TERLANJUR MENCINTAI

TERLANJUR MENCINTAI
Eps 87. Kita berangkat bersama


__ADS_3

Fio tertawa mendengar usulan sang menantu.


"Nanti suamimu juga akan ikut Mir, kalau kita jalan bertiga perempuan semua" kata mami Fio.


"Iya dong mi, mana ada perempuan jalan sendiri tanpa ada yang mengawal sih" kata Deni.


"Ya kan papimu selalu menyuruh orang mengawal mami nak" jawab mami Fio.


"Ya kita lihat aja nanti mi" kata Deni mengalah. Dirinya merasa kalah jika harus berdebat dengan maminya dan sang istri.


"Perempuan memang tempatnya menang jika berdebat" gumam Deni setelah mengakhiri panggilan telponnya dengan sang mami.


"Sebenarnya ga begitu bang, memang kenyataannya kita para perempuan juga suka jalan dan para laki-laki kan sukanya menghabiskan waktunya dengan bekerja" kata Miranda.


"Iya nanti abang akan atur waktu untuk bisa menemani kamu jalan-jalan sayang jika weekend" kata Deni.


"Beneran ya bang" kata Miranda.


"Beneran sayang, asal memang abang ga ada pasien yang sedang membutuhkannya ya" jawab Deni.


"Siap pak dokter Deni, tapi juga jangan dilarang ya nanti jika istrimu ini akan sibuk dengan pasiennya" jawab Miranda. Yang diangguki oleh Deni sebagai jawabannya


"Iya asal pasiennya bukan laki-laki" kata Deni.


"Ya kan ga mungkin dong bang, kan Mira dokter kandungan" jawab Miranda.


"Siapa tahu ada laki-laki yang ingin memeriksakan kandungannya" kata Deni membuat Miranda tertawa lebar.


"Abang bikin sakit perut Miranda aja. Lagian kalau ada pasien dokter kandungan itu laki-laki, pasti ada yang permasalah dengan pencernaannya" kata Miranda membayangkan ada laki-laki yang hamil datang padanya.


"Sudah ayo kita tidur, ini sudah malam sayang. Besok kita akan berangkat pagi" kata Deni sambil memeluk sang istri.


"Iya tapi tangannya diam dong jangan gerak-gerak begini" protes Miranda.


"Iya diem sayang" jawab Deni, namun bibrrnya  Deni terus menempel di leher jenjang sang istri yang membuat Miranda merinding dengan kepala bergerak-gerak. Deni tersenyum melihat istrinya kegelian.


"Bang..." panggil Mira.


"Heemmm" jawab Deni sambil terus mengganggu istrinya hingga akhirnya sang istri terbawa suasana yang dibuatnya. ******* keduanya terdengar begitu nikmatnya. Hingga keduanya mengerang secara bersamaan dan akhirnya lahar panaspun menyembur ke dalam gua sang istri.


Deni menjatuhkan badannya di samping sang istri untuk kembali menetralkan nafasnya yang masih naik turun.


💐 Kediaman Leo


"Kak lusa Fabian dan Arini pulang kan, boleh ya kalau aku jemput mereka?" Dewi meminta ijin sang suami.


"Boleh, kapan mama mau berangkat ke Jakarta?" Tanya Leo.

__ADS_1


"Besok aja, biar mama bisa menyiapkan makanan dulu di rumah untuk menyambut kedatangan anak dan nenantu kita. Lagian Erna juga akan berada di Jakarta. Jadi kami bisa sekalian ngumpul." kata Dewi.


"Iya silahkan aja, lagian besok papa juga akan ke sana. Jadi sekalian kita berangkat bersama" jawab Leo.


"Tumben papa secepat itu balik lagi ke sana, biasanya menunggu beberapa bulan lagi" kata Dewi.


"Loh memang mama ga senang apa kalau ditemani papa ke Jakarta?" Tanya Leo.


"Ya senang sih cuman heran aja, soalnya tidak biasanya papa baru seminggu akan pergi lagi. Jangan bilang papa ada wanita lain dibelakang mama ya" ancam Dewi.


"Ya ampun sayang, buat apa sih ada perrmpuan lain. Papa punya satu wanita cantik aja ga akan habis-habis kok" kata Leo sambil tersenyum.


"Awas ya kalau tiba-tiba ada perempuan lain, mama ga akan pernah memaafkan papa" kata Dewi.


