Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Bahasa Enggres


__ADS_3

"Ndah maaf, Lo jangan terlalu berharap sama pernikahan kita, aku nggak bisa menjanjikan apa-apa, tapi kita bisa jalani ini dulu"


Degghhh


Indah terdiam mencerna ucapan Abdi, apa maksudnya?


Mereka tengah berdiri dibalkon, dengan tangan mereka memegang pembatas besi, melihat pemandangan didepannya, keindahan ibu kota pada malam hari, cahaya lampu menghiasi sejumlah gedung, beserta jajaran lampu jalan, ditambah kerlip lampu kendaraan menambah daya tarik dan memberikan suasana syahdu malam ibu kota.


Abdi menoleh saat Indah tak merespon ucapannya


"Lo jangan salah paham, gue juga nggak mau pernikahan ini terjadi, tapi gue juga nggak tega harus membiarkan Lo menjadi bahan gunjingan para tetangga Lo nantinya, dan siapa? Wak Lo itu"


"Wak Disa"


"Iya, semua ini terjadi karena kedatangan gue"


"Tapi mas harusnya jangan menikahi Indah, kan emang kita nggak melakukan apa-apa"


"Iya, gue tau, beri gue waktu, kita harus sama-sama saling mengenal dulu"


Indah setuju dengan pendapat Abdi, mereka memang harus saling mengenal dulu, "Teman?" lihat Indah wajah Abdi


"No bad, kita awali dengan pertemanan dulu"


"Oke"


"Makasih Lo udah mau ngerti"


"Sama-sama, tapi ini nggak gratis mas"


"Perhitungan banget ama laki sendiri"


"Iya dong, didunia ini mana ada yang gratis"


"Jadi gue harus bayar pakai apa?" Indah nampak berpikir, ia membalikkan badannya, menjadikan punggungnya untuk bersandar,


"Mas harus ngajarin Indah bahasa Inggris"

__ADS_1


Abdi mengernyit heran, ikut membalikkan badan, memposisikan badannya lebih dekat dengan Indah "For what?"


"Mas, kita tinggal diapartemen, pasti isinya orang-orang kaya dan pinter-pinter, jadi kalo kita ribut kita musti pake bahasa inggris mas, biar keliatan keren"


Abdi menoyor kepala Indah


"Nggak sekalian Lo belajar bahasa Arab, biar dikira lagi dzikir kalo lagi ribut" Abdi selalu dibuat geleng-geleng kepala mendengar ucapan Indah, ada-ada saja.


"Kebiasaan ih, inikan kepala udah difitrain mas" Indah meniup telapak tangannya mengusap bekas toyoran Abdi.


"Udah masuk, udara malam nggak bagus buat kesehatan, lagian Lo juga istirahat, gue nggak mau ngerawat orang sakit" Abdi kembali menoleh saat sudah berada ditengah pintu "Eh kaki Lo udah baikan?"


"Udah mas, kaki Indah mahal emang, obatnya nikah, langsung sembuh" cengirnya


Abdi memutar mata jengah, wanita seperti apa yang ia nikahi ini.


Malam merangkak naik, Indah telah terlelap dalam dunia mimpinya, sedang Abdi diluar sedang berbicara dengan seseorang melalui panggilan jaringan seluler


"Mas harus buktiin ke Papa, kalo mas serius, Papa udah nanyain mas terus"


"Anggun nggak masalah mas, yang penting mas jangan tinggalin Anggun apapun yang terjadi"


Abdi menghela nafasnya berat, ini harus segera disudahi, ia tak boleh menyakiti banyak wanita, cukup dulu dia menjadi laki-laki brengsek, namun kini takdir seolah menjawab kerisauan hatinya terhadap hubungannya dengan Anggun, walau dia belum mencintai Indah, setidaknya dia tidak akan mempermainkan pernikahan.


