
"O gitu, gue kira Fabian tinggal di Jogja juga sama dengan loe" jawab Erna
"Nggak, anak gue di sini udah lama" jawab Dewi.
"Kalian besanan aja, aku lihat sepertinya Fabian deket deh sama Arini" kata Erna.
"Hehehe gue setuju sekali Arini jadi menantu gue, tapi semua kembali ke anaknya lagi. Kalau gue bagaimana mereka menjalani aja" jawab Dewi.
"Dijodohin aja mereka seperti Deni sama Mira" usul Erna.
"Anak gue sih sepertinya belum punya cewek, tapi Arini pasti udah punya pacarlah" jawab Dewi.
"Jangan nanya gue ya, yang pasti kalau gue juga setuju sih Arini dengan Fabian, tapi gue juga ga tahu Arini udah punya pacar atau belum" kata Fio tertawa.
"Biarkan saja mereka begitu, kalau memang jodoh pasti akan jadi nantinya" kata Dewi.
"Iya sih, kalau mas Iliyas itu menjodohkan Mira dengan Deni karena pengalaman dia dulu biar ga kalah dengan yang lainnya kali" kata Erna sambil tertawa melirik Fio.
"Ah ga juga yang pasti kalau memang jodohnya Mira dengan Deni ya pasti akan jadi mau dijodohkan atau tidak" jawab Fio
"Tapi kan Deni sendiri tipenya sama persis seperti papinya yang dingin sama cewek" kata Dewi dengan senyumannya.
"Gue inget gimana sikap kak Aldo dulu sama cewek waktu di sma" kata Dewi yang memang dibenarkan dengan Fio.
"Iya itu papi dan anaknya sama setipe gayanya" kata Fio.
"Eh kalian nanti pada dijemput kan?" Tanya Dewi.
"Iya gue dijemput sih sama mas Iliyas" jawab Erna.
"Kalau Fio mah udah pasti dijemput, ga mungkin pulang sendiri" kata Dewi. Fio tertawa mendengar ucapan sahabatnya.
Tak lama kemudian datang Aldo dan Leo ke cafe.
"Papi udah makan?" Tanya Fio setelah suaminya duduk disebelahnya.
"Sudah sayang" jawab Aldo.
"Pah, itu suaminya Fio ya?" Tanya Diana istri Dio.
Dio melihat ke arah istrinya menunjuk hingga terlihat Aldo dan Leo.
"Iya yang duduk di sebelahnya Fio itu suaminya. Kalau yang di depannya itu sahabatnya suami Fio" jawab Dio.
"Para suaminya sepertinya orang tajir semua ya pah" kata Diana.
"Kalau menurut mama, papa tajir ga ma" tanya Dio
__ADS_1
"Iya dong suami siapa dulu, kalau ga tajir mana mama mau pah" jawab Diana santai.
💐 Mall
Arini dan Fabian jalan di sebuah mall besar di Jakarta. Arini sedang melihat-lihat di sebuah toko skincare.
"Hai Arin sayang" sapa seseorang yang tidak asing buat Arini.
"Eh abang kok sampai ke sini mau cari apa?" Tanya Arini ke Irfan.
"Cari kamu" jawab Irfan sambil tertawa.
"Sama siapa sayang kesininya?" Tanya Irfan.
"Tuh sama kak Bian" jawab Arini sambil menunjuk ke arah Fabian.
"Hai Fan sama siapa loe sini?" Tanya Fabian.
"Sendiri aja, tadi habis makan siang disini sama temen" jawab Irfan.
Fabian tahu jika Irfan menyukai Arini, maka sengaja Fabian menggandeng tangan Arini saat mereka jalan menuju kasir, tapi Arini sendiri tidak merasa bahwa Irfan itu menyukai dirinya. Arini selalu beranggapan bahwa Irfan adalah abangnya seperti halnya dengan Arya dan Deni.
"Kamu jadi mau lihat tas ga Rin?" tanya Fabian.
"Iya jadi, Arini kan udah lama mau kesitu" jawab Arini. Irfan yang melihat kedekatan Arini dengan Fabian ada rasa tidak suka.
