
"Ya sudah nanti Arini sama mami aja kalau begitu" kata Arini sambil melirik Fabian.
Arini masih marah dengan sikap Fabian di dalam mobil dan di restoran.
"Iya gapapa dek nanti kamu duduk sama mami dan bang Galih aja" Kata Arya.
Tok tok tok
"Masuk"
"Tuan meeting 20 menit lagi" kata Rudi
"Okey" jawab Fabian sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Bang Rudi apa semua sudah pada datang?" Tanya Arya.
"Sudah, tinggal nyonya Fio Mehendra Wijaya yang belum datang" jawab Rudi.
"Mami udah sampai di parkir sih bang" kata Arini ke Arya.
"Emang mami kasih kabar kamu dek?" Tanya Arya
"Iya, ini aku udah dikirim pesan sama mami." Jawab Arini.
"Kak Rudi ruangan meeting dimana, biar saya yang jemput nyonya Fio saja ke bawah" tanya Arini.
"Mari saya antar nona" jawab Rudi.
"Bang, Arini ke bawah dulu ya?" Pamit Arini ke Fabian dan Arya.
"Iya sayang, nanti abang menyusul ya" jawab Fabian.
"Rud jaga matamu" tegor Fabian yang terlihat sering memperhatikan Arini.
"Maaf tuan" jawab Rudi kemudian keluar menunggu Arini di luar pintu ruangan Fabian.
"Iya dek nanti abang juga menyusul sama bang Bian" jawab Arya.
Arini turun ke bawah untuk menjemput mami Fio dengan diantar Rudi.
"Bang Bian lagi ada masalah dengan Arini?" Tanya Arya setelah Arini keluar.
"Kamu tahu nggak tadi adekmu janjian berdua dengan Faris ngapain?" Tanya Bian.
"Kapan mereka janjian berdua, bukannya tadi kita rame-rame ketemuan di kantin bang" jawab Arya tak percaya.
"Setelah kuliah pagi Arini ketemuan di cafe dengan mantannya" kata Fabian menekan kata mantannya.
"Jadi sekarang ini kalian ada masalah karena abang cemburu sama Faris?" Tanya Arya. Fabian hanya membuang nafasnya kasar.
Sedangkan Arini sampai di lantai bawah bersamaan pintu lift terbuka, ternyata mami Fio dan Galih sudah berdiri di depan pintu untuk menunggu pintu lift itu terbuka.
"Mami" panggil Arini setelah pintu lift terbuka menampilkan maminya dengan Galih.
"Mami mau meeting ya kok Arini ga dikasih tahu sih tadi pagi?" Protes Arini.
"Sayang, malu ih di depan umum manja begini. Ya sudah ayo antar mami ke ruang meeting" kata mami Fio.
__ADS_1
"Selamat siang nyonya" sapa Rudi.
"Siang, apakah semua sudah datang tinggal menunggu saya ya?" Tanya Fio
"Sudah nyonya, bahkan tuan Arya juga sudah menunggu nyonya" jawab Rudi.
"Mari nyonya, nona Arini, biar saya antar ke ruang meeting" kata Rudi sambil membuka pintu lift dan mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam lift lebih dulu.
"Terima kasih" kata Fio.
"Sayang nanti ikut saja sekalian ya meetingnya" tawar mami Fio ke anak gadisnya.
"Iya mi, Arini nemeni mami saja" jawab Arini.
Fio tersenyum sambil mencolek hidung anak gadisnya.
"Ternyata kecantikan mereka tidak beda jauh antara anak dan maminya" batin Rudi.
"Pantas saja bos nempel terus" batin Rudi sambil terkekeh dalam hati. Setelah sampai di ruang meeting, Fio dan Arini masuk ke dalam dan duduk di bangku yang sudah disediakan.
Tak lama kemudian masuk Fabian dan Arya, kemudian mereka duduk di tempat masing-masing. Rudi duduk disebelah Fabian, sedangkan Arya duduk sebelah mami Fio. Arini duduk di antara mami Fio dan Galih. Fabian menatap kedekatan Arini dengan Galih yang duduknya bersebelahan.
Ada rasa cenburu Fabian melihat Arini duduk di sebelah Galih. Fabian sering melihat ke arah Arini dan Galih saat meeting. Rudi merasakan gerakan tak nyaman dari bosnya yang sepertinya kurang dapat berkonsentrasi.
