
eldison telah sampai terlebih dahulu, eldison mendudukan tubuhnya dikursi kebanggaanya.
"kamu sudah berani ya ngehina saya didepan teman kamu" tuduh eldison.
" maaf pak, tapi saya tidak ngehina bapak" ucap meira dengan menundukkan kepalanya.
" tidak ngehina, terus apa yang kamu lakukan dibelakang saya tadi" tanya balik eldison.
"cuman membicarakan bapak" ucap meira dengan polosnya.
"tenang eldison..... kamu enggak usah ngurusin anak bau kencur itu" ucap eldison dengan mengelus - elus dadanya agar tidak terpancing emosi.
"em...pak ini udah masuk jam kerja, jadi saya mau lanjutin kerjaan saya yang tertunda" ucap meira dengan menggigit bibir bawahnya.
karna eldison tipe orang yang tidak menyukai mencampur urusan pribadi dengan urusan pekerjaan maka eldison dengan terpaksa memperbolehkan meira untuk meninggalkan ruangannya.
"huh... selamat" ucap meira dalam hati
meira langsung menuju keruang kerjanya sembari ngoceh-ngoceh tiada henti.
"gara - gara om -om tua bangkak itu, jadinya gue enggak jadi makan deh" oceh meira dengan mengelus -elus perutnya yang terasa sangat lapar.
disisi lain eldison memanggil kepercayaannya yaitu rendi.
" rendi" teriakan eldison yang sangat menggelegar diruangannya.
" iya tuan" jawab rendi .
" tolong, kamu cari identitas meira sampai keakar-akarnya" ucap eldison dengan entengnya.
"baik tuan"
"hahaha..... sekarang tunggu pembalasan dari aku" tawa eldison yang terkesan menyeramkan.
__ADS_1
5 jam kemudian rendi telah menemukan beberapa identitas yang akan diserahkan kepada tuannya.
tok...tok....tok...
suara ketokan pintu membuyarkan konsentrasi eldison yang sedari tadi tengah sibuk memeriksa berkas - berkas yang akan ditanda tangani.
"bagaimana dengan pencarian identitas meira" tanya eldison sambil memeriksa berkas - berkas.
" nona meira merupakan salah satu karyawan diatmaja group, dia sangat dipercaya oleh pak angga karena keuletannya nona meira.
sekarang nona meira telah berumur 22 tahun, dia juga karyawan yang paling disimplin diantara para karyawan lainnya" ucap rendi panjang kali lebar.
" lanjut" suruh eldison dengan pandangan menatap berkas - berkas yang dipegangganya.
" nona meira merupakan anak tunggal dari ibu nadia dan bapak samudra, ibunya telah meninggal sejak kelas 3 sma, dari situlah nona meira menjadi pribadi yang sangat mandiri, nona meira pun tinggal digubuk yang paling kecil, ayahnya sering sakit- sakitan sehingga nona meira menjadi tulang punggung keluarga, setiap pagi nona meira selalu menyiapkan makanan dan seusai bekarja nona meira selalu membersihkan rumah tak terkecuali mencuci pakaian orang tuanya dan dirinya sendiri" ucap rendi secara detail.
" ada lagi " tanya eldison lagi.
"dulu ayah nona meira sangat kaya sekali, ayahnya menjadi orang terkaya seasia tenggara" ucap rendi menjeda sebentar.
" ayah meira menjadi bangkrut karena ulah dari kakaknya, yang merasa tertandingi diperusahaannya, hingga membuat fitnah bahwa tuan samudra telah memperkosa seseorang wanita dan wanita itu meninggal dunia disaat mengaborsi kandungannya yang berusia 3 bulan, akibat dari fitnah itu membuat perusahaan tuan samudra bangkrut secara menyeluruh, tanpa meninggalkan aset sepeserpun" ucapnya lagi dan lagi.
" ada lagi" tanya eldison.
" tidak tuan" jawab rendi secara halus.
" baik sekarang kamu keluar keruangan saya"kata eldison tanpa menoleh kearah rendi.
rendi menuruti perkataan eldison untuk segera meninggalkan ruanggannya.
🌸🌸🌸
__ADS_1
malam harinya meira terpaksa harus membeli obat untuk ayahnya karena tiba - tiba sang ayah mengelur sakit pada bagian jantungnya.
"dududu" siulan meira untuk menghibur dirinya sendiri.
sesampainya diapotik meira langsung membeli obat jantung.
" mbak obat biasa satu kaplet" ucap meira.
mbak tersebut langsung paham karena meira langganan diapotiknya.
apoteker pun memberikan obatnya kepada meira.
" biasakan mbak" tanya meira.
"iya" jawab sang apoteker.
" kembaliannya buat embak aja" ucap meira dengan cengengesan.
"huh... cuman kembalian 500 rupiah aja buat saya" eluh sang apoteker.
meira meninggalkan apotik tersebut dengan sesekali memeriksa ponselnya apakah ada pesan masuk apa tidak, ternyata tidak ada pesan masuk.
membuat meira menyimpan kembali ponselnya di saku celana.
sesampainya dirumah meira langsung menuju kekamar ayahnya untuk memeberikan obatnya.
" ayah ini obatnya, diminum ya" ucap meira dengan memberikan obatnya kepada sang ayah.
" iya sayang, terima kasih ya" jawab sang ayah dengan suara yang terdengar sangat lemas.
setelah memastikan ayahnya untuk minum obat meira langsung bergegas menuju kekamarnya untuk bocan ( bobok cantik).
__ADS_1
Jangan lupa sumen😊( suka dan komen)