
"Deby saja sudah setuju kalau kalian akan segera menikah, kenapa harus diundur sampai tahun depan?" Tanya Nindya.
"Kamu bisa pacaran setelah menikah bang, seperti om Aldo dan tante Fio" kata Raka.
"Itu Deni dengan Miranda juga pacaran setelah mereka menikah, Fabian dan Arini juga sama" kata Nindya.
"Kalau Fabian memang sudah lama suka dengan Arini, lagian mereka juga sudah dekat sejak kecil" jawab Irfan.
"Sudahlah bang terima saja, lagian saat kalian tunangan waktu itu juga kamu sudah setuju kan" kata Raka.
"Apapun alasanmu, mama tidak akan setuju menunda pernikahanmu dengan Deby bang" kata mama Nindya tanpa ada yang mampu membantahnya lagi.
"Sudah sekarang kita makan saja dulu" kata Raka.
"Hari ini Fabian dan Arini datang dari bulan madunya" lanjut Raka disela-sela makannya.
"Papa tahu dari mana? Kok Fabian ga cerita ke Irfan?" Tanya Irfan.
"Kemarin Deni cerita waktu papa ketemu di parkiran mobil" jawab Raka.
"Kok Deni ga cerita ke Irfan sih kemarin waktu kita ketemu" kata Irfan.
"Lupa kali bang, lagian juga pasti Arini dan Fabian capek sayang kalau harus langsung menerima tamu setelah berbulan madu" kata kata mama Nindya.
Irfan hanya diam setelah teringat akan kepergian keduanya dari bulan madu.
"Kenapa aku masih sulit melepasmu sayang" batin Irfan.
"Ternyata tidak terasa ya anak-anak sudah pada dewasa" kata Raka.
"Iya terkadang masih teringat saat mereka semua masih suka bermain bersama di halaman rumah ya pah" kata Nindya sambil mengingat saat anaknya masih kecil dulu.
"Dulu Irfan suka tidur sama Deni ya ma waktu masih kecil?" Tanya Irfan.
"Iya kalau di rumah eyang kamu ga pernah mau tidur di kamar sendiri, maunya tidur sama Deni, sedangkan Deni ya nurut aja kalau kamu ajak tidur sekamar. Kadang kalian tidur di ruang tengah sama Deni, Arini dan juga Arya" lanjut mama Nindya.
"Oh aku ingat yang itu, soalnya kami lagi nonton film tuh ma di televisi jadinya kami memutuskan untuk tidur di ruang tengah bersama-sama, bahkan Arinj sampai ikut pindah tidur di sana juga" kata Irfan mengingat kenangan masa kecilnya.
__ADS_1
"Memang dari kecil Fabian dan Arini sudah dekat ya pah?" Tanya Irfan ingin tahu.
"Papa kurang tahu kalau itu bang, sepertinya sih iya. Mengingat mamanya Fabian itu sahabat tante Fio. Dan om Leo kan asisten pribadinya om Aldo juga" jawab Raka yang hanya dianggukki kepala oleh Irfan.
"Kenapa memangnya bang?" Selidik mama Nindya.
"Tidak apa-apa ma, hanya ingin tahu aja sih. Soalnya yabg Irfan dengar itu Fabian mencintai Arini sejak mereka remaja" jawab Irfan.
"Mau sejak kapan mereka dekat yang prnting sekarang mereka sudah menjadi suami istri dan mereka terlihat saling mencintai" kata Raka sengaja membuat anaknya agar tidak berharap pada sepupunya.
"Kamu ga jemput Deby bang siang ini?" Tanya mama Nindya.
"Tidka ma, Deby ga ada kuliah hari ini" jawab Irfan sambil menyelesaikan suapan terakhirnya.
💐 Kediaman Aldo
"Sayang masih capek ya, mau abang pijitin?" Tanya Fabian di dalam kamarnya setelah mereka selesai makan malam bersama ke dua orang tua Arini.
"Iya lelah aja bang, ingin tidur sampai besok pagi" jawab Arini sambil merrbahkan tubuhnya di atas kasur.
