
"Tapi papi cemburu begitu mami juga suka kan" kata Aldo kemudian mencium bibir sang istri. Fio tak dapat menjawab karena bibirnya sudah dibungkam dengan bibir Aldo.
💐 Hotel
Hari ini merupakan hari bersejarah buat Deni dan Miranda. Hari dimana akan dilangsungkannya akad nikah Miranda Haryadi dan Deni Angkasa Wijaya.
Miranda mengenakan kebaya warna rosegold, sedangkan Deni menggunakan pakaian adat jawa dengan kain dan baju berwarna senada dengan mempelai wanitanya.
"Saya nikahkan Miranda Haryadi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 712 gr dibayar tunai." Kata Deni.
"Bagaimana saksi?" Tanya penghulunya.
"Sah"
"Sah"
"Alhamdulilah"
Miranda menyematkan cincin pernikahannya ke jemari tangan Deni, begitupun sebaliknya setelah mereka setelah mereka menandatangi surat nikahnya.
Miranda mencium punggung tangan Deni yang sudah resmi menjadi suaminya beberapa menit yang lalu. Dan Deni mencium kening sang istri.
Sore harinya akan diadakan resepsi dengan mengindang rekan bisnis dari kedua orang ternama yaitu Ilyas Haryadi dan Aldo Wijaya serta para sahabat dan rekan bisnis Deni Angkasa Wijaya dan sahabat Miranda Haryadi.
Resepsi yang megah dan mewah untuk seorang pemilik rumah sakit yang mempunyai banyak cabang di beberapa kota.
Walaupun hati keduanya belum sepenuhnya saling mencintai, namun di dalam hati mereka sudah berusaha untuk saling membuka hatinya hanya untuk pasangannya sejak mereka resmi menjalin hubungan serius yaitu saat mereka sudah mulai bertunangan.
Deni selalu berusaha menjaga Miranda dan berusaha menempatkan posisi Miranda di hatinya. Karena Deni selalu ingin hubungannya dengan Miranda seperti papi dan maminya yang pada awalnya tidak saling kenal pada akhirnya beliau bisa saling menjaga keutuhan cintanya hanya untuk pasangannya.
Semua rekan kerja dan para sahabat memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Begitupun para saudara dan keluarga besar kedua mempelai.
Terlihat Irfan membawa calon istrinya yaitu Deby di acara pernikahan Deni dan memperkenalkan pada beberapa rekan kerjanya.
"Bulan depan mantu lagi dong Do?" Tanya Faris sahabat masa sekolah dan kuliah Aldo dulu setelah acara selesai sambil berpamitan pulang.
"Bukan bulan depan, tapi dua minggu lagi" jawab Aldo.
"Hah serius Do sama anaknya Leo kan?" Tanya Faris kaget.
"Iya kita majukan" jawab Leo yang juga berdiri diantara para sahabatnya.
"Kenapa sampai dipercepat, apa mau ada urusan ke luar negri lama?" Tanya Faris.
__ADS_1
"Nggak, itu maunya anak gue dia punya sifat cemburu akut" jawab Leo sambil terkekeh membuat yang lain tertawa.
"Ya ampun jangan bilang mirip ya sama calon mertuanya" kata Faris membuat Leo tertawa. Aldo hanya terkekeh mendengar candaan dari sahabatnya.
"Itu tandanya mencintai pasangan" kata Aldo
"Ya gue juga cinta mati sama istri gue tapi ga sampai segitunya harus sesegara mungkin menghalalkannya sampai ga sabar menunggu waktunya" kata Faris sahabat Aldo.
"Sial..." kata Aldo terkekeh.
"Sampai nunggu lulus aja udah ga sabar" sindir Faris sambil tertawa begitupun dengan Leo dan Genta yang juga hadir bersama istri.
"Bulan madu ke mana nih pengantin baru kita?" Tanya Irfan setelah acara resepsi selesai.
"Ke Paris rencananya" jawab Deni.
"Loe kapan menyusul Fan, jangan lama-lama, tuh lihat Fabian aja udah ga tahan sampai mau dimajukan" kata Miranda.
"Loe sekarang bisa ngerjain gue ya Mir, awas aja nanti malam loe pasti nangis deh" kata Fabian gantian meledek Miranda.