"Kita bahas besok ya, mas tunggu ditempat biasa" Panggilan itu terputus,


Abdi menengadahkan kepalanya menghadap langit-langit diruang tamunya, ia tiduran disofa dengan berbantalkan tangannya, Abdi tak menyangka jika hidupnya jadi serumit ini, menjanjikan wanita lain untuk ia nikahi, namun hari ini dia malah menikahi wanita yang tak pernah ada dibenaknya. Abdi melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 11malam.


Abdi masuk kekamarnya untuk tidur di ranjang bersama Indah, namun saat ia masuk, Abdi dibuat tercengang dengan keadaan kasurnya, selimutnya sudah jatuh tak tahu arah, sedang tempat tidurnya sudah dikuasai semuanya oleh Indah, tempat tidur itu sudah dipenuhi dengan boneka kesayangan wanita yang kini menjadi istrinya.


"Perasaan tadi dia cuma bawa satu koper" Abdi mengacak rambutnya frustasi, setelah menyelimuti tubuh Indah, Abdi keluar membawa bantal dan selimut, ia memutuskan untuk tidur disofa saja.


"Nasib punya istri aneh" Abdi coba memejamkan matanya, berharap ia bisa tidur dengan nyenyak, setelah melewati hari yang berat dan melelahkan.


...*****...


"Serius Ma!! si Indah udah nikah?" Disa mengangguk cepat menjawab pertanyaan Selly

__ADS_1


"Wahhh gokil sih ini, terus Bi Masnah mau ngasih semua surat tanah sama rumahnya ke Mama?"


"Kamu bawel ih"


"Ma ... ini tuh berita terhot buat Selly, Mama emang the best deh" Selly mengguncang tangan Mamanya, ia terlalu uporia mendengar pernikahan Indah yang hanya nikah siri


"Tuhan itu emang baik sama Mama, itu tanah dan rumah memang hak Mama, si Masnah jendes aja tuh yang nggak tahu diri, kekeh dari dulu ngekepin tanah warisan suami, huhh bikin gregetan, ujung-ujungnya balik ke Mama juga kan? Tuhan pasti ada aja cara buat hambanya yang sabar"


"Ma, foto yang tadi kirimin ke Selly, biar Selly kirim ke Thomas, Thomas pasti seneng denger berita ini, dia kan sebel banget sama si Indah"


Disa menggulir ponsel miliknya, mengirimkan foto Indah ke Selly.


"Udah tuh, kamu liat, Mama emang pantes jadi detektif, fotonya aja pas banget begitu"


Selly membuka ponsel miliknya, melihat dengan seksama foto Indah dan Abdi


"Mama hebat ih, Selly makin bangga sama Mama" Selly memeluk Mamanya erat, dengan ponsel yang masih berada ditangannya.


"Ma ... udah ada kabar dari Papa?" Selly menanyakan kabar Papanya yang sedang merintis usaha batu bara di Kalimantan, Papanya sudah dua bulan belum kembali.


"Tadi Mama sama Papa telponan, kata Papa kamu, mungkin bulan depan baru bisa pulang" Selly nampak sedih mendengar itu


"Maaa, Selly mau pernikahan Selly dan Thomas dipercepat, nggak usah nunggu tahun depan, kelamaan, itu masih empat bulan lagi" Pintanya merengek.


"Sabar dong sayang, empat bulan itu nggak lama loh"


Iya Ma, tapi perut Selly semakin membesar


"Mama ajak Tante Kartika jalan-jalan gih Ma, bujuk Tante Kartika, biar mau mempercepat pernikahan Selly"


"Sell, kamu kenapa sih, dari kemarin mintanya percepat, percepat mulu, Mama nggak bisa ajak Kartika jalan-jalan, Papa belum kirim uang lagi"


"Papa kok sekarang jarang kirim uang sih Ma?"


"Papa lagi butuh modal tambahan, buat memperluas usahanya, kamu sabar dulu ya, semoga nanti, waktu Papa pulang, bawa kabar bagus"


Selly tak menjawab obrolan Mamanya lagi, dia kini sibuk berbalas pesan dengan Thomas.

__ADS_1


__ADS_2