
Anggun memperlambat jalannya saat melihat dengan jelas siapa laki-laki yang turun dari mobil itu, begitu juga Abdi, dia cukup terkejut melihat Indah jalan bersama dengan Anggun.
Pandangan keduanya bertemu, Anggun mencoba meredam rasa yang ada dalam hatinya, bibirnya bergetar, perutnya terasa mual, naik menjalar keseluruh tubuhnya, membuat wajahnya memerah membayangkan jika memang suami Indah adalah Abdi kekasihnya, lebih tepatnya mantan kekasih yang masih sangat ia cintai. Hingga Anggun mengehentikan kakinya, saat mendengar panggilan Indah.
"Mas, udah dari tadi?"
Benar, dia tak salah dengar, Indah memanggil Abdi dengan panggilan yang sama dengannya selama ini, Anggun mengeratkan genggamannya pada tas jinjing miliknya, menahan gejolak rasa yang membuncah, Anggun seolah-olah ditampar oleh kenyataan, merasa dikhianati oleh sahabat serta kekasihnya sendiri.
Abdi mengalihkan pandangannya pada Indah "Baru aja, belum sampai lumutan." Abdi memberikan senyum tulusnya pada Indah
Abdi tak mempermasalahkan jika Anggun marah padanya, namun justru dia memikirkan nasib persahabatan Indah dan Anggun.
"Nggun, kenalin suami gue, namanya_"
"Abdi" potong Anggun cepat, Anggun sudah tak dapat lagi menahan gemuruh didadanya, rasanya ia ingin meledak-ledak saat ini juga.
"Loh, lo udah tau? apa kalian emang saling kenal?" Indah menunjuk Abdi dan Anggun bergantian, tak menyadari wajah Anggun yang sudah memerah, dengan mata yang sudah berembun.
"Sangat, sangat mengenal luar dalam" sarkas Anggun, tanpa mengalihkan pandangannya pada Abdi dengan tatapan tajam, seolah-olah ingin mencabik-cabik tubuh Abdi. Sedang Abdi membuang pandangannya pada sembarang arah.
"Wahhh bagus donk kalo udah saling kenal, berarti kalian nggak perlu kenalan lagi, iya kan?" Indah masih tak menyadari perubahan wajah Anggun.
Anggun menyeringai, tak mungkin Indah tak mengetahui hubungannya dengan Abdi, sampai dia menyembunyikan pernikahanya, Anggun melangkah mendekati Indah "Selamat atas pernikahan kalian, lo jadi pemenangnya, padahal lo jauh dibawah gue, tapi dia lebih milih lo ketimbang gue, nggak papa, gue mencoba iklas"
Degh
Indah mengerutkan keningnya, tentu dia bingung dan tak mengerti dengan maksud ucapan Anggun, "Nggun lo_"
"Iya, Dia" Anggun menatap tajam Indah, tapi tangannya menuding pada Abdi, "Dia yang selama ini udah bikin gue patah hati, dia yang selama ini udah bikin hidup gue hancur, selamat, hari ini, kalian berdua udah buka lebar mata gue tentang sebuah kenyataan, bahwa persahabatan, kesetiaan itu tak ada, bulshit, PENGHIANAT" Anggun mendekatkan wajahnya pada Indah, menekan ucapan terakhirnya.
__ADS_1
"ANGGUN" teriak Abdi, tak terima Indah dituduh seperti itu, karena kenyataannya Indah tak tahu menahu apapun.
Abdi mendekat kearah mereka, memegang tangan Indah "Indah nggak tahu apa-apa, lo nggak berhak marah sama Indah"
Perlakuan manis Abdi pada Indah malah menambah luka pada Anggun, dia pun tak kuasa menahan air yang sejak tadi terpupuk, hanya sedikit dia memejam saja membuat tumpah seluruh air matanya. Sakit, ini lebih sakit dari saat Abdi memutuskannya.
