Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 86


__ADS_3

Enam bulan berlalu, kehidupan Indah dan Abdi semakin berwarna karena kehadiran Marsha ditengah-tengah mereka. Yang pasti Abdi sangat memanjakan anak sahabatnya ini seperti anak mereka sendiri. Walau mendapat protes dari Mawar, karena ditakutkan akan berdampak buruk untuk Marsha kedepannya.


Seperti hari ini, mereka telah bersiap akan melakukan kemah di puncak, liburan rutin yang Abdi lakukan agar Indah tak merasa bosan, dan selalu mendapat suasana baru. Seharusnya ini jadwal mereka berlibur ke Bali, tapi karena yayasan sebentar lagi akan dibuka, Indah mengurungkan itu, karena terlalu jauh dan memakan waktu.


Tapi sebelum berangkat, dia akan membawa Marsha ke salon yang ada didepan komplek perumahan mereka. Marsha selalu antusias jika dibawa Abdi kesalon untuk perawatan rambutnya, karena memang rambut Marsha sangat bagus seperti model iklan shampo. Marsha sangat menyukai hal ini, sebab memang ini yang dia mau, selalu menjadi nomor satu dan yang diperhatikan.


"Ayah Didi, aku mau potong yambut kayak gini." tunjuknya pada majalah model rambut yang ia lihat.


Abdi dan pemilik salon mendekatkan wajah mereka melihat gambar yang ditunjuk Marsha, Abdi melihat Marsha dan potongan rambut itu bergantian, lalu mengernyit, potongan rambut yang dipilihnya adalah potongan oval layer.


"Ini potongan rambut dewasa, nggak cocok sama kamu."


"Yaudah, aku maunya disini aja kalo ndak boyeh."


"Nanti bunda marah nggak? kan kita kesini cuma buat perawatan doang."


"Ayah Didi mah gitu." Marsha menggembungkan pipi cabinya, tanda ngambek. Yang membuat Abdi menghembuskan nafas pasrah.


"Udah, bunda you pasti setuyu, yey pasti syantik dan cucok meong." ujar si pemilik salon. "Serahkan semua pada eike. Kalo bunda mayah, eike gantung bunda you dipohon togek." ujar pemilik salon yang merupakan laki-laki bertubuh gemulai itu.


Mendapat dukungan dan pembelaan membuat Marsha semakin senang "Yeyyy, thank you om."


"Bukan om yey, panggil eike" pemilik salon itu berpikir sejenak "Mama bear, okey!" pintanya, dan mengedipkan mata pada Abdi, membuat Abdi memutar matanya jengah.


"Okey Mama bear."


"Cerdas." sahut pemilik salon yang kini dipanggil mama bear oleh Marsha.


Jangan sampai nih anak ngadu yang enggak-enggak, bisa perang dunia nanti dirumah. batin Abdi.


Tak butuh waktu lama, rambut Marsha telah selesai dipangkas sesuai keinginannya.


"Ya ampun, cucok deh anaknya, bibit unggul and good looking sejak dini ya boy. Yey suka?" tanyanya pada Marsha dan melihat lewat pantulan cermin.


Marsha mengangguk senang "Heem."


"Boleh deh jadi model eike. Eike kontrak mahal" ujar mama bear,


"Dia masih kecil, nanti dikira ekploitasi anak."


"Menong adong yey, ini tuh namanya pen-nya-lu-ran bakat yey, cuma orang irong(iri) yang bilang begindang"


"Nggak, biarin dia dirumah main sama belajar."


"Yey nggak asoy. you orang tua kolot"


Abdi menggaruk keningnya, lalu melihat Marsha yang mengibaskan rambutnya.


"Marsha syantik kan Ayah? kayak bunda."


"Iya, Marsha syantik, syantik kayak bunda" Abdi mencubit pipi Marsha gemas lalu mencium pipi Marsha. "Yuk kita pulang, bunda pasti udah nungguin."


