
Hari ini Abdi kembali meninjau pabriknya yang sudah rampung. Abdi datang bersama Doni, juga Naima yang bersama asistennya. Abdi mengelilingi pabriknya yang sudah siap pakai itu. Pabrik dengan luas bangunan 3500m2 itu terdiri dari dua lantai.
Di lantai bawah, dialokasikan sebagai tempat produksi, pengemasan, ruang beku steril, dan gudang tempat penyimpanan bahan baku. Sedang lantai atas difungsikan sebagai kantor, laboratorium, ruang gizi, serta ruang istirahat atau mes bagi para pekerja khusus seperti para peneliti yang bertugas mengontrol kehigienisan produk.
Setelah mengelilingi pabriknya, Abdi sedikit berbincang dengan Naima.
"Terima kasih Bu Naima, semua sesuai dengan yang saya inginkan. Semuanya rapi, bersih, dan selesai lebih cepat dari waktu yang ditargetkan. Senang bisa bekerja sama dengan Ibu" puji Abdi kecepatan kerja Naima.
Ya, Naima memang dari dulu selain cantik, dia juga pintar, pekerja keras, setiap melakukan pekerjaan, selalu cepat dan tak mengecewakan.
"Sama-sama Pak. Saya juga senang bisa bekerja sama dengan Anda." Naima sedikit menggigit bibirnya "Semoga usaha Pak Abdi berjalan lancar."
"Baik Bu, terima kasih. Saya tinggal dulu."
Karena merasa tak ada lagi yang ingin dia bicarakan. Abdi kembali berjalan menuju ruang meeting, disana sudah ada beberapa orang yang menunggunya, yang sudah Abdi buat janji untuk membahas segala keperluan dan persiapan pembukaan pabrik nanti.
Sepeninggal Abdi, Naima tak lantas pulang, dia sengaja menunggu Abdi selesai dengan acara meetingnya. Dia mengamati Abdi dari luar kaca ruang meeting itu, memperhatikan setiap gerakan Abdi saat Abdi tengah berdiskusi dengan rekan kerjanya, membuat Naima terpana. Dari dulu Abdi memang memiliki daya tarik dan pesonanya sendiri. Walau dia hanya mengenakan kemeja hitam polos tanpa jas, tapi tak menghilangkan ketampanan wajah Abdi.
Ahh, andai saja dulu ayahnya tak menolak lamaran Abdi, saat ini mereka pasti sudah memiliki anak-anak yang lucu, dan menjadi keluarga yang bahagia. Dan dia pasti tak akan menjadi janda karena penghianatan suaminya.
Naima kembali mengingat saat-saat mereka masih berpacaran dulu. Saat mereka sama-sama tinggal dan menempuh pendidikan diluar negeri, selama berpacaran Abdi tak pernah menyentuhnya lebih dari ciuman. Walau dia tinggal di negara yang bebas dan memiliki masa lalu yang kelam. Abdi adalah laki-laki yang sangat menghormati wanita, sangat terlihat jika dia begitu menyayangi Naima, Abdi selalu bersikap manis dan hangat tanpa melewati batas.
Naima tahu, betapa hancurnya Abdi saat mereka terpaksa usai dulu. Abdi kembali pada dunianya, kembali menginjakkan dunia kelam yang mati-matian dulu Abdi tinggalkan.
"Bu, Ibu belum mau pulang?, supir Ibu sudah menunggu didepan." asisten Naima membuyarkan lamunannya.
"Astaga, aku sampe lupa kamu masih ada disini Lun" Naima mengalihkan pandangannya dari Abdi, takut Luna tahu jika sedang memperhatikan Abdi.
Luna menahan senyum "Pak Abdi emang keliatan tampan ya Bu" ucapan Luna mematahkan Naima yang mengira Luna tak tahu apa yang tengah dia pikirkan.
"Kamu ngomong apa sih Lun?" Naima melihat jam ditangannya. "Lun kamu pulang duluan aja sama supir aku, aku masih ada urusan. Nanti aku bisa naik taksi online."
"Tapi kata supir Ibu, Zidan juga ikut"
Naima memijit keningnya, rencananya dia ingin minta diantar Abdi pulang gagal sudah.
"Sama Bapak juga Bu." lanjut Luna.
"Hah?" Naima terkejut. "Papa juga ikut?"
__ADS_1
"Iya" jawab papa Naima yang tiba-tiba saja sudah ada dibelakangnya dan menggandeng Zidan.
"Papa kok ikut kesini?" tanya Naima heran.
Tak menjawab, papa Naima malah bicara pada Luna "Lun, kamu pulang duluan saja ya. Kalian sudah selesai kan?"
"Iya Pak" jawab Luna seraya mengangguk, lalu dia pergi meninggalkan dua
"Pa, kok Papa ikut kesini sih?" rajuk Naima yang merasa kehadiran papanya malah merusak rencananya.