Indah melepaskan tangan Abdi saat melihat tangis Anggun, dia pun ikut terluka, dia bisa merasakan yang Anggun rasakan.
"Nggun, gue bisa jelasin i_"
Indah ingin mengambil tangan Anggun, namun ditepis kasar oleh Anggun "Nggak perlu, nggakk perlu ada yang harus dijelasin"
"Ini salah paham Nggun" Indah tetap akan menjelaskan ini pada Anggun, namun Anggun pergi begitu saja meninggalkannya.
Indah ingin berlari mengejar Anggun, namun cekalan tangan Abdi menghentikannya.
Bugh
Bugh
"Ini buat mas, yang udah berani nyakitin hati Anggun"
"Apa?"
...****...
Dua hari setelah kejadian itu, Indah seakan menjauh dari Abdi, sebisa mungkin Indah menghindar, beruntung Abdi sedang sangat disibukkan mengurus cafe dan gerai lele miliknya. Setiap hari juga Indah coba mendatangi Anggun, baik kerumah Anggun atau ke kantor tempat Anggun bekerja, namun Indah tetap tak bisa menemui Anggun.
Sore ini, sengaja Indah menunggu Anggun didepan rumahnya, Indah bertemu dengan Widuri, wanita itu mempersilahkan Indah masuk, mereka mengobrol seperti biasa, karena memang Indah sering berkunjung. Indah pun baru mengingat jika Abdi pernah bercerita, jika mantan kekasihnya adalah saudara tirinya.
__ADS_1
Apa Tante Widuri mamanya mas Abdi? jika benar, berarti dia mertuaku.
Indah mencoba tenang, walau bibirnya sangat gatal ingin menanyakan perihal Abdi. Hingga tak lama terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah itu, sudah dapat ditebak jika itu adalah suara mobil Anggun, sengaja Indah datang kerumah Anggun tidak membawa motornya, takut Anggun akan kembali menghindar jika mengetahui kedatangannya.
Jantung Indah berdegup kencang menyambut kedatangan Anggun, Indah meremasi jemarinya, tak pernah dia semarahan seperti ini dengan Anggun, apalagi ini menyangkut masalah hati, ada rasa takut menyelimuti Indah, takut Anggun tak ingin memaafkannya, namun Indah sudah bertekad, dia telah mengambil sebuah keputusan, demi persahabatannya kembali membaik.
Saat Anggun masuk kerumahnya, Anggun tak terkejut mendapati Indah yang berada dirumahnya, ia berlalu begitu saja mengabaikan kehadiran Indah, tak ia pedulikan Indah yang sejak tadi menunggunya.
Setelah berpamitan pada Widuri, Indah menyusul Anggun kekamarnya. Indah mengetuk kamar Anggun, namun tak ada jawaban dari dalam. Indah menarik knop pintu kamar Anggun, tak terkunci, Indah pun segera masuk.
"Anggun" lirih Indah, dilihatnya Anggun berdiri menghadap jendela kamarnya.
Sengaja Anggun tak mengunci pintu kamarnya, dia tahu, Indah pasti menyusulnya.
"Mau ngapain lagi sih lo, belum puas liat gue hancur?" ucap Anggun tanpa mengalihkan pandangannya pada Indah.
Indah berdiri didepan pintu, tak berani mendekat "Nggun lo salah paham, gue nggak pernah tahu siapa pacar lo, andai gue tahu, gue nggak mungkin mau nikah sama mas Abdi"
"Dan sekarang lo udah tahu kan? apa yang bakal lo lakuin? apa lo mau ninggalin Abdi demi gue, demi persahabatan kita?"
"Nggun_" nafas Indah tercekat, tak percaya Anggun akan mengatakan hal seperti itu.
"Kenapa? lo nggak bisa kan?" Anggun kini berbalik, menatap dimana Indah berdiri.
.
.
.
__ADS_1
.
.