
Indah benar-benar beruntung bersuamikan Prastia Abdi Pratama. Laki-laki itu semakin perhatian dan bersikap manis padanya, dan hari ini Abdi memberinya kejutan dengan kedatangan ibunya.
Disaat dia sedang sangat lemah seperti sekarang, dukungan dari teman-temannya dan Abdi benar-benar berpengaruh untuk kesehatannya, ditambah kini ada ibunya yang akan merawatnya, tentu Indah tidak akan sungkan untuk meminta ini itu.
"Ibu kapan sampenya?" tanya Indah, Masnah sedang memotong buah pepaya yang dibawakan Mawar, Indah meminta Masnah mengupaskan pepaya untuknya.
"Kemarin, ibu naik bus, sampai Senen dijemput sama Anggun dan Chio" Masnah menjelaskan walau Indah tidak bertanya.
Masnah mendekat kearah Indah, duduk dibangku, menyuapkan buah pada anak semata wayangnya, anaknya yang bernasib malang, sebab tak akan memiliki keturunan untuk pelengkap hidupnya, sebagai pelipur di hari tua nanti.
Indah menangkap wajah sedih ibunya, "Ibu kenapa kelihatan sedih, Indah kan baik-baik aja Bu."
"Ibu bukan sedih, Ibu sebenarnya mau marah sama kamu, kenapa nggak bisa jaga diri. Tuh sampai banyak luka kayak gini," Masnah menunjukkan luka-luka ditubuh Indah. "Kamu nggak ada kerjaan apa gimana? baru juga Ibu tinggal sebentar, kamu sampai begini, kalau Ibu jadi nak Abdi pasti kamu sudah Ibu ikat dipohon togek, biar nggak keluyuran kemana-mana. Kamu ngerepotin suami kamu, liat fasilitas yang dia kasih" Masnah menunjuk ke sudut-sudut ruangan inap Indah. "Ibu berasa liburan ke hotel."
Indah nyengir mendengar ocehan ibunya "Nggak papa Bu, sekali-kali."
"Ibu padahal nungguin kedatangan kamu sama Abdi ke Sukabumi, ehh, malah Ibu yang kesini."
"Ibu tuh, kayak nggak ikhlas ih, Indah lagi sakit lo Bu, masih dimarahin, Ibu kayak ibu tiri, anak sakit diomelin, cuma Ibu kayaknya didunia yang anaknya sakit malah dimarahin."
"Karena kamu nakal, makanya Ibu marahin, Ibu sudah lama nggak marahin kamu, jadinya begini."
Indah mengerucutkan bibirnya, tak ayal juga membuka mulutnya, saat Masnah menyodorkan buah pepaya didepan mulutnya.
Masnah menarik nafasnya dalam, sebenarnya ini hanya pengalihan perasaannya yang pilu, sangat prihatin dengan nasib Indah. Walau saat ini Abdi menunjukkan perhatiannya dan tanggung jawabnya pada Indah, namun dia bersiap-siap, jika suatu hari nanti Abdi akan meninggalkan Indah, karena dia menyadari kekurangan anaknya.
Masnah kembali mengeluarkan ocehanya untuk Indah, memberi nasihat, serta wejangan pada anak semata wayangnya. Menutup rasa sedih yang harus ia tutupi walau rasa itu terus melintas dipikirannya.
...****...
"Jadi, gimana rencana kedepannya?" tanya Rasya pada Abdi, sembari menyesap kopi latte miliknya yang masih mengeluarkan sedikit kepulan asap.
Rasya sudah mengetahui tentang kejadian dicafe, jika semua adalah perbuatan Thomas. Dan saat ini mereka tengah membahas rencana Abdi kedepan, langkah apa yang akan dia ambil?, untuk menuntut Thomas dengan kasus yang lain, yaitu kasus Indah.
"Gue akan pastikan Thomas mendekam selamnya, apalagi jika nanti terbukti dia melakukan kekerasan pada istri gue, gue nggak akan kasih ampun sedikitpun."
Abdi mengeluarkan asap tembakau yang dia hisap, sesuatu yang sudah lama tak ia lakukan, kini kembali ia rasakan, sebab kepalanya terlalu pusing. Abdi, Rasya,Chio kini berada di kantin rumah sakit, mereka baru saja selesai makan siang. Chio meletakkan asbak didepan Abdi, untuk menantaskan abu rokok miliknya.
