TERLANJUR MENCINTAI

TERLANJUR MENCINTAI
Eps 72. Pernikahan Arini


__ADS_3

Seminggu kemudian


Selama seminggu pasangan calon pengantin ini sama-sama resah, hanya berbeda keresahannya.


Jika Fabian resah karena  rindu dengan kekasihnya, namun tidak boleh bertemu. Sedangkan pada saat Fabian melakukan panggilan VC pun Arini tidak menjawab.


"Kamu kenapa sih sayang di hubungi susah sekali, ayo dong jawab panggilan abang. Abang sangat rindu untuk bisa melihat wajahmu sayang" gumam Fabian di dalam kamarnya.


Padahal di sisi lain, Arini meletakkan ponselnya di dalam kamar dan dirinya menyibukkan waktunya dengan memasak di dapur.


"Mi kenapa sih Arini ga boleh jalan sebentar saja ke luar, kan bosan mi kalau harus di rumah terus."


Kata Arini.


Ya kamu  kan bisa bereskan lemarimu sayang, jadi nanti bisa buat tempT pakaian Fabian juga" kata Fii.


"Memangnya setelah menikah nanti bang Bian akan tinggal disini mi? Kata bang Bian, setelah menikah kami akan tinggal di rumah bang Bian"  kata Arini.


"Iya memang kalian mungkin akan tinggal di rumah Bian, namun abangmu itu kalau disini kan juga butuh baju sayang. Jadi ada baju yang nantinya pasti akan kalian tinggal juga disini" kata Fio.


"O iya benar juga ya mi" jawab Arini baru paham.


💐 Hotel


Hari ini merupakan hari bersejarah Arini dan Fabian untuk menapaki kehidupan bersama yang akan dimulai menuju masa depan.


Arini sedang dirias oleh MUA di dalam kamar hotelnya dengan ditemani Risa dan Miranda yang sudah selesai berdandan.


"Kamu cantik sekali sayang" kata Mira.


"Ah kakak, jangan gitu dong" kata Arini.


"Kamu tegang ya Ar, tenang aja kakak dulu juga sama dengan kamu begini" kata Miranda.


"Kenapa ya kak kok bisa tevang, padahal Arini ga mikir apa-apa loh" kata Arini.


"Ga mikir secara disengaja sayang, tapi sebenarnya pikiran kita banyak" jawab Miranda sambil tersenyum.


"Tenang saja, ga perlu mikir aneh-aneh. Yang pasti sebentar lagi Fabian akan sampai karena tadi masih di jalan" kata Miranda sambil menepuk pundak sang adek ipar.


"Kakak tinggal dulu ke bawah ya, tamu sudah banyak soalnya. Tapi ga perlu resah sayang, tenangkan hatimu" kata Miranda kemudian berlalu dari Arini.


Fabian sudah sampai di hotel tempat akan diadakannya akad nikah. Fabian diauruh duduk di meja untuk akad.


"Ambil nafas panjang dan buang, agar kamu nggak tegang bang" bisik Leo.


""Apakah sudah bisa dimulai tuan?" Tanya penghulu ke Aldo.


""Sudah, silahkan saja langsung dimulai" jawab Aldo.


Tangan Fabian berjabatan dengan tangan Aldo.


"Saya terima nikah dan mas kawinnya Aira Mahendra Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai" kata Fabian.


"Bagaimana saksi?" Tanya penghulu.

__ADS_1


"Sah"


"Sah"


"Alhamdulilah"


"Alhamdulilah" Fabian bernafas lega.


Arini jalan dengan didampingi mami Fio dan Nindy istri Raka. Pandangan Fabian tertuju ke Arini yang sekarang sudah menjadi istrinya. Fabian tersenyum menyambut kedatangan sang istri yang sudah berdiri di hadapannya.


"Duduk dulu sayang" bisik mami Fio.


Setelah Arini dan Fabian menandatangani buku nikah, keduanya berdiri kembali dengan berhadapan untuk menyematkan cincin.


Fabian menuematkan cincinnya ke jari manis tangan kanan Arini. Dan bergantian Arini pun juga menyematkan cincin di jari manis kanan Fabian.


Arini mencium punggung tangan Fabian yang sudah sah menjadi suaminya. Kemudian Fabian mencium kening sang istri dengan penuh cinta.


Fabian memandang Arini tanpa berkedip membuat Arini menjadi salah tingkah karena dipandang sang suami.


"Ehem" Irfan berdehem membuyarkan lamunan Fabian.


"Sudah nanti saja dilanjutkannya" sindir Irfan membuat para tamu tersenyum, bahkan Leo sang papa ikut terkekeh melihat anaknya begitu menikmati wajah cantik sang istri. Pipi Arini jadi merona karena malu.


"Kamu cantik sekali sayang" bisik Fabian.


