
Fio melihat Galih yang hanya diam menatapnya dengan wajah polos, memutuskan untuk mendekati dan berbicara dengan Galih yang akhirnya Galih diajak Fio masuk dan membelikan buku untuk Galih.
Sejak itu Fio dan keluarganya sering datang ke panti asuhan yang mengasuh Galih untuk meminta Galih ikut tinggal bersama di kediaman keluarga Wijaya.
Galih menolak walaupun dari pemilik pantinya sudah mengijinkan. Dengan berbagai cara Aldo membujuk untuk Galih mau tinggal di keluarga besar Wijaya, akhirnya di saat lulus smp baru Galih luluh untuk mau tinggal di kediaman Delon Wijaya hingga sekarang sudah menjadi asisten nyonya mudanya keluarga Wijaya.
"Bang besok sibuk ga?" Tanya Arini
"Kenapa, ya abang sibuk kerja dong dek seperti biasa" jawab Galih.
"Okey, nanti deh Arini kabari abang kalau mau kesana" kata Arini.
"Siap" kata Galih santai.
"Mau sama siapa kamu kesana dek, jauh itu dari kampus" tanya Arya.
"Sama teman dong" jawab Arini.
"Mami pulang dulu ya sayang" kata mami Fio.
"Bang, Arini ikut mami aja ya pulangnya" tanya Arini ke Fabian.
"Nanti saja abang anter, kita masih ada urusan lagi" jawab Fabian.
"Urusan kemana lagi sih, besok aja deh bang" tawar Arini.
"Nggak bisa, besok ke tempat lain lagi" jawab Fabian.
"Ya sudah sayang kamu pulang nanti sama Bian aja, mami biar sama bang Galih duluan ya" kata Fio yang tahu jika Fabian cemburu dengan Galih sejak meeting tadi.
"Mami pulang dulu ya, sampai ketemu nanti di rumah" kata Fio sambil mencium kedua pipi dan dahi anak gadisnya.
"Iya mami hati-hati ya" kata Fio.
Setelah mami Fio, Galih dan Arya pulang, Fabian langsung menggandeng tangan Arini untuk ikut kembali naik keatas menuju ruangan Bian.
Arini hanya diam sepanjang menaiki lift bersama Fabian, suasana hening hingga masuk ke dalam ruangan.
"Sayang sebentar lagi kita pergi ke butik ya buat ukur baju kebaya" kata Fabian membuka percakapan.
"Hmm" jawab Arini.
Fabian menatap Arini yang duduk di sofa ruangannya sambil memainkan game di ponselnya setelah mendengar jawaban Arini.
"Kamu tadi janjian sama Galih mau ketemuan di cafe mau ngapain?" Tanya Fabian.
"Mau makan sambil ngobrol" jawab Arini.
"Kamu besok akan di antar Tata dan Guntur kesini setelah pulang kuliah" kata Fabian.
__ADS_1
"Hmm" kata Arini.
"Sayang kamu kenapa sih dari tadi cuek sama abang?" Tanya Fabian.
Arini diam tidak menjawab.
"Kita ke butik mana sih bang kok ga nyampai nyampai?" Tanya Arini mengalihkan pembicaraannya.
"Kamu marah sama abang?" Tanya Fabian.
"Apakah abang salah jika tidak mengijinkanmu dekat dekat Faris?" Tanya Fabian lagi karena tak mendapat jawaban dari tunangannya.
Arini diam dan menyandarkan kepalanya ke sandaran mobil sambil memejamkan matanya.
"Sayang tolong jawab pertanyaan abang" kata Fabian datar.
"Tak usah bawa nama kak Faris bang, yang pasti Arini tidak ada hubingan apapun kecuali menjadi teman untuk saat ini" jawab Arini.
"Hanya sampai saat ini, terus hari esok apa hubungan kalian?" Tanya Fabian mulai dingin.
Arini membuka matanya dan menatap ke Fabian yang sedang mengemudi melihat jalan.
"Kenapa kamu pandang abang, apakah pertanyaanku salah?" Tanya Fabian yang masih fokus menyetir hanya melirik sebelahnya saja.
"Abang mau jawaban apa dari Arini?" Tanya Arini kemudian memandang jalanan di depannya sambil kembali menyandarkan badannya pada sandaran kursi mobil lemudian memejamkan matanya kembali.
"Apakah selama ini Arini berbohong dan tidak jujur pada bang Bian?" Tanya balik Arini.
Bian menghentikan mobilnya di pinggiran jalan. Kemudian menatap Arini menahan emosi karena Arini tidak menjawab sesuai yang dia mau.