"Awalnya gue nggak mau nuntut apa-apa atas tindakan dia yang benar-benar merugikan gue dan cafe. Tapi melihat Indah yang sampai seperti itu di apartemennya, sampai kami harus kehilangan anak, dan Indah harus kehilangan_" Abdi tak bisa melanjutkan kata-katanya "Gue yakin, jika sesuatu yang buruk telah terjadi, nggak bisa untuk nggak melaporkannya, walau nanti bakal berhadapan dengan Prasasti."
Abdi mendesah, sangat tidak sanggup jika harus mengatakan itu, kemarin dia bisa kelihatan baik-baik saja didepan Indah, namun kini dia mulai resah, resah bagaimana cara memberi tahu jika istrinya sudah tidak memiliki rahim lagi.
__ADS_1
"Ini harus secepatnya ditindak, dan lo harus minta penjelasan sama Indah. Pastikan dia harus mau bersaksi, untuk bisa menuntut Thomas," Chio memberi saran "Jangan sampai dia tak mau bersaksi, seperti kejadian dulu" Chio melirik Rasya, hingga bangkunya ditendang oleh Rasya, karena merasa disindir.
"Inget lo bisa sesukses kayak sekarang, karena ada campur tangan bini gue." sombongnya.
Hahahaha Chio tertawa "Iya ... iya ... "
"Itu sudah pasti, tapi untuk saat ini, gue cuma fokus pada kesembuhan Indah dulu, kalian tahu, apa yang terjadi sama Indah sekarang itu nggak mudah untuk kami kedepannya. Dan nanti gue pasti akan minta keterangan yang terjadi antara dia dan Thomas."
Rasya dan Chio mengangguk setuju. Lalu pandangan Chio beralih pada dua wanita yang tak jauh dari mereka duduk, disana ada Anggun dan Mawar sedang mengobrol asik, entah apa yang sedang mereka bicarakan, hingga Chio menarik sudut bibirnya, Anggun semakin terlihat menarik jika sedang serius seperti itu.
Chio tersadar dari curi pandangnya, dia mengingat sesuatu.
"Oh ya Di, tadi kenapa kita datangnya terlambat, karena waktu kita jemput ibunya Indah, ada cewek namanya Selly, katanya itu sepupu Indah, dia minta tolong sama ibu Masnah, untuk bisa menebuskan mamanya yang sedang dirawat di rumah sakit, jadi kita mengurus administrasi mamanya Selly dulu."
Abdi santai dan tak terkejut mendengar itu, Abdi beranggapan jika yang terjadi dengan Selly dan mamanya adalah akibat dari perbuatan mereka terhadap Indah dan ibunya.
"Kalian bertemu dimana?"
"Dirumah kalian lah, dia katanya udah menunggu sejak kemarin, tapi kalian nggak pulang-pulang."
Abdi memiringkan kepalanya berpikir, perasaan dia tak pernah memberi tahu alamat rumah mereka, Abdi juga yakin, Indah juga tak akan memberi alamat rumah mereka pada Selly mengingat indah yang tak suka pada Selly. Chio pun baru kemarin dia kasih alamat, rumah baru mereka saat akan mengantar ibu Indah pulang. Selly dapat alamat rumah mereka dari siapa?.
"Yasudah terima kasih, gue nggak akan balas budi sama kalian, emang tanggung jawab kalian kan, bantu teman sedang susah."
...***...
Sudah terhitung lima hari Indah dirawat, keadaannyap pun semakin membaik, hari ini dia sudah diperbolehkan pulang. Abdi mendorong kursi roda Indah untuk memasuki rumah sederhana mereka. Indah tadi sempat uring-uringan dan marah, sebab Masnah, ibunya tidak ikut menjemputnya.
Abdi membuka pintu rumah itu, dan kembali berdiri dibelakang Indah untuk mendorong kursi roda istrinya.
"Surprise."
Lampu rumah Indah berubah menjadi sangat terang, pinata yang bertabur pita diledakkan. Indah membelalakkan matanya, disana sudah ada Anggun, Mawar, ibunya, Chio dan Rasya, tak lupa si kecil Marsha yang ikut menyambut kepulangan Indah.
