
"Irfan sempat menawar maunya mereka sekarang kenalan saja dulu kalau bisa semuanya dilakukan nanti saja setelah Deby lulus sarjana" kata Raka.
"Memang Debynya masih kuliah?" Tanya Fio.
"Iya bu, Deby baru semester 4" jawab Gunardi.
"Gapapa pak, ini istri saya semester 3 sudah melahirkan anak pertama kami Deni" sahut Aldo.
"Bahkan belum lulus sarjana saja istri saya sudah punya anak 3 pak" kata Aldo
"Memang tidak terganggu waktu belajarnya dengan mengurus anak?" Tanya Gunardi.
"Ya kalau dibilang terganggu memang iya benar pak, tapi karena sudah menjadi kewajiban jadi mau bagaimana lagi kan" jawab Fio.
"Memang dulu kallian menikah masih baru lulus sekolah?" Tanya Gunardi.
"Kami menikah masih sangat muda sih pak, karena keburu diambil orang kalau kami tidak segera menikah saat itu" jawab Aldo sambil melirik ke Iliyas.
"Kenapa melirik gue jawab begitu" protes Iliyas.
"Memang ga boleh?" Tanya Aldo mempererat pelukannya ke sang istri hingga semua tertawa
"Sudah ah kalian sudah tua masih saja begitu" kata Fio.
"Ternyata sampai sekarang suami kamu masih aja bucin ya Fi" kata Iliyas.
"Iya harus dong, itu tanda suami cinta beneran sama istrinya kak" kata Aldo membela diri. Semua yang mendengar tertawa.
Gunardi melihat Fio mengakui kalau Fio memang punya aura yang bagus, jadi ga heran jika dulu sahabatnya itu sempat kecewa merasa kalah duluan dengan Aldo.
Dan Gunardi juga memaklumi jika Aldo sampai seposesif itu ke istrinya karena memang istrinya sangat cantik dan menarik di mata kaum adam hingga saat ini diusianya yang sudah tidak muda lagi.
💐 Kediaman Aldo
Keesokan harinya Fio bangun pagi seperti biasa langsung memuju ke dapur untuk membantu bi Ina memasak di dapur. Selesai masak baru Fio akan kembali ke kamarnya untuk mandi dan membangunkan suaminya.
"Sayang bangun sudah pagi, papi ke kantor kan pagi ini" kata Fio membangunkan suaminya.
Aldo mengerjabkan matanya kemudian melihat jam di dinding.
"Mami sudah mandi?" Tanya Aldo.
"Belum, baru mau mandi. Papi mau mandi duluan?" Jawab Fio.
"Papi mau mandi bareng mami aja" kata Aldo sambil tersenyum jail.
"Kan kemarin papi puasa mi, jadi pagi ini papi buka ya mami sayang" rayu Aldo sambil mendudukkan diri di pinggir ranjang.
__ADS_1
"Kan papi mau ke kantir, nanti capek pi" kata Fio.
"Justru itu buat semangat pagi mami sayang" kata Aldo kemudian menggendong istrinya untuk di ajak masuk ke kamar mandi. Fio hanya bisa pasrah mengikuti suaminya.
Deni, Arini dan Arya sudah duduk di meja makan menunggu papi dan maminya turun. Tak lama kemudian papi dan maminya turun menuju meja makan.
"Pagi sayangku" sapa mami Fio.
"Pagi mami, papi" sapa balik ketiga anaknya bersamaan. Kemudian mereka sekeluarga sarapan bersama tanpa ada yang bersuara.
"Hari ini sibuk ya bang?" Tanya mami Fio setelah selesai sarapan semua.
"Nggak sih mi hanya praktek biasa saja seperti biasa, cuma sorenya Deni ke klinik DAW" jawab Deni.
"Berarti abang pulangnya malam dong" kata Fio
"Ga malam amat deh mi, cuma abang lebih malam dari biasanya" jawab Deni.
"Pi, mi, kami berangkat dulu ya" kata Arya dan Arini
"Iya kalian hati-hati" kata mami Fio
"Papi juga mau berangkat dulu mi, nanti mau ketemuan dengan Leo juga kebetulan masih ada disini" kata papi Aldo.
