Naima.


Dikamarnya, Indah sudah mendapatkan kiriman foto-foto Abdi dan Naima dari nomor yang tidak dikenalnya, entah nomor siapa dan orang itu tahu dari siapa nomornya. Tak hanya itu, Indah juga mendapatkan kiriman foto dan video Zidan yang menyebutkan nama Abdi, didalam video itu, Zidan mengatakan ingin bertemu dengan om papa panggilan Zidan pada Abdi.


Indah menghapus air matanya yang tak terasa terus mengalir, matanya terus memanas. Hatinya begitu sakit, padahal tadi Abdi mengatakan jika dia keluar bersama Rasya, ternyata Abdi berbohong.


"Kalo kamu memang mau kembali sama cinta pertama kamu, aku ikhlas mas, tapi kamu nggak harus bohong seperti ini."


Indah tergugu, dia menutup ponselnya, beranjak, dia akan tidur bersama ibunya dikamar bawah. Sebelumnya Indah mengirim pesan pada Abdi.


Indah : Mas, aku tidur sama ibu, aku lagi takut tidur sendiri.


Pesan Indah langsung centang dua dan warna abu-abu berubah berwarna biru.


Abdi :Iya


Membaca balasan pesan Abdi yang begitu singkat, hati Indah begitu terasa sakit.


Saat akan kekamar ibunya, Indah melewati meja makan, dia membuka tudung saji yang berisi lele, tahu, dan tempe goreng pesanan Abdi. Indah menatap miris makanan yang dia masak dengan senang hati, namun tak tersentuh sama sekali.


Pagi hari, Indah menyiapkan sarapan untuk Abdi, yaitu teh hangat tawar dan nasi lele kesukaan Abdi. Setelah Abdi mandi pun, Indah sudah menyediakan pakaian untuk Abdi bekerja.


"Es teri, hari ini aku pake pakaian biasa aja, soalnya aku nggak ke pabrik, hari ini cuma ke cafe dan gerai lele."


Indah mengiyakan permintaan Abdi tanpa bertanya lagi, membuat Abdi semakin merasa sakit, dia tahu dia salah.


"Dari tadi kamu diem aja sih?, maaf ya semalam Rasya butuh teman buat begadang juga, jadi aku pulangnya agak pagi. Aku mau bangunin kamu nggak enak"


Abdi memeluk Indah dari belakang saat Indah menaruh kembali kemeja yang dipilihnya tadi, Abdi meletakkan dagunya dibahu Indah, mengecup pipi Indah dari samping. Indah masih tak merespon. Dia mengambil kaos putih berkerah untuk Abdi dan celana jeans.


"Aku tunggu dibawa aja ya mas. kita langsung sarapan, hari ini Indah harus datang pagi. Soalnya ada meeting guru dan wali kelas."

__ADS_1


Abdi menarik nafas, dia tahu Indah menghindar, tapi Abdi belum berani jujur.


__ADS_2