
💐 Kediaman Raka
"Hari ini ada acara kemana sayang?" Tanya Nindy.
"Nanti siang janjian ketemuan di mall mah buat kenalin Deby ke bang Deni dan yang lainnya." Jawab Irfan.
"Iya bagus itu biar jadinya saling kenal" kata Nindy.
"Itu Fabian ternyata suka sama Arini sejak Arini masih usia belasan ya dan baru mengungkapkannya sekarang" kata Nindy.
"Iya katanya" kata Raka.
Irfan hanya diam mendengarkan obrolan mama dan papanya.
"Tapi kalau mama lihat Arini juga sepertinya mencintai Fabian juga" kata Nindy.
"Kamu udah bilang ke Deby kalau hari ini akan dikenalkan sama saudara sepupunya Fan?" Tanya Raka.
"Sudah pah dan Irfan nanti akan menjemput Deby sebentar lagi" jawab Irfan. Raka hanya manggut-manggut mendengar anaknya akan mengenalkan calon istrinya ke saudara sepupunya.
"Deby itu anaknya baik kalau papa dengar cerita dari om Iliyas. Dan memang kamu harus memaklumi jika kadang Deby seperti anak kecil, karena memang usia Deby juga masih muda." Kata Raka memberi nasehat anaknya.
"Iya pah, dia teman kuliah Arini kok hanya mereka beda kelas" kata Irfan.
"O begitu berarti antara Arini dan Deby sudah saling mengenal?" Tanya Raka.
"Deby sih tahu Arini, tapi Arini ga tahu Deby, mungkin karena Arini orangnya cuek, jadi ga begitu hafal nama-nama temannya kecuali teman dekatnya saja" kata Irfan.
"Memang Irfan pernah ketemu Arini di kampus?" Tanya Nindy.
"Mestinya sering ma dan kata Deby Arini itu banyak yang deketin, hanya ya begitulah Arini yang cuek dan ga mau tahu jika orang itu tidak bicara langsung padanya" kata Irfan.
Iya Arini memang orang yang cuek, tidakmau berprasangka bagaimana orang itu ke dirinya. Karena Arini takut jika Arini salah paham menafsirkan sikap orang ke dirinya.
Seperti yang pernah Arini rasakan bahwa Arini dulu pernah menyumai Fabian, tapi Arini takut jika cintanya bertepuk sebwlah tangan. Makanya dia mencoba membuangperasaannya itu dengan menganggapnya sebagai saudara.
Ternyata Fabian pun juga merasakan hal yang sama, dia juga mencintai Arini dengan diam-diam dan akan menyatakannya disaat waktu yang tepat dimana Fabian sudah mapan. Karena Fabian tidak ingin hanya sekedar pacaran main-main, Fabian memang berniat untuk serius dengan Arini sejak dirinya masih tergolong remaja dulu. Dan sekarang semua sudah akan terwujud.
__ADS_1
"Pah, ma, Irfan bersiap dulu ya buat jemput Deby" pamit Irfan kemudian .asuk ke kamarnya.
"Iya sayang perlakukan seirang wanita itu sebagai ratu di hatimu" kata Nindy sang mama tercinta.
"Iya ma, doain Irfan bisa menempatkan Deby di hati Irfan terdalam" jawab Irfan membuat Raka lega.
Sejujurnya Raka kawatir jika Irfan akan nekat mencintai Arini yang tidak akan pernah mendapatkan ijin Raka dan seperti yang dulu pernah Ilyas rasakan ke Fio.
"Seandainya kalian semua tahu, sebenarkan hatiku memang sudah terlanjur mencintai Arini, namun aku sadar tak sepantasnya aku mencintai adekku sendiri walaupun kami sepupuan." Batin irfan di dalam kamarnya.
"Jika Arini bukan saudara, mungkin aku akan memperjuangkan dan merebutnya dari Fabian" batin Irfan.
"Tapi aku sadar Arini mencintai Bian dan mungkin hatiku harus beralih ke Deby" batin Irfan membayangkan sikap Deby yang ada miripnya dengan Arini.
