Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 55


__ADS_3

"Udah sombongnya, kereta kalo kebanyakan makan batu koral ya begini, omongannya makin ngelantur, jangan bernegosiasi sama gue, itu nggak ngaruh."


Setelah diam karena banyaknya keterkejutan yang Thomas katakan akhirnya Indah membuka suara, dia mencoba setenang mungkin, ini jawaban yang ia pikirkan sejak tadi, cari aman. Indah tidak mau menanggapinya dengan serius.


Thomas berdiri, dia berjalan mendekat kearah Indah. Tidak terlalu dekat, masih menyisakan jarak dua meter. Seperti yang Thomas katakan, dia tak akan berbuat hal tak senonoh pada Indah. Dia begitu menjaga Indah dan menghargainya.


Sedang Indah sedikit gugup, setelah Thomas menyatakan perasaannya, Indah takut Thomas bertindak nekat. Namun Indah telah memikirkan apa yang akan dia lakukan jika Thomas berniat melakukan hal yang buruk padanya.


"Aku tahu kamu pasti nggak akan percaya sama aku In. Tapi aku benar-benar suka sama kamu, sejak dulu, sejak kita masih SMA, i'm seroiuse , no kidding, aku mendam rasa ini karena aku takut buat bilang yang sesungguhnya, aku juga nggak bisa kalau dekat sama kamu, aku takut khilaf, aku takut sampai nyentuh kamu, tapi langkah aku salah, maaf, harusnya aku mengakui perasaan aku sejak awal, semua pasti tak akan serumit ini, jadi ayolah, aku pikir nggak ada yang terlambat, semua bisa diperbaiki, walau kini waktunya tidak tepat In."


Saat Thomas menarik tangan Indah tadi saja, Thomas seperti terkena serangan aliran listrik tekanan tinggi. Dia bergetar, ada sesuatu yang muncul dalam dirinya. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan saat bersentuhan dengan wanita lain.


"Whatever Thomas, aku nggak peduli, aku cinta sama suami ku, surat tanah atau semacam apalah, itu udah nggak penting sekarang, aku akan meraih masa depanku, bukan malah menghancurkannya. Miskin yang lo bilang, Gue nggak pernah menilai status seseorang dari kaya ataupun miskin. Terbukti dari lo, lo kaya tapi nggak menjamin kebahagiaan buat lo sendiri."


Sakit, sakit hati Thomas mendengar Indah mengatakan dia mencintai suaminya, dan mengatakan dia tidak bahagia dengan uang-uangnya.


"Karena kebahagiaan aku ada pada kamu In. Hapus rasa cinta itu In, cuma aku yang boleh kamu cinta, bukan dia atau orang lain. Dan didunia ini, tidak ada wanita yang menolak uang. Jadi kamu jangan munafik. Tidak ada yang dengar In, tidak ada pula yang tahu pembicaraan kita. Jadi kamu tinggalkan laki-laki miskin itu. Kamu akan bahagia bila hidup sama aku, aku bisa jamin itu."


Thomas maju selangkah, kini jarak dia dan Indah semakin dekat. Indah ingin mundur, namun langkahnya terhenti, karena terbentur pintu.


"Munafik Lo bilang kereta, nyatanya mas Abdi bisa bahagiain gue, dan ingat kebahagiaan orang itu bukan terletak pada orang lain, bukan juga tergantung pada orang lain, kebahagiaan itu ada dalam diri lo sendiri, jadi berhenti omong kosong kayak gitu."


Sial, Indah tiba-tiba merasakan perutnya yang kembali melilit. Bener-bener bukan waktu yang tepat.


Thomas tak bisa menahan diri, dia semakin mendekat, dia ingin mengambil tangan Indah.

__ADS_1


"Jangan sentuh gue kereta." Indah mengangkat tangannya, diletakkannya didepan dada, berpangku pada tangan yang satunya.


"Aku akan setia menunggu In, sampai kamu siap, sampai kapanpun, tapi, jika kamu tetap tak berubah, dan memilih untuk tetap bersama laki-laki miskin itu, aku pastiin, hidupnya tidak akan tenang, dan juga sepupu kamu, serta usaha orang tua Anggun. Nasib mereka ada ditangan kamu." Ancam Thomas, ini jalan satu-satunya yang Thomas pilih. Sepertinya Indah sudah begitu mencintai Abdi.


"Sinting lo ye, jangan pakai kekuasaan untuk ngancam orang Thomas, pakai kekuasaan lo buat kebahagiaan lo sendiri. Kalo emang lo nggak mau bertanggung jawab atas Selly, gue masih bisa bantu dia. Nggak usah lo ngancem-ngancem begitu, nggak ngaruh buat gue, dan gue nggak takut sama anceman lo. Lo jual gue beli. Dengan lo bersikap kayak gini, gue nggak akan milih lo sampai kapanpun."


