
Pagi yang cerah, secerah hati kedua insan yang sedang berbahagia. Bagaimana tidak bahagia?, karena baru saja mereka selesai melakukan kegiatan yang begitu menguras keringat dan tenaga, padahal semalam mereka telah melakukannya.
"Es teri, mandi bareng ya?." pinta Abdi, dia memiringkan tubuhnya, menopang kepala menggunakan siku, memperhatikan wajah polos Indah yang terlihat semakin manis.
"Nggak mau, nanti mandinya lama, pake acara berenang dulu"
"Kamu semalam hebat es teri."
Indah menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Abdi, dia malu, mengingat betapa liarnya dia semalam, Abdi sampai kewalahan menghadapi serangan Indah.
Sentuhan kulit mereka yang memang tidak memakai sehelai benangpun malah membangkitkan sesuatu yang telah tidur, Abdi menyibak selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Dia tak malu lagi memperlihatkan lelenya yang bergelayut itu terpampang jelas. Dengan sigap dia menggendong tubuh kecil istrinya.
"Aww, mas" pekik Indah, dia terkejut Abdi yang tiba-tiba menggendongnya.
Tak Abdi hiraukan pekikan Indah, dia terus membawa sang istri ke kamar mandi yang masih memberontak, memukuli dadanya. Lalu meletakkannya didalam buth up, Abdi mengisi air hangat untuk berendam keduanya, dan disana, terjadi lagi kegiatan panas yang kembali menguras keringat. Indah tak dapat menolak pesona lele sang suami, yang membuatnya makin ketagihan.
Setelah satu jam berlalu, kini mereka tengah sarapan bersama. Sarapan bubur ayam yang lewat didepan rumah.
"Enaknya tinggal di perumahan gini mas, banyak tukang dagang lewat, nggak harus turun lift dulu buat nyari sarapan, kalo orang yang kelaparan bisa pingsan duluan."
"Jaman sekarang serba mudah, bisa pesan online, ngapain ribet."
"Eh iya juga ya mas." Indah cekikikan malu, otaknya kadang nggak bisa mikir cepat.
Abdi hanya geleng kepala, lalu kembali menyuapkan bubur kedalam mulutnya. Saat sarapan mereka habis, Indah terlihat meringis, sembari memegangi perutnya.
"Kenapa?, kamu sakit?." tanya Abdi khawatir, dia langsung mendorong kursinya, menghampiri Indah.
"Kayaknya Indah mau datang bulan, emang suka kayak gini." Indah menggigit bibirnya, menahan rasa sakit.
"Emang sering begini?"
Indah mengangguk.
"Kita berobat ya"
"Nggak usah mas, mikmatnya jadi perempuan tuh begini "
Abdi hanya diam, dia tak terlalu banyak tahu tentang perempuan, juga tentang rasa sakit saat datang tamu bulan. Abdi menghela nafas, lalu dia mengusap punggung Indah, berusaha mengurangi rasa nyeri yang istrinya rasakan, dan Indah merasa nyaman dengan pijitan Abdi.
__ADS_1
"Kamu punya minyak angin, atau minyak kayu putih nggak?, buat olesin di perut kamu, biar rasa nyerinya reda, atau obat apa yang bisa ngilangin rasa sakitnya? biar aku beliin." ujarnya, tak tega melihat Indah yang terlihat menahan sakit.
"Nggak papa mas, Indah udah biasa begini."
"Tapi harus dikasih obat, biar nggak terus-terusan sakit,"
"Nggak papa mas."
"Kamu libur dulu ngajarnya, aku keluar sebentar, nanti aku balik lagi."
Indah mengangguk, iya, sebaiknya dia istirahat dulu. Nanti dia akan mengabari teman seprofesinya, untuk minta izin, mengambil cuti. Abdi menggendong Indah untuk dibawa ke kamar.
"Aku keluar dulu, kamu jangan kemana-mana." pesanya, setelah membaringkan Indah ditempat tidur.
"Nanti aku pesenin camilan dan makan siang, ingat, jangan ngapa-ngapain, aku cuma sebentar, nanti aku yang akan beresin rumah." Abdi mengecup kening Indah sejenak sebelum dia keluar.
"Mas, Indah nggak papa loh, nanti juga sembuh sendiri, ini tuh udah biasa."
Senang sih diperhatiin begini, tapi Indah juga nggak mau cuma berbaring, apalagi saat ini Abdi sepertinya sangat sibuk. Indah tidak mau mengganggu agenda Abdi yang telah ia susun.
"Jangan bantah, nanti aku marah." ancamnya.
Setelah terdengar suara mobil Abdi menjauh, Indah beranjak ke kamar mandi, memastikan apa benar dia datang bulan atau tidak.Tapi setelah mengecek, nyatanya celananya bersih, masih tetap belum tenang sebab biasanya, paling tidak nanti siang atau besok dia akan benar datang bulan.