"Terus abang ditinggal tidur nih ceritanya" protes Fabian.
"Kok gitu sih sama suaminya sayangku" kata Fabian.
"Habis abang sih, Arini kan lagi lelah bang ingin istirahat dulu dari pada besok badannya sakit karena kurang istirahat abang mau?" Tanya Arini.
"Siapa yang mau istrinya sakit karena kurang istirahat, abang hanya mau menemani tidurmu aja" kata Fabian kemudian ikut merebahkan disamping istrinya dan memeleuk sang istri.
"Tapi tangannya diam kalau mau menemani Arini tidur" protes Arini merasakan tangan suaminya mulai jail meraba kemana-mana.
"Iya abang diam kok ini, hanya jarinya saja yang belum mau diam" kata Fabian tersenyum membuat sang istri yang sudah memejamkan mata jadi membukanya.
"Sudah kamu tidur aja sayang karena abang akan tetap disini" kata Fabian.
"Iya disini boleh bang, tapi tolong tangan ini dipindahkan saja ya" kata Arini sambil mengangkat tangan suaminya yang berada di dada istrinya sambil terkekeh.
"Gemes abang lihat kamu yank, penginnya selalu masuk dan masuk terus" bisik Fabian sambil mencium kening sang istri gemas.
__ADS_1
"Arini lelah bang, tolong biarkan Arini istirahat dulu ya bang" kata Arini meminta pengertian suaminya.
"Iya sayangnya bang Bian" kata Fabian kemudian mencium kening sang istri dan memeluknya hingga keduanya tertidur secara bersamaan.
Paginya Arini terbangun lebih dulu kemudian Arini berusaha memindahkan tangan sang suami yang masih betah memeluknya dengan pelan agar tidak terbangun. Namun ternyata justru sang suami jadi membuka matanya dan langsung mengecup bibir sang istri yang sedang memindahkan tangannya.
"Abang sudah bangun?" Tanya Arini yang kaget dengan kecupan dari sang suami.
"Selamat pagi sayangnya bang Bian" sapa Fabian pada sang istri.
"Pagi abang" sapa balik Arini dengan senyumnya yang membuat Fabian selalu merasa tergoda.
"Sayang kamu mau kemana, ini masih sangat pagi sayang" kata Fabian melihat jam di dinding masih menunjuk di angka 4 pagi.
"Kan Arini mau ke dapur bang masak buat sarapan pagi, abang harus ke kantor kan pagi ini?" Tanya Arini.
"Abang bisa ke kantor siang sayang, kita tidur lagi aja dulu" kata Fabian sambil memeluk erat sang istri dengan bibir sudah menyentuh bibir sang istri agar tidak banyak bicara lagi.
Tangan Fabian sudah mulai menjelajah ke area yang diinginkannya, membuat suara ******* sang istri mulai terdengar merdu di telinganya.
"Abang sudah dong" kata Arini.
"Iya nanti kalau sudah sampai ya sayang, sekarang kita olah raga pagi dulu dikasur" kata Fabian sambil tersenyum jahil pada sang istri.
Arini tidak dapat menolak keinginan sang suami yang membuatnya terbuai dengan setiap sentuhannya hingga keduangan mengeluarkan suara secara bersamaan untuk mengakhiri olah raga paginya di dalam kamar.
Fabian menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri sambil mengatur nafasnya yang masih belum beraturan.
"Kita mandi bareng aja yuk sayang, kemudian nanti abang temani kamu masak" ajak Fabian.
"Mandi sendiri aja bang biar cepat" jawab Arini.
"Biar cepat itu kita mandi barengan sayang, abang akan bantu menggosok punggungmu sayang" kata Fabian.
"Idih modus banget deh abang" kata Arini.
"Modus tapi kan kamu suka sampai mendesah begitu" kata Fabian membuat Arini malu hingga merona di wajahnya. Fabian terkekeh gemas melihat istrinya malu-malu mau.
__ADS_1
Akhirnya Fabian menggedong sang istri untuk dibawa ke kamar mandi, walaupun Arini memaksanya untuk turun.