"Selamat datang my bestie, inget ya, lo punya hutang banyak sama gue, gue harusnya ada syuting iklan parfum, tapi gue batalin demi lo"
Anggun berjalan mendekat, dia memberikan sebungkus bakso yang biasa mereka makan.
"Mas, emang aku udah boleh makan bakso?" Indah mendongak kebelakang, bertanya pada suaminya yang masih menegang kursinya.
"Nggak boleh, ini buat gue, gue belum maksi." bukan Abdi yang menjawab, tapi Anggun, dia mengambil lagi bungkusan bakso itu, dan berjalan kearah dapur untuk mengambil mangkok. Ckckck Teman macam apa ini?
__ADS_1
"Anggun." geram Indah, membuat semua orang tertawa.
"Kamu tiga bulan puasa bakso es teri." ucap Abdi tepat didekat telinga Indah.
Ucapan selamat juga diberikan Mawar, dan yang lainnya.
"Jadi ibu nggak jemput Indah buat nyiapin ini semua?" tanya Indah pada Masnah saat ibunya itu memeluk Indah.
"Bukan Ibu, tapi mereka-mereka, Ibu mana ngerti yang kayak gini."
"Semua ide kamu mas?" kini tanyanya pada Abdi.
"Bukan sayang, aku malah nggak tahu, ini semua mereka yang buat."
Air mata Indah meleleh begitu saja, Indah terharu, begitu banyak yang menyayanginya. Siang ini rumah itu terasa sangat ramai, ditambah tangisan Marsha yang ingin minta gendong pada Indah. Mawar sampai kewalahan menangani Marsha, mungkin ini bawaan Marsha yang ingin memiliki adik lagi, jadi takut merasa tersaingi, dan kini ingin dimanja oleh Indah.
Kabar kehamilan Mawar belum diberitahukan juga pada siapapun, mengingat keadaan Abdi dan Indah yang tidak memungkinkan, bukan waktu yang tepat untuk mereka mengumumkan kabar bahagia ini.
Disaat yang lain sedang makan siang dibawah, Indah dan Abdi memilih kekamar mereka untuk istirahat.
"Mas." panggil Indah manja,
"Hmmm" jawab Abdi dengan gumaman. Abdi tidur memiring disampingnya, laki-laki itu menyanggah kepalanya menggunakan tangan, dia sedang mengusap rambut Indah.
"Indah udah lama nggak dandan, tadi waktu pulang Indah pake lipstik, cocok nggak sama bibir Indah."
Abdi mengernyit heran. "Kamu pakai lipstik, aku pikir emang bibir kamu yang merah sayang."
Indah mengulum senyum, Abdi sekarang lebih sering memanggilnya sayang dari pada es teri, tapi Indah suka panggilan es teri sih, terkesan sangat manis dan romantis.
"Masa sih mas, berarti cocok dong ya lipstik ini sama Indah."
"Kamu pake apa aja cocok. Kenapa sih?"
Indah memajukan bibirnya beberapa senti."Mas biasanya paling peka deh sama Indah."
Abdi semakin tak mengerti maksud istrinya. "Cium." pinta Indah memonyongkan bibirnya.
Abdi tersenyum begitu lebar, bukan dia tidak peka, cuma dia memang menghindar, jika dia melakukan itu, Abdi takut tak bisa menahan keinginannya, namun saat ini dia juga tak bisa menolak keinginan Indah.
Dengan cepat ia menempelkan bibirnya pada bibir Indah. Perlahan tapi pasti ciuman lembut itu semakin dalam. Abdi masih dengan posisi miringnya, tapi dia menahan badannya dengan kedua tangannya yang berada disisi kepala Indah agar tak menindih badan Indah. Abdi telah menelusupkan lidahnya pada mulut Indah, mengabsensi gigi Indah didalam sana, tanpa sadar Indah melenguh, mengeluarkan suara desahannya, membuat Abdi terpancing.
__ADS_1
"Om Didi kok makan bibir Tante Indah." suara anak kecil mengagetkan kegiatan mereka, membuat Abdi dengan cepat bangun dan melepaskan ciumannya.
"Marsha, sejak kapan kamu disini?"