Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 80


__ADS_3

Sepanjang lorong rumah sakit Indah terus memikirkan Zidan, Indah merasa kasihan, dia yang tak bisa hamil sangat ingin memiliki anak, kenapa ada wanita beruntung bisa memiliki anak malah menyiksa anaknya.


Indah terus berjalan dengan terus memikirkan Zidan, sampai saat dia sampai diparkiran, Indah mendengar orang yang sedang berbicara melalui panggilan udara.


"Kamu tarik semua mesin yang ada di pabrik Abdi, jika dia tak mau menikah dengan Naima, buat hancur semua usahanya. Karena dia telah membuat hancur hidup anakku."


Indah sontak menghentikan langkahnya mendengar nama suaminya disebut orang yang entah siapa dia tak tahu.


Indah celingukan mencoba mencari orang yang sedang berbicara tadi. Indah terus menajamkan pendengarannya, siapa tahu dia bisa mendengar lagi perbincangan orang tersebut. Namun sayang, tak ada percakapan apa-apa lagi. Dan kemudian terdengar suara mobil yang keluar dari parkiran.


"Sial, aku nggak sempet lihat mukanya" tapi yang Indah tangkap itu pasti ayah Naima. Apa Indah salah orang, tentu dia tidak salah, tidak mungkin nama yang sama hanya kebetulan.


"Ya Tuhan, mas ternyata kamu sedang banyak masalah"


Indah benar-benar nggak nyangka sih, dibalik ketidak sempurnaanya, ternyata banyak orang yang ingin memisahkan hubungannya dengan Abdi.


Kalau Indah tetap mempertahankan rumah tangganya, Indah merasa jika dia adalah wanita paling egois, bukan hanya Abdi yang menderita, tapi juga Zidan, anak kecil yang tak tahu apa-apa.


Indah pikir dia tak memiliki mertua, rumah tangganya dengan Abdi akan adem ayem tentram, karena tak ada yang mendesak Abdi untuk memiliki anak, ternyata Indah salah, masalah bisa datang dari arah mana saja, tanpa bisa diduganya.


"Aku salah apa sih?" Indah mendudukkan pantatnya di halte depan rumah sakit. "Karma apa yang sedang aku jalani, sampai aku harus nerima semua ini?" Indah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Dia sudah tak bisa lagi menangis, dia ingin melawan dan memberontak, tapi pada siapa? ingin rasanya Indah berteriak sekencang mungkin, agar bisa meluapkan segala yang ada dalam hatinya.


Lama Indah termenung, memikirkan nasib rumah tangganya kedepan. Ia lalu membuka hapenya, Indah melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Abdi. Lalu Indah membuka pesan dari suaminya itu.


Misua : Es teri, aku udah didepan sekolah, kamu udah pulang belum?


Misua : Kamu kok nggak keluar-keluar sih, inget ya, aku bisa melacak kamu dimana aja. 😠😠


Misua : Aku udah bilang, kalau pulang sekolah langsung pulang kalo nggak aku jemput, kenapa malah pergi nggak pamit?


Indah memejamkan matanya membaca rentetan pesan yang dikirimkan Abdi padanya. Sakit rasanya, jika dia mempertahankan Abdi, yang ada Zidan dan Abdi akan terus menderita karenanya. Setelah dulu Thomas yang membuat Abdi terus menderita, sekarang malah orang dari masa lalu Abdi. Indah pikir semua telah berakhir, nyatanya masalah seperti silih berganti ingin memisahkan dia dan Abdi.


Semempermainkan inikan takdir rumah tangganya?


Saat ini Indah tak ingin bertemu dengan Abdi terlebih dahulu, Indah mematikan henponya, dia masih belum siap, jika menatap wajah Abdi, yang ada dia seperti melihat dirinya sendiri menabur benih penderitaan untuk suaminya.


Indah terus menunduk, melihat kakinya yang terus berayun menggesek ubin halte, memikirkan bagaimana dia bisa membujuk Abdi untuk mau menikah dengan Naima. Dan dia tanpa merasa sakit dan kehilangan, tapi itu mustahil, Indah pasti berat menjalani hari-harinya tanpa Abdi.

__ADS_1


"Kenapa malah duduk di halte kayak gini? apa lagi nunggu orang yang bisa antar kamu pulang?" Indah mendongak, menatap wajah orang yang sedang berbicara padanya.


"Mas?"


Indah terkejut, kenapa bisa Abdi tahu dia ada disini.


"Kenapa, kaget? kan aku udah bilang, kalo aku bisa ngelacak kemanapun kamu pergi." Abdi berkacak pinggang, sangat marah dengan sifat Indah.


"Cepat masuk es teri, aku nggak mau punya istri yang makin hitam,"


Indah mengerucutkan bibirnya mendengar penuturan Abdi. Tak membantah, Indah nurut, dia masuk ke mobil suaminya yang masih menyala berhenti tak jauh dari halte. Disusul oleh Abdi yang kemudian masuk, dan duduk dibalik kemudi.