"Iya, mami nanti juga mau ketemuan dengan Dewi di alfi cafe kampus." Kata Fio yang di dengar Arini.
"Iya sayang, kalau kamu sudah selesai kuliah" jawab Fio.
Semua sudah masuk ke mobilnya masing-masing termasuk Deni yang juga ikut berangkat pagi.
💐 Kediaman Iliyas
Iliyas dan Erna menunggu Miranda di meja makan untuk sarapan bersama. Selesai sarapan Iliyas berniat ke rumah sakit Yasri di Jakarta yang akan beralih kepemimpinannya ke Iliyas.
"Papa kapan mulai ngantor di sini" tanya Miranda.
"Mungkin nanti pertengahan minggu ini" jawab Iliyas.
"Berarti mulai sekarang papa dan mama sudah pindah kan ke sini?" Tanya Miranda.
"Sudah sayang, tapi papa tetap akan memantau juga yang disana kan" jawab Erna.
"Tapi nanti kalau papa ke sana, mam juga akan ikut kan?" Tanya Iliyas.
"Ga dong pah, kan disana papa cuma dua hari saja" jawab Erna dan Iliyas hanya terkekeh karena maunya setiap keluar kota istrinya menemaninya.
"Nanti mama jadi ketemuan di alfi cafe sama Fio dan Dewi?" Tanya Iliyas.
__ADS_1
"Jadi dong, kita mau bernostalgia" jawab Erna sambil tersenyum senang.
"Ih mama seneng banget deh sepertinya sekarang ini" kata Miranda.
"Iya dong, mama jadi bisa ketemuan sama mereka lagi.
"Kamu berangkat sama papa kan Mir?" Tanya Erna.
"Nggak pah, papa kan ke kantor pusat tempat opa Haryadi, Mira dan di sini cabang" kata Miranda.
"Mira berangkat dulu ya pah, mah" pamit Miranda sambil mencium punggung tangan papa dan mamanya. Kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Iliyas akan berangkat ke kantor papanya agak siangan sekalian mengantar sang istri ketemuan dengan para sahabatnya.
💐 Alfi Cafe
Fio sudah sampai di alfi cafe lebih dulu sebelum Erna dan Dewi datang. Fio berada di dalam ruangannya sedang fokus dengan laptopnya untuk cek email yang masuk.
"Tok tok tok"
"Masuk" jawab Fio
"Maaf bu, di luar ada bu Erna sedang menunggu ibu" kata Dona salah satu karyawan kepercayaan Fio.
"Iya sebentar lagi saya keluar, nanti tolong kalau bu Dewi juga sudah datang ditanyain ya mau pesan apa. Saya jus jambu aja ya Don" kata Fio.
"Baik bu nanti saya akan tanyakan ke bu Erna dan bu Dewi" kata Dona kemudian pamit undur diri.
Fio keluar dari ruangannya setelah mematikan dan menutup laptopnya.
"Hai Fi, gue kira loe belum datang" sapa Dewi.
"Gue mah udah dari tadi" jawab Fio.
"Ini banyak karyawan yang udah ganti ya Fi?" Tanya Erna.
"Iya udah ganti semua, mereka yang perempuan kebanyakan setelah nikah keluar dan yang laki ada yang dipindah kak Al di luar kota" jawab Fio
"Eh kalian mau makan apa tuh biar dipesanin sama Dona" kata Fio.
"Gue kangen fish & chips disini" kata Dewi
Dona menulis pesanan Dewi dan Erna. Sedangkan Fio hanya jus jambu dan kentang goreng saja.
Merka bertiga menghabiskan waktu dengan mengobrol sana sini. Karena memang mereka bukanlah tipe ibu-ibu sosialita yang hobby belanja barang mewah yang kemudian dipamerkan ke para sahabatnya.
Walaupun keadaan dompetnya sangat bisa untuk membeli barang-barang mewah. Bahkan apa yang mereka kenakan baik baju, sepatu ataupun tas mereka bukanlah barang murahan, tapi tetap terkesan sederhana dan elegan.
__ADS_1