Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 65


__ADS_3

Benar kata Masnah, Abdi laki-laki yang berbeda dengan laki-laki lain. Diawal pernikahan mereka, Abdi tak pernah mempermainkan sebuah pernikahan, Indah ingat, Abdi pernah berujar, jika dia mempermainkan pernikahan, sama saja dia mempermainkan agama dan Tuhannya.


Abdi bukan laki-laki yang pintar dalam agama, tapi dia laki-laki yang takut pada agama dan Tuhan, terbukti selama ini Abdi selalu menjalankan kewajibannya meski tak kentara.


Indah melebarkan senyumnya, memikirkan perlakuan Abdi selama ini, membuatnya sedikit tenang. Indah melihat lagi riasan wajah dan lipstik yang baru ia poleskan, ia mengapitkan bibirnya "Perfect, tinggal nunggu mas ganteng pulang." Indah menepuk tangannya, mencium ketiaknya, "Wangi" lalu ia memperhatikan penampilannya, dres diatas lutut yang dia pakai begitu pas ditubuh Indah yang tidak terlalu tinggi.


Indah memutar badannya ke kiri ke kanan "Kok gue kayak abege jatuh cinta lagi sih?" Indah cekikikan kecil, mentertawakan tingkahnya sendiri.


Indah sengaja tidak menelepon Abdi, dan meminta pada ibunya, agar tak menghubungi Abdi juga, Indah ingin membuat kejutan untuk suaminya, ya, dia akan mengejar surga seperti yang disarankan oleh ibunya.


Hari sudah menjelang magrib, namun Abdi masih belum pulang. Indah memilih menunggu Abdi ditempat tidur, dia duduk bersandarkan headboard ranjangnya sambil membuka mbah gugel, mencari tahu semua informasi setelah pengangkatan rahim. Indah penasaran, apa efek setelah operasi pengangkatan rahim? apakah dia masih bisa berhubungan suami istri seperti biasa, atau dia tidak akan lagi merasakan surga dunia itu?. Hal pertama yang harus Indah ketahui, bisa gawat kan kalau dia tidak bisa memuaskan suaminya.


Setelah mendapatkan informasi yang dia mau, Indah bisa bernafas lega, nyatanya itu masih bisa ia rasakan, dia bisa melakukan aktivitas panas itu dengan suaminya, ya hanya dia tidak akan bisa hamil saja, dan tidak akan mengalami menstruasi lagi.


"Serius banget, lagi baca apa sih hem?" Indah mendongakkan kepalanya mendengar suara laki-laki yang sedang ia nantikan.


Abdi, suami tampanya datang membawa sebuket bunga mawar merah dan tulip putih berjalan menghampirinya. Indah hanya diam menatap wajah tampan suaminya yang semakin mendekat, nyatanya itu bisa membuat jantungnya kembali berdetak kencang seperti pertama kali melihat Abdi.


"Hai." sapa Abdi saat ia telah duduk didekat Indah, dan dia meletakkan bucket bunga itu ditempat tidur, sapaan lembut Abdi nyatanya malah membuat Indah menitikkan air matanya begitu saja.


"Sayang, maaf, aku pulang terlambat, maaf." Abdi menghapus air mata Indah lembut, dan itu juga tak bisa menghentikan derai air mata Indah.


Melihat Indah hanya diam saja dan semakin terisak malah membuat Abdi nyatanya semakin takut dan merasa bersalah. Sebab tadi dia mengantar Naima pulang dulu, walau ditemani Doni.


"Kenapa mas harus minta maaf?." akhirnya Indah membuka suara dengan suara serak sisa tangisannya.


"Karena aku buat salah, pulang terlambat,"


Indah langsung memeluk Abdi begitu saja "Kamu pulang terlambat kan karena kamu kerja mas, aku yang harusnya minta maaf, karena pagi tadi bikin mas khawatir."


"Es teri kamu_" Abdi tak dapat berkata-kata lagi, dia begitu senang "Sayang apa artinya ini kamu udah nggak marah sama aku dan kamu sudah menerima semuanya?"


Indah tak menjawab dia semakin mengeratkan pelukannya, 'kamu jangan bersikap terlalu manis sama aku mas, aku makin takut kehilangan kamu' ingin Indah mengatakan itu, namun ia tahan, cukup ia pendam dalam hati.


Indah mengurai pelukannya, tak menjawab ucapan Abdi, karena dia sendiri masih belum yakin bisa berdamai begitu saja dengan hatinya sendiri "Bunga itu buat aku mas?" tanyanya melihat bunga yang tadi Abdi bawa.

__ADS_1


"Iya es teri, ini buat kamu." Abdi mengambil bunga tadi, dan memberikannya pada Indah.


"Mawar melambangkan perasaan sayang, bunga tulip melambangkan permintaan maaf, kamu kayak habis ngelakuin kesalahan besar mas."


Ucapan Indah mampu membuat Abdi terdiam, nyatanya memang dia melakukan kesalahan, telah mengantar wanita lain pulang. Untuk pertama kali Abdi membohongi Indah, dan biasanya, akan diikuti oleh kebohongan lainnya.


"Makasih ya mas bunganya." Indah mencium bunga itu "Wangi banget."


"Tadi baca apa, sampai aku masuk nggak sadar?"


"Rahasia."


"Oh sekarang udah main rahasia rahasiaan."


"Mending mas mandi dulu, biar kita bisa ngobrol banyak, Indah kangen ngobrol sama mas."


