Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 59


__ADS_3

Indah sudah dibawa masuk kedalam ruang operasi. Lampu indikator pun sudah menyala, tandanya operasi sudah dimulai. Abdi, Bu Masnah, Anggun serta Chio menunggu harap-harap cemas diluar. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Deg-degan itulah yang saat ini mereka rasakan, karena ini merupakan hal yang pertama untuk mereka. Pasrah dan terus berdoa semoga operasi Indah berjalan dengan baik dan lancar.


Anggun yang memang sudah dekat dengan Masnah, selalu berada disamping wanita itu, dan mengelus bahu Masnah menenangkan, Anggun juga tak lupa memoleskan minyak angin aromatherapy pada tengkuk Masnah agar wanita itu tak masuk angin. Anggun juga membawa camilan, agar mereka yang menunggu tak sampai sakit.


Dalam diam Chio memperhatikan setiap gerakan Anggun yang begitu cekatan memberi perhatian pada Masnah. Chio membayangkan, jika Anggun jadi istrinya, pasti Anggun akan begitu perhatian juga padanya. Lamunan Chio terganggu saat ada orang yang menyenggol bahunya.


"Gue tahu arah mata Lo." ledek Abdi


"Nganja kos huta." (jangan sok tahu) jawab Chio kesal.


Abdi terkekeh "Sikat, dia jomblo."


"Berisik."


Chio melihat kearah Anggun yang duduk dibangku besi panjang depan ruang operasi itu. Dia takut Anggun dengar yang mereka bicarakan.


"Sejauh mana hubungan kalian?" tanya Abdi lagi.


"Nggak ada"


Chio menjawab cuek seraya mengangkat bahunya, menutup rasa malunya yang ketahuan diam-diam mencuri pandang pada Anggun.


Abdi terus mengajak Chio bercanda, sebab untuk menghilangkan rasa gugup dan cemasnya.


Menit berlalu, hingga kini hampir satu jam mereka menunggu, namun lampu merah itu belum juga padam. Sore berganti malam, suasana semakin sepi, membuat atmosfer di lorong ruang operasi tersebut terasa begitu dingin, sebab diluar sedang turun gerimis.


Abdi mencoba menenangkan dirinya, kopi yang barusan dibeli Chio pun terasa hambar baginya, padahal sebisa mungkin Abdi mengontrol kegugupan ini. Menunggu memang hal yang membosankan, apalagi ini menunggu orang tersayang yang sedang bertaruh nyawa.


Kini memasuki menit ke sembilan puluh, dan lampu indikator pun padam. Dengan jantung yang berdetak Abdi menunggu Indah dibawa keluar. Terdengar suara brankar yang didorong, dan pintu operasi terbuka. Abdi dan yang lainnya menghembuskan nafas lega.


Indah yang masih belum sadarkan diri itu kini didorong menuju ruang perawatan. Abdi mengikuti langkah para dokter dan suster yang membawa Indah. Entah perasaan apa yang saat ini dia rasakan, lega, senang, sedih menjadi satu.


Kini Indah sudah diletakkan keruang perawatan sebelumnya. Abdi dan Masnah di ajak dokter untuk bertemu diruanganya.

__ADS_1


Abdi dan Masnah duduk berhadapan dengan dengan dokter yang menangani Indah.


Dokter mengulas senyum sebelum menyampaikan sesuatu.


"Alhamdulillah Pak, Bu, operasi histerektomi(pengangkatan rahim) berjalan lancar." ucapnya memandang Abdi dan Masnah.


"Alhamdulillah" jawab mereka serempak.


"Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, resiko dari histerektomi ini adalah salah satunya pasien tidak bisa memiliki keturunan atau hamil. Dan setelah operasi ini, pasien akan mengalami flek selama enam sampai delapan minggu, terhitung dari sekarang. Dan untuk masa pemulihan secara menyeluruh, sebaiknya pasien tidak melakukan aktivitas apapun selama delapan minggu ini, seterusnya pasien juga tidak akan mengalami datang bulan lagi, ini bukan menopause sebelum waktunya, namun pasien tidak akan mengalami sakit lagi. Nanti hal ini bisa disampaikan pada pasien, atau pasien nanti bisa berkonsultasi kepada saya secara langsung jika sudah siuman. Ini saya sampaikan hanya sebagai agar bapak dan ibu mengetahuinya. Pasien akan menjalani rawat inap selama lima hari kedepan sebagai pemulihan."


Abdi hanya terdiam mendengarkan penjelasan dokter, dipikirannya saat ini adalah bagaimana dia bisa menyampaikannya pada Indah nanti? Pasti Indah sangat syok dan kaget.


Setelah menanyakan banyak hal, dan mereka mengambil resep obat dari dokter, Abdi dan Masnah keluar. Mereka berjalan menuju keruangan Indah. Disana masih ada Chio dan Anggun yang menjaganya. Beruntung sekali Abdi memiliki sahabat seperti Anggun dan Chio. Mereka selalu bisa diandalkan, seperti saat ini Chio dan Anggun sudah menyiapkan makan malam untuk mereka tanpa diminta.


Mereka makan bersama diruangan Indah saat ini. Meski tak berselera, namun mereka harus tetap mengisi perut, agar tak sakit.


"Bu, sebaiknya Ibu pulang dulu bersama Anggun dan Chio, biar Ibu nggak kecapean, nanti Ibu bisa sakit juga kalau kecapean, malam ini, Abdi saja yang menjaga Indah, kita gantian." usul Abdi saat mereka selesai makan.


"Iya Bu, benar kata Abdi, Ibu sebaiknya pulang dulu bareng saya." sahut Anggun, kini Anggun tidak lagi memanggil mas pada Abdi, dia rasa sudah tak pantas.


"Kita ngerti Bu, tapi ada baiknya kita pulang sekarang, nanti saat Indah sadar tapi Ibu sakit, Indah pasti sedih." bujuk Anggun.


Hal itu membuat Chio semakin mengagumi sosok Anggun, benar, dia wanita baik dan lemah lembut seperti yang Abdi ceritakan dulu. Chio mengulum senyum.


Akhirnya Masnah menurut, dia pulang kerumah Abdi dan Indah yang baru diantar Chio, dan Anggun.


Sepeninggal yang lainnya. Abdi kini menatap Indah yang masih terpejam. Abdi mengambil tangan Indah untuk digenggam, Abdi mengecup telapak tangan Indah, lalu tersenyum. Tangan Abdi terangkat, merapikan helaian rambut Indah yang menutupi wajahnya. Kemudian dia memajukan tubuhnya, mencium kening, pipi, dan bibir Indah.


"Hei, cepat bangun ya!" seru Abdi. "Makasih es teri, kamu udah mau bertahan untuk aku, makasih udah mengandung anak aku, kamu cepat sadar ya, aku kangen, kangen sama gombalan kamu, kangen makan bareng, dan ... kangen berenang bareng." Abdi tertawa, namun tak lama ia menangis, membuang pandangan kearah lain. Ya seorang Abdi kembali menangisi istrinya.


Abdi menunduk, lalu kembali mendongak, melihat wajah Indah yang tenang dalam tidurnya, tangannya masih menggenggam erat tangan Indah.


"Kamu tahu, aku begitu menghawatirkan keadaan kamu?, maaf jika aku terlambat, aku nggak bisa nyelamiten kamu disaat kamu butuh bantuan aku, nanti, jika kamu bangun, kamu boleh pukul aku, boleh tampar aku, dan marahi aku sepuas kamu, karena nggak bisa nepatin janji."

__ADS_1


Abdi menarik nafas, kemudian mengusap hidung yang terasa mampet karena menangis.


