
Malam semakin larut, sebagian banyak orang sudah terlelap dalam alam mimpinya. Tapi tidak dengan Indah dan Abdi, kedua insan yang sedang pisah ranjang ini nampak gelisah, mereka tak bisa memejamkan matanya barang sedikitpun, biasanya mereka bisa tidur saling berpelukan, ya ... paling tidak juga, mereka bisa menghirup aroma tubuh masing-masing yang sudah menjadi candu untuk keduanya.
Indah duduk, melihat Masnah yang sudah terpejam sejak tadi disebelahnya. Wajah itu begitu damai dan tenang, "Maaf ya Bu, Indah masih aja jadi beban buat ibu."
Indah memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut karena tak bisa tidur, dia menyibak selimut, memilih keluar untuk minum. Setelah menenggak air putih, Indah melangkah keruang tamu, mengambil remot tivi menyalakannya, dia berbaring di sofa, siapa tahu kan, biasanya kalau tiduran sambil nonton suka ketiduran sendiri, soalnya dia juga merasa pening, matanya ngantuk, tapi nggak bisa merem itu rasanya emang menyiksa.
Acara malam memang tidak ada yang bagus, merasa bosan, Indah terus mengganti channelnya, tangannya sesekali terangkat untuk menutup mulut yang menguap. Indah menghembuskan nafasnya berat. Ia membalikkan badannya melihat keatas tangga, kamarnya sudah terlihat gelap, berarti penghuni yang ada didalamnya sudah ngoroook. Ada rasa menyesal sih pisah ranjang, dia sendiri ternyata yang nggak kuat. Padahal bisa saja Indah naik, menyelinap tidur disamping suaminya, tapi Indah tahu, Abdi bukan tipe laki-laki yang kalau tidur ngebo, mereka kan sebenarnya memang pasangan yang kebalikannya, kalau Indah tidurnya ngebo, kalau Abdi, Indah geser sedikit saja dia tahu.
Kembali Indah menyentak nafas panjang, dia harus kuat, nanti juga dia terbiasa dengan keadaan yang seperti ini. Indah memegangi dadanya yang terasa sesak, tak kuat jika harus melepas Abdi dengan wanita lain, tapi ... Indah kembali menyadarkan dirinya, kalau Abdi berhak bahagia. Tak lama terdengar suara Abdi nampak sedang mengobrol dengan seseorang lewat panggilan udara, entah dengan siapa, tapi terdengar Abdi tertawa lepas, sepertinya yang mereka obrolkan sangat menyenangkan. Indah memilih mengabaikan itu, ia mematikan televisi beranjak kembali masuk kekamar. Namun tangan yang sudah memegang handle pintu terpaksa harus tertahan, saat mendengar obrolan Abdi.
"Iya Nai, iya nggak papa, makasih banyak ya"
"...."
"Selamat malam."
Degh
Jantung Indah seketika melemas mendengar selamat malam yang begitu lembut Abdi ucapkan, benar dia mau melepas Abdi, tapi tak secepat ini.
"Kenapa kamu nggak kasih aku waktu mas?"
Ingin rasanya Indah naik keatas dan langsung menanyakan pada Abdi tentang nama yang Abdi sebutkan tadi, jika memang Abdi ada niatan ingin menikah lagi, Indah tidak masalah, dia memang mencoba ikhlas dan menerima keadaannya, tapi kenapa Abdi tak berunding denganya dulu. Abdi bersikap seolah-olah setia dan tak ingin meninggalkan, namun dibelakang Indah dia malah diam-diam bermain hati.
Tak mau menyakiti hati lebih dalam, Indah memilih masuk ke kamar ibunya. Entah sampai jam berapa Indah bisa tertidur, namun akhirnya dia terlelap setelah lelah memikirkan nasibnya kedepan. Tujuan hidupnya saat ini adalah ibunya, mau sepahit apa masalah rumah tangganya dengan Abdi, Indah tak perduli, dia akan membangun masa depannya bersama Masnah, wanita yang telah melahirkannya, dia harus membahagiakan ibunya, toh nyatanya ibunya bisa hidup bahagia tanpa pendamping disisinya.
__ADS_1
* * *
Jam lima subuh, seperti biasa Abdi sudah sibuk di dapur membantu Masnah, dia bukan bangun cepat, tapi memang dia tidak bisa tidur sama sekali, memikirkan Indah yang memilih tidur bersama ibunya.
