
"Don, Lo udah kirim penjualan kemarin ke email gue?" tanyanya pada Doni, orang kepercayaannya di cafe
"Udah mas"
"Ikut gue keatas, sama bawain latte dan chesscake" perintah Abdi pada Doni, ia lalu naik ke lantai dua dimana ruang kantornya berada.
Saat Abdi tengah melihat-lihat statistik penjualan selama dua bulan terakhir, terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk" ujarnya, dia tahu itu pasti Doni
Benar saja, Doni masuk membawa nampan berisikan makanan dan minuman yang dipesannya.
"Tumben mas sarapan kue, biasanya sarapan lele"
"Nggak sempet masak" bohongnya, ia masih tetap fokus pada layar laptopnya
"Makanya nikah mas, biar ada yang ngurusin, ada yang masakin, nggak kudu beli, walau mas udah punya gerai lele 24 jam, dirumah sudah siap tersedia, tanpa harus mesen dulu" nasihat Doni panjang lebar
"Nasibnya gue, punya bini takut lele, mana bisa gue makan lele buatan dia" Ingat Abdi pagi tadi, Indah yang melihat lele dikulkas saja sudah histeris, apalagi memasaknya
"Emang mba Anggun takut lele mas?" tanyanya, Doni menganggap istri yang dimaksud Abdi adalah Anggun, wanita yang Doni ketahui sebagai pacar Abdi, sebab Abdi beberapa kali membawa Anggun ke cafe ini.
Abdi menyesap kopi miliknya dan kembali fokus pada layar didepannya, namun otaknya tak bisa bekerja dengan baik, mendengar nama Anggun, dia memikirkan nasib hubungannya, dia harus cepat memilih, agar semua tak berlarut, dan harus menjadi laki-laki yang bertanggung jawab.
"Besok orang yang mau ngadain acara disini jadi kan?"
Abdi coba mengalihkan pembicaraan, Doni jika sudah bertanya melebihi wartawan, detail. Abdi takut keceplosan, dia harus merahasiakan pernikahannya dulu dengan Indah, sebab dia belum menyelesaikan hubungannya dengan Anggun.
"Jadi mas, mereka booking selama dua jam"
Abdi mengangguk mendengar penjelasan Doni
"Oke, kapan pihak dekor mau pasang dekorasinya?" Abdi kini beralih menatap Doni.
"Besok pagi-pagi, soalnya bunga yang diminta juga bunga asli, dan harus masih seger, makanya pasangnya dadakan, mereka kan acaranya jam 4 sore, kalo pasang pagi masih keburu"
"Sepertinya clien kita yang sekarang bukan orang biasa, besok gue akan kesini lebih awal, jangan sampai mereka kecewa"
"Baik mas, saya juga akan mengusahakan yang terbaik"
__ADS_1
"Good, gue selalu suka sama cara kerja Lo"
"Mas bisa aja, kan dari sini saya bisa nikah mas, sampai sekarang saya udah mau punya anak dua, tapi mas masih jomblo"
"Anyiing" umpat Abdi, seraya melempar pulpen yang ada ditangannya, beruntung Doni dalam posisi sigap, jadi dia bisa mengelaknya.
"Udah keluar sana, gue mau kerja" usirnya.
"Mas nanti kalo mas nikah, saya kadoin roti lele mas, buka roti buaya, soalnya mas kan lele, bukan buaya" ledek Doni kembali sebelum ia keluar dari ruangan atasannya itu.
"Bangsat, cepet kerja, apa mau posisi Lo diganti sama orang yang lebih kompeten?"
"Jangan mas" Doni lalu benar-benar menghilang dari balik pintu yang tertutup.
Abdi tertawa kecil, dulu dia yang sering diancam Rasya, sekarang malah dia yang mengancam bawahannya, emang enak ya jadi atasan, walau usahanya belum begitu besar, namun sudah milik sendiri. Abdi berpikir sejenak, apa dia harus menghubungi sahabatnya itu ya, untuk memberi tahu jika dia sudah menikah? No.... tidak untuk sekarang, nanti jika semua sudah selesai, dia akan membuat resepsi, baru akan memberi tahu sahabatnya itu.
Abdi kemudian mengambil ponselnya yang ia taruh dilaci, menggulir tombol, mencari nama yang akan dia hubungi.
Tiga kali suara panggilan mengudara, baru mendapat jawaban.