* * *


"Mas lama banget sih?" tanya Indah

__ADS_1


"Tadi Marsha potong rambut dulu."


"Lihat deh bunda, rambut Marsha cantik." Marsha muncul dari belakang Abdi.


"Cantik sayang, Marsha selalu cantik, kayak bunda." Marsha selalu ingin dibilang cantik seperti Indah, bukan Mawar mama kandungnya, entah dosa apa Mawar, sampai anaknya seperti itu.


Indah memainkan rambut Marsha yang memang bagus. "Tapi Marsha lebih cantik kalo dipakein poni, nanti bunda bikinin poni ya?" Marsha mengangguk, lalu menyusul Masnah yang akan naik ke atas.


"Kenapa emang sayang?." Abdi muncul dari dapur.


"Kalo nggak dipakein poni kelihatan dewasa mas."


Abdi mengangguk


"Sayang, kok semua peralatan tadi dirapihin lagi?" tanya Abdi saat melihat semua peralatan yang mereka siapkan tadi telah dirapikan lagi oleh Indah.


"Astaga mas, aku hampir lupa, Mas, kita harus kerumah sakit."


"Ada apa? siapa yang sakit."


"Tadi ada pihak rumah sakit telepon, katanya Selly mau melahirkan, tapi keadaannya lemah dan harus operasi"


"Astaga sayang, kasihan Selly, ayok kita kesana sekarang."


Nyatanya, tak semudah itu mereka bisa kerumah sakit, Marsha yang memiliki sifat keras tak mau acara mereka batal begitu saja, akhirnya mereka terpaksa harus mengganti dengan yang lain, Akhirnya Marsha luluh saat diajak ke mall, dan Indah meninggalkan Marsha bersama ibunya, Masnah.


Sesampainya di rumah sakit, Indah masuk ke ruangan dimana kini Selly berada. Selly terlihat pucat, dengan tangan kiri tertancap jarum infus. Dan selang oksigen di hidungnya. Sedangkan Abdi langsung mengurus administrasi operasi untuk Selly, karena Selly terpaksa harus melakukan operasi sesar sebab kondisinya yang sangat lemah.


"Sell." Indah menggenggam tangan Selly yang terasa dingin.


"In-dah, ma-afin a-ku," suara Selly tersendat.


"Ma-afin ma-ma juga ya."


Indah mengangguk "Iya."


"Ra-wat a-nak aa-ku Ndah."


"Iya aku akan merawat anak kamu Sell, kita akan merawatnya sama-sama."


Selly menggeleng "Aa-ku nggak bbbi-sa ja-di ibu yang ba-ik Ndah."


"Kamu nggak boleh ngomong gitu Sell, kamu harus kuat, anak kamu butuh kamu."


Setelah sekian lama, air mata cicak Selly kembali terlihat, dan berganti menjadi air mata penyesalan.


Selly memberikan Indah secarik kertas dan meletakkannya di genggaman tangan Indah. "Ja-ngan dibaca se-karang ya, nanti aa-ja."


Kembali Indah mengangguk dalam diam, dia tak mampu berkata-kata lagi, berharap Selly bisa melalui semua ini, hingga tak lama para perawat dan dokter datang untuk membawa Selly ke ruangan operasi.


Indah dan Abdi duduk di bangku besi yang ada didepan ruang operasi.


"Kamu tenang sayang, Selly pasti bisa melewati ini." Abdi membawa Indah dalam pelukannya.


"Aku harap begitu mas. Selly saudara dari ayah satu-satunya yang aku punya saat ini."

__ADS_1


"Iya, aku tahu, kita berdoa yang terbaik untuk Selly."


"Mas, aku telepon ibu dulu, takut ibu nunggu lama"


Indah menghubungi ibunya, mengabari keadaan Selly saat ini dan meminta ibunya pulang terlebih dahulu. Dan beruntungnya Mawar dan Rasya menyusul sehingga Indah tak perlu khawatir Masnah kerepotan menjaga Marsha.