"Kayaknya serius ini, oke siap tuan putri, laksanakan perintah."


Abdi mengecup bibir Indah dahulu tanpa permisi sebelum dia beranjak ke kamar mandi, membuat Indah melotot sebagai protes. Yang tanpa Abdi ketahui, Indah menghapus air mata yang kembali menetes saat dia telah menghilang dibalik pintu kamar mandi. Bagaimanapun, bayangan akan ditinggalkan menghantui pikiran Indah, hal yang pasti terjadi kedepannya.


Selama dikamar mandi Abdi memikirkan apa yang akan Indah bicarakan, dia pun tak bisa berlama-lama, tak ingin membuat Indah menunggu lama, dia harus mengajak Indah makan malam bersama ibunya.


Waktu yang paling tepat untuk mengobrol santai adalah saat kita akan menjelang tidur (pillow talk). Dimana kita bisa mengobrol santai tapi bisa membuat komunikasi antara pasangan menjadi semakin intim dan membuat hubungan semakin harmonis.


"Mas." panggil Indah.


Kini dia telah terbaring setelah makan malam. Abdi tidur menyamping disebelahnya, dengan kepala yang disangga menggunakan tangan kanannya menghadap Indah. Abdi menjawab Indah dengan gumaman, tapi tangannya tetap memberi usapan lembut di pipi Indah.


"Aku sadar sekarang aku udah nggak akan bisa kasih kamu keturunan, aku nggak mau mikir yang manis-manis mas, jika suatu saat kamu mau punya cinta lain selain Indah, tunggu Indah siap ya mas, tunggu Indah siap menata hati, mas jangan khawatir, Indah pasti izinin kok." tangan Abdi yang sedang mengusap pipi istrinya sontak terhenti, cukup terkejut dengan pengakuan Indah yang secepat ini.


Abdi menunduk dalam, dia bingung harus menanggapi seperti apa. Jujur sih, dia memang ingin memiliki keturunan, tapi itu dari Indah, bukan dari perempuan lain. Dan sekarang Indah tak bisa melakukan itu, itu bukan kemauan Indah, memang sudah nasib mereka yang tak akan memiliki anak sebagai pelengkap hidup mereka. Jika Indah mengatakan itu sekarang, sepertinya itu terlalu cepat buat Abdi, dia tak munafik, jika dia mengatakan sekarang tidak, namun mana tahu nanti dia berubah pikiran, bukankah laki-laki yang harus dijaga adalah perkataannya?.


"Es teri, untuk saat ini aku nggak akan membuat janji apa-apa sama kamu, ini memang hal yang berat buat kita, tapi untuk sekarang, aku rasa aku bahagia hidup sama kamu. Jangan mikir yang macam-macam, kita jalani saja yang ada. Untuk masalah keturunan, Tuhan pasti memberi yang terbaik untuk kita. Aku merasa menjadi manusia yang istimewa dengan diberikan cobaan ini, aku senang menjalaninya."


Indah mencoba menahan untuk tak menangis lagi, sebenarnya merasa ambigu dengan kata-kata Abdi, ini dia mau mencoba setia apa gimana sih?

__ADS_1


"Kita sama-sama anak tunggal mas, apa kamu nggak pengen memiliki penerus?" pancing Indah.


"Jika memang sudah ditakdirkan seperti ini, kita mau berbuat apalagi?" Indah tertegun dengan jawaban Abdi.


I**ngat Indah, ini baru berapa hari


kembali Indah mengingatkan dirinya sendiri


Abdi berpikir sejenak untuk menanyakan sesuatu. "Es teri, apa yang terjadi sebenarnya diapartemen Thomas? kenapa kamu bisa sampai di sana?"


Indah terdiam, dia takut untuk menjawabnya, tapi dia tak boleh menyembunyikan ini terlalu lama, cepat atau lambat Abdi pasti akan mengetahuinya "Kamu janji jangan marah ya mas?"


Abdi mengangguk "Iya."


Indah menceritakan awal mula kedatangan Selly, dan mengajaknya kerumah sakit untuk menjenguk Wak Disa, dan saat pulang dia malah berbelok ke apartemen Thomas demi meminta agar Thomas mau bertanggung jawab terhadap anak yang dikandung Selly, namun siapa sangka Thomas malah menyatakan perasaannya, dan ingin melecehkan Indah.


"Sekarang Thomas sudah ditangkap, bukan hanya masalah kamu, tapi kejadian yang menimpa dicafe adalah perbuatannya, dia ingin membuat aku bangkrut, dan membuat kamu memilih dia."


"Sampai kayak gitu mas? berarti kamu menderita karena aku mas." Indah mencoba santai, menyimpan rasa penuh bersalah.


Abdi tersenyum "Nggak sayang, justru aku senang punya kamu, berarti kamu wanita istimewa, banyak disukai orang, dan aku laki-laki beruntung yang bisa memiliki kamu."


Indah mengulum senyum, malu mendengar gombalan Abdi.


"Es teri, aku mau kamu siap menjadi saksi di persidangan nanti ya, untuk menjerat Thomas."


Indah menarik nafas berat "Iya mas,"


Tak lama ponsel Abdi bergetar, ada sebuah pesan yang masuk, terlihat dari popup, Abdi tahu itu dari Naima.


.


.


.

__ADS_1


.


Semoga suka part ini ya, walau kurang greget


__ADS_2