Mata Abdi memerah dan lelah, terlihat jelas jika dia memang tidak tidur semalaman.
"Kamu kayak masih ngantuk Di? udah sana naik, biar ibu yang masak." titah Masnah.
"Nggak papa Bu, demi istri tercinta, Indah harus makan masakan suaminya, biar nggak kepincut sama lelaki diluar sana." Kelakar Abdi.
Masnah menanggapi candaan menantunya dengan tertawa"Kalian ini kebalik, harusnya Indah yang bilang begitu." Masnah menggelengkan kepalanya. "Andai saja Indah wanita yang sempurna, kalian pasti pasangan yang sangat bahagia."
Abdi yang sedang memotong wortel untuk sayur sop seketika berhenti. Dia membalikkan badannya untuk melihat ibu mertuanya yang sedang mencuci beras di wastafel.
Mendengar ucapan Abdi yang seperti menyakinkan, Masnah balik menatap wajah anak menantunya.
"Apa kamu tidak mau menikah lagi Di?." Masnah menatap mantap iris coklat mata Abdi, mencari kejujuran dari jawaban Abdi "Kamu tidak mau memiliki keturunan? kamu pengusaha, siapa yang akan meneruskan usahamu, jika kamu tidak memiliki anak? lagi pula kamu kaya, tampan dan mapan, pasti banyak perempuan diluar sana yang mau sama kamu."
Abdi menundukkan wajahnya, menipiskan bibir menjadi segaris untuk menjawab pertanyaan mertuanya yang menuntut jawaban pasti.
"Aku serahkan semua pada yang diatas Bu, aku tidak bisa menjawab pertanyaan ibu saat ini." jawab Abdi dengan masih tertunduk.
Masnah mengangguk, dia sudah tahu jawaban Abdi yang sesungguhnya, memang masih tersirat keraguan, biarlah waktu yang menjawab keraguan ini. Dan dia berharap, Indah diberikan hati yang lapang menghadapinya.
* * *
__ADS_1
"Es teri, kamu makan yang banyak ya, biar semok lagi kayak dulu." ucap Abdi sambil memasukkan potongan ayam goreng ke dalam piring Indah.
Dia bersikap romantis seperti tak ada Masnah didepanya. Dan Masnah hanya memperhatikan setiap yang Abdi lakukan pada Indah, ya, dia hanya berperan sebagai penonton, begitulah kira-kira.
Indah yang diperhatikan sedemikian rupa menjadi yakin, jika yang dilakukan Abdi hanyalah untuk menutupi kebohongan yang dia lakukan. Indah jadi teringat obrolan Abdi semalam dengan seseorang, dia kembali mengingat nama yang disebutkan oleh Abdi, dia seperti pernah mendengar nama itu, entah siapa, sayangnya Indah memiliki sifat pelupa. Jadi tak bisa mengingat nama itu.
Abdi terlihat begitu semangat, sebab dia ingin menebus kesalahannya kemarin pada Indah, karena telah makan malam bersama Naima tanpa sepengetahuan Indah.
Indah memakan makanan yang disiapkan oleh suaminya dalam diam, tak ingin menanggapi Abdi yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Gimana, masakan aku selalu enakkan?" tanya Abdi "Kamu makanya diem aja, terlalu menghayati masakan aku ya?" ucapnya lagi percaya diri.
Indah terdiam, sudah biasa sih Abdi bikinin sarapan untuk dia selama dia sakit, tapi hari ini, Abdi masih sempat masakin lagi?, berarti Abdi semalam tidur nyenyak. Indah menjadi kesal, bisa-bisanya Abdi tidur nyenyak dimalam pertama mereka pisah ranjang, sedang dia tak bisa tidur hingga menjelang pagi.
"Oh ya es teri, besok sidang putusan, semoga hasilnya sesuai yang kita harapkan."
"Besok mas?" tanya Indah.
Abdi mengangguk "Iya."
Indah mengigit bibir bawahnya, dia sebenarnya tak yakin jika Thomas akan mendekam lama. Mulut Indah yang sudah terbuka hendak bicara lagi, namun harus tertunda sebab ponsel Abdi berdering.
Melihat nama Naima yang tertera disana, Abdi langsung mengambil ponselnya cepat, takut Indah membaca nama kontak itu, Abdi tak mau pikiran Indah kembali kacau.
Abdi berdiri, dia permisi pada Indah sebelum menjauh untuk menjawab panggilan Naima.
__ADS_1