Tiba-tiba ada seseorang yang menyapa Irfan.
"Selamat siang dokter Irfan" sapa suara seorang gadis cantik yaitu dokter Desi. Membuat Arini dan Fabian ikut menengok ke arah suara.
"Siang dokter Desi" jawab Irfan.
"Kenalin ini saudara dan teman saya" kata Irfan ke dokter Desi memperkenalkan Arini dan Fabian.
"Desi"
"Arini"
"Fabian"
Mereka saling mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
Dokter Desi melihat Arini dari atas sampai ke bawah.
"Ini bukannya yang dulu datang ke rumah sakit yang bergelayut manja dengan dokter Irfan dan dokter Deni" batin dokter Desi.
"Sekarang dia menggandeng seorang cowok yang ga kalah gantengnya dengan dokter Irfan. Sepertinya memang gadis murahan ini" batin dokter Desi memandang rendah Arini.
__ADS_1
"Abang nanti kembali lagi ke rumah sakit ga?" Tanya Arini.
"Kenapa mau ikut, tapi bang Deni udah pergi loh jam segini" kata Irfan.
"Nggak, aku mau nonton sama kak Bian" jawab Arini.
"Kalian mau nonton kenapa gak besok-besok aja sih kita rame-rame sama Deni dan Mira" kata Irfan.
"Gue yang ga bisa Fan, hari ini gue longgar dan memang sudah janjian sama Arini" jawab Fabian.
"Ya sudah gue nitip Arini dan loe jangan macam-macam" kata Irfan.
"Abang ngapain pake ngancam kak Bian, ntar Arini bilang ke mami deh" kata Arini.
"Sudah ayo jadi ga mau lihat ke toko tas dulu sebelum nonton?" Tanya Fabian.
"Iya yuk kak, bang Irfan tinggal aja" kata Arini.
"Sayang kenapa kamu marah sih sama abang" protes Irfan.
"Udah abang bentar lagi kan ada praktek tuh, ntar kalau bolos aku laporin ke om Raka deh" kata Arini membuat Irfan terkekeh.
"Loe balik di ancam sama Arini" kata Fabian terkekeh.
"Iya, gue males kalau dia udah begitu, ujung-ujungnya laporan beneran tuh nanti ke papa" kata Irfan.
"Kok mereka deket banget sih, tapi sepertinya dokter Irfan cemburu gadis itu dekat dengan Fabian" batin dokter Desi.
"Siapa sih gadis itu, dulu dia nempel banget sama dokter Deni juga dokter Irfan sekarang ada cowok lagi namanya Fabian" batin Desi
"Yuk bang, Arin ke situ dulu ya sama kak Bian" kata Arini kemudian berjalan menuju toko tas.
"Iya udah sana, Bian nitip Arini ya, jaga baik-baik" kata Irfan.
"Pasti Fan, loe tenang aja" jawab Fabian.
💐 Rumah sakit
Irfan menggerutu sendiri di dalam mobilnya. "Apa Arini dan Fabian sudah jadian, kenapa mereka jalan sambil bergandengan tangan" gerutu Irfan.
"Kenapa gue ga suka mereka dekat, tapi gue udah dijodohkan dsngan Deby oleh papa." Kata Irfan bicara sendiri di dalam mobilnya.
"Ya jujur memang gue naksir Arini, hanya gue ga yakin boleh karena kami sepupuan. Pasti papa ga akan setuju" kata Irfan.
"Tapi gue ga bisa terima lihat Fabian menggenggam jemari tangan Arini" kata Irfan.
Sampai di rumah sakit, Irfan langsung masuk ke ruangannya. Beberapa karyawan rumah sakit itu yang melihat mood Irfan sedang kurang bagus diam semua tidak ada yang berani menegur sapa.
__ADS_1
"Arrgh kenapa gue ga terima Arini dekat dengan Fabian. Gua tahu Fabian suka dengan Arini dan gue ga terima Fabian mendapatkan Arini" gerutu Irfan di dalam ruangan kantornya.