💐 Kantor Hendra
Faris masuk ke ruangannya setelah sampai di kantor.
"Kenapa hari ini aku jadi malas kerja, apakah karena Arini tadi yang jalan sama bang Bian?" Batin Faris.
Faris membuang nafasnya berat mengingat bagaimana Fabian memperlakukan Arini.
"Masih mungkinkah kita untuk bisa sering bertemu Rin?" Gumam Faris pelan.
"Bertemu siapa?" Tanya Hendra yang sudah berdiri di dekat meja Faris dan membuyarkan lamunan Faris.
"Abang, bikin kaget Faris saja" kata Faris menatap abangnya.
Hendra terleleh melihat raut wajah kaget Faris.
"Ngelamunin siapa? Cewek ya" tebak Hendra.
"Ah abang sok tahu aja" elak Faris.
"Rupanya adek abang sedang jatuh cinta ya" kata Hendra.
"Nggak kok bang" jawab Faris lemas tak bergairah.
"Loh kenapa tiba-tiba lemes begini?" Tanya Hendra.
"Hanya capek aja bang" jawab Faris yang ditatap Hendra.
"Kamu patah hati?" Tanya Hendra yang sudah dusuk di depan meja Faris dan menatap mata adiknya.
"Nggak bang, hanya capek saja" jawab Faris.
"Siapa yang membuatmu patah hati?" Tanya Hendra
__ADS_1
"Tidak ada bang, hanya ada gadis yang dulu pernah dekat dengan Faris sekarang dia sudah punya tunangan" jawab Faris.
"Siapa, teman kampusmu atau teman mainmu?" Tanya Hendra penasaran.
"Selama ini abang ga pernah lihat kamu dekat dengan seorang gadis" kata Hendra.
"Dulu waktu gadis itu masih jadi maba dan Faris juga belum sibuk dengan urusan kantor" jawab Faris.
"Apakah dia yang menolakmu karena kamu sibuk?" Tanya Hendra.
"Tidak bang, tapi Faris yang menjauhinya waktu itu karena Faris sudah mulai sibuk kerja dengan abang dan tak ada waktu dengannya" jawab Faris.
"Ya sudah berarti belum jodoh itu namanya bro" kata Hendra.
Faris hanya diam tanpa berucap mendengar abangnya memberikan komentar padanya.
"Memang siapa namanya, apakah dia teman kuliahmu?" Tanya Hendra.
"Bukan bang, dia setahun lebih muda dariku" jawab Faris.
"Loh itu calon istrinya Fabian juga temen kamu kan Ris? Kelihatannya kalian dekat dari cara ngobrolnya waktu kita ketemu itu?" Tanya Hendra.
"Emm iya bang, kami memang dulu dekat. Tapi lama ga ketemu karena Faris kan sibuk di kantor abang" jawab Faris bingung agar Hendra tidak curiga tentang hubungannya dulu dengan Arini.
💐 Kantor Fabian
Selesai meeting, Arini masih ngobrol dengan Galih tentang cafenya.
"Bang Galih seringnya di cafe yang jl taman ya, jarang yang di kampus?" Tanya Arini.
"Iya karena lebih rame yang di jl taman dan lebih besar juga kan." Jawab Galih.
"Kapan cafe kita ada meeting bang, bukannya harusnya bulan ini kita ada meetingnya ya?" Tanya Arini.
"Iya minggu depan kalau tidak berubah, tergantung pak Aldo dan pak Leo" jawab Galih. Arini terlihat akrab ngobrol dengan Galih, tanpa perduli dari meja lain ada yang memperhatikan dengan tatapan dingin.
Keluarga Arini me.ang dekat dengan Galih yang usianya terpaut 2 tahun diatas Arini. Aldo dan Fio menganggap Galih sudah seperti anaknya sendiri.
Awal pertemuan Galih dengan Aldo pada saat Galih masih smp duduk di pinggir toko buku karena mau beli buku uangnya belum cukup.
****
BERMULA DARI CAFEMART
Seorang anak muda yang belajar membuka usaha sendiri untuk dapat mandiri karena tidak ingin menjadi bayang-bayang kedua orang tuanya.
****
Terima kasih buat semua reader yang telah meluangkan waktunya untuk membaca.
Jangan lupa dukungannya dengan memberikan
LIKE, KOMEN, HADIAH , VOTE
Ditunggunya...
__ADS_1
Terima kasih... 😘🙏