💐 Kediaman Aldo
Arini sedang sibuk ditaman membantu menyiram bunga. Arini persis seperti maminya yang sudah merawat bunga dan buah di taman.
"Mi kenapa mami ga tanam buah alpukat sih?" Tanya Arini.
"Iya sayang, mami dulu juga kepikiran tapi mami bingung mau ditanam dimana lagi" jawab mami Fio.
"Iya sayang itu sudah matang, petiknya pake gunting ya nak biar ga rusak pohonnya" jawab Fio.
Arini memotong beberapa buah lengkeng yang menggantung di pohonnya ditempat yang pendek. Saat di tempat yang tinggi, Arini tak dapat menggapainya.
"Bisa saya bantu nona?" Tanya suara dari belakangnya. Arini menengok ke belakangnya.
"Bang Bian, kok udah nyampe disini? Hehehe iya ini Arini ga nyampe mau potong diatas biar nanti bisa kita makan bersama" jawab Arini yanv keget dengan kedatangan tunangannya.
Irfan terkekeh dan menciun pucuk kepala Arini sambil meminta gunting yang untuk memotong tangkai buah lengkeng.
"Nih, sekarang kamu bersipa dulu ya biar aku yang potong diatas itu" kata Fabian sambil memberikan lengkeng yang sudah dipotong dari pohonnya.
"Okey, setelah abang potong yang itu baru aku mau bersiap" kata Arini.
Setelah selesai memotong beberapa tangkai buah lengkengnya, Arini mengajak Fabian masuk agar menunggunya bersiap di ruang tamu.
__ADS_1
"Sebentar ya bang, Arini ganti baju dulu" kata Arini pamit untuk mengganti pakaiannya. Dan Fabian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang menggemaskan.
Setelah Arini berganti pakaian yang hanya mengenakan kaos dan celana jeans 7/8 dan membawa tas slempangnya membuat mata Fabian terpana menatap kekasihnya.
"Ayo bang kita berangkat" ajak Arini kemudian mendekati mami dan papinya yang berada di ruang keluarga untuk berpamitan.
"Hati-hati ya sayang" kata Fio setelah anak dan calon menantunya pamit untuk pergi.
"Tadi bang Arya sudah pergi duluan ya mi?" Tanya Arini yang tidak melihat abangnya keluar.
"Sepertinya abang masih di kamar sayang" jawab Fio.
"Kenapa dek, mau bareng abang aja?" Goda Arya.
"Iya tapi pake mobil bang Bian dan abang yang pegang kemudinya ya" jawab Arini balik bercandaii abangnya.
"Enak aja, kamu yang ikut abang masak suruh abang yang pegang kemudi" protes Arya membuat Fio geleng-geleng kepala.
"Mi, pi, Arini berangkat ya" kata Arini.
"Bian pamit berangkat mi, pi" kata Fabian kemudian mengikuti Arini yang sudah jalan duluan tanpa menjawab protes dati Arya.
"Tuh kan, kalau sudah bang Bian, abang jadi dicuekin deh" kata Arya.
"Ya sudah abang berangkat sendiri saja kalau nggak mau nebeng sama Bian" kata Fio.
"Ya jelas ga maulah mi, Arya nebeng mereka. Yang ada nanti Arya hanya jadi obat nyamuk aja. Bang Bian itu sama persis seperti papi cemburuan dan posesif." kata Arya membuat Aldo tertawa.
"Sudah sana, nanti abang terlambat" kata Fio.
"Biar aja mi, kan hanya Arya aja nanti yang tidak ada pasangannya" jawab Arya asal.
"Kan ada Reza dan Risa yang juga belum ada pasangannya" kata Fio.
"O iya, lupa masih ada bocil-bocil itu" kata Arya kemudian pamit sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Nggak berasa ya kak, ternyata anak-anak kita sudah pada dewasa" kata Fio setelah anak-anaknya pergi semua.
__ADS_1
"Iya, padahal kakak aja merasa kita masih seperti saat kuliah aja" kata Aldo sambil menepuk tempat duduk disebelahnya agar sang istri duduk di sebelahnya.