"Serius Bi, mau dimajukan kapan?" Tanya Irfan.
"Dua minggu lagi" jawab Fabian.
"Dari pada kedahuluan orang lain, lebih cepat lebih baik kan" kata Fabian terkekeh sendiri.
"Gue dengar Arini loe kasih bodyguard ya" tanya Irfan.
"Begitulah buat jaga kalau gue ga bisa jemput, jadi akan ada yang jemput yang bisa gue percaya" jawab Fabian.
"Memangnya Arini ga protes?" Tanya Irfan ingin tahu.
"Ya protes sih, tapi gue yakin nanti lama-lama ga akan biasa juga" jawab Bian santai.
"Gue nitip jaga Arini dengan baik dan sabar karena dia anaknya manja" kata Deni
"Siap bang, pasti akan selalu Bian jaga" jawab Fabian
"Besok abang berangkat bulan madunya?" Tanya Fabian.
"Iya besok malam kami berangkatnya" jawab Deni.
"Sayang maaf ya pengantinnya masuk dulu ke kamar buat istirahat dan ganti baju, kasihan Miranda udah terlihat capek" kata mami Fio dan mama Erna.
__ADS_1
💐 Kampus
"Nanti dijemput sama Guntur dan Tata." Kata Fabian.
"Kenapa harus sama mereka sih bang, Arini bisa kok pulang sendiri" kata Arini menolak.
"Sayang mulai besok kamu akan selalu pulang dengan mereka terserah kamu mau langsung pulang atau ke kantor abang dulu juga lebih bagus" kata Fabian.
"Bang Arini biar berangkat dan pulang sama bang Arya aja, jadi bang Bian ga usah repot setiap hari harus antar Arini" kata Arini menyarankan Bian yang sedang sibuk.
"Apa kamu marah karena abang ga bisa jemput? Kalau begitu abang akan usaha jemput kamu dulu sebelum meeting" kata Bian
"Ga usah bang, nanti aja setelah kita menikah baru kita berangkat bersama dan pulangnya abang jemput Arini aja ke rumah mami, biar Arini nebeng sama bang Arya" kata Arini.
"Kalau setelah nikah sudah pasti kamu akan selalu bersama abang, tapi sekarang pun juga akan berangkat dengan bang Bian kecuali pulangnya jika abang sibuk ya terpaksa kamu akan pulang dengan Guntur dan Tata" kata Fabian.
Arini turun dulu ya bang, udah jam segini" kata Arini tanpa menjawab atau mendebat Fabian lagi. Arini sudah capek ribut masalah berangkat dan pulang dengannya setiap hari dari kampus.
"Belajar yang rajin ya sayang, jangan lupa nanti abang yang akan jemput kamu" kata Fabian yang tahu kalau Arini ga mau pulang dengan Guntur dan Tata.
"Kenapa dia ga pernah mau pulang dengan Guntur dan Tata?" Batin Fabian.
Arini langsung turun dari mobil Fabian setelah berpamitan dengan tunangannya.
"Hai Rin, baru datang?" Sapa Faris yang juga kebetulan baru sampai di kampus.
Fabian yang tadinya mau langsung pergi dari parkiran, jadi diam menatap tunangannya yang bertemu dengan mantannya.
"Eh kak Faris, tumben datang pagi" sapa balik Arini.
"Aku tunggu nanti di perpustakaan setelah kuliah pagi selesai" kata Faris.
"Ada apa kak, kayanya penting banget" kata Arini bingung melihat Faris terlihat lebih serius bicara tidak seperti biasanya yang penuh senyum dan santai.
"Iya penting, aku tunggu di cafe atau di perpustakaan?" Tanya Faris.
"Di perpustakaan saja kak" jawab Arini santai.
"Maaf Arini mau masuk ke kelas dulu" kata Arini dan diangguki Faris yang kemudian masuk ke ruang dosen.
Setelah selesai kuliah pagi, Arini ke perpustakaan sesuai janjinya dengan Faris, mereka bertemu di perpustakaan.
"Hai kak, ada apa?" Sapa Arini sambil duduk dengan membawa bukunya.
__ADS_1