Thomas terpancing, bukan ini jawaban yang dia mau, dia memberi waktu pada Indah. Agar Indah memikirkan dulu jawabannya, tapi Indah malah menjawabnya sekarang. Thomas seperti lupa akan janji pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh Indah, tapi jika Indah sudah menolaknya mentah-mentah begini, Thomas harus mengambil jalan pintas. Bukan dia yang mengajak Indah kesini, tapi Indah sendiri yang datang, hanya sedikit dia memancing lewat Selly, nyatanya Indah datang sesuai dengan rencananya.


Ditambah Indah menolak semua harta yang dia tawarkan, malah memilih Abdi yang lebih miskin darinya.


Thomas mendekat, dia menarik tengkuk Indah untuk ia cium bibir yang sudah menolaknya itu. Hanya dengan membuat Indah menjadi miliknya seutuhnya, Indah tak akan kembali bersama Abdi lagi. Namun Thomas ternyata tidak mengenal Indah, dengan sigap Indah menutup wajahnya dengan tas miliknya, lalu Indah menendang harta berharga Thomas. Tentu Thomas kalah dan meringis karena kesakitan. Tendangan Indah cukup kuat.


Indah mengambil kesempatan saat Thomas kesakitan, dia berlari kearah dapur, mencari benda tajam yang bisa dia gunakan untuk membela diri. Mata Indah terus mencari benda itu, Indah berlari kesana-kemari, mengeluarkan semua alat-alat masak Thomas yang hanya terdapat piring dan sendok. Indah tak putus asa, dia terus membuka rak-rak, dapur Thomas, nihil, Thomas seperti sudah menyimpannya, seakan tahu akan yang terjadi.


"Sialan Thomas." geram Indah. Mata Indah tertuju pada kursi tinggi bar yang ada di pantry. Beruntung kaki kursi itu berbahan besi.


"Jangan In, jangan gila kamu, ini akan mengundang perhatian orang-orang." pinta Thomas, dia mencoba mendekat kearah Indah.


"Jangan ngedekat Thomas, gue bakal pecahin beneran, lo yang bikin gue kayak gini, lo coba ngelecehin gue." teriak Indah, Indah sambil menahan nyeri perutnya yang semakin menjadi.


Tiba-tiba pintu apartemen Thomas terbuka, dua orang pengawal Thomas masuk.


"Bos." ujar kedua pengawal tersebut yang terkejut melihat Thomas kesakitan.


"Jangan hiraukan aku, cepat, tangkap Indah jangan sampai menyakitinya."

__ADS_1


Kedua pengawal Thomas mengangguk berlari kearah Indah, membuat Indah panik. Sebelum tertangkap Indah harus berbuat sesuatu. Tanpa pikir panjang, Indah mengayunkan kursi dipegangnya.


Praaaangg


Praaanggg


Kedua pengawal Thomas kalah cepat.


Pintu kaca itu sudah terpecah dengan sekali hantaman kursi Indah, Indah berlari menerobos pecahan-pecahan kaca tersebut, Indah melompat, menghindari pecahan bawah pintu yang masih tersisa kaca yang tajam.


Sroottttt


Tubuh Indah merosot menghantam serpihan kaca. Tubuh Indah terbentur pagar pembatas balkon. Untung pembatas balkon tersebut bawahnya terdapat sedikit tembok, jika tidak, Indah sudah dipastikan jatuh dari lantai tertinggi apartemen itu.


Thomas dan kedua pengawalnya terkejut akan tindakan Indah. Ini bisa jadi masalah untuk Thomas. Indah ternyata lebih nekat tak seperti yang dia bayangkan.


"Indah."


Thomas panik, tubuh Indah kini banyak luka. Namun gadis itu masih terlihat berusaha bangkit. Kepala Indah mendadak pusing, pandangannya lama kelamaan manjadi kabur. Terasa cairan merah seperti keluar dari segala arah, Indah merasakan sakit sekujur tubuhnya. Namun ada sesuatu yang keluar dari bawah inti Indah. Dan ...


Nginggg


Telinga Indah berdenging membuat semua menggelap, Indah ambruk, kembali mengenai serpihan kaca dibawahnya.


"Bodoh, dasar bodoh, kenapa kalian bisa kalah cepat." Thomas menendang kedua pengawalnya, sebelum mendekati Indah, dan membawanya kerumah sakit.

__ADS_1


Thomas membawa Indah melalui jalur khusus VVIP, dia menghindar agar tidak ada yang tahu kejadian ini. Sebisa mungkin Thomas menutup kasus ini, agar tak ada yang mengetahuinya.


__ADS_2