
"Capucino saja" jawab Deni
"Saya juga sama aja mbak" kata Raka ke pelayan cafe itu.
"Baik dok, berarti capucino saja 2 ya dok?" Tanya pelayan cafe.
"Iya" jawab Raka singkat.
"Baik ditunggu dok" kata pelayan itu.
Tak lama kemudian pesanan pun datang pada saat Raka sedang membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
"Om mau melanjutkan tebakanmu tadi, apa benar Irfan menyukai Arini sepupunya sendiri?" Tanya Raka.
"Itu hanya tebakan saya dan Mira om, karena memang selama ini Irfan itu kan lebih dekatnya ke Mira dan Arya. Sedangkan dengan Deni kan setelah kami berdua kerja disini om" jawab Deni.
Memang benar apa yang dikatakan Deni bahwa Irfan lebih dekat ke Mira dan Arya dari pada ke Deni. Pasalnya sejak kuliah pun mereka berbeda angkatan, juga beda kampus. Dan Deni jarang sekali ikut pertemuan anak dari sahabat papi dan maminya serta sepupunya.
"Awalnya dulu Deni juga kurang percaya wakru Mira cerita bahwa dia curiga kalau Irfan senag dengan Arini. Tapi saat Irfan sudah dikenalkan dengan Deby, Irfan pernah bilang ke Deni kalau dia sebenarnya sudah menyukai seorang gadis. Akan tetapi dia ragu kalau om dan tante tidak merestui, apa lagi eyang kan" kata Deni panjang lebar.
"Tapi kalau memang benar Irfan mencintai Arini tidak mungkin kami keluarga besar merestui. Jujur om juga tidak akan merestui karena mereka masih ada pertalian darah yang sangat dekat." Kata Raka.
"Tapi kalau om lihat, sebenarnya sifatnya Deby memang mirip dengan Arini" kata Raka lagi.
"Semoga saja Irfan dan Deby cocok dan mereka berjodoh om. Ini baru saja mami juga mengatakan di group kalau kemungkinan minggu depan kedua orang tua Fabian akan melamar Arini untuk Fabian" kata Deni.
"O ya, syukurlah. Om sangat mendukung Arini dengan Fabian." Kata Raka ikut bahagia.
"Om kalau melihat Arini itu serasa melihat mamimu saat masih muda dulu" kata Raka sambil terkekeh.
"Manja, imut, nurut dan mandiri" kata Raka tersenyum.
"Iya, papi juga pernah bilang kalau mami saat masih muda itu persis Arini. Ya kalau manja sih sampai sekarang juga mami tetap manja om" kata Deni sambil terkekeh membayangkan sikap maminya yang selalu manja ke papinya. Dan memang Aldo sendiri juga lebih suka jika Fio bermanja-manja dengan Aldo.
"Ya orang papimu aja lebih suka jika mami manja dengannya" kata Raka.
"Apakah nanti hari sabtu Irfan akan ngenalun Deby ke kalian?" Tanya Raka.
__ADS_1
"Iya om dan pernah juga Deni bilang ke Irfan bahwa untuk masalah perasaan antara Irfan dan Deby bisa dipupuk sejak sekarang untuk belajar saling mencintai. Dan Deni kasih contoh hubungan mami dan papi ke Irfan" kata Deni.
Raka manggut manggut tanda setuju dengan apa yang Deni sarankan ke Irfan.
"Iya memang dulu mami dan papimu sama sekali tidak saling mengenal dan tiba-tiba saja oma menjodohkan mereka berdua" kata Raka.
"Deni juga memang mencontoh kisah cinta mami dan papi kok om" batin Deni tanpa mau ketahuan ke siapapun.
Karena Deni sangat mengidolakan papinya yang begitu mencintai maminya yang manja. Tapi Deni juga suka dengan kemandirian maminya bisa mensuport papi dari awal mereka menapaki hidup bersama.
"Apakah om perlu menanyakan hubungan Irfan dengan Arini ya Den?" Tanya Raka.