"Kenapa? kamu kelihatan nggak suka."
"Bukan Pa." Naima melambaikan tangan pada Zidan, agar Zidan mendekat padanya.
"Papa tahu apa rencana mu."
Naima mencebikkan bibirnya "Papa sok tahu"
"Tapi Papa punya rencana lain, yang Papa yakin kamu suka dengan rencana Papa." ucap papa Naima dengan mengalihkan pandangannya pada Abdi yang masih fokus pada meetingnya.
* * *
Ayah Naima segera menghampiri Abdi yang terpaku ditempatnya. Laki-laki itu bersikap ramah dan baik pada Abdi, seperti malam dimana Abdi mengantar Naima untuk pertama kali. Ayah Naima kini mengundang Abdi untuk makan malam bersama, sebagai perayaan keberhasilan kerja sama mereka.
"Kami menunggu kedatangan mu Abdi, untuk mempererat kerja sama kalian kedepannya, jangan tidak hadir ya." ucap ayah Naima menepuk pundak Abdi.
"Ah sebenarnya nanti malam saya tidak bisa Pak" tolak Abdi. Namun penolakan Abdi membuat Zidan menangis.
"Kalau om papa tidak datang, Zidan nggak mau makan dan sekolah, Zidan maunya nanti malam om papa datang."
Abdi dan Doni sontak saling pandang mendengar panggilan bocah itu.
"Om papa" gumam Abdi dan Doni bersamaan.
"Maaf Pak Abdi, sejak Pak Abdi membantu Zidan yang di bully temannya disekolah, Zidan jadi menyukai Bapak" ucap Naima tak enak hati.
Abdi meringis menatap Doni, sedang Doni mengalihkan pandangannya seraya menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali, enggan ikut campur dengan masalah yang menimpa atasannya ini.
Abdi menggaruk pangkal hidungnya "Nggak papa"
__ADS_1
Abdi membungkukkan badannya mensejajari wajah Zidan "Zidan anak pintar, oke, nanti malam om_ papa akan datang. Jadi Zidan nggak boleh nakal ya, Zidan harus makan dan nggak boleh nangis, masa jagoan nangis" Abdi mengusap kepala Zidan.
"Bener ya, om papa nanti malam datang?"
"Iya, om pasti datang." Abdi mencubit gemas hidung Zidan.
Anak itu langsung tersenyum sumringah mendengar jawaban Abdi. Kemudian dia menggandeng tangan kakeknya lagi. Dan mengajak kakek dan mamanya pulang, menyiapkan untuk acara makan malam mereka nanti. Naima berpamitan pada Abdi dan Doni, seraya meminta maaf atas kelakuan Zidan.
"Kok aku ngeliat keluarga Bu Naima ke mas Abdi beda ya" ucap Doni saat mereka berjalan menuju mobil mereka.
"Beda gimana?" tanya Abdi tak paham.
"Ya beda lah mas pokoknya."
"Itu hanya perasaan lo aja Don"
Doni mengendikkan bahunya. "Mas Abdi sama Bu Naima sudah kenal lama mas?"
Tangan Abdi yang sudah akan membuka pintu mobilnya seketika terhenti mendengar pertanyaan Doni.
"Dia mantan gue Don, zaman kuliah dulu." setelah menjawab itu Abdi langsung masuk ke mobilnya, tanpa melihat wajah terkejut Doni.
* * *
Akhirnya makan malam yang dinantikan oleh Naima terlaksana juga. Dia tak menyangka jika papanya merencanakan ini semua, sampai papanya mengajarkan Zidan untuk memanggil Abdi dengan panggilan 'om Papa'. Beruntungnya Zidan mau diajak bekerja sama, dan memang sebenarnya Zidan sudah menyukai Abdi saat Abdi menolongnya dipuncak waktu itu.
"Pa, kenapa Papa ngerencanain makan malam ini? pake modus perayaan kerja sama lagi." tanya Naima, kini mereka tengah menunggu kedatangan Abdi direstoran yang dijanjikan ayah Naima.
"Papa rasa Abdi bukan laki-laki yang buruk seperti yang Papa kira dulu. Dan akhir-akhir ini, semenjak kamu ada kerja sama dengan Abdi. Kamu terlihat lebih bahagia, dan Zidan, dia sering menceritakan tentang Abdi ke Papa."
"Apa? Zidan suka cerita ke Papa tentang Abdi?
"Iya, sepertinya Zidan menyukai Abdi. Papa yakin, pertemuan kamu dengan Abdi kali ini bukan cuma sebuah kebetulan, tapi mungkin takdir kalian yang memang belum usai." Ucap ayah Naima dengan tersenyum penuh keyakinan.
.
.
.
__ADS_1
Like, komen, dan subscribe eh vote maksudnya ðŸ¤ðŸ˜‚