Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Jujur


__ADS_3

Indah meresapi kecupan lembut yang Abdi berikan, ini untuk kedua kalinya sebenarnya, yang pertama nggak berasa, beneran nggak berasa, karena Indah waktu itu dalam kondisi marah, tapi yang sekarang, rasanya beda, kayak ada manis-manisnya, terus, lembut, bikin Indah sedikit melayang, dan mau lagi.


Tapi apa tadi Abdi bilang, memulai hidup baru? apa maksudnya? apa suaminya barusan nembak dia? hah mana ada suami nembak istrinya, emang suka nggak masuk akal cara berpikir Indah.


Badan itu tak bergerak, malah mematung, menatap wajah tampan didepannya yang sejak tadi juga menatapnya dalam. Dikedip-kedipkan mata bulat itu, bukan menggoda, tapi biar nggak perih saja, hehehe. Ini bukan lagi lomba lama-lamaan nggak kedipkan?


Melihat wajah lucu istrinya malah membuat Abdi bertambah gemas, pengen nyium lagi, ya Tuhan, kenapa makhluk jelek didepannya ini malah bisa dengan cepat mengalihkan dunianya?


"Kenapa bengong?" Abdi coba menyadarkan Indah.


"Kirain mau dicium lagi"


tuhkan, mulutnya murah banget, padahal tadi pagi udah mulai jaim sedikit.


Abdi tertawa mendengar jawaban polos itu "Kita turun dulu yuk, kalau disini nanti digerebek, dan dipaksa kawin lagi" kekeh Abdi tangannya mengusak pucuk kepala Indah. Ini biasa banget sih sebenarnya, sumpah, tapi bikin darah Indah berdesir.


Mereka jalan bersisian menuju lift, tak lama pintu lift terbuka, keduanya masuk, Abdi menekan angka dimana lantainya berada. Saat pintu lift akan tertutup, tangan seseorang menahannya. Muncul wajah Chio.


"Hai jodoh, kita ketemu disini" laki-laki masih dengan setelan lengkap kerjanya itu ikutan masuk. Terus tersenyum menatap Indah, hal itu membuat Abdi jengah.


"Haii Kak Chio" yang disapa malah nyapa, manas-manasin suaminya, padahal tadi dia sempat mikir, nih mas gantengnya lagi nembak dia apa gimana sih?


"Baru pulang? dari mana?"


Chio memilih berdiri disebelah Indah, yang membuat Indah diapit oleh dua laki-laki yang berstatus tetanggaan ini.


"Da-"


Belum selesai ngomong, suaminya menggeser badannya hingga mereka bertukar posisi, kini Abdi yang berada ditengah.


"Tumben baru pulang?" pertanyaan dari Abdi sungguh nggak penting, padahal dia tahu Chio biasa pulang jam segini, cuma mengalihkan.


"Ngapain sih disini? ganggu aja" Indah bersungut. Istri yang baru diajakin hidup damai malah cari gara-gara.


"Emang Abang lo ini nggak pernah suka sama gue" Chio mencondongkan badannya agar bisa melihat Indah yang terhalang badan Abdi.


Abdi tak ingin menjawab tetap diam, memasang wajah sok cool.


"Eh Indah, aku bawain ini buat kamu, semoga kamu suka" Chio memberi bag berisi parfum berwarna pink pada Indah tepat didepan Abdi


Tiba-tiba Abdi mencekal tangan Indah yang akan mengambil paper bag berukuran kecil itu "Dia istri gue, bukan ponakan gue, nggak usah lagi ngasih apa-apa"


"Hah!"


Baik Indah ataupun Chio menatap Abdi serempak. Chio memandang Abdi dan Indah bergantian, melihat wajah Indah yang sama terkejutnya denganya, membuat Chio tak percaya. Dan Indahpun tak percaya dengan yang diungkapkan Abdi.


"Hahaha" tawa Chio menggema diruangan kecil itu.


"Lo pikir gue percaya?" Chio menggelengkan kepalanya, lali berjalan menghampiri Indah, mengambil tangan Indah meletakkan yang tadi ingin diberinya pada telapak tangan gadis itu "Jangan takut sama dia ya, kalo dia marah sama kamu, kasih tau aku"

__ADS_1


Ting


Pintu lift terbuka, Chio lebih dahulu keluar, tak ingin mendapat bantahan dari Abdi.


"Aku duluan ya jodoh"


Pyuhhhh jijik sekali Abdi mendengarnya, ia langsung mengambil paper bag ditangan Indah, meletakkannya di atas tempat sampah yang tak jauh dari sana.


"Mas, ih" protes Indah


"Tar gue beliin, itu biar diambil orang" Abdi menggandeng tangan Indah masuk ke unit mereka.


Sudut bibir Indah terangkat melihat tangan Abdi yang menggandeng tangannya, ya ampun, ini kopi susu apa polkadot, atau papan catur?


Kini keduanya duduk bersisian disofa, Abdi menyalakan televisi untuk menetralkan perasaannya, padahal tadi dimobil dia sudah mengungkapkan yang dia inginkan, tapi kini dia merasa gugup untuk menyampaikannya kembali.


"Es teri" panggilnya, Indah menoleh


"Tadi gue udah bilang kan, kalau kita_" ucapannya terjeda "Kita akan memulai hidup kita yang baru"


Gadis itu tetap diam, namun ngangguk sebagai jawaban, menanti kata selanjutnya yang akan diucapkan oleh suami tampanya, aslinya dia deg-degan.


"Gue mau kita, ya.... suami istri beneran, bukan temenan seperti yang kita sepakati kemarin"


Suami istri beneran, ya ampun kata-kata mu ambigu mas, apa kita akan melakukannya sekarang?