Indah akan membuat berbagai macam olahan berbahan togek. Lama Indah berada di luar, dia mengobrol dengan para ibu-ibu yang juga sedang berbelanja sayur, sedikit kenalan dan berbasa-basi.
Indah mengatakan jika dia dan Abdi adalah pengantin baru, langsung saja para ibu-ibu itu menyarankan berbagai macam tips makanan penyubur kandungan, dan berbagai macam makanan yang disarankan jika ingin mengharapkan anak laki-laki atau perempuan.
Namun ada satu yang mengganggu pikiran Indah, seorang ibu yang menceritakan, anaknya dulu sama seperti Indah, tiap datang bulan, dia merasakan nyeri diperutnya. Dan saat diperiksa, ternyata anaknya memiliki tumor rahim, sesuatu yang sangat disesali olehnya, karena tak memeriksakan sejak awal, hingga membuatnya harus kehilangan rahimnya, tidak hanya sampai disitu, ternyata anak si ibu, harus merasakan sakit yang teramat, karena ditinggalkan oleh suaminya, sebab tak bisa memiliki anak.
Indah meletakkan lemas togek yang tadi dibelinya, ia duduk, memegangi perut yang masih menyisakan rasa nyeri.
"Semoga ini hanya kebetulan" gumam Indah.
Toh pikirnya, banyak temannya disekolah yang mengalami hal yang sama seperti dirinya. Merasakan nyeri saat haid, nyatanya mereka sehat-sehat saja, dan memiliki banyak anak.
Indah semakin takut, jaman sekarang banyak sekali laki-laki yang memilih menikah lagi, sebab istrinya tak bisa memberikan keturunan untuk mereka.
Tak lama terdengar suara bel, membuyarkan lamunan Indah. Indah berjalan gontai, menuju depan untuk membukakan pintu. Huff tiba-tiba semangatnya hilang, sebab memikirkan perkataan ibu tadi.
__ADS_1
Indah membukakan pintu, seorang kurir, yang membawa banyak pesanan makanan.
"Dengan Mba Indah Lararenjana?" tanya kurir tersebut.
"Iya Pak." jawab Indah lesu.
"Ada paket Mba, dari mantan pacar Mba."
"Hah!" Indah terkejut.
Mantan pacar? gue aja nggak pernah pacaran.
"Iya, namanya pak Abdi." lanjut kurir tersebut
Indah menghela nafas lega, mas Abdi, ada-ada saja kamu mas
"Oh iya mas."
Setelah kurir itu pergi, Indah menutup pintunya, lalu segera membuka paket dari Abdi, banyak sekali Abdi membelikannya makanan, sekotak salad, brownies, berbagai macam buah-buahan, dan banyak camilan dari mini market.
Sudut bibir Indah terangkat, saat ada secarik kertas yang Abdi kirimkan.
Es teri, aku nggak tau obat apa yang buat ilangin sakit kamu, tapi tadi aku dah konsultasi sama dokter di apotik, ini obat terbaik katanya.
"Ya ampun, nggak manis banget sih mas, tapi Indah suka" benar, Abdi tak mau mengatakan cinta, tapi perhatian Abdi ini merupakan bentuk bukti rasa cintanya.
Indah langsung meminum obat itu, sejenak ia sudah melupakan kata-kata ibu tadi yang membuatnya sedikit galau. Setelah minum obat, Indah menyalakan tivi, nggak papa bermalas-malasan sehari saja, Indah akan menikmati perhatian yang diberikan Abdi.
Setengah jam Indah tiduran disofa, dia merasakan kantuk, perutnya pun sudah tak sakit lagi. Saat akan terlelap, ponselnya berbunyi. Setengah sadar Indah membuka matanya, sebuah panggilan video dari Abdi.
Abdi menanyakan keadaan Indah, dan mengatakan jika dia pulang terlambat, sebab akan melakukan survey di berbagai tempat untuk dijadikan lokasi pabriknya nanti.
Setelah panggilan terputus, Indah memutuskan akan kekamar, sebab dia merasakan ngantuk yang begitu berat. Saat kakinya baru menyentuh anak tangga yang pertama. Pintu rumahnya diketuk. Mau tak mau Indah harus membukakan pintu itu, Indah berpikir jika Abdi mengirimkannya lagi makanan untuk makan siang.
...***...
Indah rasa baru kemarin dia pindah, dan belum ada satu orang pun yang tahu rumah barunya. Bahkan Anggun sekalipun. Namun kini, yang berada di depan rumahnya, justru Selly. Tak ada angin tak ada hujan, Selly datang menemuinya.
Tahu dari mana Selly alamat rumahnya?. Apa Selly mengikutinya?. Belum Indah tersadar dari keterkejutannya, Selly langsung berhambur memeluknya, sepupunya itu terlihat begitu kacau.
__ADS_1
"Ada apa Sell?" tanya Indah, dia ingin membalas pelukan Selly, namun rasa marahnya pada Selly belum hilang, mengingat rumah mamanya yang mereka gadaikan pada orang lain.
"Kamu harus bantuin aku Ndah"