"Es teri, jika nanti kamu tahu keadaan kamu, aku minta kamu jangan sedih ya, kita hadapi semua sama-sama. Walau tanpa ada tangis anak kecil nantinya, kamu harus tetap ceria seperti biasa. Aku berjanji, walau tanpa kamu dengar, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apapun yang terjadi."


Abdi mengangkat tangan Indah yang ia genggam, menyematkan kembali cincin dijari manis Indah, yang tadi sempat dilepas karena akan operasi.


"Aku tidak ingin ini terlepas lagi, tadi untuk yang pertama dan yang terakhir." Abdi mengecup cincin itu.


Abdi naik ketempat tidur, ia ikut berbaring disebelah Indah, menelusupkan tubuhnya kedalam selimut yang Indah pakai. Abdi memiringkan tubuhnya menghadap Indah yang masih terpejam, ia amati wajah manis itu, Abdi mengecup pipi Indah sekilas, "Good night, cewek anehku." bisiknya ditelinga Indah. Abdi merasa dirinya kini tak waras, sejak tadi dia berbicara sendiri. Abdi tak memeluk Indah, dia takut akan membuat sakit tubuh istrinya. Tak lama ia ikut terlelap karena kelelahan, sejak kemarin dia belum pulang.


...****...


Disebuah Padang ilalang, seorang wanita menggunakan gaun putih bersih, tengah duduk di atas batu besar yang terdapat di tengah padang ilalang tersebut. Wanita itu seperti seorang ratu, dia bisa memandang keseluruh penjuru. Rambutnya yang tergerai sebahu tertiup angin, membuatnya menikmati keindahan Tuhan yang tiada tara. Tak lama, tangan seseorang menyentuh bahunya, dan membelai bahunya dengan lembut.


Seorang laki-laki tampan, datang dari belakangnya, laki-laki itu tersenyum manis, membuat hatinya menjadi sangat tenang. Wanita itu membalas menyentuh tangan sang laki-laki dengan lembut. Saat mereka saling melempar senyum, mereka dikejutkan oleh kedatangan segerombolan anak kecil lari kearah mereka. Diantara anak kecil itu,


ada yang membawa bunga, air minum, dan makanan.


Mereka saling berebut ingin memberikan yang mereka bawa untuk wanita tadi. Wanita itu langsung turun dari singgasananya, setelah izin kepada laki-laki yang berada disebelahnya. Dia merendahkan tubuhnya, agar anak-anak kecil itu bisa memeluknya. Wanita itu tak hentinya tersenyum bahagia atas kehadiran anak-anak itu.


Namun senyumnya sirna, ketika seorang wanita cantik yang tak ia ketahui wajahnya datang menghampiri mereka. Wanita itu menggandeng seorang anak kecil laki-laki yang begitu tampan, dan tersenyum padanya, lalu berlalu menghampiri laki-laki yang tadi berdiri disebelahnya. Wanita cantik itu mengulurkan tangannya, meminta agar si lelaki menyambut tangannya.


Wanita yang sedang memeluk anak-anak tadi sampai membelokkan badannya, ingin tahu, laki-laki itu menyambut tangan wanita tadi atau tidak? Jantungnya berdetak kencang, saat tangan si lelaki terangkat, dan seketika itu juga ...


"Masss!!"


Indah tiba-tiba membuka matanya, keningnya berkeringat, dadanya naik turun, dia seakan habis berlari mengelilingi lapangan sepak bola.


Abdi yang baru saja terlelap, langsung tersentak mendengar suara yang begitu ia rindukan.


"Es teri kamu udah bangun?" Abdi bangun, ia melihat mata Indah yang telah terbuka.


Sebenarnya dia ingin memeluk tubuh Indah, namun ia ingat, Indah baru saja menjalankan operasi yang tak Indah ketahui. Kini Abdi hanya tersenyum, laki langsung meraup bibir istrinya.

__ADS_1


"Aku kangen es teri"


Indah terdiam, mengingat kejadian sebelum dia dibawa kesini.


__ADS_2