"Kok gitu sih, berarti mama ga cinta lagi dong sama papa?" Tanya Leo.


"Bukannya ga cinta lagi, tapi mana ada istri yang terima jika suaminya ada wanita lain" jawab Dewi.


"Sayang, kita jangan membahas adanya wanita lain. Tidak akan pernah ada wanita lain di hati suamimu ini sayang" kata Leo kemudian memeluk sang istri untuk istirahat tidur malam ini agar besok badannya lebih segar.


"Ini pasti gara-gara dengar wanitanya Gunawan itu, jadi istriku ikutan kawatir" batin Leo.


"Bener ya kak?" Tanya Dewi.


"Hemm" jawab Leo sambil memejamkan matanya.


"Sayang, kita tidur sekarang" bisik Leo ditelinga sang istri, membuatnya merinding.


"Kalau masih kebanyakan protes, nanti kita akan begadang loh ya" kata Leo setengah mengancam sang istri.


"Kok jadi mengancam sih" kata Dewi.


"Makanya sekarang kita tidur" kata Leo.


"Iya iya, tapi istrimu ini belum mengantuk" kata Dewi.


"Ya sudah biar kakak buat kamu mengantuk ya" kata Leo didekat telinga sang istri yang telah membelakanginya.


Dan dipeluknya tubuh sang istri dari belakang dengan tangan yang mulai tidak terkondisikan.


"Sayang... tangannya diam dong" kata Dewi.


"Hemm, enak begini sayang biar nanti bisa tidur kan" kata Leo dengan senyum menggoda.


💐 Kediaman Aldo


"Pagi bang, tumben udah rapi" sapa mami Fio.

__ADS_1


"Pagi mi, iya mau ke kampus pagi" jawab Arya.


"Hari ini adekmu datang ya bang, nanti siapa yang mau jemput?" Tanya mami Fio.


"Katanya bang Bian udah dijemput sama asistennya mi, mami pasti udah kangen ya sama Arini" kata Arya.


"Ya namanya juga sama anak bang, wajar dong mami kangen" kata Fio.


"Mi, Arini itu sudah menikah dan akan tinggal dengan suaminya. Mami harus belajar dong jauh dari anak" kata Arya.


"Iya mami juga tahu, tapi tetap aja bang namanya sama anak ya pasti kangen kalau lama ga ketemu. Abang aja kalau lama ga ketemu dengan teman abang juga pasti ada rasa kangen kan, apalagi mami dengan anaknya" kata Fio.


"Iya aja deh mi, abang mau berangkat dulu ya mi" kata Arya mengalah dari pada harus ngomong panjang lebar dengan maminya. Arya pamit dengan maminya untuk ke kampus lebih pagi.


"Nggak sarapan dulu bang?" Tanya mami Fio.


"Nanti aja mi di kampus" jawab Arya sambil mencium punggung tangan maminya.


"Ya sudah hati-hati ya bang" kata mami Fio


"Iya mi, nanti mami pamitin ke papi ya kalau Arya berangkat pagi" kata Arya.


"Iya nanti mami sampaikan ke papimu" kata Fio karena tahu suaminya belum juga nongol ke meja makan.


💐 Kampus


Arya sampai di kampus langsung ke tempat dimana dia janjian dengan beberapa temannya yang sudah menunggunya di kantin sambil sarapan.


"Ar kok gue lama ga lihat loe berangkat dengan saudara loe sih?" Tanya teman Arya yang bernama Bagas.


"Bukannya itu ceweknya Arya?" Sahut teman Arya yang lain.


"Arini itu kembaran gue dan dia sekarang lagi ada acara dengan suaminya" jawab Arya.


"Hah suami, emang udah nikah?" tanya Bagas.


"Kenapa, jangan bilang loe naksir dia ya Gas" kata teman yang lain.


Arya hanya memandang Bagas sekilas sambil sarapan bersama.


"Memang kalau iya kenapa" jawab Bagas.


"Adek gue udah nikah Gas dan suaminya tipe orang yang cemburuan serta posesif sekali" kata Arya.


Bagas hanya diam menatap Arya tanpa bisa berkata apa-apa lagi karena kaget mendengar penjelasan dari Arya.


"Arini, benarkah kamu sudah menikah? Selama ini aku berusaha mendekatimu, namun aku tidak pernah berani lebih dekat denganmu sejak ku lihat kamu dekat dengan dokter Irfan dulu" batin bagas.

__ADS_1


__ADS_2