"Kalau abang bilang iya abang merasa kamu tidak jujur sama abang bagaimana?" Tanya Fabian menahan kesal.
"Kalau begitu kita pulang aja sekarang bang dan bilang ke papi sama om Leo untuk menunda pernikahan kita sampai abang bisa percaya dengan Arini" jawab Arini tegas membuat Bian kaget dan emosi.
"Jangan-jangan kamu masih berharap dekat dengan Faris sampai meminta pernikahan kita dimundurkan?" Tanya Fabian dingin.
"Kenapa abang selalu menyangkutpautkan dengan kak Faris?" Tanya Arini kesal.
"Memang benar kan kenyataannya kalau kamu memang masih mencintainya?" Tanya balik Fabian.
"Yang jelas antara Arini dengan kak Faris tidak ada hubungan apapun bang, dia hanya masa lalu Arini." Jawab Arini.
"Lagian abang bukannya juga punya masa lalu, terus bagaimana jika Arini juga punya pikiran seperti bang Bian ga percaya dengan abang?" Tanya Arini menatap Fabian
"Jadi kamu juga curiga dan ga percaya dengan abang?" Tanya Fabian menatap balik Arini.
"Bagaimana dengan perasaan abang jika Arini seperti itu?" Tanya Arini santai.
Fabian membuang nafasnya kasar, selama ini mereka berdua tidak pernah bicara dengan saling adu otot atau dengan nada tinggi. Tapi hanya karena cemburunya Fabian membuat keduanya jadi terbawa emosi dengan bicara nada tinggi.
__ADS_1
"Sayang abang terlalu sayang dan cinta sama kamu, sehingga abang ga ingin ada cowok lain deketin kamu" kata Fabian dengan lembut sambil memegang jemari tangan Arini.
"Jadi abang mohon kamu mengerti perasaan abang yang ga ingin melihat jika orang yang abang cintai di dekati bahkan masih diharapkan seseorang untuk dimilikinya" kata Fabian.
"Tapi cemburunya abang itu udah melewati batas" kata Arini.
"Karena abang tahu kalau Faris itu masih mencintai kamu sayang dan kamu itu milik abang" kata Fabian menjelaskan.
"Arini tahu abang sangat sayang dan cinta sama Arini, tapi tolong abang juga percaya dengan Arini" kata Arini.
"Kalau abang belum bisa mempercayai Arini, lebih baik Arini yang mundur" kata Arini lagi.
Fabian melotot mendengar apa yang baru saja diucapkan Arini.
"Tidak akan ada mundur sayang, yang ada abang akan memajukan hari pernikahan kita" kata Fabian bertekat ingin menemui Aldo untuk memajukan hari pernikahanannya.
"Kalau perlu kita akan menikah seminggu setelah bang Deni nikah" kata Fabian.
Arini tak ingin lagi melanjutkan perdebatannya. Percuma didebat jika Fabian sudah mulai emosi dan ga bisa lagi diajak kompromi.
"Lusa bang Deni menikah, kira-kira mama Dewi kapan datang bang?" Tanya Arini mengalihkan pembicaraannya.
"Mungkin besok karena papa hari ini masih ada urusan" jawab Fabian kembali mengemudikan mobilnya menuju butik kebaya.
"Ayo kita turun, ini sudah sampai di butik kebaya" kata Fabian sambil membukakan pintu mobil Arini.
Arini dan Fabian masuk ke dalam dan menemui pemilik butik untuk mencoba kebaya buat Arini nanti.
"Ini putrinya Fio Wijaya ya, cantiknya sayang persis Fio" kata Edo pemilik butik.
"Om kenal mami Fio?" Tanya Arini.
"Kenal dong, mami Fio itu langganan om sejak dia masih muda dulu. Tapi sampai sekarangpun juga masih awet kelihatan muda aja" kata Edo yang agak gemulai.
***
Menceritakan tentang dua orang yang berbeda keyakinan, tetapi masih saling mencintai. Di lain sisi ada seseorang yang begitu mencintainya sejak Aira masih anak-anak.Dan bersyukurnya orang tua dari Aira dan Lukas dapat memisahakan anaknya dari orang yang tidak mereka kehendaki untuk menjadi pendamping anaknya maaing-masing.
Aira dijodohkan oleh orang tuanya dan abangnya dengan sahabat abangnya sekaligus teman main sejak kecil.
Akankah kedua mahluk yang berbeda keyakinan bisa menapaki kehidupan dengan lapang dada, ikhlas dan bahagia?
Jangan lupa masukkan ke dalam favoritmu 🧡
LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE
Terima kasih readerku yang selalu setia, ditunggu ya dukungannya 😍 🙏
__ADS_1