"Mas" ujar suara manja itu
"Nggun, aku ganggu"
"Hari ini ada waktu?, mas pengen ketemu"
"Kalo sore gimana mas, Anggun lagi banyak kerjaan"
"Jam brapa"
"Jam 6an, bisa mas"
"Okeh, aku tunggu"
"Okeh mas, see you bye"
"See you"
Diapartemen, jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Indah yang sudah selesai merapikan kamar, dan sedikit berbenah merasa bosan, setelah menghubungi Ibunya, dia tak ada lagi kegiatan yang akan dikerjakannya. Indah mencoba keluar, dia ingin berjalan-jalan, melihat-lihat sekitaran apartemen ini. Ia berjalan menyusuri koridor apartemen lantai disana, berjalan dari ujung ke ujung, dan menghitung jumlah kamar yang ada dilantai itu.
__ADS_1
Sesekali dia berpapasan dengan para penghuni unit yang ia lewati, namun dia mencoba berpura-pura tidak sedang menghitung, nanti kelihatan kan noraknya. Diantara mereka ada juga yang menatap Indah aneh, kayak orang nyasar, padahal dianya saja yang iseng, nggak ada kerjaan.
Setelah sampai diujung, gadis berparas manis itu kembali lagi menghitung jumlah kamar yang ada dilantai yang sama yang ia tempati.
"Ini gue salah ngitung nggak sih?" tanyanya pada diri sendiri, berhenti sejenak, melihat kebelakang, sambil menghitung ulang kamar yang padahal sudah dihitungnya dengan jari telunjuknya.
"Bener gue nggak salah itung" menggaruk keningnya yang tak gatal.
"Astaga ini yang punya siapa ya? satu lantai ada 20 kamar, kalo satu kamar harganya, minimal 500 jut, dan ini ada 17 lantai! Oemji Oemji, daebak sih ini, ya ampun, gue bisa mati kelojotan ngitung penghasilan dia perbulannya"
Indah ngomong sendiri kayak orang gila, kelihatan sekali kalo dia baru pertama masuk apartemen, dan pastinya dia nggak ada kerjaan sama sekali, menghitung uang yang bukan miliknya, malah membuat kepalanya pusing sendiri. Indah menggelengkan kepalanya, tak terbayang kekayaan pemilik apartemen ini.
"Tapi sayang, mereka kaya, mandi nggak pakai gayung" gumamnya, padahal dia yang norak, nggak pernah mandi langsung pakai shower
Kini Indah berdiri tepat didepan unit yang ditempatinya, Indah menandai unit itu dengan jepit rambut klip warna kuning miliknya, sengaja agar dia tidak salah masuk kamar, soalnya dia sangat pelupaan.
Gadis yang siang ini memakai kaos coklat dengan celana kulot berwarna putih itu menunduk, mengambil jepit rambut itu, lalu menyelipkan pada rambut sebelah kanannya, ingat ya, Indah tidak berponi, rambut coklat sebahu dengan ujungnya yang agak ikal alami.
Saat dia berdiri, pintu unit sebelahnya terbuka, menampilkan sosok laki-laki mata sipit dengan badan tegapnya. Laki-laki itu menatap heran kearah Indah, lalu dia menatap pintu unit milik Abdi yang masih tertutup.
"Mba mau kesini?" tanya laki-laki itu, Indah hanya menjawab dengan anggukan, dia siaga, tak mau bicara pada orang asing, seperti anak kecil takut diculik.
"Kalo jam segini biasanya Abdi ada di cafe, mba siapanya?" Indah tetap tak menjawab, dia memasang wajah tegang, namun laki-laki itu dapat menangkap ekspresi Indah, dia lalu tertawa kecil
"Ya Ampun mba, mba takut ama saya?" laki-laki itu menunjuk dirinya sendiri "Tenang, saya bukan orang jahat mba, saya temannya Abdi, kenalkan nama saya Chio" dia mengulurkan tangannya, namun sayang, Indah tak menyambutnya.
"Maaf saya tidak boleh bicara dengan orang asing, permisi"
Tanpa rasa dosa, Indah membuka pintu, meninggalkan Chio yang tangannya masih mengulur, lalu masuk segera menutup pintunya kencang, sengaja biar laki-laki itu takut padanya, yang tanpa dia sadari, tingkahnya malah membuat orang lain gemas.
"Lucu banget sih, ponakannya Abdi kali ya?" Dengan masih terus tersenyum Chio meninggalkan unitnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Ada yang inget Chio teman Mawar? dicerita Mawar badannya gempal, disini dia udah fitnes, badannya kekar berotot, jadi mas ganteng banyak saingannya.. hehehe