"Kalau saran Deni, om cukup menanyakan hubungan Irfan dan Deby saja. Tapi kalau om ingin tahu siapa orang yang dicintai Irfan sebelum kenal dengan Deby silahkan saja, tapi jangan dulu om sebutkan nama Arini" kata Deni menyarankan.
"Iya om akan menanyakan dan biar Irfan sendiri yang akan membukanya siapa gadis yang pernah dicintainya hingga kawatir jika kami keluarganya tidak merestuinya." Kata Raka.
"Siang ini Irfan kan praktek om kalau ga salah" kata Deni.
"O gitu, berarti nanti saja om akan menanyakannya setelah selesai dengan kerjaannya." Kata Raka.
"Semoga sukses ya om" kata Deni ke Raka.
"Eh ada dokter Raka dan dokter Deni, boleh saya ikut gabung disini dok" kata dokter Desy yang baru saja masuk ke cafe.
"O silahkan dokter Desy" kata Raka.
"Habis ini kamu mau kemana lagi Den?" Tanya Raka.
"Nanti sore mau jemput Mira om" jawab Deni.
"Om dengar dari papimu, kamu sudah beli rumah ya Den?" Tanya Raka.
"Iya om, cari yang dekat dengan kantor Mira biar nantinya Mira ga kejauhan kalau harus mondar mandir" kata Deni.
Dokter Desy mendengarkan pembicaraan Deni dan Raka.
"Siapa itu Mira, bukanya dokter Deni belum punya istri, bahkan pacar saja kelihatannya belum ada kok." Batin dokter Desy.
__ADS_1
"Apa perempuan yang dulu pernah kesini itu, yang nemuin dokter Deni dan dokter Irfan?" Tanya batinnya dokter Desy yang mengira Mira itu adalah Arini.
"Mira sekarang sedang ambil spesialis sih ya Den?" tanya Raka.
"Iya om, ambil spesialis kandungan" jawab Deni.
"Kenapa kamu ga juga ambil spesialis barengan dengan Mira saja?" Tanya Raka.
"Tadinya papi juga menyarankan begitu om, tapi Deni ga tertarik ambil spesialis" jawab Deni.
"Kapan kamu wisudanya?" Tanya Raka.
"Masih dua bulan lagi om." Jawab Deni.
"Semoga saja ga bersamaan dengan nikahannya Irfan itu" kata Raka.
"Loh dokter Irfan mau menikah ya dok, sama siapa?" Tanya dokter Desy. Deni hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dokter Desy.
"Iya, doakan saja semuanya lancar" jawab Raka.
"Iya semoga lancar semua dok, ikut senang ya dok" kata Desy.
"Dokter Desy kapan ini undangannya beredar?" tanya Raka. Dokter Desy melirik ke Deni yang dari tadi tidak ikut menyahut obrolan Raka dan Desy.
"Doakan saja dok, saat ini Desy masih belum punya pacar sih" jawab dokter Desy sengaja mengajakan bahwa dia masih singgle agar Deni segera mendekatinya.
"Ya cari saja dokter muda di sini kan banyak tuh, seperti dokter Danu, dokter Bayu jugaitu masih bujangan loh" kata Raka.
Dokter Desy hanya tersenyum menanggapi Raka sambil amtanya sesekali melirik ke Deni.
"Maaf om, Deni kembali duluan ya mau maapir ke ruangan Irfan sebelum jemput Mira" kata Deni pamit pergi.
"Okey Den, makasih ya dan salam buat Mira" kata Raka. Deni mencium punggung tangan Raka walaupun di depan rekan kerjanya dokter Desy.
"Mari dok, saya duluan" kata Deni datar.
"I iya dokter Deni, silahkan. Dan terima kasih sudah boleh ikut bergabung" jawab Desy tanpa dapat jawaban dari Deni.
__ADS_1
Raka yang melihat sikap dinginnya Deni ke Desy dan agresifnya Desy ke Deni jadi berpikir. Apakah dokter Desy mempunyai perasaan ke Deni sang keponakan tersayangnya.