Setelah dua jam menunggu, akhirnya Selly dibawa keluar dari ruang dioperasi, walau keadaan Selly masih lemah, namun kondisi anaknya normal, anak yang yang lahir berjenis kelamin laki-laki itu terlihat sangat sehat.


Setelah dibersihkan oleh perawat, Abdi segera memberikan seruan pertama untuk bayi yang belum diberi nama itu. Lalu memberikan pada Indah untuk digendong. Semua itu tak luput dari perhatian Selly, terlihat Abdi dan Indah begitu menyayangi anaknya. Entah mengapa ia merasa tenang jika nanti anaknya ia tinggalkan.


"Makasih ya Ndah, Abdi, kalian bersedia datang kesini, dan mau aku repotin." Selly berucap lirih.


"Nggak papa Sell, kita ini saudara, harus saling tolong menolong." sahut Indah "Lo sekarang udah jadi ibu Sell, liat anak lo sehat dan ganteng"


Selly sangat merasa malu, padahal dulu dia sangat dzalim pada Indah dan ibunya, sampai harus menjual rumah mereka. Namun Indah tak menaruh dendam sedikitpun, dan tetap membantunya.


"Ndah, aku tidur sebentar ya, aku kayaknya capek banget" izin Selly


"Iya Sell, lo tidur aja, anak Lo biar gue yang jagain." Indah tersenyum, lalu meletakkan bayi itu dalam box tidurnya yang disediakan pihak rumah sakit.


Indah melihat Selly yang tertidur lelap, wajahnya terlihat begitu tenang, merasa miris Selly melahirkan tanpa kehadiran suami disampingnya, laki-laki yang harus menemaninya disaat-saat seperti ini. Indah tak tahu kehidupan Selly selama ini, karena dia juga dalam keadaan yang terpuruk, antara dia dan Selly, Indah tak tahu, siapa sebenarnya yang beruntung diantara mereka.


Tak terasa Indah menitikkan air matanya, dia rindu masa-masa saat mereka masih hidup berdampingan, walau lebih sering terjadi pertengkaran diantara keduanya, tapi merasa bahagia, karena mereka selalu bersama, sampai Selly dan Wak Disa gelap mata, dan akhirnya mereka putus silaturahmi.


Sampai Indah menyadari ada keanehan pada wajah Selly, Selly semakin memucat, dan terlihat seperti tidak bernafas. Indah segera memeriksa denyut nadi Selly dan nafasnya.


"Mas, astaga" jerit Indah, membuat Abdi yang sedang duduk disofa sontak menghampirinya.


"Ada apa sayang?"


Indah merasa panik "Panggil dokter mas, Selly." Lidah Indah keluh, dia harap ini salah.


Abdi menyadari pergerakan tangan Indah yang terus memeriksa nadi Selly, dia pun berlari, memanggil dokter.


Dokter datang bersama beberapa perawat, mereka memeriksa denyut jantung Selly, Abdi memegangi pundak Indah, mencoba menenangkan.


"Kita doakan yang terbaik buat Selly sayang." bisiknya.


Indah membalikkan tubuhnya, menempelkan wajahnya didada Abdi. "Aku nggak mau sendiri mas, Selly harus merawat anaknya." Abdi mengusap rambut Indah.


Hingga terlihat dokter laki-laki yang memeriksa Selly melepaskan kaca matanya, dan tertunduk lemah. Dia menggeleng pada Abdi.


"Sayang, sepertinya Selly ingin kita yang merawat anaknya."


Indah bukan tak mengerti ucapan Abdi, dua menggeleng, tak sanggup menerima kenyataan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf ya bab nya sedikit ngaret, semoga nggak bosen, tinggal beberapa bab lagi.


Visual Marsha ada di story igeh ku, Ismawati Romadon 😁


__ADS_2