Abdi menyenderkan tubuhnya pada kepala sofa, menatap wajah serius Indah yang mendengar setiap ucapannya, istrinya itu terlihat jelek tapi menggemaskan, eh nggak, bohong, Indah sangat manis. Indah tetap diam, menunggu kata selanjutnya.


"Lo nggak boleh deket sama cowok lain, termasuk si cecungu Chio, begitu juga gue, sekarang gue nggak ada hubungan sama siapapun, jujur, waktu kita nikah, gue ada hubungan sama perempuan lain, tapi langsung gue putusin, karena ada sesuatu hal yang nggak bisa membuat kami bersatu, ternyata kami saudara tiri"


"Hah! mas" Indah terkejut mendengar pengakuan Abdi, matanya melotot, ada rasa iba melihat nasib buruk suaminya.


"Iya, Mamaku ternyata ibu tirinya"


"Kok bisa mas nggak tahu, kalau Mamanya mas punya anak tiri?" tanya Indah penasaran


Abdi menarik bahu Indah, membuat Indah menyandar disofa, lalu Abdi meletakkan kepalanya di bahu Indah, entah tiba-tiba dia merasa nyaman, dan ingin menceritakan semuanya pada Indah, padahal sejak dulu, ia tak pernah menceritakan tentang hidupnya pada siapapun.


Abdi mulai menceritakan kisah hidupnya dulu, ditinggalkan orang tuanya begitu saja, dia terjerumus pada obat-obatan terlarang, dan dia yang ditolong keluarga Rasya, disaat dia terpurukpun, orang tuanya tak datang menjenguknya, dia yang kuliah diluar negri, dan bekerja pada Rasya, tentang orang tuanya yang menikah lagi, namun dia tak hadir, sehingga membuatnya tak tahu, siapa saja yang dinikahi oleh orang tuanya, dan siapa saja saudara tirinya. Abdi juga menceritakan tentang hubungannya dengan Naima, ditolak keluarga Naima karena masa lalunya, dan akhirnya bertemu dengan Anggun, tapi Abdi tak menyebutkan nama itu, serta kejadian tadi sore, saat dia kembali bertemu dengan papanya dan keluarga besarnya.


Abdi juga memberi tahu jika dia memiliki cafe, dan gerai lele adalah hadiah dari Rasya.


Indah menitikkan air matanya, ternyata kisah Abdi begitu menyesakkan, Indah bersyukur ibunya tidak menikah lagi, jika tidak, mungkin dia tidak akan pernah merasakan kasih sayang yang utuh dari ibunya.


"Lo nangis es teri?" Abdi mengangkat kepalanya, merasakan air asin yang menetes pada dahinya.


"Nggak mas, cuma ini kencing kali mata Indah" jawaban asal itu lagi-lagi membuat Abdi terhibur, Abdi mengusap air mata Indah dengan ibu jarinya.


"Inikan kisah gue, kok lo yang nangis?" Abdi terkekeh, melihat Indah yang malah semakin menangis,

__ADS_1


"Cuma mata lo yang bisa kencing" Abdi semakin terkekeh, ada-ada saja istilah yang digunakan Indah "Ajaib"


"MASSSS" Indah memukul-mukul lengan Abdi


"Lo kadeerte es teri"


"Bodo" Indah semakin memukul Abdi.


"Mas tahu, Indah tuh nggak bisa denger yang sedih-sedih"


"Iya-iya, udah es teri, sakit"


Indah menyudahi serangannya "Mas, laper" Indah memelas, dengan mulut yang manyun, kembali menyender ke sofa


"Lagian lo mukul gue terlalu semangat" Tak ayal membuat Abdi berdiri, menuju dapur, mengecek stok makanan yang ada dikulkas.


"Cuma ada mi instan sama telor, lo mau?" teriaknya yang kini berada di pantry, membuat Indah menoleh kearahnya.


"Enak itu mas, tapi mas yang masak kan?" padahal yang lapar siapa, yang disuruh masak siapa.


"Iya es teri, lo terima beres"


Indah menipiskan bibirnya, hatinya merasa sangat bahagia, Indah menutup wajahnya dengan bantal sofa, teriak bahagia didalam sana, menyembunyikan wajah yang tak berhenti ingin terus tersenyum.


Tak lama Abdi datang dengan membawa mie instan yang sudah matang, mengambil duduk disebelah Indah, tangannya mengaduk-aduk mie, memotong mie itu, lalu menyuapi istrinya. Indah membuka mulutnya menerima suapan itu.


"Mas kok manggil aku es teri sih?" tanyanya disela kunyahanya.


"Biar beda aja"


"Mas cinta sama Indah?" tanyanya ingin tahu perasaan Abdi yang sebenarnya.


"Nggak" Indah manyun mendengar jawaban suaminya, lalu kembali membuka mulut ketika Abdi menyodorkan mie padanya. Tak terasa mi didalam piring itu habis tak tersisa.


"Mas minya abis, mas nggak kebagian, mas cukma masak satu ya?"


"Dikulkas cuma ada satu" Abdi meletakkan piring diatas meja, lalu menatap istrinya dalam.


Indah yang ditatap salting, mukanya sudah merona.


"Mie-nya enak?" masih terus menatap Indah yang mukanya makin gemesin.


"Enak" Indah mengalihkan pandangannya pada televisi yang didepannya, yang menyala tanpa suara.


"Gue pengen nyobain mie-nya"


Indah menoleh, mengerutkan keningnya "Kan udah abis mas"


Abdi menarik tengkuk Indah, ******* bibir yang masih ada sisa mi instan tadi.

__ADS_1


__ADS_2