"Abang ih malu.." balas Arini berbisik.


"Sudah memandangnya di lanjut nanti malam, sekarang kita sapa dulu para tamu, keluarga juga sambil makan siang." Kata mama Dewi.


Selesai acara, sepasang pengantin ini diperintahkan untuk istirahat di kamar, karena nanti malam akan berlanjut pada acara resepsi.


Setelah pasangan ini sampai di dalam kamar hotelnya, Fabian memeluk sang istri.


"Terima kasih sayanh kamu sudah mau menerima abang sebagai suamimu" kata Fabian.


"I iya bang, sama-sama" jawab Aira terbata karena bingung harus menjawab apa.


Fabian mengecup bibir ranum sang istri. Arini kaget dengan apa yang dilakukan Fabian. Fabian menatap sang istri dalam, kemudian mencium bibir istrinya


"Kamu mau mandi dulu?" Tanya Fabian sambil mengurai pelukannya untuk menahan hasratnya.


"Abang mau mandi duluan juga boleh" jawab Arini


"Abang ga lapar?" Tanya Arini


"Iya kita belum makan siang ini" kata Fabian.


"Tunggu saja disini sayang, biar nanti makan siang kita diantar ke sini" kata Fabian kemudian menghubungi Rudi sang asisten.


"Tok tok tok"


"Ceklek"


"Nih makan siangnya, isi dulu tenaganya sebwlum mulai" canda Rudi.

__ADS_1


"Loe tahu apa, pasangan aja belum ada" jawab Fabian.


"Sialan loe, mentang-mentang sudah ada pendamping" kata Rudi.


"Terima kasih makan siangnya sudah diantarkan" kata Fabian kemudian menutup pintunya setelah Rudi keluar dari kamarnya. Sedangkan Arini masih di kamar mandi.


"Abang mandi dulu aja baru makan, karena tadi mami bilang kita istirahat hanya sebentar. Nanti akan ada MUA lagi untuk merias Arini buat nanti malam Resepsi" kata Arini,


"Okey abang mandi dulu saja kalau begitu." Jawab Fabian.


Selama menunggu Fabian mandi, Arini hanya menyiapkan pakaiannya sendiri, dia bingung jika harus menyiapakan pakaian suaminya.


"Ceklek" Fabian sudah selesai mandi hanya dengan melilitkan handuknya di pinggang.


"Sayang, bisa ambillkan baju abang di dalam kopor?" Tanya Bian.


"Koper abang berapa kode kuncinya?" Tanya Arini dengan menengok ke arah sang suami, tapi kemudian langsung membuang pandangannya melihT suaminya hanya mengenakan handuk kecil di pinggang.


"A abang kenapa nggak pake baju sih" kata Arini sambil membuang pandangannya.


Fabian yang awalnya nggak begitu perhatian dengan sikap Arini, langsung melihat ke arah Arini yang telah membuang pandangannya jadi terkekeh sendiri.


"Kan baru habis mandi sayang dan abang juga lupa tadi tidak membawa baju ke dalam kamar mandi" jawab Fabian sambil mendekati kopernya yang sudah ber


1ada di depan Arini.


"Arini mandi dulu ya bang" kata Arini dengan roma merah di pipinya dan meninggalkan koper Fabuan.


"Iya sayang" jawab Fabian masih dengan tawa kecilnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Nanti semua ini akan jadi milikmu sayang" gumam Fabian tersenyum sendiri mengingat roma merah malu di wajah sang istri.


"Seandainya gue ga ingat kalau nanti ada resepsi, udah habis kamu dalam kungkungan abang sayang" batin Fabian yang menahan hasratnya.


Selesai Arini mandi, Arini mengajak Bian untuk makan.


"Kita makan yuk bang sebelum periasnya datang" ajak Arini.


"Iya sayang, itu makanannya sudah ada dimeja" jawab Fabian.


Selesai pasangan ini makan, mereka duduk di sofa dengan Arini menyalakan televisi mencari chanel kesukaannya.


****


Mampir juga di novelku yang Berjudul BERBEDA JALAN



Yang menceritakan tentang dua anak manusia yang saling mencintai, namun mereka harus bisa menjadikan cinta sebagai seorang kekasih menjafi cinta sebagai sahabat atau saudara. Karena perbedaan keyakinan yang mengharuskan mereka begitu.


Dan disisi lain ada seorang laki-laki yang begitu mencintai sejak dirinya masih remaja. Namun karena waktu yang memisahkan, membuat sang pemuda mencintai wanita lain dan mereka dipertemukan tanpa sengaja dalam suatu pertemuan keluarga.


Bagaimanakah kehidupan mereka selanjutnya?


Baca cerita di novel ini dan jangan lupa berikan komentarmu ya gaes buat author agar dapat melanjutkan ceritanya 😘

__ADS_1


__ADS_2