"Kalo sampe tadi mobil diderek petugas, kamu yang harus tanggung jawab." ucap Abdi seraya melajukan mobilnya.


"Kita makan bakso ditempat kamu biasa yuk, aku lagi pengen yang pedes-pedes ini." Abdi menoleh, melihat Indah yang sejak tadi hanya diam.


Dan akhirnya istrinya mengangguk, menyetujui permintaannya.


Saat telah sampai ditempat bakso tujuan mereka, Indah terus memperhatikan wajah tampan Abdi yang sedang menyembunyikan banyak masalah.


"Mas, antara aku dan semua yang mas miliki di dunia ini, mana yang mas pilih, aku apa usaha mas?" tanya Indah tiba-tiba.


"Jawab aja mas."


"Dua-duanya"


"Mas sayang aku kan?" tanya Indah lagi tak kehabisan akal.


"Pertanyaan kamu ngelantur banget sih es teri."Abdi mencondongkan tubuhnya, mengangkat tangan dan meletakkan telapak tangannya di kening Indah. "Normal tapi." setelah menurunkan tangannya Abdi mengelap tangannya dengan celana bagian belakang.


"Mas, kening aku steril loh." Abdi terkekeh mendengarnya.


Obrolan mereka terhenti saat penjual bakso mengantarkan pesanan mereka.


"Neng Indah udah lama nggak kesini" ucap pedagang itu.


"Iya mang."


"Kalo Anggun gimana kabarnya?" tanyanya lagi

__ADS_1


"Anggun baik mang."


"Sudah lama nggak keliatan, neng Indah makin cantik." pujinya, dan hal itu membuat Abdi melotot padanya.


"Becanda atuh mas kasep, bukan serius" jelasnya "Ini suaminya neng Indah?, duh ganteng kayak pemain sinetron." pujinya jujur, lalu pedagang tadi berlalu dengan tawa yang berderai.


Indah dan Abdi langsung memakan bakso mereka, tak Indah sangka, Abdi memasukkan lima sendok sambal kedalam mangkuk miliknya, dan dengan saos yang tak kalah banyak.


"Mas nanti perut kamu sakit loh makan terlalu pedes gitu"


"Nggak sayang, aku bener-bener lagi pengen pedes." Abdi mengaduk-aduk bakso miliknya.


"Kamu kayak lagi ada masalah berat mas, makan pedas."


Abdi menghentikan gerak tangannya "Emang orang yang lagi ada masalah aja yang boleh makan pedas?" jawab Abdi santai.


Indah tak menjawab lagi, dia memilih memakan bakso miliknya.


Setelah makan bakso, Abdi mengajak Indah pergi ke pantai. Dia ingin menghilangkan penatnya dengan berjalan-jalan dengan istrinya. Abdi merogoh paper bag yang ada dibangku belakang.


"Kamu nanti ganti baju gih, aku tadi dah beliin buat kamu." Abdi memberikan paper bag tadi.


"Niat banget mas kamu, ampe beliin baju juga, ini muat nggak nanti" Indah melongok kedalam paper bag itu.


"Aku yang beli, nggak pernah salah." kerling Abdi sebelah matanya.


Kini Indah telah mengganti pakaiannya, mereka berjalan menyusuri jembatan yang ada dipantai kota itu. Tangan Abdi tak lepas terus menggenggam tangan Indah. Istrinya terlihat sangat manis dengan dress flower selutut pilihannya. Rambut Indah yang tertiup angin terus mengenai wajahnya.


"Mas, kamu kayak lagi nyembunyiin sesuatu dari aku." Indah menghentikan langkahnya, dia menyenderkan punggungnya pada pembatas jembatan.


Abdi ikut menyender disebelah Indah, dia menatap wajah istrinya. "Aku cuma takut kehilangan kamu." ucapnya menatap lekat ke Indah.


"Aku bisa bantu kamu apa mas?, jika aku bisa bantu, kamu jujur aja, dan aku janji nggak akan ninggalin kamu."


"Tapi aku nggak yakin sayang, kamu bakal bertahan" Abdi mengambil tangan Indah, meminta Indah untuk melihat kearahnya.


"Apapun itu mas, aku janji akan bertahan,"


"Boleh aku menikah lagi, tapi ini untuk sementara. Aku janji, jika masalah ku selesai. Aku akan menceraikannya. Ini bukan perkara keturunan sayang, ini demi masa depan kita."

__ADS_1


Pinta Abdi dengan permohonan, jika saja kaki Indah bukan terbuat dari tulang, mungkin dia akan roboh saat ini juga mendengar permintaan suaminya yang padahal dia juga akan siap jika suatu saat ini terjadi. Nyatanya, setelah mendengar itu terucap secara langsung dari Abdi, Indah tak kuat.


__ADS_2